CINTA DALAM SECANGKIR KOPI
Oleh: Riris Raden
Laki laki Itu Dimas Namanya.
Duduk berdua, rindang pepohonan depan auditorium. Mahasiswa jurusan seni yang lalu lalang dengan pakaian yang amboii, aku menikmatinya. Pakaian mereka unik, kalung kalung yang menjuntai dan puluhan gelang eksotik. Senyum senyum aku, dan aku benar benar menikmatinya
Flamboyant berguguran. Bunganya berserakan di halaman, aku pungut, aku cium, tanpa bau, tapi aku tetap menciumnya. Dimas duduk di sebelah, rambutnya keriting sepundak dikucir ke belakang. Menatap serombongan gadis gadis yang berjalan memasuki auditorium
“Mbakku seorang penari, tapi dari kecil aku nggak suka. Aku lebih suka dengan bapakku di kebun apel, berjalan jalan di antara batang apel lebih indah dibanding harus belajar tari sama mbak Gendis dan ibuku”
Dimas hanya melirikku
“Dan sekarang mulai suka?”
“Kamu yang beri inspirasi”
“Ini pentas terakhirku”
“Oh ya?”
“Setelah lulus aku ingin kerja kantoran”
“Wah cepet cepet kepengen lulus ya?”
“Menunda kelulusan berarti menunda pernikahan”
Diam aku, nafasku seperti tersedak. Gadis gadis cantik berbincang, pakaianya warna warna. Dimas menarik lenganku, ikatan rambutku lepas ketika aku berdiri dari dudukku. Dimas menggulung dan menusuknya dengan cucuk rambut merah maron bermanik manik
Memasuki Auditorium. Suara rancak musik dan tarian. Menuju belakang panggung. Dimas duduk bersila, bertelanjang dada. Dada bidang dengan belasan bulu yang hendak tumbuh. Aku duduk di hadapan matanya, nanar. Beberapa penari lain sudah berhias. Beberapa lagi lalu lalang. Suara rancak musik mengiring tarian terdengar. Sesekali tepuk tangan panjang. Dimas hanya diam pandangi aku. Dan aku berselancar di bola matanya yang bening. Dadaku bergolak hebat
“Kayaknya aku bener bener kepengen lihat kamu nari”,
“Tari ini untukmu”
“Kenapa untuk aku?”
“Tarian persembahan untuk saudaraku. Larasati Raden”
“Kamu akan tetap ngajari aku nari, kan?”
Dimas tertawa, sentil hidungku. Pandanganku jatuh ke make up di tangan Dimas.
Gemetar aku menyaputkan bedak ke wajah Dimas. Sentuh satu satu dengan jiwa. Dimas selalu tersenyum pandangi aku. Aku menoreh pensil alis. Mengusap pemerah pipi. Dimas memegang tanganku yang gemetar. Pandang tanpa henti, senyum senyum…. lantas tertawa.
Akhirnya Dimas menari. Aku berdecak kagum mewakili puluhan penonton yang bertepuk tangan panjang sekali. Begitu turun panggung Dimas memelukku erat, namun begitu tersadar pelukan itu lepas perlahan. Menenggang rasa, menelusur di setiap pori wajah. Pelukan Dimas sesaat, serasa hangat.
“Kita seperti telah kenal berbulan bulan”, bisiknya di telingaku
Ia menarik lenganku membawa duduk di atas rumput di bawah pinang pinang. Rok panjangku tersangkut. Dimas membantu menariknya. Duduk berdampingan. Lampu malam halaman auditorium remang tertutup daun daung pinang. Aku menggulung rambutku yang terbang terbawa angin. Kupasang cucuk rambut kecil warna maron dengan hiasan manik manik
“Aku seperti terlambat mengenalmu”
Aku berusaha mengerti, tapi aku takut mengerti. Pandangnya ke mataku., ada yang membebani dadaku. Kupandangi laki laki itu, wajahnya teduh, matanya lembut, rambut keritingnya dibiarkan jatuh di pundak. Angin malam itu, rambut panjangku jatuh terburai angin. Dimas membantu menggulung rambut hingga rapi kembali, dipasangnya cucuk kecil warna maron dengan hiasan manik manik.
Bulan suram, saat aku berdampingan. Betapa aku ingin menitipkan kepalaku di pundaknya. Tanpa keberanian anganku hanya menjadi angan semalaman. Duh Dimas….
