<< Cerpen "Ketika"  >>

"Ketika"

E-mail Cetak PDF

“KETIKA”
Oleh: Riris Raden

                                               

Senja matahari terbelah batang evergreen

            “Ke mana?”

            “Ke mana?!?

            “Kau hendak ke mana?”

            “Apa bedanya ke mana dan tidak ke mana mana?”

            Seperti tergesa. Sepertinya  berlari …..

            “Paling tidak katakan padaku”.

             Perempuan  berhenti. Pipinya basah air mata. Perlahan laki laki itu menyentuh dengan ujung tissue.

            “Maafkan aku” ujarnya lirih.

“Kita berpisah”

“Kenapa?”

“Berpisah atau tidak. tak ada bedanya, kita tak akan perna bertemu”

            “Aku tidak ingin berpisah”

            “Dengan siapa?”,

Laki laki itu ragu..Senja merangkak, matahari suram, batang evergreen kokoh berdiri

            “Menjawabnya pun kau tak bisa”

            “Aku mencintaimu, Sri”, menyentuh pundak

 

            Air mata perempuan itu jatuh.

            Tas perempuan itu jatuh.

            Buku buku perempuan itu jatuh

            Hati perempuan itu jatuh.

 

            “Aku telah mendengarnya berkali kali. Setiap mendengarnya dadaku bergolak hebat, melompat lompat, panas membakar. Di dadaku ada yang meledak ledak tanpa bisa kujinakkan. Aku juga mencintaimu, Zal. Lebih dari yang kau bayangkan. Lebih besar dari yang kau sangkakan. Tapi apa itu cukup?”

            “Aku tidak tahu , Sri. Yang kutahu hanya cinta padamu. Tidak yang kemarin atau yang akan datang, tidak tahu alasannya atau pun tujuannya. Tidak tahu untuk bersenang senang atau sebuah pernikahan. Yang kutahu aku hanya cinta padamu. Jangan bertanya karena aku bukan laki laki yang pandai mengambil keputusan.”

            Perempuan itu mengambil tas. Pandangi laki laki itu dengan cinta lantas disentuhnya pipi perlahan.

            “Aku hanya perempuan kedua dalam hidupmu”.

            “Cintamu itu kutemukan setelah pertunangan”

            “Kau tentu mencintai tunanganmu”

            “Sekarang tinggal rasa hormat, perasaan teman , perasaan saudara, perasaan takut melukai, perasaan sangat bersalah, perasaan menyesal yang dalam”

            “Menikahlah dengan tunanganmu”

            “Jangan berpisah. Aku tidak mau berpisah”

            “Dengan siapa?”

            “Dengan siapa”, ragu.

            Helaan nafas laki laki itu panjang. Senja berkemas, malam menjelang, lampu lampu kampus mulai dinyalakan. Perempuan itu berjalan lamban menyusuri rerumputan. Bayang bayang diri nampak di kaki terlindung pohon pohon besar.

Kampus mulai sepi. Hanya ada satu dua tiga entah berapa mahasiswa yang masih berlenggang. Jalan perempuan itu mulai tidak teratur. Tiba tiba ia menoleh laki laki yang di belakangnya.

            “Aku akan pulang. Karena hanya itulah yang bisa kuputuskan. Aku tidak bisa menghentikan rasa cintaku. Setiap bertemu aku tidak bisa membunuh rasa cintaku. Ia tumbuh membesar menguasaiku. Aku akan pulang itu keputusanku. Aku akan kembali jika rasa cinta itu telah mati”

            “Kalau aku adalah milikku sendiri. Tidak ada hak orang tuaku, masyarakatku, tidak ada hak atas keputusanku, tidak ada hak bagi…Yayuk tunanganku. Aku akan selalu milikmu”

            “Aku pulang, Zal. Aku percaya cintamu. Hanya cinta di sini, di dada. Kelak aku  belajar menikah tidak perlu cinta. Karena menikah tidak hanya hakku, tapi hak orang tuaku, masyarakatku, adatku, juga kodratku”

            “Kita betul betul berpisah?”

            “Kini saatnya kita memutuskan”

            “Maafkan aku, Sri”

            “Hanya seperti ini”

            “Hanya ini”

            Ada yang menyeruak. Sesak. Tangan laki laki itu menelusuri helai demi helai.rambut kekasihnya. Sebuah perpisahan yang telah lama diduga dan berupaya dihindari akhirnya terjadi juga. Perempuan itu betul betul tak kuasa menjinakkan cinta di dada. Tangisnya seperti hendak meledak ledak, langit seperti hendak runtuh. Ia pun jatuh dalam pelukan. menikmati kehangatan, menelusur tubuh meletakkan beban. Ketika malam pekat pelukan lepas, laki laki itu berbisik lekat di daun telinga.

            “Kelak kita akan menikah di Sorga”,

           

Joomlart