<< Cerpen KARAM DI LAUTAN UANG PANAI'  >>

KARAM DI LAUTAN UANG PANAI'

E-mail Cetak PDF

KARAM DI LAUTAN UANG PANAI
Oleh: Dalasari Pera

 

Senja telah tiba di ujungnya ketika kita merangkai janji untuk berlayar dengan perahu penuh rahmat dan cinta. Kita persaksikan ikrar itu pada tepian Pantai Losari yang mulai temaram di antara lampu-lampu Kota Makassar. Haru pun mulai sesaki dadaku, berebutan tempat dengan bahagiaku. Telingaku mendengar isak tersembunyi dari wajahmu yang tertunduk.

"Kau bahagia ndi -dinda-?" Tanyaku seraya mengeratkan genggamanku pada jemarimu yang seolah membeku kedinginan. Tak biasanya, pikirku. Atau mungkin air matamu yang berjatuhan dan tanganmu pun buru-buru menadahnya karena takut tersia-sia ketika jatuh meresap di tanah kebanggaan pak wali kota ini.

"Iya kak.... Tapi izinkan saja air mataku menenggelamkan ribuan suka cita agar kelak tidak ada tangis jika duka bertandang di bahtera kita karena telaganya telah mengering." Suaramu serak.

Aku tersenyum dan mulai mengingat lorong-lorong yang pernah kutitipkan mimpi-mimpi indahku. Kelak akan kujemput satu per satu.

 

***

 

Cukup melelahkan juga ketika ketidaksabaran mulai merocoki waktu untuk segera tiba pada hari di mana aku akan meminangmu dengan resmi pada kedua orang tuamu di kampung, di Tanah Ogi Belawa, sekitar 220 km dari Makassar. Dengan meyakinkan hati dan meluruskan niat bahwa pinanganku adalah jalan menuju ridha Sang Khalik Nan Pengasih, aku dan kedua orang tuaku pun berangkat. Memang tidak sulit bagiku untuk mewujudkan harapanku, jalinan cinta kita sudah tak asing bagi orang tua kita masing-masing. Terlebih kedua pihak memang masih terikat rumpun keluarga, entah turunan yang ke berapa.

Matahari mulai meninggalkan pagi saat kami memasuki kampungnya. Terik tidak berhasil mengusik kebahagiaanku. Di anak tangga pertama aku berucap dalam hati, "aku ikhlaskan jiwa ragaku untuk hidup bersama jiwa ragamu dan dengan cinta Allah aku datang kepadamu. Bismillahir rahmanir rahim".

"Enre'ki ri bola e//tejjalii tetappere//banna mase-mase// -naiklah di rumah kami//tanpa tikar tanpa permadani//hanya ada kasih-." Kedatangan kami di sambut dengan galigo -puisi bugis- dan itu membuatku merasa sangat spesial. Tuan rumah yang berdiri di ujung tangga (rumahnya rumah panggung) mulai memamerkan deretan gigi di balik senyum mereka. Sangat jelas terbaca rona kebahagian lewat sorot mata mereka. Intinya, kami datang membawa kebahagiaan dan mereka sambut dengan kebahagiaan pula. Aku sangat meyakini itu. Basa-basi pun mengawali pertemuan itu, sekedar saling bertanya kabar lalu bertanya jawab tentang perjalanan kami kemari. Orang bugis ternyata begitu memuliakan tetamunya, mereka menyebut dirinya matanre pangadereng -menjunjung tinggi adat- . Setelah berbasa-basi dan dilanjutkan bersantap siang yang cukup ‘wah' di mata dan tenggorokanku, acara inti pun dimulai.

"Puang Aji -panggilan pada orang yang dituakan, Pak Haji-, kedatangan kami kemari adalah hendak mendekatkan kembali rumpun kita yang mulai berjauhan. Rupanya waktu telah menetaskan generasi-generasi yang memaksa kita menjadi tua dan berjauhan dalam rumpun ini. Peradaban pun telah menggelar jarak yang sedemikian rupa." Bapak mengawalinya dengan kalimat yang terdengar indah bagiku. "Baso telah cukup usia untuk berlayar. Tentulah perahunya tak lengkap tanpa seorang istri dan di mata kami Besse adalah sosok yang tepat. Dengan lemah lembutnya, tentulah ia akan menjadi ibu. Dengan gemulai jiwanya, tentulah ia akan menjadi istri tiada duanya. Dengan agamanya, tentulah ia akan menjadi syurga bagi anak dan suaminya." Rayuan Bapak ternyata lebih dahsyat dibandingkan rayuanku ketika mengejar cintanya Besse.