Secangkir Kopi Pahit
Bel baru saja berdentang, aku terburu keluar dari kamar. Dimas sudah duduk berdampingan dengan perempuan manis di ruang tamu. Ada cemburu menyeruak. Kubunuh, kutikam. Tangan gadis itu dibiarkan jatuh di paha Dimas. Ah Dimas. Siapa kamu sebenarnya? Aku ramahkan, aku manis maniskan senyuman. Aku duduk di hadapan mereka. Dimas memperkenalkan dan saling bersalaman.
“Lelly adikku, aku mau ngantar dia ke perpustakaan kota, mau nyusun tugas akhir. Ini ada hubungannya dengan pertanian, mangkanya aku ngajak kamu. Kalau kamu ada waktu, bisa nggak nemani Lelly ke perpustakaan”
Aku? Dimas begitu sayangnya pada Lelly, serasa aku sendiri
“Aduh …Di, aku lagi repot. Mungkin lain kali ya”
Aku pandangi Lelly, perempuan manis itu meletakkan telapak tangannya di paha Dimas, senyum senyum. Betapa susah aku meletakkan pandangan.
“Sungguh?”
“Ya… lain kali beri tahu aku. Aku akan bantu sebisaku”
Senyumku nyaris habis. Lelly gadis manis itu merenggut semuanya nyaris tanpa sisa.
Lely hanya mengangguk angguk, lantas tersenyum, manis dan sangat lembut. Rok agak panjang. Blous sangat feminim. Rambutnya panjang seperti rambutku dibiarkan jatuh hingga pinggang.
Ketika meninggalkan rumah kost dengan sepeda motor. Lelly melingkarkan tangannya ke pinggang Dimas. Tiba tiba aku sangat cemburu. Ya aku cemburu……… Kupandangi jalanan meski sepeda motor Dimas jauh meninggalkan pandanganku. Mereka reka… menebak nebak, namun aku tak berani membuat kesimpulan
Hanya itu…………..
Kamboja di halaman berayun, aku meremasnya tanpa ampun
Lantas diam……….
Sehari aku lebih banyak diam. Sesekali melihat photo photo Dimas menari di auditorium saat itu. Aku mainkan di laptopku. Lantas aku tertawai diri sendiri. Photo photo itu pula yang kemudian sering mengantarku ke sanggar tari. Menari hal yang kubenci menjadi yang aku ingini saat ini. Satu yang pasti… Dimas.
Belajar menari. Tubuhku mulai lentur, gerakanku mulai bagus. Dimas hanya menontonku. Rambut keritingnya di ikat ke belakang. Berdiri dengan tas selempang dada. Pake Tshirt hitam dengan celana senada. Sesekali bertepuk tangan. Dari sepuluh kali latihan, delapan kali Dimas menjemput dan mengantarku pulang. Dari delapan kali itulah Dimas mengarahkan dan membenahi gerakanku, bahkan sesekali mengusap peluhku. Cucuk rambut warna merah maron dengan manik manik tergeletak di atas tumpukan, terinjak kaki Dimas patah patah jadi tiga. Dipungut, digenggam, diletakkan di telapak tanganku, digemgamnya erat.
“Maaf”, katanya nyaris tak terdengar
Sungguh. Aku menjadi amat cerdas menyimpulkan, aku jatuh cinta dengan ledakan dasyat yang tak bias kuhindarkan. Mengepul asap asmara yang tak bisa kusangkakan. Aku cinta Dimas, sungguh.
Malam malam berikutnya, seperti hari hari kemarin, usai latihan aku duduk di pojok ruang, berkalung handuk kecil, keringatku mengucur amat deras. Gerakan kali ini amat rancak. Dimas duduk di sebelah menyodorkan sebotol air mineral. Sesekali menggulung rambutku yang jatuh, merogoh sakunya, mengulur cucuk rambut warna merah maron dengan manik manik 3 menjuntai manis.
“Tadi siang aku jalan di Matos. Aku beli ini”, ujarnya lirih. Matanya indah menatapku
“Untukku?”
“Ya…aku yang patahkan punyamu kemarin”
“Nggak perlu diganti”
“Supaya nanti kamu selalu mengingatku”
“Kamu nggak kemana mana, kan?”
