PERCAKAPAN
Oleh: Muhammad Nurcholis
“Ah, Anda lagi, Tuan..”
“Sudah dua kali ini ya kita bertemu dalam gerbong yang sama. Bagaimana kabar anda, Tuan? Sehat? Syukurlah kalau begitu”
“Kabar proyek rehabilitasi lancar, Tuan? Lancar? Syukurlah kalau begitu.”
“Anda sungguh beruntung, Tuan. Sudah mempunyai pekerjaan tetap. Tidak usah seperti saya yang belum jelas mau bekerja apa sedang kedua orang tua menggantungkan harapannya kepada anak laki-laki satu-satunya.”
“Mungkin saya perlu menggali informasi dari Tuan perihal pekerjaan yang cocok untuk lulusan mahasiswa Ekonomi semacam saya ini. Mestinya saya bisa bekerja di perusahaan mana saja karena tiap perusahaan punya bagian keuangan. Tapi itu nantilah, saya sedang ingin bercerita tentang hal lain dengan Tuan.”
“Anda keberatan, Tuan? Tidak? Ah, syukurlah kalau begitu.”
“Kali ini saya bukan bercerita tentang perasaan tentang cinta yang belum tersampaikan seperti sebelum-belumnya, Tuan. Yang tergantung begitu saja dalam cantelan harapan tapi belum juga menemukan waktu yang tepat untuk ditanggalkan. Yang kira-kira adalah semacam menahan perasaan untuk diungkapkan tapi belum berani untuk mengungkapkannya. Tetapi, di satu sisi, sangat takut apabila kehilangan sang dinda bestari yang menjadi pujaan hati. Segamang itulah kira-kira aku akan bercerita, Tuan.”
*
“Ini tentang kisah jaman dahulu, Tuan. Saat umur mungkin belum genap seumur jagung, dimana negeri kita masih sejahtera, aman dan sentausa karena hutang yang lancar tiap tahunnya dari bank dunia. Yang sekolah masih bisa dicecap oleh anak-anak penarik becak atau tukang batu yang tinggal di kampung. Meskipun, waktu itu, tahun 1985 untuk masuk ke Sekolah Dasar membutuhkan duit sebesar tiga belas ribu rupiah. Tiga belas ribu perak, Tuan. Seharga ayam goreng sekarang. Tapi dulu? Uang segitu membuat seorang Ibu mendelik menjelototkan matanya kepada petugas penerimaan siswa. Darimana ia dapat uang segitu dalam satu hari? Sedang suaminya hanyalah buruh lepas pocokan yang kerjanya tidak menentu. Mau makan batu anak-anaknya? Akhirnyapun, kerna sudah terlanjur mau mendaftar, dan biar anaknya terbebas dari penyakit buta huruf seperti yang diderita neneknya, direnggutnya kalung satu-satunya yang melekat pada leher anak perempuannya. Entah itu emas, perak atau perunggu ujudnya. Lantas ia pergi ke pasar loak menggadaikan harta anaknya. Mungkin kalung itu emas, kerna tiba-tiba sang ibu sudah beroleh uang sejumlah tiga belas ribu. Tapi entah itu hasil penjualan kalung atau hasil utang dari rentenir. Pokoknya, hari itu anaknya masuk sekolah saja. Kasihan bila dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang rata-rata masuk Sekolah Dasar pada umur enam tahun. Sedang waktu itu, si anak berumur tujuh. Itupun jalan, hampir delapan barangkali.”
“Tuan tau? Anak perempuan itu kakak saya. Sedang ibu-ibu itu tentu saja ibu saya.”
*
“Kalau Tuan kebetulan main ke kota saya, kemudian melewati Jalan Pahlawan. Tak jauh,sekitar 150 meter dari pangkalan bensin, akan Tuan temukan bangunan tempat saya menimba ilmu dahulu. Tempat para putra daerah dari berbagai kalangan menemukan jalan hidupnya. Yang kini, karena ada kastanisasi pendidikan, kebanyakan yang masuk kesana hanyalah orang berpunya saja.”