Singkat kata, keluarga Besse pun terpikat pada rayuan Bapak. Ombak yang sedari tadi menghantam dan menciptakan ketakutan-ketakutan di segala persendianku akhirnya pecah berhamburan. Dengan mempertimbangkan jarak yang jauh, maka diputuskanlah untuk membahas semua hal yang berkaitan dengan pinangan itu agar lebih efisien. Mappettu ada -salah satu dari prosesi lamaran- pun dilaksanakan pada hari itu juga. Ada banyak hal yang akan dibicarakan, di antaranya mahar dan uang panai' -uang belanja-. Diputuskanlah maharnya seperangkat alat shalat yang akan dibayar tunai. Lalu uang panai', disinilah seringkali terjadi tawar-menawar ibarat transaksi sayuran di pasar tradisional. Anehnya, uang panai itu seolah mengikuti perkembangan pasar. Ombak kembali menghantam, kali ini lebih besar. Aku teringat dengan lelucon seorang teman lama bahwa ia tak ingin menikah dengan wanita berdarah bugis karena terlalu mahal. Uang panai' menjadi kebanggaan tersendiri, terlebih bila anak gadisnya adalah sarjana dan telah menjadi pegawai negeri.

"Tentang uang panai', kami hantarkan Rp. 30.000.000 dan emas 20 gram." Suara Bapak terdengar begitu hati-hati mengucapkannya. Dengan kasat mata, rona muka keluarga Besse sontak berubah tak sedap meski sejurus kemudian Puang Aji berusaha menyembunyikannya.

"Kami menginginkan Rp. 50.000.000 dan emas 30 gram. Kami harap permintaan kami ini bisa mempercepat dan mengefisienkan proses lamaran ini." Balasan Puang Aji sungguh di luar kepala. Keringat dingin mulai membanjir tak beraturan. Uang panai sebanyak itu sudah memecahkan rekor uang panai tertinggi yang pernah kudengar selama ini. Kutengok wajah bapak dengan keyakinan bahwa beliau pasti tidak akan menyetujuinya. Seperti yang kukatakan bahwa di sinilah tawar-menawar itu menyerupai tawar-menawar sayur.

Aku yang hanya karyawan swasta dan beradik banyak tentu saja tak akan mampu menyiapkan uang sebanyak itu, belum lagi embel-embel pesta pernikahan nantinya. Ketika perbincangan (atau tepatnya tawar menawar) itu tiba pada ujungnya, dukaku pun tiba di ujungnya pula. Perahu yang kusiapkan untuk berlayar bersama Besse karam. Tidak ada kesepakatan pada tawar-menawar itu. Kembali  ke Makassar dengan ribuan paku yang menancap di tubuhku. Entah bagaimana dengan Bapak. Sulit menebak apa yang ada di pikirannya karena senyumnya masih saja menyungging di sudut bibirnya ketika memutuskan bahwa pernikahan itu tidak akan ada. Betapa mahalnya sebuah pernikahan.

 

 

***

 

Seketika aku ingin menjadi perempuan saja, mengirimkan pedih lewat air mata? Tunggu, betapa egoisnya diriku yang hanya memikirkan kepedihanku sendiri. Kata "wanita" dan "air mata" telah menyadarkanku untuk mengingat Besse. Apakah ia menangis? Mungkin tidak. Aku masih ingat kata-katanya di senja itu, di sini, di tempat yang sama.

 

"tak pernah terpikirkan olehku

Untuk tinggalkan engkau seperti ini

Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi.."

 

Segera kucari lagu Padi yang mengalun dari telepon genggamku itu, mengusik bisu yang sejak tadi menemaniku memikirkan karamnya perahuku. Rupanya sebuah pesan panjang dari Besse.

 

"Aku salah jika mengira air mataku kala itu telah kemarau setelah puas menenggelamkan suka citaku atas ikrar kita untuk berlayar.  Kau tahu, aku mabuk. Mabuk oleh keangkuhan di atas kehormatan bernilai rupiah. Aku terhuyung-huyung menabrak apa saja. Terlihat dan tak terlihat. Membenturkan pedih pada tembok karena tak ingin ia semakin mendekap hati dan jiwaku."

 

Belum lagi usai kurenungi isi pesannya itu, datanglah pesan kedua.

 

"Melumat waktu bersama darah adalah nikmat. Bukan sejenak sahaja lamat-lamat bibirku merapal doa. Bila kutuliskan di atas lembaran, maka ribuan pun tak akan sanggup menampung tinta dan kata yang berebutan makna. Karena doaku adalah pelaminan kita dan pelaminan kita adalah doa"

 

Sedetik setelah membacanya, aku benar-benar berubah menjadi perempuan yang mengirimkan pedih lewat air mata. Akupun membalas pesannya dengan diiringi genangan air mata di sudut mataku.

 

"wanuamu tennadapi pakkita mata//sengereng tenribaalli//ri ati mapettang e  napolei wae mata//" (jarak membentang//kasih tak berbalas//air mata pun datang dari hati yang gelap)

 

 

 

 

 

 

Blw, 240310

Joomlart