Dimas menggulung lagi rambutku yang jatuh, mengikat dan memasang cucuk rambut manis warna merah maron dengan manik manik 3 menunjati manis. Sesekali sentuh simbar yang jatuh di keningku.
Laki laki datang menghampiri, Dimas berdiri. Mengambil sesuatu dari tasnya dan menunjukkan pada Dimas.
“Konsepnya kayak gini, kan? Aku agak bingung juga, mau kamu dan Lelly beda”
“Terserah Lelly maunya apa”
“Tapi aku berusaha madukan konsep kamu dan Lelly, kayak gini”
“Bagus kok…..ini sudah cukup, lagian masih lama, masih tiga bulan lagi”
“Iya…. Tapi undangan apa salahnya siap lebih awal? Dan ini untuk pestanya… Lelly minta di taman………..
Dimas dan laki laki itu terus bertutur, berjalan bergerak menjauh menuju ruang ganti. Aku tak ingin lagi mendengar pembicaraan itu.
Berbalut swieter hitam. Aku duduk di bawah flamboyan, di atas hamparan kursi dari rotan. Pandangannya nanar ke arah batang batang palm. Lampu 5 watt di teras sanggar tak mampu menjangkau tempat dudukku. Ada ngilu di hati. Warung kecil pojok sepi pengunjung, dua… tiga orang duduk di teras bergerombol memainkan gitar, nyanyi nyanyi kecil, pecahkan suasana. Dan Lelly? Dia pecahkan dadaku
Aku mesti menunggu Dimas mengantarku pulang malam ini. Hampir satu jam aku menunggu, Dimas muncul di hadapan membawa dua cangkir kopi. Memakai jaket hitam. Udara dingin malam itu, jam menunjukkan pukul dua belas
“Maaf, kamu nunggu lama. Itu tadi temanku dari EO”, sapanya
“Nggak apa apa”
“Minum! Biar badan kamu hangat”, ujar Dimas.
Dimas duduk di sebelahnya tanpa menoleh. Pandangan sama ke batang batang palm. Secangkir kopi di ulurkan ke arah ku.
“Udaranya dingin, aku pesan kopi untukmu”
“Aku nggak minum kopi”
“Pegang aja. Genggam… nanti badanmu juga hangat”
Dimas mengulurkan secangkir kopi. Aku meraih kopi dari tangan Dimas. Kupegang erat dan meletakkan di pangkuannya. Getar hati yang mendalam. Angin malam menusuk. Denting gitar, nyanyian nyanyian dari warung lebih menusuk nusuk. Dan Lelly? Nama itu…tusukan lebih sekedar samurai.
“Kamu manis, baik, dan pintar.” ia menghela nafas panjang,
Aku diam. Aku sering mendengar kalimat itu. Selalu di ulang ulang, tapi aku amat menyukai pujian itu.
“Kenapa baru bertemu sekarang? Kalau dari dulu kita bertemu tentu aku akan memilihmu”
“Kamu akan menikah?”, nyaris tak terdengar
"Aku sudah bertunangan lima tahun yang lalu, aku kelas dua SMA dan dia baru kelas satu”
Aku pandangi palm palm tegak. Satu satu air mataku jatuh. Cintaku ditolak sebelum sempat terucapkan. Ya Tuhan. Kupikir dia jatuh cinta padaku. Satu satu air mataku jatuh, malam remang dan cukup aku yang tahu. Kupikir dia cinta padaku. Satu .. satu kuurai…dan kupahami, ia hanya bermain main. Dan siapa pun akan tahu akhir permainan.
Jari jariku raba pipiku.
“Aku dengannya sudah tujuh tahun”,
“Yang kamu ajak ke tempat kost ku itu?”
“Ya … dia seneng kenal kamu”
“Dia cantik”
“Tiap tahun aku selalu evaluasi, dan aku berhasil melaluinya”
“Kamu hebat, bisa bertahan tujuh tahun”, aku lirih
“Aku menyayanginya”
Dimas bertutur terbata. Sakit dan serasa sesak. Sesekali menunduk, namun ia tak ingin melihatku. Pandangan ke batang batang palm itu Aku diam. Beberapa bulir air mata seperti tak ingin berhenti. Dimas mengengam secangkir kopi, Baru saja ia hendak meminum, aku berdiri, melangkah namun Dimas meraih tangan. Ada duka yang menyeruak. Aku ingin berteriak. Betapa cinta telah memenuhi dada. Perlahan aku lepas tangan Dimas.
