<< Cerpen Kasmaran  >>

Kasmaran

E-mail Cetak PDF

KASMARAN

Oleh : Riris Raden

 

·  Dan pelukan itu…………….

“Langsung ke sanggar, Ki?”,

Khasmir dengan tas menggantung di punggung, tampan dan nyaris sempurna.

Tubuh tinggi, kulit coklat matang, tatap matanya tajam elang. Hari masih panas. Beberapa butir keringat menetes pelan di pipi Khasmir. Disekanya dengan saputangan yang baru saja diambil dari saku celana.

            “Aku lagi males… Mir ”

Kirani melompat lompat. Berputar putar. Khasmir senyum di sudut. Mata elangnya mendadak sayu. Berjalan bersama di antara batang batang palm. Satu dua kupu kupu meloncat. Berterbangan. Beberapa anggrek menggantung.ungu. Khasmir dan Kirani  berjalan melewati siswa siswa bergerombol. Bel pulang telah berlalu lima belas menit yang lalu. Namun banyak di antara siswa yang tak beranjak pulang.

            “Ini festival besar…. Kita memperebutkan tiket ke Jepang. Kalau kita punya peluang ke Jepang secara gratis, kita mesti kejar. Kenapa enggak?”

            Kirani berhenti, menatap kupu kupu. Tangannya bergerak, jari jarinya  menggapai anggrek. Bergerak, mencium lembut. Betapa sebenarnya ia mulai malas berlatih. Padahal ia tau betul festival ini sangat berarti. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk Khasmir dan seluruh SMA.

            “Aku ada olimpiade fisika”, suaranya nyaris tak terdengar

            “Aku ada olimpiade kimia. Kita sama”

            “Tapi kamu pinter.. aku enggak”

            “Kamu jago fisika, jago main teater”

            “Kamu jago kimia, jago basket, pemain teater terbaik. Hebat kamu kan?

Kembali melangkah.  Setengah berlari menaiki anak tangga. Jari menggenggam ikat pinggang Khasmir yang melangkah di depannya. Sampai di  madding depan ruang redaksi  majalah langkah berhenti. Beberapa siswa bergerombol. Photo berpeluk dengan Khasmir dalam adegan pergelaran teater itu terpampang besar. Diego sang photografer sengaja memamerkan hasil jepretannya. Kirani menutup mata rapat rapat, Khasmir hanya melirik sesaat. Tersenyum geli. Kirani adalah pasangan tetap setiap bermain teater. Teman di sanggar seni menyebut pasangan sejati.

Khasmir pandangi rambut Kirani yang jatuh lurus sampai pinggang, ada getar lembut bermain main di dadanya. Sejenak Kirani memutar tubuh hendak lari tapi tubuhnya membentur. Langkahnya terhenti. Pak Hans guru fisika itu tiba tiba sudah ada di belakangnya berbaur melihat photo photo pergelaran teater. Sejenak pak Hans…berpandangan….. kemudian berlalu

            Kirani termangu. Kecewa…… menyesal….

 “Mir!”,

Kashmir hanya menoleh

“Photo kita, bisakah tidak di pasang?”

“Yang mana?” Tanya Khasmir

“Pelukan. Bisa di ambil sekarang kan?”

“Tergantung Die. Kenapa? Keberatan?Alah….. paling juga”

“Enggak… enggak…cuma photo itu. Malu aku dilihat pak Hans”
”Benerkan? memang kenapa dengan pak Hans?

“Enggak …... Cuma nggak enak”

“Nanti aku kasih tau Die. Tapi nggak janji”, Khasmir meninggalkan madding, Kirani mengejar

“Kamu nggak tersinggung, kan? Aku cuma…..”,

“Malu sama pak Hans?”

”Kamu tersinggung?”, Kirani merasa bersalah

“Enggak,….kenapa tersinggung?”

“Tapi aku merasa kamu tersinggung”

“Aku bilang enggaaak. Ki”

 Berjalan menuju ruang ganti. Berdua setengah berlari. Tiba tiba langkah Kirani terhenti.

“aku nggak usah ganti. Aku nanti hanya ijin kak rike”

“mau kemana?”, Khasmir menghentikan langkah.

“Aku ingin keluar dari teater?”, keluh Kirani

“Apaan sih?”

“Bener”

“Karena pak Hans, kan?”

“Kok tau?

“Setelah dua bulan latihan? Setelah kita semua yakin bisa pentas di Jepang? Lantas kamu keluar?  Kamu ngerti perasaan yang lain, nggak sih?Pokoknya nggak bisa”

“Photo pelukan itu….. bisa nggak di ambil sekarang?”

“Cuma itu yang ada di otakmu”

“aku nggak enak sama pak Hans”

“tapi pak Hans enak lihat kamu main teater. Nggak percaya? Tanya saja”

Khasmir diam menatap berbalut resah. Memaksa sedikit tersenyum lantas pergi. Kecewa. Kirani memalingkan muka. Menatap kijang silver pak Hans yang terparkir di halaman. Berharap pak Hans keluar dari pintu mobil menyembul… membetulkan dasi. Lantas menatapnya……….. sekilas… betapa nikmatnya………

Pak Hans…. Pak Hans. Ku mau sepanjang hari menikamati senyummu

                                                           

·  I love you, pak…   

Namanya Hanani Hamzah. Orang hanya memanggil dengan sebutan pak Hans. Usianya duapuluh delapan  tahun. Tubuhnya tinggi jangkung. Kulitnya putih bersih. Kumisnya tumbuh halus indah. Dagunya membiru, saat bicara nampak kemerah merahan seperti ada genangan darah di balik kulitnya. Ada peranakan Menado dan Cina…. Orientalis amat.. Setiap pagi Kirani suka berdiri di pos satpam hanya untuk melihat pak Hans  melintas dengan kijang sivernya itu. Keluar…..Setelah menutup pintu mobil, Kirani tau, pak hans selalu membetulkan dasi sebelum menolehnya . lantas berpandangan sesaat menebar senyum kemudian berlalu.

Tapi sore ini Pak Hans tidak sekedar menoleh. Dia benar benar berdiri. Menikmati Kirani menari. Tubuhnya lentur memukau. Senyum manisnya terus mengembang menyapa pak Hans dari balik jendela. Matanya indah melompat lompat di balik bulu mata yang indah mengeliat. Pak Hans hanya berdiri sejenak saat melintas sekilas menuju ruang kelas fisika.

Setelah latihan usai, bergegas Kirani keluar berlari meninggalkan sanggar seni menuju ruang kelas pak Hans. Khasmir hanya bisa memandangnya termangu di pintu sanggar hampir tak mengerti. Kecewa.. cemburu…. Baru kembali ke ruang sanggar ketika Adelia menepuk pundak kirinya.

Peserta Binbel sudah keluar kelas ketika Kirani datang. Perlahan memasuki ruangan. Matanya berbinar binar, Pak Hans menarik nafas panjang.

            “Ini bukan kelas karantina, Ki. Masih besok”, sapa pak Hans ketika Kirani.

memasuki ruangan

            “Saya tau, pak”

            “Ada kesulitan untuk soal soal olimpiademu ?”

            “Enggak, pak”

            “Kalau ada kesulitan, telpon saja”

            “Memang boleh?”

            Sekali lagi pandang mereka beradu. Pak Hans senyum datar

            Kirani membayangkan adegan teater yang diperankannya bersama Kashmir. Ia berharap ada adegan itu. Pak Hans datang menghampirinya dengan senyum manis. Dipagutnya sebatang mawar dari vas. Ditimangnya, pandang sendu ke mata Kirani. Bunga mawar itu ditimang timangnya. Saling berpandang. Senyum Kirani merekah.         “Ada apa Ki? Melamun?”

            “Bapak pintar saya menyukainya”

            “Terima kasih. Ki”

            “Bapak baik, saya menyukainya”

            “Terima kasih, Ki”

            Pak Hans tersenyum. Ia tau betul itu adalah dialog drama yang dimainkan Kirani dan Khashmir saat pergelaran di Taman Budaya. Pergelaran dengan tajuk “ Panggil Aku Saskia”, Lakon  yang bertutur tentang gadis yang jatuh cinta pada laki laki yang lebih tua itu begitu membekas bagi Kirani. Khasmir yang berusia tujuh belas tahun harus memerankan bapak bapak berusia 40 tahun dan ia memainkan dengan luar biasa. Pergelaran yang luar biasa  itu juga bertepatan dengan ulang tahun Kirani dan  kebetulan juga Pak Hans menontonnya.

            Pak Hans tersenyum dia telusuri wajah cantik Kirani.

            “Kamu menyukai adegan itu,kan?”

            “Setiap adegan itu hidup saya. Di tempat itulah saya sangat berarti”

            “Kamu tidak bahagia, Ki?”

            “Rugi dong pak, kalau saya nggak bahagia. Saya bahagia, meski terasa sepi. Tak ada siapa siapa di rumah, kecuali aku dan mbok Yem. Dan bagi mbok Yem hanya melayaniku, baginya aku bukan apa apa dan siapa siapa.”

            Sekali lagi pak Hans tersenyum. Amat manis

            Kembali kirani diam. Menatap mata indah guru fisika itu. Menelusur setiap bukit dan lembah di wajah itu. Seperti ada gelombang besar di dadanya. Menghantam keras.

            “Teman temanmu menunggu di sanggar. Hari ini kamu harus latihan, kan?”

            “Bapak tidak keberatan saya main teater?”

            Pak Hans menggeleng

            “Kenapa bapak tidak keberatan?”

            “Karena itu duniamu, bagaimana mungkin bapak keberatan”

            “Bapak tidak cemburu, saat saya berpeluk dengan Kashmir?”

            Pak Hans pandangi wajah Kirani. Putih. Rambut hitam panjangnya diekor kuda menjuntai menyentuh punggung.  Ada tahi lalat mungil di sudut bibir atasnya. Simbar rambut halusnya lembut menyentuh keningnya. Sungguh amat sempurna. Agak ragu Pak Hans menggelengkan kepala. Kelas sepi, tapi tidak dengan hati mereka.

            “Kenapa bapak tidak cemburu?”

            Berdiri pak Hans memungut buku di atas meja lantas di masukkan tas besarnya. Kirani menghampiri.

            ‘Karena Khasmir adalah sahabatmu”

            “Saya pikir bapak cemburu adegan itu”

            “Kamu cantik, baik, semua orang pasti menyukaimu. Bapak suka jika semua orang menyukaimu. Bapak sangat suka jika semua orang mencintai kamu.         Gadis secantik kamu, tak boleh dimonopoli satu orang. Jika segera ke sanggar, pergi saja. Khasmir juga yang lain menunggu. Soal soal fisika bisa kamu kerjakan malam hari. Sampai  ketemu besok di kelas karantina.. Selamat sore, Ki”

Kirani pandangi laki laki itu. Apa yang salah?. Laki laki itu menebar senyum sambil menyentuh pundak Kirani lantas pergi.

Pak………….aku…………..

 

·  Maafkan Aku Mira

SMA Wijaya Kusuma  nampak megah dan indah malam itu. Beberapa lampu menerangi sebagian gedung dan halaman. Halaman tengah penuh anak anak  latihan pencak silat. Jika sebagian ruang kelas lampu padam, tapi untuk Sanggar seni Jonggring Saloko masih terang benderang.

Ada latihan malam itu. Mereka mempersiapkan pergelaran untuk mendapatkan tiket pentas di Jepang.  Musik rancak di mainkan. Suaranya  indah memekak mekak telinga. Di timpa suara suara biola Khasmir, sendu menyayat. Kirani terbalut kaos hitam hitam. Tubuhnya membentuk siluet indah,  lentur. Suranya bulat dan utuh. Dialognya panjang, runtut, intonasi dan aksen yang bagus.

