<< Cerpen NEGERI 1001 KEPALA  >>

NEGERI 1001 KEPALA

E-mail Cetak PDF

NEGERI 1001 KEPALA
Oleh: Daud Al Insyirah

 

Hidup tidaklah seindah yang kita bayangkan tapi kita bisa membayangkan bahwa hidup ini benar-benar indah. apa yang kita miliki adalah karunia dan jangan pernah sia-siakan.

Malam ini adalah malam yang paling cerah jika dibandingkan dengan malam yang lain. Maklumlah, akhir-akhir ini selalu hujan. Maka dari itu, aku sempatkan diriku mampir ke warung bubur kajang ijo. Malam-malam begini, memang paling enak makan bubur kacang ijo. Hmm,sedapnya. Kerja memang sangat melelahkan. Yah, namanya juga mencari nafkah untuk istri . kalau tidak kerja, Istriku makan apa?. Tapi entah kenapa Istriku menyuruhku pulang lebih cepat hari ini. Apalagi alasannya juga nggak jelas. Ah, lebih baik pulang aja. Dari pada nanti ada apa-apa dengannya.

Belum sempat aku menaiki motor butut warisan kakek. Suara menggelegar mebuat jantungku sepertinya mau copot. Bukan suara petasan atau mercon.

“Gluomm...Blar..” suara dahsyat itu membuat orang-orang panik. Ditambah lagi api yang menyala membuat malam ini seperti siang saja. Begitu terangnya sampai orang-orang lari kelabakan. Tanpa pikir panjang kutinggalkan motorku lalau berlari untuk sembunyi.

“Dor...dor..dor” sepertinya itu suara tembakan. Kuamati terus apa yang ada di hadapanku. Banyak orang yang jatuh karena suara itu. Aku bingung apa ini mimpi? Asap-asap mulai tebal. Kulihat segerombolan seperti tentara mulai terlihat tapi aneh. Bukan seperti negaraku. Wajahnya full bule. Dengan sadis ia menembaki orang-orang yang ada di depannya. Apa ini hanya sandiwara? Ya Allah. Selamatkan hambaMu ini.

Aku berlari meninggalkan alun-alun itu. Jantungku berdegup kencang. Mengapa pertahanan tentara bisa kebobolan dengan sukses. “Ups, di sini ada juga” nggak nyangka jika di depanku juga ada tentara bule. Wah mau bersembunyi ke mana lagi? Satu-satunya jalan adalah njebur ke got. Mumpung belum terlihat tapi jijik. Ah, yang penting bisa hidup. Aku melompat ke dalam got. Untung saja airnya banyak. Jadi tidak begitu menjijikan. Kalau musim kemarau, got lebih menjijikan. Tapi tetap saja bau. Eh, ternyata bukan hanya aku saja yang ada di dalam got. Ada kakek-kakek yang bersembunyi juga.

“Negeri ini mulai di serang” ucap kakek itu seperti paranormal.

“Dari mana kakek tahu?”

“Kamu ini buta atau pura-pura buta? Memangnya kamu tidak lihat kejadian ini?”

“Ya tahu lah kek.”

“Ikut aku.!!” Ia mengajak menelusurti terowongan got yang bau. Dari baunya saja, sangat variatif. Bangkai tikus juga ada,makanan basi juga ada bahkan bau kotoran manusia juga ikut nimbrung di sini. Kakek itu kelihatannya hafal betul dengan lorong got yang cukup pas-pasan untuk di masuki manusia. Hmm,mungkinkah dia tinggal disini kali ya?. Akhirnya sampai juga di depan tangga . hebat bener nih kakek, tahu seluk beluk jalur got. Ku ikuti terus dan sampai juga di tempat yang sepi tapi tetap saja bau. Tapi tak apalah yang penting aman. Kakek itu duduk sambil emlepas lelah. Begitu pula denganku. Hari ini memang sangat aneh.

