PEREMPUAN PILIHAN
Oleh: Riris Raden
Mawar Jingga
Hari masih pagi ketika Wina membuka jendela kamar. Matahari belum muncul, tapi dari balik jendela itu terlihat dengan jelas Firman duduk di bangku di bawah pohon kelengkeng yang berbuah lebat menggantung. Pandang mata Wina berbinar binar. Kelengkeng berbuah lebat sejempol jari orang dewasa jatuh, tepat di kaki Firman.
Wina melompat, berlari menuruni anak tangga, Kang Parto dan Bi Karti mengangkat timba timba berisi makanan dan membawanya ke kandang ayam. Sejenak Wina ragu, berjalan lamban, senyumnya mengembang, laki laki impian sepagi ini telah berdiri di hadapan. Celana Jeans berjaket, sepatu kets dengan tas menggantung di punggung. Duh… alangkah tampan
“Tumben pagi?”, Sapa Wina, senyum manis mengembang
“Terlalu pagi?”
“Ya…..ayam ayam baru saja berkokok”
Firman menoleh, Burung prenjak dalam sangkar berlompat lompat bersiul siul. Ayam-ayam dalam kandang besar ramai mematuk matuk makanan. Ibu Wina membuka jendela ruang tamu, lantas dengan sapu panjang bersihkan teras joglo dengan ayam bekisar yang berkokok berkali kali di balik sarang ukir kayu jati. Ibu Wina mengangguk memberi senyum, hidangkan teh hangat di teras lalu menyapa mempersilakan
“Semalam , aku sudah pengin ke sini”
“Oh ya? Karena ulang tahun, kan?”
Lagi lagi mata Wina berbinar binar. Semalam dia berangan tentang Firman. Berkali kali menatapi photo Firman. Ada banyak hal yang diingin dari Firman, tapi untuk semalam hanya satu hal, Wina ulang tahun, dan berharap Firman tahu itu. Girang, mata indah dengan bulu lebat berkelok empatpuluh lima derajat melompat lompat. Terima kasih Tuhan….. Firman mengingat ulang tahunnya.
“Apa yang diingini gadis pada saat ulang tahun?”, Firman berbisik di telinga
“Bunga”
“Aku sudah menduganya”
“Setiap gadis suka bunga”
“Bunga apa?”
Wina girang. Senyumnya riang , Kaos kombor, celana komprang, berkelebat dihembus angin pagi.
“Setiap gadis Mawar”
“Hanya itu? Apalagi?”, Furman riang memandang
“Ucapan selamat dengan penuh sayang”
“Menjabat tangan dan bilang aku sayang kamu”
Darah Wina bagai berhenti. Tatap mata Firman yang indah tak berani ia lawan. Berpaling, burung prenjak berterbangan, bercicit gaduh. Ayam jantan berlompatan mengejar betina menginginkan bercinta. Wina berlari ke kandang ayam, Firman mengikuti dari belakang
“Mengatakan cinta di saat ulang tahun, kado yang paling indah”, Firman bertutur penuh rasa
“Ya”, Wina nyaris tak terdengar.
“Aku akan mengatakannya”
“Hanya butuh lima detik”
Firman tertawa.
Hari mulai terang, berkeliling kandang ayam. Dipandanginya Firman. Laki- laki tegap dengan dada bidang. Senyumnya khas, matan indah menusuk, menggoda. Ratusan ayam mematuk matuk makanan. Suaranya lirih membentuk irama. Bi Karti dan kang Parto menuangkan air rebuasan kunir dan temuh putih ke tempat-tempat minuman. Mereka melakukan dengan amat cekatan
“Ikut aku”
“Kemana?”
“Tempat yang paling indah”
“Aku belum mandi”
“Kamu cantik meski nggak mandi”
“Cantik nggak mandi, apa bedanya dengan ayam?”
