<< Cerpen Rantai Sepedaku  >>

Rantai Sepedaku

E-mail Cetak PDF

RANTAI SEPEDAKU
Oleh: Ntan           

 

  Pagi yang cerah menyambut omelan Pak Hamjan yang terus marah-marah karena lagi-lagi aku tak membawa bukunya yang pernah ku pinjam.

“Wah, Tann… Bapak nanti mau menyuruh mereka menulis drama karena bapak harus pergi untuk persiapan ke Jogja besook..” Pintanya penuh harap.

“Yahh.. berarti saya harus pulang dong pak? Mau naik angkot macetnya parah tuuh..” Jawabku.

“Kamu minta tolong aja sama Marlina .. Siapa tahu dia mau gonceng kamu ke rumah .. kan perjalanannya lumayan ..” kata pak Hamjan dengan santainya sambil meninggalkanku.            

Marlina adalah temanku yang setiap harinya ia mengendarai motor ke sekolah,karena rumahnya lumayan dekat dari sekolah. Saat Pak Hamjan melangkah keluar kelas.. “Pakk.. pakk..”

“Apalagi Intaan ?” “Bantu saya ngomong ama Marlina donk pak…!!” Tak lama kemudian…

“Marlina bisa minta tolong kamu gonceng Intan ke rumahnyya ?”

“Duuuhh,, gimana yaah pakk.. bukannya saya ngga mau, tapi waktu itu saya habis ditilang pulang dari rumahnya Intan..”

“Udahlaah.. Coba aja dulu, paling-palingan ntar kalo ditilang polisi cuma minta 10.000..!! kasii ajja.”            

Mendengar instruksi yang sudah jelas dari pak Hamjan , kami pun menuju tempat parkir motor dan sepeda-sepeda lainnya. Namun, ada yang lucu yang sempat terlintas di otakku saat aku menggeser sepeda untuk mengambil motor Marlina…

“Wahh… kalo di bayangin , seru juga tuhh sepedaan ke rumah .. mumpung masih pagi !” Aku pun megeluarkan spekulasi itu yang akhirnya diiyakan juga oleh Marlina.

“Iya juga, ya,,, enakan naik sepedaa, kita akan memetik pengalaman baru dari hal ini.” Jawabnya menujukkan wajah serius.            

Tanpa pikir panjang kami pun mengambil sepeda masing-masing. Entah itu milik siapa, yang penting kita sampai di rumah.Sepeda itu akan kami kayuh sepanjang 7km jarak antara sekolah dan rumahku.. Kami menkmati perjalanan itu dengan terus mengkayuh sepeda kami.

Tapii, ketika kami telah di jalan raya, tiba-tiba… “Wahh , Tan rantainya lepas nihh. Kita berhenti dulu yuk” ungkapnya.

“Iya,, biar kita perbaiki dulu..”            

3 menit pun berlalu untuk sekedar memperbaiki rantai sepeda yang kami juga kebingungan memperaikinya. Setelah itu,, kami pun melanjutkan perjalanan karena perjalanan kami sekitar kurang lebih 7 km. Namun ternyata,,, ketika kami asyik menikmati perjalanan, rantai sepeda itu putus lagii, dan ternyata dapat juga kami simpulkan kalau sepeda yang dikendarai Marlina akan terputus rantainya sekitar 5M.

“Tannn, putus lagi..”

“Tuuuh di depan ada bengkel, kita tanyain aja kenapa..”

“Tapi, aku gak bawa uang..”

“Ntar aku yang bayar dehh, kamu ngomong aja dulu sama orangnya.” Marlina pun mendatangi bengkel itu, dan bertanya kepada salah satu pekerja disana .

“Pak, bisa minta tolong perbaiki rantai sepeda saya ? Dari tadi kami perbaiki tapi rantainya terus terlepas setiap kira-kira 5 M.” Marlina menjelaskannya pada pekrja itu.

“Sini deek, coba om lihat.. siapa tau rantainya kelebihan” Kami pun menunggu di perbaikiya sepeda itu, lumayan lama. Kami pun pergi untuk beli minuman karena kami merasa cukup kehausan setelah mengkayuh sepeda dan terus memperbaiki rantai sepeda.

 “Ini deek,, sudah selesai,, coba aja dulu”. Kata orang itu menyerahkan sepeda kami. Aku sempat mengkayuh sebentar sepeda itu, rantainya tak terputus. Aku pun menyuruh Marlina mencobanya lagi. Tapi, begitu di coba oleh Marlina, rantainya terputus lagi. Mungkin saat aku mencoba tadi tidak terlalu jauh jadi rantainya tak terlepas.

“Wahh .. dek, mungkin rantai itu memang sudah rusak , dan tidak bisa di perbaiki lagi, kalau tidak mau terlepas, bawanya jangan terlalu  kencang.” Kata orang itu menjelaskan.            