“Kita menunggu mati saja disini”

“Ah,kakek ini jangan bicara gitu kek”

“Apakah kamu yakin hidup?”

“Yakin”

“Tak ada harapan lagi, generasi muda saat ini sudah terlalu berleha-leha” aku hanya diam mendengar kakek itu berceramah. Tapi kudengarkan serius .

“Maklumlah kek, namanya juga anak muda”

“Buktinya saja, mereka lari terbiriti-birit tanpa ada perlawanan. Mereka sudah terlalu banyak berleha-leha . seandainya mereka tahu kondisi negara kita dan mereka sadar jika mereka di peralat, mereka tak mungkin lari. Mereka akan berjuang untuk mempertahankan negeri” gaya bicaranya seperti orator ulung. Hmm,mungkin seperti paus urbanus yang mengompori untuk membantai kaum muslimin saat itu. Ah, terlalu mungkin terlalu lebay. Tapi beneran . gaya bicara kakek ini sangat bersemangat. Aku saja tak mampu seperti itu.

“Mereka pasti akan mempertahankan negeri kek”

“Kamu ini, kamu sudah lihat toh. Betapa giciknya,betapa pengecutnya,betapa takutnya mereka setelah mendengar bom dan suara tembakan.”

“Kakek saja yang tidak yakin degnan kami”

“Apa anak muda saat ini bisa?”

“Bisa”

“Baguslah, teruslah bersemangat sampai titik darah penghabisan. Jangan takut. Allah selalu bersamamu” suara orang berlari semakin terdengar.

“Crekk” dengan cepat tentara bule itu menggorok leher kakek yang tak sempat berbicara denganku . darahnya muncrat ke wajahku. Hati ku benar-benar mau copot. Apa aku mati juga ya?

“Jangan takut,Allah selalu bersamamu” aku teringat ucapan kakek saat terakhir. Dengan cekatan aku berdiri dan meninggalkan kakek .para tentara bule itu mengejarku. Aku berlari sekencang mungkin. Biar begini, aku juara lomba lari saat SMA dulu.tapi tetap saja bisa di kejar. Wah,apa ajalku sudah dekat ya?. Oh, tidak boleh nyerah, harus berlari-harus berlari. Sampai titik darah penghabisan. Dalam situasi seperti ini, sama seperti berahan di alam bebas. Ada subjective danger dan objective danger. Yang paling bahaya adalah yang pertama. Karena bahaya itu timbul dari diri kita sendiri. Ketenangan adalah kuncinya. Ku percepat laju lari ku dan jarak ku dengan tentara-tentara itu semakin jauh. Aku berheti dan mencari sebuah batu. Untung aja ada batu yang tajam. Terlihat tentara itu semakin dekat, ah,ternyata hanya dua. Dengan semangat aku lempar batu itu ke muka mereka. Alhasil,satu orang kena. Lalu keu ambil batu lagi dan akhirnya kena juga. Hmm, ternyata menyakiti orang lain memang menyenagkan . aku tahu bahwa orang yang menganiaya tidak akan rela meninggalkan kegiatannya. Mungkin mereka ketagihan.

Tapi ini terdesak dan aku harus membela diri. Lemparan batu itu membuat mereka semakin jauh. Kalau kita tenang,ternyata bisa membalik keadaan tapi aku tak tahu apa besok aku akan mati atau tidak.