“Kita akan menjadi sahabat, kan?”, Tanya Dimas menatapku.
“Ya.”,
“Kalau jadi saudara?”
“Ya…. Jadi saudara”, rapat dan cepat bersihkan pipiku, betapa santun cara dia menolak cintaku
Dimas berdiri. Dipandangnya wajahku dalam dalam. Aku melihat sepasang mata indah, menelusup, memasuki hati, bermain main, melipat lipat dadaku. Tangan kekar Dimas bergerak, jarinya sentuh rambutku. Rambutku yang tergulung jatuh menyentuh pinggang. Dua tiga helai sapu mukaku. Berdua lantas menunduk. Secangkir kopi dalam genggaman dingin tanpa terasa.
Kabut benar benar turun. Aku meninggalkan Dimas. Berjalan menyusuri jalan kampus, tak terasa aku menangis. Sepanjang jalan aku menahan tangis sampai kemudian Dimas menarik lenganku membawaku duduk di sepeda motornya.
Malam semakin malam. Di pintu pagar, kutahan pelan jari Dimas yang hendak menyentuh simbar di keningku. Matanya lembut, dan aku tak tahan menatap. Bergegas kulangkahkan kaki namun kembali ia menarik lenganku. Membuka telapak tanganku dan meletakkan cucuk rambut warna merah maron dengan manik manik 3 menunjati
“Simpan ini. Tadi jatuh depan sanggar, aku memungutnya”
Bertemu Lelly
Liburan semester, aku mesti pulang. Rumahku jauh di kampong dekat kebon apel sangat merindukan buatku. Bukan hanya itu. Dimas, salah satu alasanku untuk pulang. Sejak peristiwa malam itu tak kecil aku berjuang untuk bisa melupakan laki laki itu. Cinta pertama yang meledak ledak… dasyat betapa sulit untuk kujinakkan, sehingga tak ada jalan lain, kecuali lari sebagai pengecut, sembunyi dan mungkin tak muncul lagi.
Baru saja aku keluar dari kamar. Di ruang tamu Lelly duduk dengan manis. Blous merah dengan celana jeans pensil, sepatu hak tinggi. Manis, iapun menebarkan senyum manis.
“Bisa nemani aku jalan?”, pinta Lelly begitu aku duduk di hadapan
Pagi itu Lelly membawaku jalan dengan mobilnya. Menyusuri jalanan kota Malang. Tak banyak cerita, diam, sampai kemudian berhenti di pusat kecantikan Casanova. Di tempat itu Lelly ngepas baju penganten. Ada tiga warna yang dipilihnya. Setiap kali ngepas ia selalu menghampiriku dan minta pendapatku, dan aku hanya senyum mengangguk tanda setuju. Kusimpan rasaku, endap berjubel, berdesakkan menyesakkan dadaku
“Dimas sibuk nggak bisa nemani aku”, keluhnya ketika minum di salah satu café tidak jauh dari Casanova.
Apa yang mesti kuucapkan. Dimas tak kutemui lagi di sanggar tari sejak malam itu. Dan sejak malam itu aku tinggalkan sanggar tari. Tari bukan duniaku. Aku larasati jurusan pertanian, sangat jauh dengan dunia tari. Batang batang apel dengan buah sekepal lebih menarik buatku.
“Lama kenal Dimas?”, tanyanya datar.
“Kira kira dua bulan”
“Dimana?”
“Auditorium, saat pergelaran tari tanpa sengaja aku ngantar temanku yang kebetulan teman Dimas juga”
Ia memandangi aku. Kikuk rasanya.
“Ia paling banyak cerita tentang kamu. Dia bilang kamu lincah, lucu. Dia bercerita tentang kamu dengan gembira kadang kadang sambil ketawa ketawa. Kadang kadang aku cemburu mendengarnya”
Aku pandangi Lelly, nafasku serasa putus
“Kadang aku juga marah, setiap kali bertemu hanya kamu yang diceritakan. Aku ngerti Dimas suka nari, kadang pula aku faham kenapa Dimas selalu bercerita saat kamu menari”
“Aku hanya berteman”
“Dimas bilang, bersaudara. Dan aku suka itu”
Tak tau apa yang mesti kukatakan.