“ Tuan tau kenapa? Bukan, bukan karena orang-orang di kota saya sudah makmur semua, Tuan.”
“Kota saya memang kota kaya, Tuan. Ada pabrik semen disana. Ada pula kilang-kilang minyak berjajar sepanjang pesisir. Tuan juga akan menemukan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang bisa memasok kebutuhan listrik Pulau Jawa dan Bali. Bayangkan, Tuan. Dua pulau sekaligus! Bukan main! Tapi tetap saja rumah saya sering kena langganan pemadaman, Tuan.”
“Belakangan malah tarif listrik naik. Saya lihat di televisi katanya buat meningatkan kualitas pelayanan dan menutup biaya operasional. Memang di kota saya sekarang sudah tidak ada pemadaman bergilir, Tuan. Sekarang adanya penyalaan bergilir. Haha.. kasihan sekali masyarakat kita dikibuli, ya?”
“Ah, sampai mana tadi, Tuan? Saya malah melantur berbicara masalah setrum. Oh, iya. Sampai mantan sekolah saya, Tuan. Sampai mengapa hanya orang berpunya saja yang bisa masuk kesana. Masalahnya cuma satu, Tuan. Biaya masuk kesana mahal bukan kepalang! Belakangan saya bertanya kepada teman dari anak tetangga saya yang tahun ini masuk ke sekolah itu. Buat masuknya saja harus membayar sepuluh juta rupiah! Tak kurang, tak lebih. Gila!”
“Sewaktu masuk Universitas saya hanya membayar 950.000 rupiah saja, Tuan. Di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri di selatan Jawa Tengah ini. Ini masuk Sekolah Menengah Atas Negeri melebihi biaya kuliah.”
“Asal Tuan tau. Dahulu sekolah saya tidak berbeda jauh dengan sekolah-sekolah Negeri lainnya di kota saya. Saya yang berasal dari keluarga sederhana, bahkan bisa dibilang bercukupan masih bisa bersekolah di sekolah paling favorit itu.”
“Hei, bercukupan maksud saya bukan itu, Tuan. Jika ada uang, cuma cukup buat makan. Jika bapak dapat ongkos menyiangi taman cuma cukup buat bayar SPP setengah bulan. Hehe, betul Tuan. Berkecukupan untuk satu hal saja, lain tidak.”
“Dulu dari semua kalangan bisa bersekolah disitu, Tuan. Malahan beberapa teman saya yang berasal dari keluarga miskin seperti saya ada yang sudah jadi pengusaha percetakan di Kota. Beberapa juga ada yang menjadi Karyawan Perusahaan Minyak dan Aparat Pajak.”
“Dulu yang membawa sepeda motor ke sekolah hanya empat-lima orang dalam satu kelas, Tuan. Lainnya naik sepeda atau naik angkutan umum. Bahkan beberapa ada yang berjalan kaki meskipun jarak sekolah dengan rumahnya cukup jauh.”
“Tapi kalau kini saya pulang ke kota dan iseng berkunjung atau melewati sekolah saya dahulu, parkir untuk kendaraan motor penuh sesak. Sampai-sampai memakan tempat koridor perpustakaan yang terletak tak jauh dari tempat parkir. Padahal, Tuan, sejauh apa sih rumah mereka dengan sekolahan? Saya saja dahulu bersepeda berangkat ke sekolahan yang berjarak lima belas kilometer dari rumah. Benar. Supaya sehat, Tuan.”
*
“Rasa-rasanya, kalau saya bersekolah pada jaman sekarang, saya tak sanggup, Tuan. Berkat embel-embel Internasional di depan nama Sekolah saya dahulu pendidikan menjadi hal yang mewah. Tuan masih ingat, kan? Bagaimana Tuan dahulu bersekolah? Betul, Tuan. Pendidikan memang sejatinya adalah hak dari Warga Negara Indonesia. Bahkan telah termaktub dalam Undang-Undang Dasar Negara kita. Menurut Tuan, bagaimana apabila Undang-Undang Dasar tidak diterapkan dalam kehidupan? Ya, iya. Seperti itu kira-kira Tuan. Haha, Tuan bisa saja. Hati-hati Tuan dalam berpendapat, bisa-bisa nanti Tuan dikira bersikap subversif dan nanti malah pulang tinggal nama. Eh, maaf. Jangan ketakutan begitu, Tuan. Saya hanya bercanda tadi.”
