KETIKA CINTA TIDAK RAMAH
Oleh: Riris Raden
Manaiki tangga gedung, tangan saling menggenggam.
Kampus sore hari, langit amat cerah. Bunga kana merah, kuning, jingga berjajar depan laboratorium. Air terjun kecil merambat sepanjang tepi anak tangga. Sunggai membentang dengan air deras menendang gumpalan batu batu besar. Agak jauh, kolam diapit taman taman dengan bangku panjang beratap bunga merambat warna ungu. Sepasang angsa berenang. Berpasang pasang mahasiswa duduk pandangi kolam di bangku taman. Sore hari teratai ungu kolam bermekaran, sepasang angsa berenang, berciuman. Berpasang pasang mahasiswa duduk di taman memandangnya, dalam angan, berciuman menjadi keinginan.
Menaiki anak tangga, tangan saling menggenggam. Shinta menawarkan senyum manis. Rambutnya diikat ke belakang. Keningnya dibiarkan polos tanpa poni. Hanya simbar halus, Gaza menyukai simbar itu. Di balik simbar ada tahi lalat kecil, Gaza selalu ingin menyentuhnya
“Kamu yakin nggak perlu kutemani?”
“Nggak usah, Za. Dokter Anna minta kamu bertemu sore ini kan?”
Di depan pintu laboratorium langkah mereka terhenti, lantas saling pandang.
“Karina sakit”
“Aku ngerti, teman masa kecil nggak bisa dilupakan”
Gaza membukakan pintu laboratorium. Berdua memasuki . Dari jendela tampak satpam sibuk memainkan ponselnya. Bukit dengan batang batang bambu sebelah perpustakaan remang di balik kaca. Tangan Gaza menggenggam erat
“Jangan cemburu dong, Shin”
“Jujur, Za. Kadang aku cemburu. Kamu perhatian banget sama Karina”.
“Sudah tiga bulan bolak balik masuk rumah sakit. Bagiku Karina adalah sahabat.. adik tak lebih dari itu”
“Ya… aku bisa ngerti”
Gaza meraih tubuh Shinta memeluknya dalam dalam.
“Cepet lulus ya! Malam wisuda aku akan melamarmu”, Bisik Gaza di telinga. Shinta amat menikmati pelukan itu. Laboratorium sunyi senyap, Satpam sibuk bermain ponsel. Bukit dengan batang batang bambu sebelah perpustakaan remang di balik kaca.Dua mahasiswa yang lain sibuk tanpa peduli. Tubuh Shinta tenggelam dalam pelukan tubuh jangkung Gaza.
Menemani Shinta beberapa saat. Gaza meluncur dengan motornya menuju rumah Dokter Anna. Begitu membuka pintu pagar, perlahan menoleh rumah seberang jalan. Rumah mungil dengan banyak bunga, ia pernah menempati rumah itu sampai berusia sepuluh tahun sampai kemudian ia harus mengikuti bapak pindah tugas ke Papua. Rumah mungil penuh dengan kenangan, banyak waktu dihabiskan untuk bermain dengan Karina. Gadis manis, rambut merah bunga jagung, mata bulat indah, meloncat loncat ketika bercerita.
Beberapa langkah memasuki rumah dokter Anna. Pemandangannya masih seperti beberapa tahun yang lalu. Masih ada keranjang basket. dan beberapa batang mawar, bunganya bermekaran. Gaza hampir tak bisa melupakan ketika selesai main basket, selalu memetik mawar itu dan saling menghadiahkan. Ketika pulang Gaza meletakkan di meja belajar dan selalu memandangi menjelang tidur.
“Masuk”, Tiba tiba dokter Anna sudah berdiri di teras.
Melangkah memasuki ruang tamu. Photo Karina terpampang besar.
“Maaf bunda, seminggu ini saya belum sempat menjenguk Karina”
Dokter Anna memandangi Gaza, matanya basah, dia sudah lama berpikir lama untuk kesempatan ini. Di tariknya tangan Gaza menuju kamar Karina. Membuka pintu perlahan, perlahan pula Gaza memasuki kamar. Kamar Karina….. Gaza terperangah. Ranjang kayu berukir, meja rias, meja belajar, seperangkat computer, belasan lukisan terpampang dan berjajar, semua nyaris wajah wajah Gaza dengan segala gaya dan jenjang usia.
“Ini….. Karina melukismu ketika kamu pergi ke Papua”, Dokter Anna menjelaskan salah satu lukisan, “ia begitu sedih ketika kamu pergi… semalam tak keluar dari kamar dan ini hasilnya”
Ya Tuhan, nafas Gaza terasa sesak. Badan serasa menggigil. Ujung jarinya pelan sentuh lukisan itu.. Imajinasi Karina nyaris sempurna. Gaza ingat betul, Karina menangis, berlari mengikuti mobil yang membawa kepindahan keluarga Gaza, di dalam mobil gaza juga melakukan hal yang sama, tapi tak perna membayangkan kesan Karina begitu dalam dan menorehkan ke dalam kanvas
“Saya tak perna tahu Karina bisa melukis”
“Di kamar ini ada duapuluh satu lukisan sesuai dengan umurmu. Sepuluh lukisan wajahmu, persis waktu saat bersama denganmu. Delapan lukisan abstrak mengenang saat perpisah denganmu. Tiga yang lain saat bersama denganmu”
“Karina lakukan itu…..”