“Aku jadi ikut sok akrab sama kamu”, Lelly kembali bertutur.
“Aku senang jadi temanmu”
“Jadi? nggak salah aku ngajak kamu ngepas baju di sini, kan? ”
Tak tau aku bicara apa tapi yang pasti aku ingin menangis
“Aku dan Dimas, sudah mau nikah. Tanggalnyapun sudah ditentukan
“Selamat ya!”
“Tapi aku merasa, semakin hari hati ini semakin jauh. nggak tau kenapa”.
“Itu cuma perasaanmu”
“Kadang aku merasa Dimas berpaling ke yang lain.”
Aku diam, hembuskan nafas panjang panjang. Ya Tuhan….. patah patah serasa tulangku. Berhenti rasa nafasku
“Dimas nggak pernah mesra, sekarang tiba tiba mesra, Dimas nggak suka bercanda, sekarang bercanda sepanjang hari. Tujuh tahun menjadi kekasihnya baru kemarin malam dia mencium keningku, bahagia sekali”
Aku pandangi Lelly, yang megusap pipinya dengan ujung telunjuk.
“Dimas akan menikahimu”
Dadaku serasa amat sakit. Air mata hendak luruh, suaraku tenggelam di tenggorokan.
“Ya…..”, Lelly tersenyum, “ Aku sudah bikin undangan, yang ngerancang Dimas sendiri, tau, nggak? rancangan itu tujuh tahun yang lalu. Waktu itu kami kami masih sangat muda, kelas dua SMA. Sekarang, Gedung sudah pesen, persiapan sudah delapanpuluh persenlah. Besok kamu mau jadi kembang mayang?”
“Ah… aku…. kenapa mesti aku?......Nggak ah…..”
“Dimas pasti suka kalau kamu jadi kembang mayang”
“Dimas suka?”
“Dimas selalu bilang, kamu saudaranya. Pasti dia suka kalau kamu nemani dia saat jadi penganten”
Aku diam pandangi Lelly. Gadis itu memohon.
“Ayo dong La!”
“Tapi aku nggak bisa anggun, manis… nanti malah lucu”
“Ah… di coba dulu… rambut kamu panjang, simbar kamu bagus, nanti kamu akan cantik pakai konde”
“Pake konde?”
“Ya.. pake konde, pake kebaya, kamu akan berjajar di pinggir pelaminan, nemani aku dan Dimas”
Pelaminan. Nyaris nafas bagai berhenti. Dada serasa sesak. Sakit. Membayangkan Dimas dan Lelly duduk bersanding dengan senyum bahagia dan aku harus berdiri menemani berjajar pakai konde dan kebaya.
“Kamu duluan. Kayaknya aku pengen jalan dulu”
Saat Lelly mengajakku meningglkan pusat kecantikan Casanova
“Aku temani!?!”
“Nggak usah. Aku jalan sendiri saja..ya?!”
Melambaikan tangan Lelly meninggalkanku dengan mobilnya. Menyusuri pusat kecantikan Casanova, hatiku perih. Menjadi kembang mayang sangat menyakitkan. Ku tarik cucuk merah maron dengan tiga manik manik menjuntai pemberian Dimas, kugenggam dan kumasukkan tong sampah. Bergegas aku memasuki ruang, mengantre sejenak, di panggil, aku duduk dengan mata membasah. Aku pejamkan mata. Aku hanya merasa jari jari menyusup di rambutkan, lantas bunyi gunting berderit derit. Lantas rambut rambut jatuh memenuhi pundakku. Aku memejamkan mata, tak peduli model apa. Ketika kubuka mata, aku melihat aku telah tiada. Aku menjadi orang lain dengan rambut cepak gaya tentara.
Dengan angkot aku pulang, kepalaku serasa ringan. Lima orang perempuan baya dalam angkot memandangku dengan tatapan aneh. Setengah tak mengerti setengah tertawa setengah ingin mengunjing. Baru seratus meter aku hentikan angkot. Turun dengan tergesa. Berlari kembali ke pusat kecantikan Casanova. Mencari tempat sampah, menggali, membongkar sampah yang bertumpuk. Beberapa orang melintas melihatku Setengah tak mengerti setengah tertawa setengah ingin mengunjing. Aku tak peduli, aku hanya menginginkan kembali cucuk merah maron dengan tiga manik manik menjuntai pemberian Dimas. Saat teraih, mata kupejam, kudekap di dada dalam dalam. Duh Tuhan…..hanya ini yang bias kumiliki.