Tak jauh dari sanggar seni. Ruang karantina  juga masih terang. Musik Kitaro halus dan Indah. Pak No penjaga malam mengantar teh hangat untuk Pak Hans dan Dika yang sejak sore mengerjakan tugasnya. Sebulan lagi pak Hans mendapat tugas dari kampusnya   pergi ke Jerman untuk mengambil program doctor.

“Sudah jam sembilan”. Dhika  berguman, ia menutup laptop dan memasukkannya dalam tas. Hans  melihat jam di tangan.’ Ayo makan malam dulu”

Suara musik di sanggar seni itu. Pak Hans seakan melihat Kirani menari seperti sore itu, saat sejenak menghampiri sanggar seni menjelang sampai di kelas karantina. Ia ingat betul. Tubuh Kirani lentur bagus. Matanya lembut indah. Sungguh seumur hidup baru sekali di amuk perasaan itu. Rasa yang liar dan ganas tanpa bisa di jinakkan. Sejak bertemu Kirani dua bulan lalu ada yang aneh. Rasa yang liar dan ganas tanpa bisa di jinakkan. Sedetikpun.

 “Haii, gimana? Jadi makan di luar?”, Dika membuyarkan lamunan.

“Ini kelewat malam. Mira pasti menungguku”

“Untuk makan malam? Ini sudah malam. Paling Mira juga sudah makan. Ayo ke Paradise, aku traktir kamu. Sudah lama kamu nggak makan di luar, kan?”

“sejak menikah”

“Memangnya Mira melarang?”

Hans tersenyum. Menutup laptop dan juga memasukkan ke dalam tas.

“Mira selalu masak untukku. Dan selalu menungguku makan. Tak pernah sekalipun makan mendahuluiku” , dengan bangga Hanani bercerita.

“Klasik amat”

“Itu yang selalu dia lakukan”

“Istri yang sempurna. Dari mana kamu dapatkan?”

Hanani hanya tertawa. Berdua berjalanan beriringan meninggalkan ruang karantina menuju halaman parker. Jaket hitam tangannya menenteng tas. Langkahnya tegap menuju tempat parkir

Langkah Hans terhenti. Menatap pohon palma yang daunya berayun. Rembulan separo di atas langit. Anggrek ungu berayun. Hanani menyentuhnya. Andika mengehentikan langkah, tersenyum di tahan.

“Mira sangat menyukai Anggrek”, mengambil, mencium dan menggenggamnya.

“Segitu perhatian. kamu tentu sangat mencintainya?”

“Mana berani aku mencintainya. Kalau kamu bertemu perempuan seperti dia, kamu akan merasa kecil lantas takluk, dan hatimu akan di serang rasa takut untuk mencintainya. Yang ada hanya kagum, takjub dan takut melukai”, Hans setengah tertawa.

“Kekaguman?”

“Pemujaan”

“Pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat”

“Bisa jadi”

“Rasanya kok seperti ada yang lain?”

“Maksudmu?”

“Orang fisika tiba tiba romantis. Pasti ada sesuatu”

“Seperti itu ya?”

“Biasanya”

“Setidaknya aku berusaha tidak”

Keduanya tertawa lantas berjalan menuju mobil masing masing. Hans masih merogoh sakunya, mencari kunci ketika Dika sudah berlalu. Hampir sepuluh menit mencari namun tak di temui. Hans berbalik menuju Ruang karantina. Matanya tertuju pada beberapa orang mulai keluar dari gedung sanggar seni.  Hans  berhenti, tiba tiba ia ingin melihat Kirani malam ini. Keinginan yang kuat tanpa bisa dihentikan. Betapa Kirani mulai mengisi seluruh pikirannya. Gadis dengan rambut panjang terurai sampai punggung. Lurus bagus tanpa mengenal rebonding yang biasa disibakkan di balik telinganya. Hans hafal betul ada tahi lalat kecil di balik telinga itu.  Tahi lalat di balik lentur telingga polos tanpa anting anting itu, sering menimbulkan hasrat  untuk mengulumnya.

 Hans bergegas menuju ruang karantina. Ia tak ingin terlalu jauh. Ia ingin membunuh setiap pikirannya tentang Kirani. Ditumbuhkannya Mira, istri yang dinikahinya dua tahun yang lalu. Mira yang cantik dan cerdas. Bukan Kirani tapi Mira.

Nafasnya berat menyesak. Menutup muka rapat rapat ketika duduk si kursi. Ditumbuhkannya cinta dan kesetiaan. Dirajutnya segala kebaikan Mira. Perempuan yang selalu membukakan pintu ketika ia datang  lalu menyambut dengan senyum dan ciuman. Perempuan yang selalu menanyakan, adakah kesalahan yang dibuat hari ini?. Perempuan yang berusaha dicintai itu tentu sedang menunggunya. Duduk di depan komputer atau si ruang  makan. Bisa juga di ruang tengah sambil membaca buku atau majalah.  Hanani hafal betul, Mira akan selalu manis dan rapi. Saat menyongsong kehadirannya selalu dengan pelukan. Dan yang tak di lupakan Hanani parfum tubuhnya begitu mewangi.

Mira……………maafkan aku

 Dengan tergesa Hanani membuka laci meja dengan harapan ada kunci. Dicarinya di tumpukan buku, map. Di kolong meja. Hans ingin segera pulang, ketemu Mira untuk meredam setiap keinginan tentang Kirani malam ini. Sampai kemudian ia merasa ada orang berdiri di hadapan.        

            Angin malam terasa dingin. Korden jendela bergerak lembut berirama. Kirani berdiri, membalut tubuh dengan swieter biru dan syal benang rajut coklat hadiah Bunda Khasmir. Topi penghangat dingin membenam menutup sebagian keningnya. Hans  mendongak, perlahan ia pandangi Kirani.

Menunduk sesaat. Ya tuhan……Lantas memandangi tumpukan buku di atas meja. Hatinya gaduh.

“Bapak mencari kunci?”Kirani mengulur kunci di hadapan,

“Terima kasih”

“Saya menemukan  di bawah anggrek”

Mata Kirani tertumpu pada anggrek di sebelah tas pak Hans

“Kamu menyukai anggrek?”, Tanya pak Hans

“Suka sekali. Tiap pulang aku mesti mencium anggrek ungu  di halaman itu. Dan di meja belajarku selalu ada anggrek ungu”

“Oh ya?!”

Begitu saja Hanani mengulur anggrek ungu yang baru saja di petiknya. Redup bola mata . Betapa ingin ia sembunyikan semua. Gejolak yang dasyat menghantam. Senyum tipis. Gadis ini amat menggoda. Runtuh juga.

 “Halaman rumahku ada beberapa pot anggrek. Bapak suka anggrek juga?

“Di rumahku juga  ada beberapa pot bunga anggrek, dan saya setiap hari merawatnya”
            “Papaku juga”

“Oh Ya? Kok bisa sama?”

“Papaku dulu juga guru fisika. Sama dengan bapak”

“Ya Ampun, Ki. Kok bisa sama?”

“Waktu aku kecil, papa selalu menyelipkan anggrek di rambutku setiap mau pergi ke kentor”

“Dan sekarang?”

Kirani menunduk, segurat sedih. Matanya berkaca kaca.

“Papa sudah meninggal”, Menatap pak Hanani memelas

“Maaf, Ki”

Tiba tiba Hanani menggenggam tangan kirani. Tak tega melihat gadis di depannya. Ujung jarinya menyentuh titik bening di sudut mata Kirani lantas membuka penutup kepala. Begitu saja ia menyelipkan anggrek di telinga Kirani. Saling memandang. Memeluk tubuh Kirani erat erat dan terasa amat hangat. Kirani membenamkan tubuhnya dalam dalam. Gaduh dada dada mereka, nyaris tak terdengar langkah Khasmir datang. Lantas berdiri di depan pintu termangu. Ada cemburu mendadak menyelinap di dadanya. Membakar hingga menjadi puing. Lolongan panjang kesedihan Khasmir hanya tersedak ditenggorokan. Perlahan menutup mata ketika bibir Hanani bergerak menghampiri bibir Kirani

            “Maaf Ki”, Tersentak

Kirani menunduk. Khasmir yang di balik pintu menenggang rasa. Sakit yang tak berujung. Bayangnya begitu dalam dan amat sangat. Kirani oh Kirani. Bersandar di dinding. Malam semakin malam. Sekolah mulai sepi. Serombongan anak anak ekstra silat beriringan meninggalkan halaman.

            “Maaf, Ki. Bapak salah”

            Kirani diam. Sentuh bibirnya. Pandang pak Hans pucat

            “Maaf”

Hanani diam sejenak. Sebentar kemudian pergi berlalu meninggalkan ruang karantina. Di depan pintu bertatapan dengan Khamir. Bertatap sejenak. Dua laki laki  dada dadanya telah bertanam cinta. Bergolak. Kirani hanya menatap kepergian Hans.

            Ketika Khasmir memasuki kelas, ia hanya melihat gadis itu tertelungkup.memangis. Kahmir hanya diam duduk di sebelahnya. Sedikitpun ia tak kuasa menyentuh pundak Kirani. Betapa sebenarnya iapun menangis. Bahkan mungkin lebih keras dari yang dilakukan Kirani

             Di rumah Mira tertelungkup di meja. Menunggu Hanani tak juga pulang, ia tertidur pulas. Hanani termangu ketika sampai di ruang makan. Mencium kening Mira sesaat lantas mengangkatnya ke tempat tidur.

            Memandang wajah Mira. Amat cantik. Tertidur sedikut tersenyum betapa manis. Sudut kamar vas kecil manis. Anggrek unggu bertengger manis pula. Dada Hananipun  merenda bayangan manis. Di cabik cabiknya dengan kasar sampai jatuh tersungkur menangis. Maafkan aku Mira..

 

                                                                  ******

 

·    Maaf, Ki

            Pagi ini Pak Hans tidak muncul di sekolah. Begitu juga esok harinya. Seminggu kemudian guru fisika yang muncul di kelas tidak lagi Pak Hans tapi bu Kristin. Kecewa. Tak ada yang bisa diharap oleh Kirani. Nomor handphone yang ada tidak lagi bisa dihubungi. Seminggu… dua minggu….di kelas karantina Kirani terasa sepi sendiri.

            Olimpiade fisika tinggal tiga minggu. Kirani hampir tak lagi menyentuh pelajaran itu. Dari Ruang BK Kirani hanya mendengar kabar, Pak Hans mengundurkan diri dan digantikan bu Kristin. Mendadak sekali. Minggu minggu ini pula kirani merasa tak berarti. Apa yang dilakukan serba tak pasti.

            “Ki. Semangat dong!. Dua minggu lagi olimpiade, setelah itu festival”, kata Khasmir di teras Mushola selesai sholat ashar.

Duduk di teras berdua. Biola Khasmir tergeletak di sebelah. Adelia dan Satria berteriak pamit pulang samnil melambaikan tangan.

            “Ini sabtu,kan. Mir? Mama nanti sore pasti pulang

            “Kamis, Ki”

            “Aduh. …….sama mbok yem lagi. Aku bosen”

            “Nanti kita rame rame datang ke rumahmu”

            “Kamu pulang dulu aku nanti bareng Adel?”

            “Adel baru saja pulang sama Satria”

            “Oh ya? kapan”

            “Barusan pamit sama kamu, kan?”

            “Memang begitu?”