Wina menikmati mandi, pakai lulur dan pemutih. Menyaput bedak di pipi, mengoles lipstick. Memilih rok panjang dengan blous merah maron, tak lupa jepit rambut warna ungu yang merapikan rambut keritingnya. Tak terbayangkan pagi ini Firman akan mengajaknya jalan. Wina berkhayal tentang mawar jingga. Bunga itulah yang selalu diletakkan dekat photo Firman yang dibingkai dan diletakkan di meja belajarnya.
Berjalan bersama di sepanjang toko bunga, begitu nikmat. Aneka bunga berjajar rapi dan wangi. Wina memilih beberapa mawar. Baru sekali ini merasa berdua dengan Firman apalagi di hari ulang tahun. Nikmat sekali. Hari-hari yang lalu kemana pun selalu dihabiskan bertiga. Ada Rossa, mahasiswa sastra Jerman. Tapi kali ini Rossa ke Surabaya sudah hampir satu minggu. Kalau Rossa di sini tentu mereka akan jalan bertiga.
“Indah sekali”, Firman memuji, rangkaian bunga yang dipilih ke Wina. Berkali-kali diciumnya.
“Ya…. Indah sekali”
“Rossa pasti menyukainya”
Rossa? Bukan aku? Lemas serasa, terlalu banyak berharap. Wina melongo, Mawar di tangan serasa mau lepas pula. Namun ia berusaha untuk tersenyum meski sangat tidak manis. Rosa sahabat karib, teman satu kamar, yang cantik dan pintar, sama sekali tak terbayangkan Firman jatuh cinta padanya. Saat bersama, Firman seakan memberi perhatian kepada Wina lebih di banding Rossa. Tapi yang terjadi? Rasa kecewa berlipat lipat ditekuknya dalam dalam. Menenggang rasa, setidaknya ia masih nampak nyaman berjalan di sebelah Firman.
“Rossa Ulang tahun hari ini….dia pasti kaget aku kirim bunga”
Wina diam, langkahnya nyaris terhenti. Firman yang bercerita sepertinya sangat bahagia. Jalan di antara bunga, langkah serasa ringan, melayang bertabur cinta.
“Aku akan kasih kado paling indah buatnya”
Wina diam. Seluruh badannya serasa menggigil.
“Bagaimana Rossa menurutmu?”
“Cantik dan pintar”, Suara Wina tertelan di tenggorokan.
Duduk, menimang setangkai mawar dalam genggaman.
“Rossa pernah cerita tentang aku?”
Wina menatap
“Ya……………”
“Apa katanya?”
Wina menunduk, berpaling, lalu lintas kendaraan ramai. Kuatkan hati, sejenak lalu memandang tepat ke arah Firman.
“Kamu baik, penuh perhatian, tidak egois, IP mu paling bagus, taat beribadah, kamu sangat sempurna”, Wina nyaris menangis. Kata-kata itu darinya bukan Rossa, kata kata yang ingin ia ungkapkan. Bukan pada waktu yang tepat tapi sudah tak ada pilihan. Besok ia dan Firman pasti ada jarak, dan Rossa punya hak untuk membangun jarak
Menangis menggigil, tubuhnya serasa demam tinggi. Hatinya sakit, beberapa air matanya jatuh disentuh dengan ujung jari. Lalu lalang kendaraan ramai nyaris pula tanpa suara. Namun sekuat tenaga ia berjuang agar Firman merasa nyaman disebelahnya.
Perempuan Itu…..
Sejak jam tujuh sore, Firman duduk di gazebo pelataran rumah Rossa. Bangunan tinggi dengan arsitektur modern, lengkap dengan taman indah. Pagarnya tinggi tertutup rapat dijaga dua satpam dan tiga ekor anjing berkeliaran. Sejak jam tujuh sore. Waktu merambat seakan lambat. Hanya bibi pembantu yang berkali-kali memberi tahu agar Firman mau menunggu. Hanya itu…. selebihnya Firman duduk sendiri di gazebo jati ukir cokelat, beberapa pot anggrek indah bergelantungan.