Bantu Aku Membunuh, Dimas
Pulang kampong. Aku kembali menikmati rumahku. Rumah joglo dengan sembilang burung perkutut dalam sangkar tiang tiang tinggi berjajar di sebelah pohon kelengkeng yang berbuah lebat. Seberang jalan batang batang apel ratusan berdiri buahnya sekepal indah menggantung
Rumah joglo itu mengingatkan aku pada tari. Dan setiap tarian mengingatkan aku pada Dimas. Seminggu pulang, di rumah joglo itu aku benar benar menikmati mbak Gendis mengajari anak anak menari, dan aku menjelmakankan Dimas dalam pandangku. Sewaktu kecil aku sering mencibir mbak Gendis menari dan sekarang aku ingin menikmati.
Tak bosan aku lakukan itu. Sore hari, berdiriku menikmati tari, Dimas mendadak muncul. Aku termangu memeluk tiang. Kutelusuri wajah beningnya. Rambut ikal keriting dibiarkan lepas menyentuh pundak, berjalan dengan pelan memasuki joglo rumahku. Berpandangan, disentuhnya rambut cepakku. Marah dan cinta bergulat. Dimas pandangi aku. Sayu. Aku merasa dia begitu tertekan. Tatap matanya menukik di jantungku.
Gerimis mulai turun. Tetesnya bermain main di atas genting. Aku dan Dimas seperti tak bergerak seincipun. Bermain main dengan mata dan hati. Serasa sakit. Jatuh cinta ini serasa sakit. Namun aku nikmati kesakitan itu. Sampai kemudian jarinya menjamah pipiku.
“Kenapa kamu datang?”, keluhku perlahan tertelan di tenggorokan.
“Aku tak tau kenapa aku datang”
Dimas menarikku keluar, menyusur batang batang apel depan rumahku. Kabut mulai turun. Pohon pohon apel derak berayun. Buah nya sekepal tangan indah bergantungan. Menyusur berdua, jari saling menggengam. Berlari, tak tau untuk apa berlari.
Senyap. Hanya angin. Hanya suara air yang mengalir di bawah. Hanya nafasku. Hanya nafas Dimas, hanya suara air mengalir. Langkah ku perlahan beberapa meter ke depan. Namun Dimas menghalangi dengan punggungnya tanpa menoleh.
“Di bawah ada orang telanjang turun ke sungai”, Dimas memunggungi untuk menghalangi pandanganku.
“Perempuan, kan?”, aku mulai cemburu
Diam
“Kamu memandangi perempuan di bawah itu, kan?”
“Kalau perempuan aku akan turun”
“Meski tua?.... Buaya”
Aku pandangi punggungnya. Gagah.
“Meski tua”
“Mata keranjang”
“Asalkan itu kamu…. Laras”
Berbalik menatapku.
“Perayu. …..aku mau pulang”
Aku membalik badan berjalan dengan cepat
“Jangan pergi! Aku tau, kau suka jalan di antara batang apel. Aku tau ini….”
“Aku juga tau, kamu perayu”
“Kamu tidak tau aku”, teriak Dimas sekuat kuatnya
“Apa yang tidak aku tau?”, teriakku
Aku berhenti. Berjalan menuju Dimas. Marah dan menangis .
“Namamu Dimas Angkasa. Mahasiswa sastra Inggris. Semester akhir, rumah Madiun, di Malang cuma anak kost. Sudah bertunangan 5 tahun . Tunangan bernama Lely Camilla. Jurusan bahasa Inggris UIN. Dimas bermuka manis, perayu. Apa yang tidak aku tau?”
“Ada… ada yang tidak kamu tau”
Saling menatap.
“Apa?”
“Aku cinta kamu”
Berlari aku. Berlari……aku. Berlari. Batang batang apel. Sungai panjang, airnya deras mengalir. Dimas memelukku dari belakang erat dan hangat. Sesenggukan aku menangis
“Aku cinta kamu… La. Aku nggak ingin pisah. Sungguh … La….”