            “He… Ki…. Konsen dong!”

            Kirani bangkit dari duduk. Meraih tas, lantas berjalan meninggalkan Khasmir

            “Aku mau pulang”

            “Ayo bareng!”

            “Aku naik angkot”

            “Aku bonceng!”

Kirani ngeloyor menuju jalan raya. Khasmir mengikuti langkah Kirani. Kirani menghentikan angkot lantas duduk, Khasmir juga masuk dan duduk di sebelahnya. Tak ada pembicaraan. Hanya diam di dalam angkutan itu. Khasmir malah membiarkan sepedanya terpakir di tempat parkir sekolah. Dan mengikuti Kirani. Diam. Mereka berlomba untuk diam.

            Angkot bergerak menyususri jalan jalan kota

            “Lho? Kok lewat sini?”, Kirani tersadar begitu angkutan berhenti di depan Kantor pertamina

            “Kamu salah masuk. Ini angkutan yang berbalik arah dengan rumahmu”

            “Kiri… kiri… pak”

Mobil berhenti. Kirani turun diikuti oleh Khasmir. Kirani hendak menyebrang jalan di keramain lalu lintas. Hamper saja tertabrak. Beberapa sopir memaki maki, ketika seenaknyanya ia menyebrang tanpa mempertimbangkan laju kendaraan.  Kenek angkot turun marah marah sambil menuding nuding wajah Kirani. Kata katanya kasar dan amat menyakitkan. Khasmir  segera menggamit Kirani ke pinggir jalan meski  berkali berusaha  melepaskan.

            “Minum dulu!”,kata Khasmir sambil menarik lengan Kirani  menuju café

            “Aku mau pulang”

            “Minum dulu”

Khamir membentak Kirani.

            “Kamu kasar banget”

            “Kamu sadar, nggak Ki? Kamu berubah. Bener bener berubah. Hari ini saja, salah masuk kelas. Adel pamit pulang, kamu nggak inget, sampai jalan pulangpun kamu lupa. Hampir  tetabrak mobil. Terus besok apalagi?”

            Kirani menutup muka.

            “Pak Hanani,kan?”

            “Pak Hans tiba tiba pergi begitu  saja, tanpa bisa dihubungi. Padahal  dua minggu lagi sudah olimpiade. Kamu ngerti perasaanku kan?”

            “Aku ngerti. Besok aku bantu cari pak Hanani”

            “Aku merasa kehilangan, Mir. Kamu  perna merasa kehilangan?”

            “Ya, Ki. Aku merasa kehilangan. Sekarangpun aku merasa sangat kehilangan”

            “Ajari aku, Mir. Menenangkan hati yang kehilangan”

            “Ki…..akupun tidak bisa. biasanya aku hanya diam. Dan bunda selalu mengingatkan  apa yang sebenarnya yang bisa kumiliki”

            “Nikmatnya punya bunda”

            “Bundaku, bundamu juga”

            Keduanya menunduk, sejenak saling memandang.  Mobil kijang silver memasuki pelataran parkir melintas di sebelahnya. Sepasang laki laki perempuan keluar. Bergandengan. Khasmir meraih tubuh Kirani lantas memeluknya. Laki laki dan perempuan itu melintas di sebelahnya. Khasmir berdegup kencang membenamkan wajah Kirani di dadanya.

“Kamu apa apaan sih?”

Setelah sepasang laki laki perempuan  yang bergandengan berjalan memasuki rumah makan. Setelah agak jauh, Khasmir melepaskan pelukan dan menarik lengan Kirani menuju jalan raya.

“Kamu gila tau?!”

“Ayo pulang!”

            “Kamu bilang kita mau minum?”

            “Nggak usah. Kamu mau kemana?”

            “Aku mau putar  putar naik angkot”

            “Aku temani”

            “Jangan, Mir!”

            “Ayo!”

            Khasmir menghentikan sebuah angkot. Keduanya masuk. Mata Khasmir nanar mencari tau dimana laki laki dan perempuan itu berada.

            “Kamu cari siapa, Mir?”

            “Enggak cari siapa siapa”

            “Kenapa kamu tadi peluk aku?”

            “Maaf, Ki”

            “Sekali itu saja ya. Jangan kamu ulang”

            “Maaf, Ki”

            “Kemarin pak Han bilang maaf.. kemudian pergi”

            “Aku akan terus menjadi temanmu, tak akan pergi”

            Kirani menunduk. Angrek ungu kering terjatuh dari sakunya. Kirani memungut dan menciumnya.

            “pak Hans menyelipkan di rambutku”

            Khasmir hanya memandang iba

            “Saat kamu peluk tadi, aku mencium parfum pak Hans melintas di sebelahku. Sepertinya dia ada didekatku. Kira kira apa dia masih mengingatku?”

            Khasmir diam. Tak kuasa bicara. Matanya melihat keramaian kota malam itu. Mata Kirani sendu pandangi luar angkot. Semakin tak kuasa Khasmir untuk mengatakan, bahwa bukan hanya parfum pak Hans yang lewat, tapi pak Hans memang benar benar lewat itulah alasan Khasmir memeluknya. Maaf, Ki.

 

·  Sebuah keputusan

 

      Anggrek ungu di sudut kamar. Hanani ingat betul waktu itu anggrek yang baru saja dipetiknya digenggam kirani, satu lagi terselip di telinga Kirani. Kenapa dua perempuan itu begitu menyukai anggrek ungu. Sekali lagi Hanani pandangi anggrek di sudut ruang. Mira yang molek lelap menikmati malam.

Hanani mencium pipi Mira. Mengulurkan selimut. Rasa sesal dan bersalah. Direbahkan tubuhnya. Berpeluk. Ia yakinkan hati, ia suami Mira. Perempuan cantik yang dihadiahkan Kyai Sahal. Hanani suka menggunakan istilah hadiah, karena merasa sangat tidak sederajat dengannya. Hanani hanya penghuni panti asuhan yatim piatu. Sedangkan Mira mahasiswa kedokteran,  bapaknya seorang diplomat. Hamper sebagian hidupnya di habiskan di luar negeri. Namun yang hebat, Mira gadis modern yang tidak perna terjebak feminisme. Ia bangga menjadi perempuan lengkap dengan tugas tugas perempuannya. Perempuan itu tugas utama di rumah. Sebuah pekerjaan yang mahal dan mulia. Sebuah pekerjaan yang tidak hanya mempunyai demensi fisik, ekonomi tapi juga syarat syarat dengan nilai religi. Dan Mira sangat menikmati

      “Aku hanya menginginkan pahala”, begitu jawab Mira ketika Hanani tak tega istri melakukan sekian banyak tugas di rumah.

      ‘Aku tak sanggup membalas kebaikanmu”

      “Tuhan yang membalasnya”

      “Kenapa kau lakukan padaku?”

      “Kalau diperkenankan sujud kepada manusia, aku akan sujud kepadamu”

      “Aku bukan laki laki yang baik”

      “Jika perempuan dapat menjaga sholat lima waktu, puasa bulan romadhon, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya maka dia akan masuk sorga. Apa salahnya aku punya keinginan masuk sorga dengan cara taat padamu?”

      “Aku tidak layak. Aku bukan laki laki yang baik, Mira”

      “Tapi yang terbaik, yang Tuhan berikan untukku”

      “Bagaimana jika aku laki laki yang brengsek?”

      “Asyiah tetap tunduk dan hormat kepada Firaun meski ia tau betapa dholimnya Firaun. Ia nikmati sebagai ladang ibadah. Insya Alloh aku begitu”

      Makan pagi yang indah. Kirani menyelinap terkubur dalam hati. Hanani sengaja menguburnya dalam dalam. Semalam ia hubungi pak Priyo kepala SMA Wijaya Kusuma yang kebetulan adalah saudara sepupu, anak dari om Dirlan. Hans mohon maaf dan  mundur dari Pembina olimpiade fisika. Ia kembalikan semua pada bu Kristin yang cuti melahirkannya sudah habis.

Pagi itu setelah mengantar Mira ke rumah sakit, ia mengurus paspor kepergianya ke Jerman. Ia memutuskan segera pergi ke Jerman. Ia yakin hanya seperti itulah caranya melupakan kirani, murid kelas dua, yang kebetulan terpilih mewakili olimpiade fisika. Dan kebetulan juga ia di kontrak 3 bulan untk mempersiapkan olimpiade itu oleh sekolah. Melupakan Kirani dan menjadi suami Mira adalah harga mati, yang tak tak ingin ditawarnya.

“Yakin kamu mau ke Jerman?”, Mira  senyum manis. Kerudungnya warna merah maron.  Jari jari mereka lekat berjalan menyusuri lorong rumah sakit

“Yakin dong. Sudah beres semua, tinggal berangkat. Maunya dua minggu lagi”

“Terus?”

“Ditunda sebulan lagi”

“Mau balek bantu om Dirlan ngantar anak anak olimpiade?”

Nafas Hanani bagai terhenti.

“aku sudah memutuskan berhenti”

“Nggak nyesel,?”, Hanani menghela nafas, Mira tertawa” Dulunya kamu bilang, apapun pekerjaan, kamu sempatkan jadi guru. Eh sekarang malah keluar…, memang nggak enak ya jadi guru?”

“Jerman akan mengubah semua”

“Oh ya?”

“Kayaknya kamu nggak yakin?”

“Aku yakin”

Mira  tertawa. Menyusuri lorong lorong rumah sakit. Hari ini adalah hari terakhir Mira masuk rumah sakit. Ia mundur dan memutuskan untuk menemani Hanani ke Jerman. Satu hal lagi ia ingin segera mendapatlan momongan setelah pernikahan  dua tahun yang lalu.

Hari hari berikutnya Hanani melewati bersama Mira, paling tidak ia ingin menikmati hari hari terakhir di tanah air. Mengunjungi keluarga Mira di semarang dan keluarga Hanani di Surabaya. Selebihnya  mereka menghabislan waktu dengan jalan jalan, nonton dan makan di resto gurami panggang kesukaan Mira. Hanani paling suka melihat betapa lahapnya Mira kalau sudah makan gurami panggang.

“Seminggu kita sudah tiga kali kemari. Ini yang terakhir. Aku bisa gendut, mas”

Mira riang bertutur. Hanani hanya tersenyum.

Rumah makan lesehan dengan arsitektur dan musik langgam Jawa terasa damai. Gemericik air, taman yang tertata rapi. Banyak bunga dan ragam kupu kupu. Anggrek ungu menggantung berjajar rapi. Tatap mata Mira pada anggrek ungu yang berjajar di dekat kolam gurami. Bunganya bagus memanjang enak dinikmati.

“Lihat anggrek itu! Indah sekali”

Hanani menoleh. Anggrek ungu indah berjajar. Gadis manis berdiri termangu di bawah anggrek. Celana jean kaos hitam. Rambutnya panjang di ekor kuda wajahnya kusut. Laki laki muda dengan biola menggantung di pundak memandang dengan rasa. Lantas memainkan biola dengan indah, sendu, kadang menyayat nyayat. Beberapa pengunjung menoleh dengan tersenyum dan Khasmir tetap memainkan.