***


Esoknya, aku tetap ngantuk. Meski sudah tidur lama. Aku berjalan ke kota tapi kenapa sepi. Bau amis mulai menyengat. Aku terpaku melihat mayat-mayat berserakan di depan mataku. Ratusan orang telah kehilangan nyawa. Tidak hanya itu, kepala mereka juga terpisah. aku mau tidak mau harus melewati mereka. Anak-anak,ibu,kakaek-kakek

juga ada. Darah mereka segar. Pembantaian sadis ini sangat kejam. Di mana peri kemanusiaan?. Apakah orang-orang di pemerintahan sudah terbunuh semua?. Hampir lima ratus meter aku berjalan,pemandangannya tetap saja sama. Apa aku ini mimpi ya?
“Nadia” aku teringat istriku. Aku takut terjadi apa-apa degnannya, ya Allah kenapa aku bisa lupa. Untunglah posisiku saat ini tak jauh dari rumah. Aku bergegas menuju kerumah. Ya Allah, semoga dia baik-baik saja. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Saat berada di depan rumah, hatiku tidak karuan. Dengan cepat aku menuju kerumah dan membuka pintu. Tapi kenapa di rumah sepi? Dimana istriku? Apakah dia....sudah.. ya Allah, semoga saja tidak..semoga saja tidak. Aku mencari Nadia di dalam rumah tapi tidak ada orangnya. Dimana istriku? Aku teringat ketika Nadia menyuruhku cepat-cepat pulang saat kemarin malam.
“Jbruak...” suara pintu itu membuatku kaget. Aku langsung menengok dan menuju ke ruang tamu. Aku langsung membisu karena dua tentara akan meluncurkan peluru di kepalaku. Tapi wajahnya aneh, pesek dan nggak seperti bule.
“Tunggu..kalian penduduk asili sini kan?” salah satu dari mereka membuka helmnya.
“Ya, kami memang penduduk sisini. Tapi apa boleh buat, kami harus hidup. Tentara nasional sudah terbantai, oara menteri lari keluar negeri tapi gagal. Alhasil.mereka di bantai secara massal, para penguhuni pemerintahan juga di tahan” ucapnya penuh penyesalan. Wajahnya kelihatannya seumuranku.
“Kalian kemarin kesini?”
“Ya”
“Kalian tahu istriku?”
“Perempuan yang ada di dalam rumah ini?”
“Ya”
“Aku tak tahu”
“Ohh” semangatku langsung memudar. Aku heran kenapa pemuda ini berkhianat pada bangsa.
“Kalian berdua berarti berkhianat” mereka berdua membisu.
“Apa kalian tidak bisa melawan” mereka membisu lagi.
“Tanah kita ini sudah terjajah, apa kalian rela negara kita di kuasai orang lain?” mereka lagi-lagi terdiam. Tanpa ragu aku menampar wajah mereka berdua.
“Antarkan aku ke markas.!!” Ajakku . mungkin Nadia ada di sana.
“Pa yang kau lakukan?”
“Aku tak tahu, yang penting bawa aku kesana” mereka kelihatannya bingung dengan jawabanku
“Anggap saja aku ini tawanan kalian dan serahkan aku pada pimpinanmu”
“Baiklah”. Akhirnya mereka berdua membawaku ke sebuah gedung tua. Tapi banyak sekali orang bule. Mungk,in ini markas mereka.
“Maafkan kami” ucap salah saytu dari dua orang yang menyekapku tadi.
“Sudahlah, aku tahu perasaan kalian” dengan mantap aku menghadap komandan mereka. Belum apa-apa aku di pukul dengan senapan. Uhh,betapa sakitnya aku langsung lemas dan tersungkur. Alalu aku di dudukan dan rambutku di jambak dengan sadis. Aku tak tahu dia bicara apa karena nilaui bahasa inggrisku memalukan. Tapi aku tahu jika dia menghina ku. Air liurnya seketika menempel di wajahku. Ini tidak manusiawi. Amu di ludahi, kurang ajar. Sialan, bangsat. Aku di bawa kesebuah lapangan yang gersang. Disana ada