“Kamu sangat tahu …..”
“Ya…”
“Karina mencintaimu”
Gaza pandangi kamar, gambar dirinya berbagai pose tersebar. Dokter Anna pandangi Gaza. Matanya sembab, begitu banyak air mata yang keluar. Putri tunggalnya harus menangung sakit yang mematikan, penyakit yang sama juga perna merenggut nyawa suaminya
“Menikahlah dengan Karina, Za”
……………………………..
“Setiap selesai operasi, ia selalu menyebut namamu”
…………………………….
“Aku mohon, Za. Menikahlah dengan Karina”
……………………………………………..
“Dokter Agast bilang, usia Karina paling lama tinggal lima bulan. Aku ingin di akhir hidupnya dia bahagia menjadi istrimu
“Saya sudah………..”
“Tidak lama, Za. Hanya lima bulan…. Setelah itu…………..
Dokter Anna membuka lemari, mengambil kotak, membuka dan menyodorkan pada Gaza.
“Aku tidak tau mulai kapan mencintaimu, tapi aku tau betul ia sangat mencintaimu, setiap hari tak perna lupa membuka kotak ini. Ia menyimpan setiap mawar yang kau beri saat selesai main basket, tanpa peduli telah kering atau berbau. Kamu tak perlu membalas cinta, aku hanya mohon kamu membahagiakan di sisa hidupnya”
“Ya Tuhan …… Karina”
Gaza menutup wajahnya rapat rapat. Wajah Shinta menyeruak cepat. Duduk di laboratorium yang sepi, hanya dengan tiga mahasiswa. Sepi sangat. Suara angin nyaris terdengar keras dan satpam kekar duduk menjaga di depan pintu bermain ponsel sampai puas
“Aku takut Karina meninggal sebelum sempat duduk menjadi pengantenmu”
“Karina akan baik baik saja”
“Dalam sisa hidupnya, dia cuma ingin kamu”
“Bunda….yakinlah.. Karina akan baik baik saja”
“Aku dokter, Za. Aku tau betul bagaimana leukemia itu akan mencabut nyawa Karina. Aku Mohon, Za. Bahagiakan Karina. Aku mohon, Za”
Lukisan wajah dirinya yang bertebaran di kamar Karina membuat hatinya teriris, Shinta yang menunggu sambil duduk di bangku dengan hamparan kana merah kuning jingga terlupakan begitu saja. Saat ini ia hanya ingin ketemu Karina teman basket masa kecil tetangga depan rumah.
Di halaman belakang, Karina duduk di atas kursi roda, rambutnya tipis, mata mata bulat indah yang meloncat loncat ketika bercerita nampak sangat sayu, tangannya lemah bergerak di atas kanvas. Hanya sedikit mengangkat wajah ketika Gaza datang, menyambut dengan seyum tipis. Gaza berlari menghampiri lantas terduduk memeluk lutut Karina. Memandang Karina ingin sekali Gaza menangis
“Za….jangan sedih! Tak ada yang perlu ditakutkan, karena yang hidup pasti mati”
“Aku tau kamu hebat, aku tau dari dulu…. ”
“Aku menyukai masa lalu, meski aku tau jarak itu paling jauh”
Gaza menyentuh rambut tipis Karina, memandang wajah yang pucat namun masih tetap manis. Bola mata bulat indah, rambut tipis merah jagung muda.
“Kala itu kita selalu bertukar mawar setiap selesai main basket”
Tiba tiba Karina tertawa. Masih manis.
“Aku masih menyimpan mawar mawar itu”, riang Karina bertutur
“Menikahlah denganku!”
Gaza mengambil kotak perhiasan dari saku yang baru saja diterima dari dokter Anna ketika hendak menemui Karina, membuka, mengambil cincin lantas menyelipkan di jari Karina.
“Mendadak sekali…..”, Suara Karina nyaris tak terdengar
Gaza mendekatkan wajahnya
“Cinta tidak perlu diucapkan”
“Tapi ucapan itu kepastian”
“Menikah itu yang sesungguhnya kepastian”
“Apa artinya menikah di akhir usia?”
“Meski kematian tinggal satu jam lagi, kalau kita masih bisa memberi arti, apa salahnya dilakukan”
“Apa artinya buatku?”
“Kamu akan melewati tugas hidupmu”
“Dan meninggalkanmu sebagai duda?”