“Kamu lihat, Mas! Indah ya? Sepasang kekasih”, Mira nikmat pandangi mereka

Hanani menunduk. Kirani bagai mengiris hati

“Ternyata pacaran itu enak, sayang aku nggak perna ngalami”

Pandangi Mira. Senyum. Ia tau Mira tak perna pacaran. Dan itupun terjadi persis dengannya. Tak perna pacaran, tak perna dekat dengan perempuan. Tak perna jatuh cinta apalagi  sampai putus cinta, sampai kemudian Kyai Sahal menghadiahkan Mira. Hidup Hanani bagai datar datar tanpa warna

Hanani kembali memandang deretan anggrek ungu. Biola  Khasmir sayup terdengar lantas berhenti.   Sampai kemudian ia melihat Khasmir menarik lengan gadis itu dengan lembut dan membawanya ke tempat duduk di sudut yang agak jauh. Hanani hanya memandang sesaat kemudian menunduk. Betapa sakit.

Kirani tergelosoh. Kepalanya diletakan di atas meja. Tertelungkup. Sedih. Tak sempat tau Hanani dan Mira sudah meninggalkan tempat itu. Khasmir menghibur, bercerita banyak. Gurami terhidangpun hanya sekedar di pandang tak ingin menyentuh sampai Khasmir menyuapi nasi ke mulutnya. Kirani menjadi amat manja

“Mir….”, Kirani lembut Bertatap Khasmir. “hamper dua minggu pak Hans tidak masuk, hatiku sakit….. kosong…sangat kehilangan”

Biola di samping berderak turun. Mereka baru saja selesai latihan. Seharusnya Kirani masuk program karantina untuk olimpiade fisika tapi sudah seminggu ini Kirani menolak masuk kelas. Begitu mendengar pak Hans keluar dari sekolah dan digantikan bu Kristin, Kirani seperti kehilangan semangat.

Mata Khasmir tajam berkilat

“Kamu pucat, Ki”

Kirani menoleh, membuang pandangan. Sendu seperti mencari. Andai pak Hans ada di sini.

“Mir………….”

            “Ya..?”

            “Kenapa tiba tiba aku jatuh cinta?”

            Nafas Khasmir semakin berat menyesak. Nasi yang hendak sampai bibir kirani bergerak turun ke piring

            “Aku sudah lama jatuh cinta, Ki?”

            Kirani berlari keluar menuju kolam. Gurami melompat lompat. Tak jauh di sebelah berjajar deret anggrek ungu. sanggar. Ada yang diharapkan keluar tuk sekedar dinikmati senyumnya. Khasmir berdiri dibalik punggung, menatap juntai rambut Kirani. Bulu bulu yang halus merambat tumbuh dilehernya yang putih. Khasmir memejamkan mata. Dadanya semakin sesak.

            “Jatuh cinta itu sakit, Mir”

            “Iya, Ki. Jatuh cinta itu menyakitkan”

            “Kau perna merasakan?”

            Tiba tiba Kirani berbalik menatap Khasmir. Kashmir berusaha membuang pandangannya. Kupu kupu di atas bunga terbang terbang tinggi. Anggrek ungu depan diam mematung

            “Aku sangat merasakan”

            “Ajari aku memendam rasa sakit itu”

            “Aku tidak bisa, Ki. Aku nikmati rasa sakit itu. Terkadang pula, aku jelmakan rasa sakit itu. Aku benar benar menikmatinya”

            Pandangi khasmir. Laki laki mengalihkan pandangan sejenak. Ada yang mengiris luka menganga di hati. Duh…Ki, sakitmu tidak akan melebihi sakitku.

Rambut Kirani luruh. Jatuh. Pita yang mengikat ekor kuda rambut tiba tiba terlepas  jatuh. Dan Kiranipun lunglai nyaris jatuh. Khasmir hanya mampu merengkuh tubuh tapi tidak dengan hati Kirani. Duh…………………..

 

                                                              ******

 

·  Pak Hans…..?

            Kirani jatuh sakit. Seminggu harus rawat inap di rumah sakit dan hanya seminggu itu pula sang mama pulang menunggui, hanya itu. Selebihnya Kirani harus sendiri di rumah. Belum sehat, tapi bagaimanapun juga mama punya jadwal yang padat yang tak bias ditinggalkan. Seorang widyaiswara yang mesti sering turun ke daerah.

            “Hanya 2 minggu. Ki, setelah itu mama ada jeda panjang. Mungkin satu bulan di rumah”

            Kirani hanya mengangguk. Di tinggal mama sudah biasa, itu terjadi sejak kelas lima SD. Dan biasa pula ia sehari hari dengan mbok yem. Pembantu setengah baya yang merawat Kirani sejak bayi. Kadang muncul perasaan iri pada Khasmir. Keluarga yang bahagia. Ayah Khasmir bekerja kantoran, sedang bunda bekerja di rumah. Sehari hari mereka bertemu, melakukan aktifitas bersama. Bisa bercerita tentang banyak hal. Sesekali Kirani di ajak bergabung. Hanya sesekali.

            Hanya dua hari setelah mama berangkat Kirani sakit lagi. Bunda  dan Khasmir yang merawat secara bergantian. Untuk Khasmir kebagian setelah pulang sekolah, kadang khasmir menjagainya sampai sore.

            “Pak Hans belum masuk, Mir?”

            Kirani duduk di teras. Wajahnya pucat. Celana longgar dengan kaos warna yang sama. Mbok yem berdaster kuning menyapu halaman. Membetulkan beberapa pot. Anggrek ungu indah menggatung, Kirani memandang tanpa lepas.

            “Jangan lupa siram anggreknya, mbok”

Mbok mengangkati pot pot. Ada mawar putih, merah, jingga. Beberapa sangkar burung. Bunyi indah. Ada jeram kecil, airnya melompat lompat. Beberapa ikan warna warni berenang gegirangan.

            “Kamu tau dimana rumah pak hans?”

            “Untuk apa?”

            “Tidak tau untuk apa”

            “Lupakanlah! Dia sudah dewasa, siapa tau dia punya is………tri”

            “Nggak mungkinlah”

            “Kalau memang ya?”

            “Aku……..”

            “Kamu cemburu?”, Kirani menggoda.

Khasmir diam sesaat. Duduk pandangi burung prenjak yang berlari berputar putar di dalam sanggar. Tidak tau ingin marah atau jengkel atau malah suka dengan sikap Kirani. Berharap sekali Kirani cerdas untuk menafsirkan semua sukap selama ini.

            “Minum obatmu. Kamu harus sembuh. Ada olimpiade fisika, ada festival teater, semua menunggumu, kamu harus sehat. Aku ambilkan obat, ya?”

            Khasmir mengambilkan obat. Meminumkan. Dan kirani hanya diam menerawang. Sakit maag kronis, demikian vonis dokter. Serasa pusing, kadang kadang dada terasa sesak

“Aku tadi cuma bercanda”,

“Aku ngerti, Ki”

“Kenapa kamu baik sama aku, Mir?”

            Khasmir hanya diam. Tetap pandangi burung prenjak yang yang berlari berputar putar di dalam sanggar.

            “Pacar kamu nggak marah?”

            Khasmir tersenyum kecut. Mengambil sepiring nasi dan menyuapinya. Kirani menatap Khasmir sambil tersenyum manis.

            “Kamu mesti makan, supaya cepat sembuh”

            “Kamu baik dan sangat perhatian. Pacar kamu pasti sayang kamu”

            “Enggak juga”

            “Nggak tau diri banget. Masak sih dia suka nyakiti kamu?”

            Khasmir hanya menunduk menyuapi Kirani perlahan. Tatap elangnya dalam. Mbok Yem yang membersihakan ruangan berkali kali menoleh.

            “Kapan kamu kenalkan aku? Aku kepengen ketemu dia, nanti aku akan bilang kamu itu baik banget”

            Lagi lagi Khasmir hanya diam. Ia menyuapi Kirani dengan pelan. Kirani menerawang, tatapnya jauh ke depan. Rumah Khasmir berdiri tegak. Kamar Khasmir paling depan. Terdapat balkon dengan beberapa pot kamboja. Kirani suka jika tak bisa tidur iapun naik ke balkon  rumahnya. Melambai tangan. Khasmir lalu keluar menenteng biola lalu memainkan untuk Kirani sampai larut. Sampai sang bunda datang melambaikan tangan pada Kirani. Lantas  mereka masuk.

            “Kalau pak Hans datang ke sekolah, bilang kalau aku sakit. Aku ingin ketemu”

            “Kamu sangat……………mencintai …..pak Hans”, Suara Khasmir nyaris tertelan di tenggorakan. Lemah hamper tak terdengar. Serasa ada yang menusuk

            “Aku tak mau mati sebelum ketemu pak Hans”

            Khasmir pandangi Kirani. Ia ingat betul, itu adalah dialog pergelaran teater yang hendak ia mainkan bersama. Kirani hanya diam. Sedih. Berharap besar pada Khasmir untuk bisa menemukan pak Hans. Rindu hampir tak tertahankan.

            Lengkap dua minggu Kirani sakit. Dua minggu pula bu Kristin menunggu. Olimpiade sebentar lagi, hanya Kirani yang bisa diandalkan. Di kelas karantina ada tiga siswa yang tergabung, namun hanya Kirani yang mempunyai nilai lebih di banding yang lain.

            “Bagaimana Kirani?”,

            Itu yang sering di dengar khasmir ketika bertemu bu Kristin. Tak ada jawaban yang jelas. yang Khasmir tau, Kirani hanya mengurung diri di dalam kamar, terbujur, berselimut. Sudah sehat, tapi masih lemah. Sudah sehat, tapi serasa sakit. Kadang malam hari Khasmir hanya bisa melihat Kirani dan balkon rumahnya, memandangi Kirani yang duduk sendiri di balkon rumahnya. Suatu kesempatan Kirani berusaha masuk sekolah. Hanya sehari. Sorenya pingsan di kelas olimpiade. Khasmir dan beberap teman mengangkatnya ke ruang kesehatan

            Esok hari Khasmir datang ke kampus tempat pak Hans bekerja, namun tak sekalipun bertemu. Ke tempat tennis, tak juga ketemu. Kemana mesti mencari pak Hans. Pak Dika yang ditanyapun diam dan tersenyum tanpa ada jawaban yang jelas. Gurupun hanya menggeleng. Pak Hans menjadi sosok yang misteri. Datang ke SMA hanya beberapa minggu kemudian pergi begitu saja. Sepenting apakah dia? Khasmir marah. Pencarian pak Hans tanpa hasil membawanya ke resto gurami bakar.

            Menyandarkan Biola di sampingnya. Memesan  es siwalan, satu porsi gurami. Sesak melenguh panjang. Kirani menunggu pak Hans dan ia tak berhasil menemukannya. Kadang ia memaki maki dalam hati. Makan dengan lahap lantas memesan gurami bakar untuk Kirani, setelah membayarnya, Khasmir menuju tempat parkir. Sebuah kijang silver melintas dan berhenti agak jauh. Laki laki gagah tegap keluar. Khasmir berlari menghampiri.

 “Oh ya. Ada apa? Persiapan olimpiade. Bagaimana?. Siapkan?”

“Kirani sakit”

Hanani diam. Membuang pandangan sekilas. Menarik nafas panjang

“Dia terlalu capek. Jaga dia baik baik”

“Sejak pak Hanani pergi dari sekolah. Kirani sudah masuk rumah sakit dua kali. Dan terhitung hanya masuk sekolah  satu hari. Bayangkan pak! Hanya satu hari”

“Semoga kirani cepat sembuh. Sampaikan salam saya untuknya”

“Saya harap bapak mau menemui Kirani”

“Maaf.  Saya sibuk. Lagi pula, saya sudah bukan lagi guru di situ. Sampaikan salam saya pada Kirani, semoga cepat sembuh”

Hanani melangkah. Khasmir mengejarnya

“Hanya itu, pak? Bapak hanya bermain main dengan perasaan Kirani. Bapak tau tidak, Kirani sekarang tergeletak. sakit. Dia pingsan di kelas saat karantina olimpiade. Sekarang seluruh sahabatnya  menangis. Kirani sakit. Panas badannya tinggi. Dalam tidurnya selalu menyebut nama bapak.  Dokter tidak perna bisa menemukan dia sakit apa. Hanya pak Hans yang tau dia sakit apa, dan hanya pak Hans pula yang tau apa obatnya”

“Hubungan saya dan Kirani hanya sebatas guru dan murid”.