Rossa ada pesta ulang tahun di salah satu pusat hiburan, yang namanya Firman baru sekali ini mendengarnya. Maklum Firman bukan orang yang menyukai tempat tempat seperti itu. Bersahabat dengan Rossa, baru sekali ini tahu Rossa gemar ke temapt hiburan
Pintu pagar terbuka. Bibi pembantu tergopoh gopoh menyambut, Perempuan cantik keluar, dengan tas di tangan. Rambutnya keemasan, celana panjang dengan blous putih, sepatu hitam hak tinggi tujuh centi, anggun melangkah. Bibi pembantu membawakan tas belanja dan pembantu laki laki memasukkan mobil ke garasi.
Firman berdiri menyambut
”Ada janji dengan Rossa?”
“Enggak ada”
“Ohh……”
Tante Rossa mempersilahkan duduk lantas masuk ke dalam rumah. Ada sesal, mengapa tidak janji dengan Rossa. Terpikir kalau bunga sudah dikirim pagi, Rossa meski membaca kartu ucapan lantas duduk manis menunggu kedatangan. Memakai rok dengan atasan merah menyala, senyum mengembang, dan Firman disambut bak pangeran.
Menunggu itu membuat Firman sangat resah. Duduk sendiri di gazebo jati ukir cokelat beberapa pot anggrek indah bergelantungan. Selama berjam-jam serasa melelahkan. Sudah terlalu larut. Baru saja Firman hendak bangkit, Satpam membukakan pintu pagar, sebuah mobil meluncur masuk. Sampai kemudian Firman melihat seorang gadis terhuyung, tas kecil tersangkut terjatuh. Laki laki memeluk dan membawanya ke dalam rumah. Firman mulai meraba. Tante Rara menyongsong di pintu masuk
Laki-laki itu keluar dari rumah mengahampiri tante Rara
“Maaf Tante. Rossa minum terlalu banyak”, ujar laki laki itu
“Lupa pesan tante ya?! jangan sampai mabuk”
“Cuma sedikit tante. Ini tadi mulai sadar saat aku pamit pulang”
“Kok pulang?”
“Saya harus balik ke Jakarta malam ini”
Tante Rara dan laki laki itu saling mencium pipi tanda berpamitan. Tanpa rasa. Firman hanya menunduk. Cemburu menyelinap di hati, Ia merasa kalah.
Firman mengambil tas kecil yang terjatuh di depan teras. Tasnya terbuka, isinya berhamburan. Tangan lain mendahului memungut bungkusan kecil. Pandang mata beradu. Tante Rara menebarkan senyum lantas memungut dan memasukkan ke dalam tas.
“Aku yang minta dia selalu membawa ini, jika sedang berkencan”
Firman menatap tak mengerti
“Kamu pasti mengerti, tak ada ibu yang mau anaknya…. hamil sebelum menikah. seks yang baik harus aman, sehat dan bertanggung jawab, satu lagi, setia dengan satu pasangan. Tante pikir kamu sudah ngerti itu”
Firman mengalihkan pandangan.
“Jangan salah sangka, Rossa gadis baik-baik”
“Saya tau Rossa gadis baik”
“Nggak apa-apa kalau mau nunggu Rossa, sebentar lagi pasti sudah sadar”
“Saya pulang dulu, Rossa butuh istirahat”.
Sudah terlalu larut, terlalu lama menunggu, terlalu lama mencintai. Terlalu dalam kecewa di hati Firman, bergegas ia pamit pulang bersalam dengan tante Rara. Baru saja langkah Firman sampai pos satpam, langkahnya terhenti. Mawar- mawar yang dikirim kepada Rossa tergeletak di ruang satpam. Firman menghampiri
“Mawar dari siapa pak?”