“Aku bisa gila kamu buat”, keluhku, menangis sesenggukan
“Aku sudah gila kamu buat”
“Pergi saja”, aku perlahan hamper tak terdengar
Diam senyap.
“Bantu aku membunuh rasa cinta itu”, kataku terbata hamper tak terdengar.
“Aku sudah membunuhnya, dan aku tak bisa”
Dimas memelukku erat. Aku menangis. Tubuh rampingku tenggelam dalam pelukan kekar tubuh Dimas. Sejenak bibir Dimas menyentuh kening merambat ke hidung lantas menyentuh bibir dengan lembut. Cuma sedetik, itu di rasa cukup. Tangan Dimas menelusup di antara rambut. Ada tangis yang tertahan namun air mataku tak urung juga jatuh membasahi T. Shirt biru Dimas.
“Maafkan aku”, hanya itu bisa di ucap.
Pohon pohon apel tegak berayun. Buahnya sekepal tangan indah menggantung.
Malam. Di bawah kelengkeng, Dimas duduk terpekur. Berjalan aku menuju halaman dengan dua cangkir kopi, yang baru ku buat di dapur. Duduk di sisi Dimas, tanganku mengulurkan kopi ke arah Dimas. Dimas menerimanya tanpa menoleh. Duduk berdua. Diam. Bermenit menit. Dua tiga empat.. laki laki mengayuh sepeda dengan keranjang besar di boncengan. Keringatnya menetes satu satu. Di tanjakan, mereka turun. Mendorong sepeda dengan beban berat di boncengan. Nafasnya naik turun. Batuk batuk kecil. Jauh di seberang batang batang apel berayun ayun.
“Minum, biar badanmu hangat”, kataku
“Aku sudah nggak minum kopi”
“Pegang aja. Genggam… nanti badanmu juga hangat”
Meraih kopi yang ada dari tanganku. Mengenggam. Menatap mataku. Matanya sembab, sayu, aku melihatnya ada yang menggenang di kelopaknya. Ibu ibu dengan daster dan celana, tutup kepala umbrut umbrut berdiri di pinggir jalan dengan keranjang dipunggung. Berceloteh samar samar. Kadang ada tawa tawa, di sela celoteh malam itu. Udara dingin menyengat. Kopi hangat dalam genggaman mengengat menyergat, hangat terasa. Malam merambat cepat
“Mengapa kita tidak bertemu dari dulu? Mengapa baru sekarang?”
“Kenapa?” aku terbata
“Aku tak perna semesra bersamamu. Juga tak seindah yang kau sangkahkan. Denganmu terasa lebih hidup. Kenapa baru sekarang bertemu?”
“ Kamu hanya sekedar bermain main dengan aku. Setelah itu kamu akan pulang”
“ Pulang?”
“ Kau mau menikah, kan?”
“ Aku ndak tau”
“ Tapi aku tau”
“Maukah kamu menjadi saudaraku?”
“Aku tidak tau bagaimana cara menjadi saudaramu”
Dimas sentuh rambut cepakku. Kuulurkan cucuk rambut merah maron dengan manik manik 3 menjuntai.
“Aku kembalikan ini, aku tak membutuhkan lagi”
Aku termangu, genggam tangan Dimas ku cium dengan rasa dalam dan lama lantas kulepas perlahan. Aku berdiri, aku tidak tau aku sebenarnya ingin menjadi apa. Kekasih atau istri? Yang pasti aku cinta, sangat cinta. Semalaman aku tak bisa tidur aku terus bertanya aku ingin menjadi apa. Bukankah cinta yang hanya bermain main tanpa tujuan hanya sekedar menghabiskan usia?.
Pagi menyapa. Sudah rapi, berbedak, rokku panjang dengan blous putih, rambut cepakku manis kutata rapi. Joglo rumahku sudah ramai dengan anak anak. Mbak Gendis dan aku akan mengajarinya menari hari ini.
Sampai di depan joglo kakiku terhenti. Sembilan perkutut dalam sangkar di sembilan tiang tinggi menjulang. Cucuk rambut warna merah maron dengan manik manik 3 menjuntai tergeletak di kursi bawah kelengkeng kupungut, mata kupejam, kudekap di dada dalam dalam. Dan memang hanya ini yang bisa kupunya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Cinta Dalam Secangkir Kopi








