“Bapak tau Kirani mencintai bapak”

Hanani terpekur.

“Dan Kirani tau bapak mencintai dia”

“Hanya sebatas guru dan murid. Apa salah?”

“Maaf, jika guru mencium muridnya di ruang kelas. Kalau bukan cinta lantas apa? Sekali lagi maaf pak. Ternyata Kirani salah mencintai orang” Khasmir bergegas tempat parker.

Malam menjelang. Tak ada lagi yang mereka bicarakan. Wajah Kirani bertabur memenuhi alam. Pertemuan dengan khasmir sore itu seperti menguak kembali sesuatu yang hendak dikuburkan. Sepanjang malam tak perna bisa memejamkan mata. Tidur disebelah Mira, sepertinya terlupa, ia merasa sebatang kara.

 

 

·  Bulan Madu

Tas tas besar sudah berjajar rapi meski belum terisi. Beberapa hari lagi mereka harus segera berangkat ke Jerman. Setelah makan malam. Mira membersihkan piring. Hans memeluknya dari belakang, mencium rambut dengan mesra. Mira tertawa kegelian.

      “Kamu nggak apa apa menemani ku ke jerman?”

      “Memangnya?”

Hans membimbingnya menuju taman sudut belakang rumah. Mendudukkan di kursi taman. Saling menggenggam.

“Kamu akan kehilangan pekerjaan”

“Pekerjaaku merawatmu, tugas sampingan merawat pasien di rumah sakit. Nggak usah terpikir aku menyesal. Sungguh, mas. Aku tak akan menyesal. Malah aku seneng kok. Merawatmu itu investasi dunia akhirat”

“siap berangkat?”

“Iya dong, serasa lama. Aku ingin segera pergi. Impianku, mas. Aku melahirkan anak anakku di sana”

Hans tertawa, ia merindukan anak. Dan ingin sekali anak anak itu lahir dan tumbuh di jerman.

“Villa mas umar kosong.  Besok malam kita bulan madu kesana, oke?”, Hanani berbisik menggoda

“Bisa…… lama aku nggak berenang

 “Kamu paling suka berendam di  air hangat”

“Ya…apalagi ada kenanga, kamboja, gading, airnya jadi harum”

“Dan ada anggrek di rambutmu?”

“Ya ….anggrek di rambutku. Kamu selalu menyelipkan anggrek ungu di rambutku ketika aku berendam air hangat”

Tiba tiba Hanani diam, Kirani paling suka papanya menyelipkan anggrekdi rambutnya. Sama dengan Mira. Nafas Hanani serasa berat. Mira tertawa.  Villa mas Umar juga penuh dengan anggrek, tepatnya ada kebun anggrek tak jauh dari kolam renang. Mira suka berdiri dekat kolam renang lantas pandangi gunung panderman yang menjulang indah. Villa mas Umar adalah tempat bulan madu pengantinya dua tahun yang lalu. Menjenlang ke Jerman ia ingin mengulangnya.

Keduanya berpelukan di dapur. Pelukan yang hangat untuk malam sedingin itu. Memeluk dengan erat dengan segenap asa.  Tubuh Kirani menjelma dalam pelukan. Hangat. Dengan rambut panjang yang menyentuh pinggang dan simbar halus. Sebongkah tahi lalat di balik telinga. Pelukan terlepaskan, Hanani memandang Mira hampir menangis. Tubuhnya lunglai jatuh di kaki Mira

“Maafkan aku, Mira”

“Kenapa, mas ?”

“Ajari aku menjadi orang baik”

Sesal dan salah menyesak. Serasa sakit.  Mira merendah mengusap rambut Hanani lantas membenamkan di dadanya.

Pagi hari setelah sarapan hanani bergegas menuju kampus. Mira mengantar sampai pintu pagar tak lupa mencium tangan Hanani. Bercinta semalam, membawa dalam harapan baru. Meninggalkan Kirani. Sejauh jauhnya. Namun begitu menuju tempat parkir hendak pulang siang hari, Khasmir berdiri di depan mobil. Berbaju seragam sekolah. Tasnya berselempang dada. Motor  bututnya terpakir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Hanani  menghampiri. Setengah jengah dan kesal

“Kirani sakit, pak. Lemas. Tergolek. Tidak mau makan.”

“Kamu salah orang. Seharisnya kamu tidak kemari”

“Saya takut dia meninggal sebelum sempat ketemu bapak”

Kata kata kirani dalam dialog drama itu di ucapkan begitu saja. Hanani berlalu lantas membuka pintu mobil, masuk,  menghidupkan mesin mobil. Khasmir berdiri di hadapan mobil meghalangi laju mobil. Memohon, berharap, amat memelas.

Hanani keluar lagi dari mobil

“Aku mohon, pak. Sekali ini saja. Setelah itu bapak boleh pergi”

“Kirani sakit apa?”, Hanani ramah agak cemas

“Tak ada dokter yang tau. tapi saya tau”

“Semoga cepet sembuh, Mir. Sampailan salam saya untuk Kirani”

Kembali masuk mobil, Khasmir menghampiri

“Kirani sakit. Tidak ada yang peduli. Ibunya masih di Ambon. Dia tidak punya siapapun di tempat ini. Bapaknya meninggal ketika ia berumur lima tahun. Seluruh kerabatnya di Bangka. Dan pak Hans yang diharapkan tidak mau datang. Kemarin sore baru pulang dari rumah sakit. Sekarang ia sendiri di rumah. Hanya dengan pembantu. Sekali lagi, hanya dengan pembantu, pak”

“Aku tidak bisa datang. Tak ada waktu”

“Bapak diam diam datang memberi harapan pada Kirani dan sekarang meninggalkan begitu saja?”.

“Kamu tidak mengerti yang sebenarnya”

“Yang saya  tau Kirani menderita”

Hanani menghidupkan mobilnya

“Saya mohon bapak menemui Kirani.”

“Maaf saya tidak bisa”

“Dalam tidurnya, ia merintih menyebut nama pak Hans, bukan ibunya”

“Saya tidak bisa”

Hanani lebih tidak peduli. Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan Khasmir yang begitu kecewa melihat sikap Hanani. Di tendangnya ban sepeda motornya meskipun pada akhirnya ia terpincang pincang kesakitan. Rasa sesal dan kesal, Khasmir meninggalkan kampus itu

            Mobil Hanani kencang menuju rumah namun tinggal beberapa meter, mobil berkelok, kembali ke jalan yang berbalikkan arah. Jalannya kencang menuju perumahan. Sungguh ia tak bisa meninggalkan Kirani dalam keadaan sakit tanpa siapapun di rumah. Gadis yang biasa lincah, suka bercanda, kadang teramat manja. Sekarang sakit dan membutuhkannya.  Oh Mira….. aku hanya ingin menengoknya, memberi semangat.. hanya itu. Setelah itu aku akan pulang. Menjadi milikmu. Kita akan ke jerman, berbahagia dan melupakan Kirani. Ia hanya anak kecil yang merindukan bapaknya. Dan aku ini bapaknya. Maafkan aku Mira……….Hanani gundah dalam perjalanan, sampai kemudian.

Rumah mungil. Bercat hijau. Tumbuhan  rindang dengan aneka macam bunga. Sekian banyak bunga bermekaran mulai adenium, ephorbia, mawar, chrisat sampai mawar bermekaran. Tak lupa barisan bunga  matahari di pojok halaman Kuning memberikan warna yang indah.

Lama Hanani berdiri di depan rumah itu. Ragu ragu. Antara membunuh dan. membiarkan tumbuh. Kirani, gadis muda bak kupu kupu, manis menggoda. Ia jelmakan Mira dalam hatinya, namun Kirani justru yang muncul memacu tekadnya.  Sekali lagi ia jelmakan Mira yang cantik dan baik. Namun Kirani bak Elang menyambar hati dan hidupnya.

Perlahan Hanani memasuki pelataran rumah itu. Dari balik pintu, Hanani melihat perempuan baya  berbincang. Ibu Khasmir tebak Hanani. Begitu melihat Hanani, Bunda Khasmir mempersilahkan masuk. Adik khasmir yang kecil diajaknya masuk memanggil Kirani. Mbok Yem sang pembantu masuk menyiapkan minuman

Bunda Khasmir memijit mijit kaki Kirani. Hanani berdiri di sisi ranjang. Kamar yang manis. Bercat warna warni, sprei motif kartun. Aneka boneka berjajar rapi. Mata Hanani dimanjakan aneka pernik pernik dan photo photo manis Kirani. Hanani diam saat menemukan photonya berjejer diantara deretan photo Kirani. Senyum di kulum, entah dari mana photo itu didapat. Mungkin Kirani diam diam mengambilnya dengan kamera HP saat mengajar di kelas

Bunda Khasmir menyentuh kaki Kirani sekali lagi. Kirani membuka mata.

“Bunda, aku mimpi pak Hans, datang”

 “Pak Hans memang datang, sayang. Ayo buka matamu”

“Pak Hans….?”

“Iya…Ki”

Bunda Kashmir meninggalkan ruang itu perlahan

“Saya pikir saya tidak akan bertemu bapak lagi. Saya sakit, pak.  Sepertinya saya pentas di panggung teater ya pak. Bapak ingat waktu lakon ‘gadis’, sama… seperti ini. mungkin juga sama… berakhir dengan kematian”

“Ini kehidupan nyata. Bukan panggung teater. Kamu sehat, kamu bisa bangun, kamu bisa melakukan semua hal yang kamu mimpikan”

“Pak. Dalam lakon itu, liver saya bengkak. Dan sekarang liver saya juga bengkak. Apa bedanya. Dalam lakon itu orang yang saya cintai, pergi dari saya. Dan datang menjelang ajal. Lantas apa bedanya? Hanya saja dalam lakon itu, menjelang ajal si pria datang menyatakan cinta. Terasa cukup sudah, maka tercerabutlah nyawanya. Apa bapak akan melakukan hal yang sama?”

 “Saya tau bapak tidak akan melakukan, takut saya mati, pak?”

“Kamu hayati betul peran yang kamu lakonkan. Tidak ada kematian di kamar ini. Ayo duduklah Ki!.Saya ingin melihatmu duduk di hadapan. Tersenyum seperti kemarin. Gembira seperti kemarin. Saya  ingin kamu hidup, dan tetap hidup. Livermu tidak bengkak, Ki…..”

“Hati saya yang bengkak, pak”

“Bapak tidak akan membiarkan hatimu bengkak”

“Bagaimana saya tau?”

Hanani mengelus rambut hitam itu.

“Bapak akan menjaganya”

“Menemani hari  hari saya?”

“Menemani hari harimu”

Pandang dalam Kirani menembus ulu hati laki laki itu

 “Sedihnya hidup, tanpa bapak”

“Kamu masih punya banyak teman. Mengapa sedih?”

“Saya menyukai bapak”

“Teman yang lain mengatakan hal yang sama”

“Apa bapak menyukai saya?”

Mata Hanani sendu,diusapnya kening Kirani.

“Bapak menyukaimu”

“Hanya itu, pak?”