“Sekarang sudah jaman reformasi, Tuan. Kita sudah bebas berpendapat dan mengeluarkan pendapat. Tak perlulah takut dengan pemerintah yang pekak hatinya. Asal kita benar, bukan?”
“Sungguh, Tuan, pendidikan kita telah mengalami banyak sekali perkembangan. Dua tahun lalu sekolah saya berembel-embel Standar Nasional, dan sekarang tiba-tiba berubah jadi Standar Internasional. Mungkin supaya para ekspatriat yang bekerja di perusahaan-perusahaan bonafit di negeri kita bisa menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Negeri. Biar sekolah kita lebih baik lagi mempunyai kualitas yang sejajar dengan sekolah-sekolah di luar negeri sana. Mungkin begitu, Tuan. Menurut Tuan bagaimana?”
*
“Eh, tidak berasa sedari tadi kita asyik berbincang. Setelah ini Stasiun Maos, Tuan. Tempat saya harus berhenti dan pulang. Tuan hendak melanjutkan perjalanan, bukan? Silahkan.. Sangat senang saya bisa bertemu Tuan dan berbagi banyak hal dengan Tuan. Sampaikan salam hangat saya kepada keluarga Tuan. Kepada isteri Tuan, juga kepada anak perempuan Tuan. Siapa namanya? Saya lupa. Ya, Westri. Semoga dia bisa memperoleh SMA yang diinginkannya. Semoga usaha-usaha proyek rehabilitasi Tuan lancar dan beroleh berkah. Ah, kita belum sempat berbincang mengenai pekerjaan, Tuan. Mungkin pada pertemuan berikutnya jika takdir masih mempertemukan kita. Mari, Tuan. Selamat jalan dan sampai jumpa lagi.”
*
“Ah, anak muda yang penuh semangat. Andaikan engkau tahu kastanisasi pendidikan telah terjadi tujuhbelas tahun yang lalu, pada 1993 ketika aku masih berstatus guru SMA. Saat sekolah-sekolah unggulan mulai dimunculkan dengan maksud mengeliminasi sebutan sekolah favorit. Sekarang, semua telah berkembang, Nak. Tuntutan pendidikan yang lebih baik telah membutuhkan sarana yang dan sumber daya manusia yang lebih baik. Dan uang lebih dibutuhkan dari apapun, Nak.. asal kamu tahu itu.”
“Biarlah engkau tak mengetahui kebenaran-kebenaran tentang negeri kita. Untukmulah negeri ini serta disinilah masa depanmu berada. Perihal kerja, sesungguhnya aku bisa merekomendasikanmu pada teman. Tapi, ah, seperti kau bilang, negeri ini tidak akan berkembang jika tiap kesempatan mesti ditempuh lewat jalur belakang. Engkau mesti berkembang, mencari kebenaran tentang negeri ini. Biarlah aku selesaikan dahulu rehabilitasi sekolah percontohan di kotaku. Proyek rehabilitasi yang kuceritakan secara klise kepadamu. Proyek rehabilitasi sekolah percontohan, sekolah yang barusan kau ceritakan.”
Dikeluarkannya sebuah nametag dalam saku kemejanya. Dilihatnya sejenak lambang sebuah tanda orang pejabat itu. Tanda pengenal yang baru saja diperoleh satu bulan lalu. DARMADI SAJAN, fungsional pengawas sekolah.
*
Peluit melengking. Kereta melaju pelan, berderit. Meninggalkan kisah tentang harapan. Meninggalkan peristiwa yang tentu membuat kesan. Percakapan.
Jakarta, 2010
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Percakapan





































