<< Cerpen Gadis yang Menangisi Senja*  >>

Gadis yang Menangisi Senja*

E-mail Cetak PDF

GADIS YANG ,MENANGISI SENJA
Oleh: Budhi K. Wardhana

 

Gadis Senja. Begitulah orang-orang menamainya. Dia selalu berdiri di pinggir dermaga, menatap cakrawala merah setiap sore menjelang. Bibirnya bisu. Tak pernah berkata apapun. Matanya takzim menekuri lembayung horizon senja. Sesekali mata beningnya mengalirkan butir air yang menganak sungai di pipinya.

Rambut indahnya yang bersemu merah senja menari-nari liar dimainkan angin pelabuhan. Benar-benar dia tak bergerak sedikit pun. Meski kulitnya yang putih dimakan ganasnya matahari sore dan panasnya laut. Namun itu justru menampilkan keelokan alami dengan warnanya yang menjadi kemerahan.

Pada mulanya kehadiran gadis itu menimbulkan kehebohan di sekitar dermaga pelabuhan. Para nelayan, awak kapal, pedagang ikan, anak-anak pantai sangat terpukau oleh kecantikannya. Bahkan mereka mengira gadis itu jelmaan ratu laut yang sedang dikutuk menjadi manusia.

Tapi orang yang berlalu-lalang di pinggir pelabuhan senantiasa menggelengkan kepala ketika ditanya siapa nama dan dari mana perempuan itu berasal. Mereka selalu berujar, "Gadis itu tak pernah mau menjawabnya."

Dia senantiasa hadir di saat senja dan lenyap ketika semburat merah terhapus dari langit. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi, sampai keesokan sorenya dia akan datang kembali di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Semuanya seperti sebuah rahasia.

Kali ini tampak seorang pemuda bertopi dan berkaca mata hitam mendekati gadis itu dan menepuk pundaknya. Lembut sekali tepukannya hingga mungkin gadis itu nyaris tak merasakannya. Dia tak menoleh sedikit pun.

“Maafkan saya,” kata pemuda itu. “Bolehkah saya mengganggumu barang sejenak?”

Tiada jawaban dari mulut si gadis.

"Apakah engkau menunggu seseorang yang akan kembali dari seberang lautan?" Kembali pemuda itu memancing percakapan.

Sama sekali gadis itu tak bersuara.

"Ataukah seseorang itu berjanji akan pulang di sore hari, sehingga kamu begitu setia menunggui senja?"

Mulut gadis itu tetap terkunci. Laki-laki itu tak kehilangan akal.

"Apakah senja ini mengingatkanmu pada seseorang, dan kamu ingin mengenangnya senantiasa?"

Tetap diam.

"Jawablah. Tentunya engkau tidak bisu bukan?"

Sekali lagi kesunyian tertanam di bibirnya

"Apakah dia kekasihmu?"

Tak ada jawab.

Laki-laki itu mulai gusar. Sejenak ia membetulkan letak topinya dan kaca mata hitamnya yang dipermainkan angin sore.

"Kalau bukan kekasihmu, pasti dia seseorang yang begitu spesial."

Air mata gadis itu menetes satu demi satu. Tapi tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Laki-laki itu ikut terdiam.

Senja mengambang di permukaan laut berbaur dengan debur ombak dan gemuruh angin darat. Nelayan-nelayan sudah mengemasi jala sebagai bekal mengais rejeki. Pedagang ikan mulai membersihkan lapak-lapaknya dengan keringat yang masih menetes. Sebentar lagi pelabuhan ini akan berubah sunyi.

“Pasti yang kamu tunggu adalah seorang yang sangat khusus.” ujar laki-laki itu memecah kebisuan di antara mereka berdua. “Mungkin dia sering bercerita padamu tentang keindahan senja. Atau barangkali dia mengenalmu di saat senja, lalu menyambangi rumahmu dan berbagi cerita denganmu ketika senja menjelang.”

Tak dinyana si gadis menoleh ke arah lelaki itu. Lekat-lekat matanya menatap wajah pria yang tertutup topi dan kaca mata hitam itu.

“Dari mana engkau tahu itu semua?” tanya si gadis dengan suara jernih. Ini adalah pertama kali dia bicara semenjak keberadaannya di dermaga ini.

Laki-laki itu tersenyum. “Aku pernah bertemu dengan laki-laki itu.”

“O ya?” Wajah gadis itu berbinar-binar. “Ceritakanlah padaku bagaimana keadaanya? Di mana dia sekarang? Apakah dia masih mengingatku?”

Lagi-lagi laki-laki itu membetulkan letak topi dan kaca matanya. “Aku sudah lama tak bertemu dia.”

"Maksudmu?"

Laki-laki itu menggeleng. "Aku tak tahu di mana dia sekarang."

Wajah gadis itu kembali muram. “Dia laki-laki yang baik,” bisiknya.

“Kenapa kamu bilang seperti itu?”

"Dia senantiasa memperhatikanku," jawab gadis itu. “Dari gerak tubuhnya aku tahu dia sangat mencintaiku. Sayangnya…”

Sang gadis memutus ucapannya dengan helaan nafas dalam. Laki-laki itu penasaran menunggu kata-kata berikutnya. “Apa yang harus disayangkan?”

“Ya, sayang sekali dia membohongi kata hatinya.”

“Maksudmu?”