Diam sejenak. Genggam erat tangan Kirani. Dingin bagai es. Pucat. Wajahnya memutih. Sedereten boneka jatuh. Kipas angin yang berputar keras itu menjatuh deretan boneka.

“Bapak mencintaimu, Ki”

Kirani menarik selimut menutup sebagian wajahnya. Dia terisak dibalik selimut. Hanani menahan air mata. Ia menjadi sangat sentimentil. Ia menjadi begitu remaja. Menggenggam tangan Kirani menimbulkan aliran yang begitu dasyatnya. Ini cinta yang pertama kali ia rasakan sepanjang hidupnya. Hanani mengolah rasa. Mengendalikan rasa. Sebisa mungkin menahan cinta.

“Kalau dari dulu bapak mengatakan, aku tidak akan sesedih ini. Kalau saja bapak mengatakan sejak dulu, aku tidak akan sesakit ini. Diam bapak lebih sakit dari apapun. Tanpa bapak seperti hilang semua masa depan saya”

Berpandang sejenak. tatap mata yang dalam. Mbok Yem yang hendak mengantar makanan berhenti di pintu dan berbalik meninggalkan kamar. Korden ungu melambai perlahan. Hanani dan Kirani saling menatap. Ada yang bergolak, Mereka duduk, dalam pandang yang tidak perna lepas.

 “Saya tetap ingin mengikuti olimpiade”

 “Kamu sakit”

 “Saya bisa”

 “Kamu masih sakit”

 “Bapak tau saya bisa”

Hanani membuka buka meja belajar Kirani. Di cari nya soal soal fisika. Ketika ketemu dipandang wajah Kirani. Cantik. Memutih. Rambut panjang terurai. Simbar berumpun berjajar menujuntai di keningnya

“Kamu sakit”

“Sehat pak… lihat saya. Kirani berusaha bangun. Lunglai. Hanani membantunya. Pandangi mata indah gadis itu. Mencium aroma segar dari tubuh gadis itu. Ingin sekali memeluknya membenamkankan tubuh gadis itu dalam dada bidangnya dengan bulu bulu halus berjajar. Tapi keinginan itu di tahannya. Bunda Khasmir berdiri di pintu membawakan minum dan menawarkan dengan ramah

Hanani membimbing Kirani menuju ruang tamu. Berdua mengerjakan soal soal itu di ruang tamu. Sesekali memandang. Bola mata Kirani yang indah terkadang meloncat loncat bahagia. Hanani pun sedang diamuk badai asmara. Sekali seumur hidup dia merasa di amuk badai itu. Soal soal Fisika serasa ringan mengalir tanpa beban. Ada semangat yang mengalir di tubuh Kirani. Sentuh lembut jemari Hanani di kening, menyibak rambut halusnya terasa hangat menyengat. Lembut pula cium kening Kirani. Ikan ikan dalam akuarium berloncatan. Bunda Khasmir hanya melihatnya dari balik kelambu, langka menuju teras depan rumah terpaksa di tahannya. Tutup kelambu biru dengan tangan geraknya amat perlahan.

Sore hari, Khasmir datang. Langkah Khasmir tidak sekedar berhenti. Detak jantungnya pun hampir saja terhenti. Pandangnya di pagut resah menyaksikan Hanani dan Kirani duduk bersimpuh di ruang tamu diantara buku dan kertas yang berserakan. Tangan mereka bertemu. Sesekali Kirani manja menyandarkan kepala di pundak Hanani. Tawa tawa kecil ramah menghias. Kirani mendadak sangat sehat. Khasmir hanya menelan ludah di balik pintu. Ada yang nyeri di ulu hatinya. Ia ingin marah. Sangat marah, Kesedihan tiba tiba menyeruak. Langkahnya kembali. Mawar yang terguling kembali terinjak  kaki. Kusut pasih, kelopak mawar bercerai berai. Khasmir pergi. Putaran roda sepeda motornya tidak teratur terantuk batu, jatuh terguling Khasmir terluka tidak hanya di hatinya tapi juga di kakinya.

Sepanjang malam, tak disentuhnya soal soal matematika, padahal besok mesti masuk karantina. Naik ke balkon lantai dua rumahnya. Dimainkan biola yang sedih menyentak nyentak, antara amarah dan putus asa. Berkali kali di lihatnya balkon kirani. Tak seperti biasanya Kirani datang kemudian melambaikan tangan. Kali ini Kirani damai memeluk guling, sangat bahagia. Ditelponnya sang mama. Di kabarkan sangat sehat

Sepulang hari rumah Kirani,  Hanani pergi ke tempat kost Andika. Tidur memeluk guling, hatinya di pagut resah. Dia tidak sekedar merasa bersalah kepada Mira tetapi kepada Kirani juga. Menangis.  Malam itu Hanani menangis. Penyesalan yang begitu dalam. Kirani tidur dalam damai. Mira terus terjaga, HP Hanani tak bisa dihubungi. Bulan madu di villa menjadi sekedar harapan.                                                         

*****

·  Pergilah Kasih

Akhirnya olimpiade fisika di gelar. Kirani hanya bisa lolos 10 besar di tingkat regional sehingga tak bisa mengikuti di tingkat asia pasifik.  Namun demikian Kirani bisa bangga. Jerih payah Hanani akhirnya membuahkan hasil.

Siang itu Hanani  ragu ragu menuju Kirani. Hari ini ulang tahun Kirani. Boneka beruang besar ia sempatkan membeli untuk Kirani. Di depan pintu pagar berpapasan  dngan bunda Khasmir yang membawa rantang berisi makanan. Bunda Khasmir hanya senyum ramah menyapa. Hanani bergerak dalam keraguan antara menumbuhkan dan membunuhnya. Hanani dalam keraguan antara masuk dan Kembali. Hanani ragu dalam melangkah. Dibiarkan kaki itu bergerak semaunya, yang mengantarnya ke teras rumah Kirani

“Selamat, Ki”, Hanani mengulurkan kado, boneka beruang besar.

“Terima kasih. bapak ada orang yang pertama mengucapkan. Mamaku bertanyapun tidak”

Hanani bergerak pergi meninggalkan rumah itu.

“Enaknya punya keluarga. Bapak tau? aku tak pernah merasa punya keluarga.”

Langkah Hanani terhenti.

“Papaku meninggal waktu aku kecil. dengan mamapun jarang ketemu, mama sibuk cari uang, itupun tidak salah. Tapi aku tidak pernah merasa kurang kasih sayang. Aku cuma kesepian.  Aku sangat iri dengan Khasmir yang punya semuanya. Keluarga yang bahagia. Keluarga bapak bahagia?”,

Hanani menoleh

“Ya ”, ragu ragu.

“Mengapa jawabnya pendek sekali?”

“Ya… keluarga saya bahagia, Ki”

“Saya juga iri kepada bapak”

“Jangan”

“Saya terbiasa sendiri”

“Itu tadi ibu Khasmir?”

“Ya. Mama kalau keluar kota sering nitip aku pada Bunda Khasmir. Padahal aku pengennya tidak dengan Bunda Khasmir, tapi dengan mamaku sendiri. Cuma ya itu….mama mesti kerja keras. Kalau tidak, aku mesti makan apa”

“Broken Home?”

“Enggaklah, pak. Nanti yang rugi aku sendiri”

“Kok kemarin sakit?”

“Saya hanya ingin ketemu bapak”

“Mungkin ini terakhir, saya ke sini. Saya harap Kirani tidak sedih…… Sstttt…jangan menangis!”,Hanani menyentuh sudut mata Kirani.

“Bu Kristin bilang, bapak dapat bea siswa sekolah di jerman. Saya sedih. Saya hitung, sepuluh hari saya bersama bapak, menyenangkan sekali. Saya seperti begitu berarti. Sekarang bapak mau pergi.  Kapan bapak berangkat?”

“ Dua minggu lagi”

“Bolehkan  dua minggu itu untuk saya, pak?  Saya mohon dua minggu itu. Hanya dua minggu. Kelak bapak di Jerman akan melupakan saya begitu saja. Dan saat pulang nanti, bapak tidak akan mengenali saya lagi”

“Kenapa? aku tidak akan melupakanmu, saat pulang nantipun aku akan tetap bisa mengenalimu “

“Bapak akan tertarik gadis gadis sana. Bapak pintar, akan banyak gadis yang mengagumi”

“Saya tidak mungkin tertarik gadis sana”

“Yang bener, pak?”

“Ya..tidak akan, Ki”

“Bapak sungguh sungguh menyukai saya?”

 “Kita tidak akan selamanya bersama. Ada ……..sesuatu yang tidak memungkinkan kita bersama. Pandang aku, Ki! Aku ini laki laki bodoh yang jatuh cinta. Jangan banyak berharap padaku. Aku tidak akan  sanggup memberinya

“Karena aku hanya murid”

“Kamu seorang gadis”

“Bapak mencintai saya?”

Hanani diam.memandangi gadis itu

“Aku ingin mendengarnya lagi”

“Aku…. Mencintaimu, Ki”

“Semoga ini bukan terakhir aku mendengarnya dan bagiku, mendengarnya sudah cukup. Ini lakon Sri yang kumainkan. Bapak tau? Lakon lakon itu sebenarnya kehidupan saya yang nyata”

“Ki……”

Hanani melihat mata itu. Tatapnya dalam. Secepat itu ia menundukkan pandangan. Diam berdua di teras rumah, hampir tidak ada kata. Menikmati hari  itu tanpa bicara. Bunga bunga di halaman wangi semerbak. Berayun, burung berkicau tanpa henti, kirani bermain main. Memberi makan aneka burung itu. Kirani bermainmain, Memberi pupuk aneka bunga itu. Hananipun bermain main mengikuti seluruh gerak Kirani. Menyaksikan Kirani gembira berloncat loncat. Terkadang menyaksikan Kirani yang berlompatan mengejar kupu kupu. Berkejaran. Hanani bak remaja belia. Hanani menikmati masa remaja yang dulunya terkubur dan tak perna dinikmatinya. Hanani merasa terlambat menjadi remaja. Kirani mengantarkan remaja yang terlambat dinikmatinya.

Sore menjelang. Lantas berdua ke dapur, Mbok Yem turut bercerita banyak. Mereka bertiga di dapur seperti sebuah keluarga. Memasak bersama, makan bersama. Kirani menikmati sebagai sebuah keluarga. Mbok Yem perempuan setengah baya turut dalam semua acara. Terkekeh menyaksikan cerita lucu dan konyol. Senyumnya mengembang sepanjang hari. Hanya mendekap jari terasa beribu nikmat. Kirani Hanani begitu nikmat.

Hari itu Khasmir juga beribu nikmat. Lolos seleksi pertukaran pelajar Indonesia Jerman.  Khasmir juga berloncat loncat kegirangan. Dari sekolah, masih juga berseragam, sepeda meluncur menuju rumah Kirani. Setengan berlari menuju teras rumah Kirani. Berharap Kirani orang yang pertama kali mendengarnya akan memberinya selamat. Kakinya terantuk,  pot bunga.terjungkir, terguling berserakan. Bunga Mawar patah patah terinjak kakinya. Di depan pintu, langkah Khasmir terhenti. Lagi lagi Jantungnyapun nyaris berhenti. Kirani Hanani mendekap jari merasa beribu nikmat. Khasmir merintih… Duh…gusti…………

 

               

·  Menjaga cinta

Jam 2 siang. Di sanggar seni, kak Rike sudah berteriak teriak memberi aba aba. Kirani begitu bersemangat. Tapi Khasmir tidak muncul. Ditunggu sampai jam empat sore, Khasmir tidak juga muncul. kak Rike berteriak teriak marah. Khasmir diumpatnya habis habisan. Khasmir sudah mundur dari pemain utama dan hanya mau jadi panata musik. Namun setelah jadi peñata musik, latihanpun Khasmir tidak datang

Ketika semua pulang, Khasmir muncul di sanggar itu. menenteng biola. Berdiri tegak memainkan biola dan menggeseknya penuh rasa. Langka Kirani berhenti, berbalik arah. Dari balik jendela di pandangnya Khasmir yang berdiri tak berdaya, wajahnya muram.cepat tundukkan wajah ketika beradu pandang.