sebuah tempat, yah kelihatannya itu tempat pemenggalan kepala. Mungkin aku tak lama lagi hidup. Aku di bawea kesana dan ternyata benar. Rambutku di jambak dan meletakan kepalaku di papan. Hmm,mungkin ini sudah ajalku. Betapa banyaknya orang yang terpisah dari tubunya. Mungkin jumlahnya banyak sekali. Yah anggap saja seribu di tambah lagi aku. Jadi,seribu satu. Tak ada harapapan lagi, andai aku memberontak ,apa bisa mengubah keadaan?. Ya Allah, apakah aku ini nanti mati syahid ya? Aku masih berbuat dosa,aku masih suka mengundur waktu sholat,aku juga kadang lupa bahkan kesiangan di waktu sholat subuh. Ah,mungkin aku ke neraka. Tapi ya Allah, aku ingin syahid tapi melihat aku penuh dosa. Mungkin itu hanya impianku. Ya Allah Engkau mendegnarku kan?.
Tiba-tiba ada perempuan bergamis putih dengan jilbab panjang di depan mataku. Aku sepertinya mengenalnya. Ku lihat wajahnya lekat-lekat.
“Nadia” kenapa dia berpakaian putih-putih? Tapi tetap catik. Tidak salah jika dia menjadi istriku. Nadia memang cantik. Tapi aneh, dia melihatku dengan wajah yang bingung. Seandainya dia tersenyum,mungkin kematianku lebih tenang. Ada dengannya?. Dia menatapku aneh. Aku langsung menyampaikan pesan terakhir sebelum kepalaku ini menjadi ke seribu satu.
“Nadia”
“Ya Mas”
“Sebagai suamimu aku...”ia menunduk dan wajahnya memerah.
“Suami” suara Atiqaa yang cukup keras itu membuyarkan kosentrasiku. Aku langsung menoleh ke arah Atiqaa. Dan tersadar aku ternyata berada di perpiustakaan Bu Nia. Atiqaa kelihatnannya marah padaku. Hm,kakak nadia ini memang aneh denganku.
“Nadia,buku yang kemarin bagus banget, kamu sudah baca?, eh gimana acara OSISnya Nad? Seru kan?”
“Alhamdulillah mas” untung saja, dengan sedikit penyelewengan, mungkin hati Nadia bisa terjaga. Tetapi Atiqaa tetap
saja merengut.
“At, kue mu enak banget”
“Yang bener mas?” wajahnya langsung ceria. Mumpung mereka tidak berpikirna macam-macam, aku harus keluar dari rumah bu Nia. Aku tertidur lima jam. Wah nggak sholat ashar deh. Hmm, mimpi yang menyenagkan tapi aku tak mau jika negeriku menjadi pusat pembantaian apalagi pemuda yang berkhianat terhadap bangsa. Yah karena kebanyakan mereka berleha-leha. Aku tak tahu apa yang terjadi jika negeriku ini tiba-tiba di serang mendadak oleh tetantara asing. Apakah pemudanya lari atau membela tanah air ya?. Hmm aku tidak ingin mimpi itu jadi nyata. Tapi, hmm, Nadia jadi istriku? Apa mungkin ya? Kalau mungkin ya semoga saja hehehe. Aku berjalan keluar dari perpustakaan pribadi milik bu Nia. “Nadia menjadi istriku” kalimat itu kulang berkali-kali dalam hati”
“Mas” suara Nadia yang mirip menjerit itu membuyarkan lamunanku. Aku pun seperti terbang ke alam mimpi tapi hanya sementara. Posisiku seperti pemain sepak bola profesional yang melakukan tendangan salto
“Jbreg” aku terbaring di lantai. Aku melirrik ke atas melihat Nadia yang berlari menghampiriku sambil menutup mulut. Mungkin menahan tawa.
“Maaf mas, tadi lantainya baru di pel. Jadi masih licin” aku hanya mendengar suaranya. Ahm, mungkin ini belum saatnya
memikirkan hal itu. Hmm,sebuah peringatan lanngsung dari Allah karena berpikiran macam-macam dengan Nadia.
“Ya Allah,  terima kasih” sepertinya aku akan tertidur beberapa jam lagi.
Joomlart