“Dia tak jujur mengungkapkan kata hatinya padaku,” jawab gadis itu. “Barangkali itu menjadi kesalahan terbesarnya.”

Lelaki itu mengangguk-angguk. “Bolehkah aku bertanya padamu?”

Si gadis menatapnya dengan pandangan tak keberatan.

“Siapakah namamu?”

“Nama bukanlah hal yang penting,” jawab si gadis sembari mengalihkan pandang ke arah laut. Mungkin dia tidak suka dengan pertanyaan itu.

“Jika nama bukanlah hal yang penting, apakah ungkapan hati seseorang menjadi sesuatu yang sangat penting bagimu?”

“Apakah pertanyaan itu perlu aku jawab?” Gadis itu menjawab diplomatis.

“Tak perlu kamu jawab,” ucap pria itu sambil mengambil lipatan kertas dari dalam kantongnya. “Laki-laki yang kamu kenal itu pernah menitipkan surat ini padaku. Dia ingin agar surat ini diberikan pada seorang gadis di kota ini yang setia memandangi senja. Bukankah itu dirimu?”

Gadis itu menerima lembaran kertas itu dan matanya langsung menelusuri rangkaian kata di dalamnya. Ya, ini tulisan laki-laki yang pernah dikenalnya.

 

Hai gadisku,

Masihkah engkau mengagumi senja, ataukah kini mulai meratapinya? Apakah senja masih mengingatkanmu pada diriku? Jika ya, mungkin aku adalah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

Jika engkau membaca tulisan ini barangkali aku sudah tak mampu menikmati senja ini bersamamu. Bukan karena aku tak mau berbagi rasa di sampingmu. Tapi karena kehidupan memang tak berkehendak menyatukan kita.

Jangan pernah menangis, gadisku. Wajahmu yang seputih susu terlalu sayang jika kau taburi dengan kesedihan. Berilah binar-binar keindahan pada bola matamu yang jernih. Agar aku bisa menikmati keelokan itu di tempatku yang baru ini.

Satu lagi pintaku, jangan pernah meratapi keagungan senja. Sebab senja itu tak kan pernah pupus selamanya. Dia akan tetap datang keesokan hari dengan kesetiaan yang tulus. Yakinilah bahwa aku akan berada di dekatmu dengan kesetiaan serupa senja. Dan senantiasa memberikan pelangi keindahan untukmu.

Aku mencintaimu, sayang…

 

 

“TOT…TOT…TOT…!”

Suara klakson kapal mengagetkan gadis itu. Dia tersadar dengan keadaannya. Ditolehnya kiri kanan. Dia tak menemukan laki-laki yang tadi diajaknya bicara. Ke mana dia pergi? Padahal gadis itu ingin berterima kasih kepada laki-laki bertopi dan berkaca mata hitam itu.

Surat ini telah melegakan hatinya. Dia tersenyum pada senja yang nyaris pudar.

“Aku juga mencintaimu, sayang…”

 

***

 

Tanpa disadari gadis itu, tak jauh dari tempatnya berdiri, dua orang pria tengah memperhatikannya. Yang satu bertopi dengan kaca mata hitam, sementara satunya lagi berjubah panjang. Laki-laki yang memakai topi itu membuka kaca mata hitam yang dikenakannya sedari tadi. Tampak dia berusaha menyeka air mata yang nyaris keluar.

Dalam hati dia berucap lirih,  “Seandainya aku bisa membahagiakanmu, sayang, aku akan lakukan sukarela untukmu. Andai aku bisa menyentuhmu, sayang, pasti aku akan memelukmu dan mengagumi wajahmu yang seelok senja. Namun, aku sudah cukup bahagia demi melihat kamu gembira dengan gurat senyum di bibir.”

Diam mengalir menyambut malam. Mendadak pria yang berjubah panjang menepuk bahu kawannya.

“Bagaimana? Apakah engkau puas?”

Laki-laki bertopi itu mengangguk sambil menghela nafas panjang.

“Gadis yang sempurna,” desis laki-laki bertopi itu.

"Aku setuju dengan ucapanmu," timpal temannya.”Tak percuma kamu pernah menitipkan hati padanya,"

Lelaki bertopi itu meringis getir. “Cinta terkadang memang menyakitkan.”

“Apakah berkorban itu sesuatu yang menyakitkan?” tanya temannya dengan gaya retoris.

“Entahlah.”

“Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu harus merelakan gadis itu hidup dalam dunianya.”

Sang pria bertopi itu menatap wajah temannya lama sekali sebelum akhirnya berbisik lirih, “Aku rela melepaskannya…"

Tak lama kemudian dia membuka topinya hingga terlihatlah lubang bekas peluru di dahinya yang tembus hingga tengkorak belakang. Tampak isi batok kepalanya yang masih segar berwarna putih kemerahan di dalamnya. Ya, laki-laki bertopi dan berkacamata hitam itu adalah aku.

Saat itu malam sudah nyaris sempurna ketika temanku menggamit lenganku. Seketika dari balik bahunya muncul dua sayap kecil. "Tugasmu sudah selesai. Mari kita pulang…"

 

 

Rasuna Said, 31 Maret 2010

 

 

 

Catatan :

* Kisah ini merupakan kelanjutan dari cerpen terdahulu yang berjudul Senja yang Sempurna Merah. Tak dipungkiri bahwa nuansa cerita ini sangat terinspirasi oleh kisah-kisah senja yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Tentunya dengan ide yang sungguh berbeda.

Joomlart