“Untuk,mbak Rossa”
Firman memungut mawar yang tergeletak di lantai. Menciumnya perlahan. Nyeri serasa. Pagi tadi ia dan Wina memilih bunga itu untuk memberi kejutan kepada Rossa siapa tahu bakal terkejut sendiri. Mawar itu tergeletak sendiri tanpa ada yang peduli.
“Pagi tadi aku tergesa keluar jadi aku titipkan satpam. Dari kamu?”
Rossa sudah ada di belakang. Agak kuyu, namun tetap cantik. Rambutnya dibiarkan jatuh agak acak namun tetap cantik. Tak padam cinta Firman, diulurkannya mawar itu. Rossa meraih dan mendekapnya erat-erat.
“Ya…nggak apa apa. Selamat ulang tahun”
“Makasih, ya. Bunganya indah banget!?!”
“Kamu berangkat pagi hari?”
“Mumpung pulang dan libur. Di kampus aku terlalu sibuk, nggak sempat menikmati hidup”
Nafas Firman dalam, mengangguk memberi hormat pamit pulang. Rasa kecewa itu tak juga memadamkan cinta.
“Kita belum sempat ngobrol, jangan pulang”
“Sudah malam”
“Baru jam sebelas, lagian baru sekali kamu kemari”
“Kapan-kapan kita bisa ketemu di kampus”
“Kenapa tidak sekarang? Biasanya tiap hari kita selalu bersama. Aku kangen ceritamu. Begitu pulang ke rumah serasa sepi, nggak ada kamu, nggak ada Wina. Cuma ada bibi pembantu…nggak nyambung”
Berjalan Rossa ke halaman depan dekat gazebo jati ukir cokelat, beberapa pot anggrek indah bergelantungan., ada dinding tebing, dengan air mancur merembet sepanjang dinding, suara gemericiknya indah. Tidak tega, Firman mengikuti dari belakang. Remang cahaya lampu menerpa sebagian rambut dan mukanya
“Kepalaku masih pusing, maunya tidur, tapi bi Yem bilang kamu menunggu di luar. Mana Wina? Nggak ikut kemari?” Duduk di kursi panjang taman.,
“Wina ada di rumah, dia sibuk dengan ayam-ayam”
“Kepalaku pusing banget”.
“Kamu seharusnya tidak minum”
“Cuma menghangatkan badan, udara dingin sekali”
“Kalau saja kamu pakai pakaian yang tertutup. Setidaknya tidak terasa dingin”
“Mana ada pesta pakai pakaian tertutup?”
“Banyak minum bisa merusak tubuhmu”
“Bule tiap hari minum, tetep cantik”
Firman duduk di sebelah. Manja Rossa meletak kepala di pundak, nafas Firman serasa sesak
“Itu tadi pacar aku. Exel, dia pemain band. Sudah rekaman, sebentar lagi albumnya keluar”
“Ya…..aku sudah menduganya”
“Dia di Jakarta, jarang ketemu. Dia baru datang kemarin, malam ini langsung cabut ke Jakarta.”
Firman bertutur sakit dan nyeri di dada. Ditikamnya cinta yang tumbuh berurat berakar tanpa ampun. Dicabik cabiknya, menyesal tanpa akhir. Kalau bukan laki- laki ia akan menamgis meraung malam ini. Tapi ia laki-laki. Pantang baginya meski pun hanya basah di sudut mata.
“Hampir empat tahun aku bersamanya. Persahabatan kita hampir enam tahun, lebih lamaan kita”
“Nggak baik pacaran terlalu lama”
“Maksudmu? Menikah?” Wina tertawa, “Aku nggak siap. Takut. Aku nikmati saja yang ada. Pacaran itu nikmat”
“Tapi menikah itu lebih baik, setidaknya ……”
Rossa tertawa kecil
“Bapak ibuku tak pernah menikah dan dia baik baik saja. Yang dibutuhkan cuma toleransi, saling menghargai dan tanggung jawab. Apa salahnya aku pilih hal yang sama?”
