| Indeks Artikel |
|---|
| MUKA BIRU MURAM |
| Page 2 |
| Semua Halaman |
MUKA BIRU MURAM
Oleh: Talitha Huriyah
Kubaringkan tubuhku di ranjang. Ah… penat sekali rasanya setelah kegiatan di kampus seharian. Meski tak ada agenda rapat, namun mata kuliah Taksonomi Hewan dilanjutkan dengan praktikum lumayan menghabiskan banyak waktu.
Sebenarnya banyak sekali tugas yang harus kuselesaikan. Lambaian cucian yang menumpuk hingga sapaan laporan praktikum menunggu untuk kusentuh. Namun biarlah… tubuhku juga butuh istirahat. Kulihat hiasan fosfor berbentuk bintang di kamar kosku. Lama… lalu aku pun terlelap.
TOK...TOK...TOK..!!
“Hafsah! Bangun..! Sholat yuk Dek..!”
“Iya Mbak! Ooaheem… capek.”
Buru-buru langsung gosok gigi dan berwudhu. Kupakai mukena sekenanya, karena teman-teman yang lain sudah sujud ke rakaat kedua.
Dengungan dzikir menggetarkan semesta. Sudah jadi kebiasaan di kosku, jika bulan Ramadhan tiba dibentuklah kelompok-kelompok kecil. Isinya sekitar empat hingga lima orang. Di situ kami tilawah bersama, mendiskusikan berita yang up to date atau membahas kemajuan adek-adek TPA yang kami ajar. Bahkan sekedar membangunkan sahur dan sholat pun juga menjadi tanggung jawab anggota kelompok. Ah, indahnya ukhuwah….
“Dek Hafsah!! TELEPON!“ teriak mbak Yasmin.
“Iya Mbak! Makasih…” jawabku sambil lari ke lantai bawah. Maklum, meski kosku hingga lantai empat, namun telepon hanya ada satu.
* * *
“Assalamu’alaikum!!”
“Wa’alaikumsalam. Dek Hafsah, ini Citra,” terdengar suara sopran di horn telepon seberang.
“Eh… ada apa Mbak? Tumben telepon, biasanyakan sms. Lagian tadi pagi pas kuliah kita ketemu? Urgent ya???” tanyaku sedikit penasaran.
Cukup lama Mbak Citra terdiam, “Ehm….”
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
MUKA BIRU MURAM




































