<< Cerpen Cinta Tiada Batas  >>

Cinta Tiada Batas

E-mail Cetak PDF

CINTA TIADA BATAS
Oleh: Riris Raden

 

Kenanga itu jatuh, bunganya berhamburan menyentuh kaki. Masih pagi, bukit itu masih berkabut. Tapi galah galah panjang tegak menyentuh tangkai tangkai kenanga. Lantas jatuh… berhamburan menyentuh kaki. Jari jari manis memungut satu persatu memasukkan ke dalam keranjang.

“Masih pagi”

Tangan bersentuhan saat memungut satu kenanga terakhir.

Duduk  berdampingan di akar pohon besar. Puncak bukit, situs percandian dengan tiga  batang kenanga tegak. Tangga berundak, beberapa bongkah batu candi yang mulai rusak. Patirtan Airlangga dengan air yang  mengucur sejak berabad abad, bening. Hari masih pagi, bukit masih berkabut. Duduk berdampingan serasa nikmat setelah berpisah hampIr  setengah tahun.

            “Aku pikir kita nggak akan ketemu lagi”, sedih aku

            “Aku juga pikir begitu dan mungkin begitu”

            “Maafkan ibu, tak seharusnya ibu kasar waktu itu”, kataku serasa sesak.

            Pundak Awang serasa nikmat ketika kepalaku singgah. Aku merasa bisa menghitung dengan tepat setiap detak jatungnya. Lengan dengan bulu bulu halus yang berjajar itu tergeletak di pangkuanku.

            “Setiap ibu akan melakukan hal yang sama”

            “Ibu selalu menganggap aku masih anak anak”

            “Kamu belum tujuh belas tahun”

            “Tuhan tak perna mengukur dewasa dengan usia”

            Aku berdiri. Villa dalam pandangan, bangunan berlantai dua, bercat biru, halaman lebar, ada kolam dengan banyak ikan. Patung dwarapala, tembem membawa gada di tangga naik menuju teras rumah. Beberapa kamboja merah, deeba, alanza, felicia, sheng lin, ngoc long. Yang terakhir ini yang paling banyak, warnanya merah menyala, hampir memenuhi sebagian besar kiri halaman. 

“Aku kangen meletakkan serbuk sari doxon pada putik arturo”, suaraku nyaris tak terdengar

“Dan akan lahir adenium merah menyala tumpuk tiga”

“Aku suka melakukannya”

‘Kamu bisa melakukannya”

“Mungkin tak akan lagi”

 “Kamu bisa datang ke villa itu setiap hari”

“Sendiri?”

“Ada bi Surti, kang Parto… kamu tidak sendiri”

“Apa nikmatnya?”

“Kamu harus menikmati meski tidak kamu sukai”

Awang pandangi pandai aku

Angin di atas bukit. Kenanga tiga batang bediri kokoh. Patirtan Airlangga, airnya senatiasa mengalir berabad abad nyaris tanpa henti. Memainkan jari jari pada air yang mengalir. Bongkah bongkah batu pahat candi nampak purba, berserak serak

Pandangi kekasih. Coklat dengan mata tajam, senyumnya manis cokelat susu. Disentuhnya pipi dengan ujung jari. Berpaling pandangi villa, bi Surti dan kang Parjo sibuk mengangkat tas ke dalam mobil. Ada yang hendak pergi.

“Semua kamboja itu untukmu, kamu bisa menyilangkan doxon dengan Arturo atau doxon dengan tr……………..”

“Kamu akan benar benar meninggalkan tempat ini seperti keinginan ibuku”

“Aku harus menemani Andrea di Sidney. Dia punya bayi”

“Bawa aku ke sana”

“Kamu masih muda, masih punya banyak waktu untuk mengejar impianmu”

“Impianku cuma ingin bersamamu”

“Kamu belum tahu dunia”

“Tapi aku mengerti rasa cinta”

“Cinta saja tidak cukup, Na. Kita berbeda”

“Cinta itu buta”
            “Tidak. Cinta itu penuh dengan pertimbangan pertimbangan”

“Dan kau menimbangnya?”

“Aku laki laki yang bersalah…..khilaf. Maafkan aku, Na”

“Dan hubungan kita hanya kekhilafan? Begitu?”

“Aku tak sedewasa usiaku, aku belum bisa menjadi penguasa bagi diriku sendiri. Mempunyai kemampuan mengatur hati, kapan mencintai, siapa yang dicintai, dalam kapasitas apa mencintai, seberapa pantas porsi mencintai. Aku belum punya kemampuan menguasai diri. Sering aku membiarkan hati mengalir seperti aliran sungai dan ternyata aku hanya mendapatkan kenikmatan dan keindahan, bukan kebijaksanaan”

“Mencintai aku itu bukan sikap bijaksana?”

“Ya. Aku sependapat dengan ibumu. Itu terlalu naïf”

“Dan mencintaimu karena aku butuh figur bapak, begitu?”

“Ya…aku sependapat dengan ibumu. Kamu hanya merindukan bapakmu”

“Aku masih kecil waktu itu, tak ada yang bisa kuingat dari wajah bapakku”

            Aku menangis sesenggukan, Bi Surti dan Kang parjo sudah mengangkat banyak tas ke dalam mobil itu. Berdiri aku terpaku, aku melihat dengan jelas mata Awang berkaca. Kuletakkan telapak tangan di dada, aku merasa bisa menghitung detak jantungnya dengan sempurna. Aku merasa bisa menyilang doxon dan arturo dengan sempurna setidaknya aku sanggup menyilang usia mendekati sempurna.

            Menuruni tangga, berjalan di samping Awang. Jalan setapak menuju villa. Sesekali Awang menggandeng tanganku saat jalan terjal berliku. Kakiku tersangkut, terkait akar besar dan aku nyaris terjatuh, tangan kekar Awang meraihku. Memeluk tidak hanya tubuhku tapi juga merampas hatiku. Hatiku luka berdarah darah. Menhir situs purba berdiri tegak di sebelahku, sisanya patah berkeping keping tanpa ada yang merawatnya. Dan aku? Apa bedanya?

            “Maafkan aku, Na. aku benar benar bersalah”, Awang memohon.

            “Aku nggak ngerti…..”

            “Aku yang nggak tahu diri”

            “Karena usia kita berpisah?”

            “Andrea punya bayi, aku nggak mau kamu nampak tua”

            “Aku bisa nerima”

            “Usiamu belum tujuhbelas tahun, aku nggak mau kamu dipanggil embah”

            Berjalan aku di samping Awang Villa, itu semakin dekat.

“Kita benar benar berpisah?”, Setengah berharap aku

“Ya……..”

“Aku takut berpisah”

 “Dengan siapa kita tidak berpisah, dengan diri kita pun kelak kita akan terpisah”

            “Ya Tuhan……”

            “Ninna….. hanya dengan Tuhan kita tak pernah terpisah”

Awang  pergi, hanya menjabat tanganku lantas memasuki mobil. Tidak lagi muda,  sudah limapuluh tahun, namun ia masih nampak gagah. Kenanga dalam keranjang kudekap. Awang mengajariku kecintaan pada kenanga. Bunga yang sebelumnya identik dengan kematian itu menjadi bermakna cinta.            

            Awang benar benar pergi. Aku tahu batas patah hati. Dan kelak Awang  tak lebih dari barang purba, sebagaimana bongkahan candi  dan beberapa menhir. Kelak pun aku akan datang mungkin tak sempat meletakkan serbuk sari doxon pada putik Arturo, setidaknya aku akan  sekedar wisata hati.

Joomlart