“Dan kau tidak akan menikah?”
“Jangan pikir, tidak menikah itu tidak bahagia. Orang tidak menikah itu juga bisa bahagia, bisa punya anak, bisa punya keluarga”
“Maaf Ross, aku bukan penganut agama yang taat, tapi yang aku tahu, agama apa pun melarang perzinahan”
“Jangan menggunakan kata zinah, kotor sekali aku mendengarnya”
“Maaf, rasanya aku tidak cocok mengunakan istilah seks pranikah”
“Hidup itu banyak pilihan, selama aku bertanggungjawab atas pilihanku. Apa salahnya? Kita punya pandangan hidup yang berbeda”
Firman menatap. Rossa yang cantik bertutur banyak, celana pensil dengan jaket dan syal mengalung di lehernya. Dalam remang malam Rossa amat cantik. Firman tak jenuh menatapi, gadis impian. Berdiri, Rossa mengikuti. Cinta dan bergolak hebat memenuhi dada.
“Kita bisa berbincang di sini…. Sampai pagi”
“Kamu harus istirahat. Wajahmu nampak lelah”
“Jangan pulang”
“Selamat malam, Ross”
Tatap mata indah Rossa tajam mencabik cabik, dada Firman luka dan berdarah darah.
“Kita sangat berbeda”, Rossa lirih
“Ya…”
“Kau mencintai aku?”, Rossa setengah berbisik
“Ya…….”
“Sejak kapan?”
“Pertama bertemu”
“Jika sekarang kau memilih aku, akan kutinggalkan dia. Jujur saja aku lebih sayang kamu. Rasanya aku lebih bisa hidup bersamamu”, Rossa mulai menangis. Cinta yang tak pernah diungkapkan mendadak meluncur begitu saja.
“Kau bilang kita sangat berbeda”
“Pelangi itu indah karena perbedaan”
“Tapi kalau kendaraan dan tujuan kita berbeda, kapan kita bersama?”
Suara Firman nyaris tertahan. Rossa memeluk erat tubuh Firman. Tubuh Firman mendadak kaku, tak tahu ke mana tangan mesti diletakkan. Ia surutkan cinta dan pengaharapan kepada Rossa
Pagi-pagi secepat kilat ia pacu sepeda motor menuju karang asem. Rumah Wina sepi, hampir pagi, beberapa ayam jantan mulai berkokok lantas bersaut sautan. Rumah itu gelap, hanya beberapa cahaya yang menerobos. Meringkuk Firman di bangku panjang bawah kelengkeng. Berselimut jaket. Menggigil luar dalam.
Jendela kamar lantai dua terbuka tirai. Wina saksikan semua. Perlahan turun. Duduk berdua. Bi Karti dan kang Parjo mengangkati timba-timba berisi makanan. Memasuki kandang, ayam berebut mematuk-matuk makanan.
“Kamu pernah berciuman?”, Firman tiba tiba.
“Ibu selalu bilang jaga dirimu. dan aku menjaganya”
“Setiap ibu akan bilang, jangan hamil dulu”
“Tapi ibuku bilang, jangan bersetubuh dengan pacarmu”
“Dan kau tidak menginginkannya?”
“Kalau kuhabiskan sekarang, besok aku tidak akan bisa merasakan”
Menggandeng lengan Wina menuju kandang ayam. Bi Surti dan kang Parjo menuangkan air rebusan kunyit dan temu putih. Pandangi ayam-ayam yang mematuk-matuk makanan, lantas berkejaran. Lantas bercinta, si jago amat jantan ia bercinta dengan banyak betina tanpa hitungan.
“Ayam bisa bercinta kapan saja dengan siapa saja, tanpa nikah diakadkan, tapi tentu tidak dengan kita.”
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Perempuan Pilihan






