Kami pun pasrah menghadapi perjalanan yang  mungkin akan terus-terusan perbaiki rantai sepeda tersebut. Namun, kami coba untuk bertukaran sepeda, mungkin jika aku yang mengendarai, rantainya tidak terlalu sering terlepas, karena aku tak bisa balap-balap.            

Na’asnya, sepedaku yang dikendarai oleh marlina ban belakangnya kempes. Terpaksa kami melaju sendiri-sendiri. Marlina pun masih berada jauh di belakangku. Setelah sampai di rumahku, ayahku yang sedang duduk di ruang tamu bingung melihatku yang masih terengah-engah dan kelelahan.

“Lho,, kamu dari mana, nak ?” Tanya ayahku keheranan.

“Huffh,, huufh… Da.. da.. dari sekolah.” Aku pun menjawabnya dengan nada terengah-engah.

“Wahh,,, bagus donk.. Lain kali kalo ke sekolah naik sepeda aja.” Canda ayahku .

“Yah, ayah.. Gini aja udah capek, apa lagi hari-harinya.”            

Marlina pun datang yang juga terengah-engah. Kami pun masuk ke dalam rumah serasa tak sabar ingin meluruskan kaki dan punggung.

“Lho,, kok kembali …? Naik apa ke sini?” Tanya ibuku.

“Naik sepeda ..!!” kami pun menjawab dengan seerentak.            

Aku pun melangkahkan kakiku menuju ruang belajar untuk mngambil buku itu. Saat aku melihat bukunya, aku terus menggerutu dalam hati.

“Gara-gara buku ini, senin ini sangat sial bagiku.. tak ada hari yang mengalahkan kesialannya.”            

Sempat kami berbaring-baring melihat buku itu sambil kelelahan dan meminum juice yang di buatkan oleh ibuku.. Sungguh, ini adalah pengalamanku yang tak akan pernah ku lupakan. Setelah kami meninggalkan semua kelelahan di rumah itu, kami pun beranjak pergi ke sekolah lagi agar waktu masih bisa kami capai. Saat ku menaiki speda.. Lagi-lagi kepala mungilku ini mengeluarkan ide yang cukup cerdik!

“Marlina, kita charter angkot aja yukk… dari pada ntar kita nggak ikut pelajaran lagi.”

“Good idea…” Sergah Marlina penuh semangat menanggapi ideku. Agak lama kami menunggu… datanglah angkot kosong yang menawari kami utuk menaiki angkotnya.

“Pak, bisa kami charter mobilnya ?” Tanya ku pada supir itu.

“Mau di bayar berapa dee’ ?”

“15.000?”

“Wahh dek.. itu terlalu murah, 25.000 aja!”

“20.000?” Tawarku “duh , itu sih terlalu sedikit untuk 2 sepeda dekk ,, 25.000 aja lahh ,, kamuu juga kan turunnya ga deket dekk .. masiih mendiing bapak kasiih 25.000 ..”

“Ya udahh deh pak .. 25.000 .. “ jawabku pasrah . Diam tanpa kata kamii dalam mobiil angkutan tersebut. Menikmati kelahan kami . Sungguh ini lebih seru dari pada yang kami bayangkan sebelumnya . Haha .. Lagi-lagi aku tertawa geli mengingat kejadian tadi.. Sampailah kami di depan sekolah ..

“Pakk .. :(“ keluhku bersedih . “Lho ? kenapa Tan ? kok kamu bawa sepeda ?” Tanya pak Hamjan heran meihat kami . Sudah di gerbang sekolah , kami belum juga menjawab .. rasanya betul-betul kami nikmati kelelahan ini . Sampai masuk dalam kelas , kami masih meninggalkan kesan heran kepada pak Hamjan dan teman-teman ku yang lain.

“Huuh ..” keluh ku dan Marlina serempak . Membuat teman-temanku semakin heran . Seperti ada beribu pertanyaan dalam keluhan kami .

“Kenapa Tan? Liin?” Tanya salah satu teman kelasku pada ku dan Marlina .

“Pasti kalian di tilang ya?” Jawab salah satu temanku lagi tak sabar menunggu jawabanku dan Marlina.

“Iya , di tilang . Tapi ditilangnya sama rantai sepeda dan ban kempes . Naik ni sepeda butut . huh”. jawab Marlina masih kesal dengan kejadian yang sungguh memancing emosi kami.

“Loh ? Maksudnya gimana tuh? kok ditilang bukan sama pak polisi? Malah sama sepeda butut .. Haha”. Teman kami pun makin penasaran .. Karena kerumunan teman-teman kami terasa tambah memanas, akhirnya ku lontarkan juga cerita perjalanan ku dengan Marlina tadi . Teman-teman ku mendengarkan dengan seksama dan sedikit-sedikit terdengar suara tertawa geli dari mereka . Aku pun begitu, ikut tertawa malu melihat temanku menertawaiku.

Joomlart