“Apa artinya status, jika didapatkan dengan cara yang tidak salah”
Gaza menyodorkan kotak perhiasan. Lemah sekali Karina mengambil dan menyelipkan di jari manis Gaza. Sejenak berpandangan. Petik mawar merah Gaza meletakkan dalam genggam Karina.
“Aku akan melukismu, dulu aku melukismu dengan khayalan. Sekarang kamu nyata ada dihadapanku”
Gaza mundur beberapa langkah duduk di kursi taman. Tangannya meraba jari manis yang terlingkar cincin. Menelusur wajah Karina. Gadis manis rambut merah bunga jagung itu sesekali menatap wajah Gaza untuk dilukis. Berkali kali ponsel Gaza berdering, Gaza berusaha menahan diri, ia tau betul itu pasti dari Shinta. Gadis itu masih menunggu di laboratorium lantai dua dengan air terjun kecil di sisi kiri kanan tangga, dan teras penuh warna dengan bunga kana merah, kuning, jingga. Duduk sendiri….merana.
Gaza melepas cincin dan memasukkan ke dalam laci di meja belajar, itu selalu dia lakukan menjelang ketemu Shinta. Memandang Shinta dari balik jendela kaca. Duduk di bawah bukit bambu sebelah perpustakaan, mata Gaza menjadi leluasa. Begitu tau Shinta membuka jendela, Gaza berlari menaiki anak tangga lantas memeluk erat tubuh kekasih tepat didepan pintu. Lantas berdua menggenggam tangan menuruni anak tangga. Duduk bangku panjang dekat kolam beratap bunga merambut warna ungu.
“Aku merasa kamu aneh, dulu tak sesering ini memelukku”
Diam pandangi kolam. Cahaya lampu berpendaran. Angsa berenang renang sesekali berciuman
“Bagaimana Karina?”
“Dia sakit……….”
“Kamu sudah mengatakan yang itu”
Gaza menarik nafas panjang.
“Dokter bilang dia hanya mampu bertahan lima bulan lagi”
Kolam kolam dengan bangku panjang beratap bunga merambat warna ungu. Jam sembilan. Beberapa mahasiswa sudah mulai beranjak pulang. Pihak keamanan kampus dengan motor besar berpatroli si jalan jalan kampus. Bis bis besar mulai memasuki area parker. Besok pagi kampus ini punya hajatan besar.
“Shinta…. ”
Shinta memandang, mencoba mereka reka. Masih tetap tersenyum
“Beri aku waktu menikahi Karina”
Seperti batu besar menghunjam, dan bukan bis bis besar yang bergerak menuju area parker meski suaranya kadang meraung raung.
“Itu tidak adil, Za”
“Hanya lima bulan”
“Itu tidak adil, masak hanya Karina kita putus”
“Hanya lima bulan, Shin…. Setelah itu kita akan hidup bersama selamanya”
“Kamu pintar sekali menghitung usia”
Shinta beranjak, Gaza meraih tangan tapi shinta melepaskan lalu berlari, namun langkah Gaza lebih cepat sejenak kemudian berdiri menghalangi.
“Aku janji.. aku tidak akan mencium Karina….tidak akan tidur ……”
Shinta berlari pergi. Kakainya cepat menaiki anak tangga
“Aku tak bisa menyakiti Karina”
“Tapi kamu nyakiti aku”
“Kamu sehat…. nyawa Karina hampir sampai batas”
Shinta berdiri menatap. Airmatanya deras berjatuhan. Lembar lembar kertas hasil uji cobanya jatuh berhamburan. Dari balik remang cahaya lampu, Gaza masih bisa menangkap seberapa deras air mata Shinta. Terbayang Karina yang kurus pucat, dengan rambut merah bunga jagung yang mulai menipis
Memungut lembaran kertas Shinta yang berjatuhan dan mengejarnya kembali. Berjalan di sebelah Shinta yang marah di trotoar jalan yang menanjak, tangan Gaza berkali kali ditepiskan. Bis bis besar mulai berdatangan. Beberapa orang mulai banyak yang turun. Beberapa bis lagi masih bergerak menuju area parker. Jalan menanjak, Shinta berjalan di trotoar jalan itu dengan cepat dan Gaza berusah keras mengikuti sampai kemudian ketika Gaza nyaris sanggup menggenggam tangan Shinta, sebuah bis besar dari arah depan di jalan menanjak. Ban belakang bocor, oleng, bergerak turun agak cepat tanpa bias dikendalikan, menyapu tubuh Shinta. Terlempar. Darah mengucur merambat dari kepala ke pipi bercampur air mata. Gaza berteriak keras, berjalan berdua tapi Tuhan hanya mengambil salah satu nyawa
Bulan pucat, Karina duduk di taman belakang, merangkai cerita, merancang undangan pernikahan dengan Gaza. Betapa sebenarnya……Tuhan maha memegang nyawa.
| Berikutnya > |
|---|
Ketika Cinta Tidak Ramah







