“Kamu kenapa, Mir?”

“Apa yang dilakukan pak Hans di rumahmu?”

Kirani menatap Khasmir.

“Aku melihat sampai malam mobilnya di depan rumahmu. Dia tidur di rumahmu?”

Kirani berbalik arah.

“Tidak”

“Jam berapa dia pulang?”

“Apa maksudmu?”

“Jam berapa dia pulang?”, Khasmir teriak.

“Tak ada urusan denganmu”

“Kau tidur dengannya?”, Khasmir semakin teriak

Kirani menampar muka itu.

Khasmir membiarkan biolanya terjatuh menyentuh lantai. Tatap matanya kosong. Kirani bergerak meninggalkan sanggar. Hanani sudah menunggunya di luar. Baru selangkah, Khasmir meraih lengan Kirani.

“Saya keluar dari pementasan, Ki.”

Sendu memandang Kirani yang ada di hadapan

“Kenapa?”

“Aku sibuk. Pemain  digantikan Ibonk”

“Tega banget. Pementasan sebentar lagi. ini pentas terakhirku. Pak Hans mau nonton”

Khasmir menghela nafas panjang. Tangan Kirani tetap dalam genggaman

“Aku sibuk. Dan Ibonk bisa menggantikan”

“Tapi aku hanya mau kamu yang main”

“Aku sibuk”, Teriak Khasmir

“Aku kepengen kamu yang main”, Kirani semakin teriak

“Semua kemauanmu kuturuti. Sekarang aku ingin menuruti  kemauanku. Apa salah?”

“Aku hanya ingin kamu yang main . Kamu sudah mundur dari pemain utama, apa sekarang mau mundur lagi? Aku tau teater itu mimpimu, dan biola itu hidupmu. Ayolah main, Mir. Jangan membuat aku merasa bersalah”

“Tidak usah merasa bersalah”

Kirani melepaskan tangan Khasmir. Bergegas menuju Hanani yang menungunya di halaman tengah. Khasmir hanya melihatnya dari balik jendela. Melihatnya dengan jelas sampai kemudian Kirani memasuki mobil laki laki itu.

Satria menepuk pundaknya dari belakang.

“Kak Rike tidak puas dengan permainanku. Biar aku yang pegang biola. Kamu kembali pada peran semula”

“Tidak dua duanya”

“Ayolah, Mir. Kamu pemain terbaik tingkat propinsi. Aku ini tidak ada apa apanya di banding kamu”

“Aku tidak bisa”

“Kamu bisa”

“Aku tidak mau”

“Tapi mereka maunya kamu”

“Aku sudah banyak mengikuti kemauan mereka, sekarang aku ingin menuruti kemauanku. Apa salah?”

“Kak Rike, Mir. Kak rike”

“Tidak”

“Mir. Kak Rike”

“Tidak!”

Khasmir pergi.

Hanya itu. Esok hari latihan persiapan teater tanpa kehadiran khasmir.  Khasmir digantikan oleh Ibonk.  Kirani duduk sedih. Adel juga Satria. Ibonk berubah, ia tidak mau memainkan biola.  Kak Rike sangat stress. Mendadak Khasmir muncul di anggar seni. Menenteng biola. Wajahnya kusut. Kaosnya lusuh. celana selutut doreng. Satria memeluk demikian juga kak Rike.

“Aku mau jadi pemain utama”

Semua bertepuk tangan. Kak Rike mencium pipinya

Sejenak sanggar seni mulai berisi. Suara halus Kirani yang menyengat di padu dengan dialog panjang Khasmir yang meluncur nikmat. Lentur tubuh Adel. Gesekan biola Satria yang begitu bermakna kesedihan yang mendalam. Khasmir  memanjakan kesedihan itu bermain main di hatinya. Khasmir menatap Kirani yang lentur memainkan tubuhnya. Khasmir tak henti memndang Kirani meski dengan tangis dan sembunyi. Kak Rike sempat menitikkan air mata terbawa hanyut dalam latihan itu. Tepuk tangan kak Rike menyudahi latihan. Khasmir bermain luar biasa bagusnya. Cinta yang mendalam dan kesedihan diperankan begitu luar biasa.. ia merasa tidak bermain peran. Ia hanya memainkan dirinya sendiri. Ia sangat bagus memainkan dirinya sendiri dalam pentas itu tanpa ada yang tau. Kak Rike memeluk Khasmir dengan penuh cinta. Khasmir hampir tak mampu menguasai diri. Beberapa butir air mata Khasmir mulai menggenang.

Hampir seluruh pemain meneguk air mineral, rasa haus dan capek tertuntaskan. Khasmir hanya duduk tak banyak bicara di pojok ruang. Ia hanya menyaksikan Kirani berlari lari meningalkan sanggar. Khasmir beranjak. Dari balik jendela ia hanya ingin tau pak Hans menjemput Kirani seperti biasanya. Ia menunggu. Sebagaimana Kirani menunggu laki laki itu. Hari sudah malam. Seluruh pemain sudah meningglkan sanggar. Pak Hans tidak juga muncul dan Kirani tetap berdiri di bawah ring basket tanpa beranjak.

Khasmir menungguinya. Sampai malam, Khasmir tetap menungguinya.

“Pak Hans tidak datang. Ayo kita pulang”

“Dia pasti datang”

Kirani tak beranjak. Berkali kali bunda telepon tapi Khasmir juga tidak beranjak meninggalkan Kirani. Hanya pamit menemani Kirani. Sampai kemudian Khasmir menarik lengan gadis itu, namun Kirani melepaskan tangan Khasmir.

“Ayo pulang!”

“Kau perna merasa bagaimana sakitnya menungu seseorang. Mir?”

“Lebih dari yang kamu rasakan”

“Mengapa kamu masih tegar?”

“Karena mencintai tidak sekedar memiliki”

“Beruntung aku. Tidak sekedar mencintai, namun juga memiliki. Aku tidak menyesal menunggunya di sini. Aku akan tetap menunggunya di sini sampai ia memberiku kabar, tidak akan menjemputku. Dan kalau menunggu ini menyakitkan. maka akan aku nikmati sakit itu”

“Mungkin ia sibuk”

“Kau tau bagaimana rasanya mencintai seseorang?”

“Jangan tanya aku, Ki”

“Kau akan siap menungggunya?”

“tidak hanya menunggunya, tapi aku menjaganya”

“Mir. Maaf. Dulu aku  pikir kamu suka padaku. Sampai sampai aku enggan main berpasangan denganmu, hanya takut pak Hans cemburu. Tapi ternyata dugaanku salah. Maaf, ya! Aku salah duga”

Khasmir menelan ludah. Dipandanginya Kirani yang berdiri di bawah ring basket. Sampai malam. Sampai benar benar malam. Bunda Khasmir berkali kali menelepon. Jam sepuluh malam mereka baru beranjak pulang. Berboncengan, menembus malam. Air mata Kirani berjatuhan membasahi jaket Khasmir. Dingin hati khasmir. Dingin pula tubuh khasmir.

                                                   *******

 

·  Menanti

Ini hari yang ketiga. Kirani berdiri di bawah ring basket menunggu di jemput Hanani. Hanani tak datang lagi ke tempat itu. Ia sudah meyakinkan diri tak akan datang ke tempat itu lagi. Mira hamil, dan setujui pendapat Mira. Cinta itu mengendalikan diri bukan dikendalikan. Cinta itu menguasai bukan dukuasai. Cinta itu luas namun berbatas. Cinta itu budak dan kita adalah para tuannya. Hanani meyakini betul kata kata Mira. Kata kata itu yang menyadarkan diri, betapa bodohnya ia terbawa cinta yang besar dan meledak hebat. Kata kata itulah yang kemudian menjadikan dia seorang pengecut yang meninggalkan kirani tanpa kata apapun. Tanpa peduli kirani berhari hari menunggunya. di bawah ring basket halaman sekolah. Sendiri.

Dan seperti biasanya Khasmir berdiri berjarak tiga meter di belakangnya. Hari telah malam. Latihan teater telah usai.  Beberapa hari lagi mereka mengikuti festival. Adel, Satria, Ibonk dan Ariek sudah pulang, demikian juga dengan kak Rike.

Sekolah sudah sangat sepi. Hanya ada penjaga malam dan dua satpam yang berada di pos pintu masuk. Memakai rok, blous putih, rambut Kirani yang panjang dibiarkan lepas bebas dimainkan angin. Ia lupakan rambut ekor kuda, dengan simbar lebut di keningnya. Malam merambat  rambut dan Kirani melambai dimainkan angin malam. Khasmir memainkan biola. Lembut. Geseknya lembut merobek rasa. Halaman tengah sekolah sepi bergaris warna warna oleh gesekan biola.

“Dia benar benar tidak datang. Mungkin dia sudah pergi”, desah Kirani.

“Mungkin dia menunggu di rumahmu”

“Dia tidak akan ke rumahku lagi. dia memutuskan tidak akan ke rumahku lagi”

“Dan kau menunggunya di sini?”

“Aku hanya berharap dia datang ke sini… seperti kemarin”

“Ya Allah…Ki…”

Kirani berjalan, Khasmir mengikuti.

“Gerimis,Ki”

“Aku ingin menikmati”

“Kau bisa sakit”

“hari ini aku sudah sakit”

“jangan sakiti dirimu sendiri!”

Kirani berjalan. Khasmir berjalan. Di tengah gerimis keduanya berjalan.

“Kenapa kau selalu menemaniku? Tidakkah pacarmu cemburu?”

“Belajar tidak cemburu. Belajar ikhlas. Belajar untuk tidak memiliki. Belajar mencintai”

“Bagaimana kau melihatku?”

“Kau lemah”

“Karena itukah, kau tidak menyukaiku”

“Karena itulah kau menyukai yang tidak seusiamu”

“Pak Hanani?”

“Ya…”

“Sumpah… aku mencintai dia”

Langkah Kirani berhenti. Terduduk di tunggak batu taman depan kelas. Khasmir hanya berdiri di depannya.memandang iba. Gerimis hujan, malam itu.

 “Ia mungkin sudah di jerman. Mungkin  kemarin itulah  cara dia berpamitan, mencium bibirku, lantas pergi tanpa berkata apapun. Aku hanya melihat matanya memerah dan menangis. Dia sudah pergi, Mir, tanpa pamit padaku. Padahal ada dua hal yang ingin kutunjukkan padanya. Olimpiade fisika dan festival tetaer itu. Aku ingin ia menonton festival itu, memberi semangat… tapi…ia sudah pergi Mir. Sudah pergi”,Suara Kirani terbata bata.

Sesak nafas Khasmir. Kirani menubruk dan memeluknya dalam hujan. Tangisnya terbata bata. Tubuhnya berguncang, tangisnya meledak sangat dasyat. Tubuh Khasmir membeku, merangkul tubuh Kirani dalam hujan malam itu. Kesedihan Khasmir melampaui yang terbeban di hati Kirani. Cinta yang tak tersampaikan tentu lebih menyakitkan.

