<< Cerpen GADIS JENDELA  >>

GADIS JENDELA

E-mail Cetak PDF
GADIS JENDELA
Oleh: Dalasari Pera

 

 

Hujan itu mengetuk jendela kacaku. Kemudian pendar berlarian. Aku terus menatapnya, seolah percik itu adalah balita yang menikmati tabuhan gendang mainannya. Gigil makin merangkak hingga ke belakang kepala, bahkan ke payudaraku. Aku tak bergeming, tak ingin beranjak. Seperti senja kasmaran ufuk. Seperti pada usia yang mulai menjingga, mengikuti warna senja. Aku tak bisa memberi harapan pada jiwaku. Bahwa esok, rinai dan gigil itu tetap ada pada jendelaku. Tentu saja aku yang akan pergi menuju keabadian hidup.

Tunggu...aku berpikir akan pergi? Memikirkan pergi memaksa rinai di luar jendela sebagian pindah dan jatuh di keriputnya pipiku melewati dua telagaku. Sesak dalam sesal. Mengingatnya sama saja menangisinya. Mengingatnya sama saja menusuk diri dengan belati sesal. Rupa rasa padu dalam hatiku. Ya, aku akan pergi. Aku akan pergi, tapi dimana kiranya kursiku telah ditempatkan Tuhan dan pengawalnya? Sesunggukan yang ke sekian kalinya sejak senja mulai datang tak jua sanggup jinakkan sesal dan takutku pada Khalik. Hujan dari langit berlomba dengan hujan dari mataku.

 

***

 

Aku begitu ambisius untuk menjadi wonder woman kala itu. Wajarlah jika demikian karena kecakapanku dalam segala hal, terutama secara akademik. Yang berlaku bagiku hanyalah aturan logika semata. Jika tak bisa kupikirkan secara logis maka tentu tak akan kuterima dan kujalankan. Pula ketika berbicara soal cinta dan lelaki. Bagiku lelaki adalah makhluk yang membebani. hingga tiba masanya logikaku dikalahkan oleh nyatanya Tuhan tentang iman. Aku yang lemah dengan mudah jatuh tersungkur lalu terseret oleh logikaku ke lembah yang gelap, ke tangan lelaki tak bertuhan itu. Tidak ada wonder woman di lembah itu, tangisanku tak berarti, teriakanku menjadi kidung sunyi tak berirama tersapu angin lalu dan pecah berpendar menjadi sembilu sebelum terdengar di telinga orang lain.

 

***

 

Dengan ringan, aku menarik napas dalam-dalam ketika menyadari malam mulai menggerayangi tubuh bumi. Memang tidak gelap karena temaram lampu kota selalu saja menyilaukan mata. Tapi bagiku itu gelap, ruangku hanya di sini, di balik jendela ditemani wanita paruh baya itu. Tidak ada suara tangis manusia dari rahimku yang kemudian beranak pinak. Tidak ada lelaki yang menemaniku menapaki senja dengan kasih tak berujung. Duniaku hanyalah segala benda dan orang yang lalu lalang tak jauh di depan jendela ini. Saat pagi menyapa, aku akan menikmati lalu lalang pencari dan pembuang rejeki yang saling berbagi. Tentu saja seringkali terselip mimpi untuk bisa seperti mereka. Sesekali mereka, yang lalu lalang itu, berbalik ke arah jendelaku dan melemparkan senyum ataupun  menyapaku "Pagi, bu Gadis." Memang tidak ada yang tahu persis siapa aku, pun namaku saja. Mereka hanya tau bahwa aku adalah gadis tua yang mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kejayaan saudaraku. Lembaran rupiah bagi saudaraku mampu mengalahkan silaunya lampu kota hingga menyudutkan aku di pinggiran kota ini. Untungnya aku tak merasa dipasung oleh sepi berkepanjangan ini. Sesallah yang memasung jiwa, melebur bersama deru ombak penuh rasa dalam hati.

 

Lalu, saat matahari mulai tergelincir ke arah barat, aku menikmati nyanyian dan tarian bocah-bocah riang di jalanan itu. Jangan berpikir bahwa aku tak pernah jenuh dengan semua ini. Kadang..kadang-kadang jenuh menyelinap diam-diam lalu merobek-robek kertas-kertas buram pada atma yang nyaris tak bernapas, menambah perih seperti kataku "rupa rasa padu dalam hati". Jenuh kadang merimba serupa belantara menyesatkan ketika langkah mulai menapak didalamnya. Susah payah aku keluar. Butiran tasbih yang tak pernah lepas di jemariku selalu memercikkan cahaya ketika aku mulai terombang-ambing dengan sesat dalam belantara jenuh bercampur perih itu. Tuhanku wujud..Tuhanku wujud.

 

Tuhanku wujud. Mengirimkan detik hingga menjadi penanggalan waktu bagiku untuk memutihkan bercak-bercak berbelati itu. Malamku menjadi begitu panjang melebihi rupa sajadahku. Di sanalah aku menyanyi lirih penuh harap bahwa esok aku akan tenggelam bersama matahariku tanpa kabut dan buram. Bahwa esok aku akan pergi bersama matahari dimana sinarnya mencerahkan dan dilepas dengan senyum orang-orang itu. Sunset yang indah, begitulah mereka menyebutnya. Aku akan menunggu di jendelaku begitu pagi menyapaku kembali.

 

Joomlart