Gerimis malam itu yang membawa Khasmir memacu sepeda motor menuju kampus Hanani esok harinya. Ia sengaja tidak datang ke sekolah tapi menyanggong Hanani di kampus. Duduk di samping pos satpam menatap setiap kendaraan yang masuk.

Kijang Silver memasuki area parkir. Khasmir mengejarnya. Bergerak perlahan, berhenti di gedung E. Hanani keluar membukakan pintu, dokter Mira keluar berdandan cantik menggandeng lengan Hanani berjalan menuju Auditorium. Hari ini akan ada upacara pelepasan 10 mahasiswa yang mendapat beasiswa ke Jerman. Langkah Khasmir terhenti. Bukan hanya sekali ini ia melihat Hanani menggandeng dokter Mira. Ia melihatnya dua kali.

“Siapa dia mas?”, tanya Khasmir pada salah seorang mahasiswa

“Itu? pak Hanani dosen tekhnik sipil.

“Dan itu?”

“Itu?… ibu Mira, istrinya”

“Istrinya?”

 “Bohong”

“Mending tadi gak usah nanya. Kalau udah gini, pengen nonjok rasanya”

“Bohong”

Mahasiswa itu gemes menonjok muka Khasmir.

Khasmir berlari mengejar pasangan itu, berhenti di di hadapan menghalangi langkah mereka. Nafas Khasmir tersengal. Tatapnya tajam ke arah Hanani. Kirani dan Adelia memasuki pelataran. Hari ini mendapat tugas dari kak Rike melakukan TM di gedung seni  yang kebetulan satu lokasi dengan kampus Hanani

“Ada apa. Mir?”, Hanani menyapa dengan ramah

Khasmir hanya mengulurkan undangan pementasan, lantas pergi. Kirani yang ada di belakang Hanani, terhenyak melihat pasangan itu. Dadanya sakit. Ia hanya sempat memandang Hanani yang pergi menggandeng istrinya kembali. Hanya itu yang bisa dilihatnya. Setelah itu, Ia hanya merasa langit berputar putar. Lantas hitam gelap. Kirani jatuh pingsan. Adelia berteriak merangkulnya. Tapi siapa yang peduli. Hanani tidak mendengarnya. Khasmirpun telah berlari jauh meningalkan tempat itu. Hanya beberapa mahasiswa yang menggendong mereka membawanya ke pos satpam.

Khasmir sedih bukan kepalang. Ia sangat merasa bersalah. Tinjunya berkali kali menendang tembok stadion olah raga. Dilepaskan bajunya berteriak sekerasnya. Mencebur ke kolam renang. Mendinginkan rasa bersalah. Masih tetap nampak Kirani yang jatuh terhuyung diangkat ramai para mahasiswa dan dia hanya berlari meninggalkannya. Masih juga terdengar terikan Adelia yang memanggil namanya, ia ia tidak peduli, ia tetap berlari.. berlari meninggalkan Kirani

Esok hari. Seharian ia duduk di perpustakaan. Berkali kali telepon bunda. Dan bunda Khasmir berusaha menguatkan dan menenangkan. Hanya itu yang bisa. bagi Khasmir, salah  rasanya bertemu Kirani.

Di sanggar seni. Kirani duduk memeluk lutut. Perih  kian hatinya. Hanani yang menggandeng perempuan itu jelas membayang. Memeluk lutut kian erat. Sendiri di sanggar itu. Kaki indahnya basah oleh air mata. Di biarkan membasah hingga menyentuh kaos kakinya yang jingga. Dan Khasmir hanya mampu melihatnya dari balik jendela. Tangan laki laki muda itu perlahan mengusap usap jendela. Kirani memeluk lutut. Di luarpun Khasmir menangis memeluk lutut. Betapa besar rasa bersalahnya pernah berusaha mempersatukan Kirani dengan Hanani.. Memeluk lutut menyesal sepuas puasnya.

 

                                                ******

 

·   I love You., Ki

Pergelaran teater di helat. Kirani duduk menahan nafas. Di sebelahnya Khasmir menahan nafas. Sesekali pandangi Kirani iba. Ayah Bunda Khasmir menyaksikan malam ini. Bapak ibu Adelia, Satria, Ibonk, Andri, Derkha, semuanya datang. Mereka gembira memberikan semangat. Kirani diam sendiri.tak ada yang diharapkan malam ini. Kerabat atau siapa lagi. Ibunya berada di papua, sehingga hanya sempat menelepon Kirani untuk memberi semangat. Malam itu, semua pemain mendapat ciuman keluarga masing masing menjelang naik panggung. Tapi tidak dengan Kirani. 

Bunda Khasmir amat merasa. Dipeluknya Kirani, diciumnya. Gadis itu hanya menitikkan air mata. Ia merasa ada sesuatu yang hilang hingga Bunda Khasmir harus memeluknya erat erat, lantas mengusap air mata Kirani dan menutup dengan memberi ciuman  di kedua pipi Kirani. Dan Kirani membalas dengan memberikan ciuman hormat di telapak tangan perempuan baya itu.

Sementara itu. Hanani baru saja memarkir mobil, berjaket hitam, bercelana jeans, kaosnya biru lembut. Manis. Buru buru ia memasuki arena pertunjukan. Adelia tergopoh gopoh menghampiri Kirani

“Pak Hans datang, Ki”

Khasmir menarik keras lengan Adel.

“Kamu ini apa apaan? jaga perasaan Kirani! Kita ini mau pentas”

“Aku hanya mau bilang, pak Hans datang. Siapa tau bisa bikin Kirani semangat. Kamu kok jadi sewot”

“Hanya bikin Kirani sedih”

Kirani bergerak ke tabir hitam pementasan. Dia melihat dari balik tabir pak Hans duduk. Wajahnya tetap sama. Tampan dan menggoda. Kirani hanya menelan ludah. Khasmir di belakang menatap kaki kakinya. Sedih dan takut. Pak Hans duduk di deret nomor dua dari depan. Agak jauh dari para kelurga pemain. Namun kemudian dia bergerak maju, memilih deretan kursi paling depan.

Pergelaran dimulai. Lampu penonton dimatikan, lampu panggung mulai dihidupkan. Biola satria menyihir ratuan penonton malam itu. Biola yang dimainkan dengan penuh perasaan mewakili hati Khasmir yang luka. Kirani bermain begitu bagusnya. Suara menghentak. Vokal yang utuh dan intonasi yang luar biasa. Olah tubuhnya yang memukau. Ekspresi yang kuat menghanyutkan.  Mata Hanani tak lepas memandang gadis yang dicintai. Matanya nanar…mulai membasah. Kenangan dengan Mira tiba menyeruak. Istri yang sempurna, yang tanpa pernah di cintai. Menikah karena dia harus menikah. Menikah karena Mira terlalu sempurna untuk di tolaknya.

Kirani.  Tiba tiba gadis itu datang. Cinta datang saja. Menyapa saja. Hanyut Kirani. Kirani di atas panggung jatuh cinta, sorot mata yang tajam benar benar cinta. Khasmirpun mengimbangi dengan hebat pula. Cinta dengan sorot yang membara. Khasmir ingin katakan inilah cinta yang sesungguhnya bukan bagian adegan teater ia perankan. Inilah cinta sesungguh ia tidak memerankan siapa siapa kecuali dirinya.

Tepuk tangan panjang. Orang orang menyambutnya dengan berdiri. Adegan perpisahan Kirani dan Khasmir sanggup menyihir ratusan penonton malam itu. Tak sedikit penonton perempuan yang menitikkan airmata.

 Pergelaran telah usai. Lampu dinyalakan Penonton bergerak ke luar meninggalkan ruangan. Beberapa anggota keluarga memasuki ruang pemain. Mereka berpeluk cium dengan anak anak mereka yang usai melakukan pementasan. Semuanya. Cuma Kirani yang berdiri sendiri tanpa tersentuh. Bunda khasmir sibuk memeluk anaknya. Kirani sendiri. Mata Khasmir yang memandang Kirani tak mampu melepaskan pelukan ibunya untuk menghampiri Kirani.

Memasuki panggung. Sendiri berdiri di atas pangung. Di hadapannya Hanani duduk terpekur. Melipat jari jari di kedua tangannya. Duduk sendiri menyaksikan kaki kakinya. Ruangan itu sepi. Sesepi hati Hanani. Ruang yang terang serasa gelap menyengat sampai tidak tau Kirani sudah berdiri di depannya.

Hanani mengangkat mukanya. Memandang wajah Kirani. Tatap keduanya sangat dalam. Perlahan berdiri berhadapan. Tanpa kata, tanpa suara. Hati mereka berbicara banyak. Tentang perasaan masing masing. Hanani menyelesaikan semuanya. Ia bergerak meninggalkan Kirani. Berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Tapi sejenak kemudian berlari kembali memasuki ruangan. Dipeluknya Kirani kuat kuat. Tangis keduanya meledak. Terbenam. Pelukan erat  yang dasyat itu terekam jelas oleh mata Khasmir dari balik tabir hitam panggung pergelaran. Tarikan nafasnya panjang dan dalam

Jam sebelas. Hanani sampai rumah. Ketika memasuki kamar. Ia melihat istrinya duduk membaca, menyambutnya dengan senyum manis. Hanani duduk bersimpuh. Di elusnya perut istrinya. Di dalamnya sang bayi buah kasihnya berada.

“Maafkan aku. Aku tak sanggup membalas kesempurnaanmu”

“Bagaimana? Bagus nggak mainnya anak anak tadi?”

“Bagus Sekali”

“Masih Khasmir dan Kirani yang jadi bintang?”

Hanani memegang erat tangan Mira.

“Apa kamu perna jatuh cinta?”

“Pernah. Dan hanya kepadamu”

“Bagaimana rasanya?”

“Cinta dengan timbangan yang tepat, tidak menggebu, karena cinta menggebu hanya hak Tuhanku. Cinta dengan ukuran norma, yang tidak kutumbuhkembangkan sebelum menikah. Aku mencintai dengan sederhana sekali, mas”

“Ajari aku hidup!”

“Kamulah yang mengajari aku hidup”

Hanani memeluk erat tubuh istrinya. Di luar kamar. Beberapa tas besar siap diangkat. Besok adalah jadwal penerbangan menuju Jerman. Hanani memutuskan memboyong istrinya menuju Jerman. Di tempat barunya Ia ingin mewujudkan sesuatu yang baru. Meninggalkan Kirani dan melupakannya. Bercinta malam itu. Menanam cinta di hatinya, menanam benih di rahim. Melupakan Kirani, satu hal yang diinginkannya.

Di tempat lain. Khasmir dan ayah bundanya mengantar Kirani sampai rumah.

“Selamat malam, Ki”, kata khasmir datar

“Bunda, aku ingi tidur dengan Bunda. Aku kepengen sebuah keluarga”,

“Ayolah Bun. Temani Kirani malam ini. kita ramai ramai tidur sini”, usul ayah

Semua setuju. Malam itu semuanya tidur di rumah Kirani. Bahagia seperti dalam satu keluarga. Malam itu juga bunda dan Kirani membuat nasi goreng di bantu mbok Yem. Khasmir memandangnya dari meja makan. Ada gurat sedih di wajah Kirani, namun senyum senang yang ia pancarkan. Wajahnya yang manis, masih tersaput make up halus untuk panggung.

Setelah makan bersama, Khasmir menghampiri Kirani yang memasuki kamar.

“Terima kasih,Ki”, lagi lagi ujar khasmir datar

“Apanya?”

“Semuanya”

“Mengapa kamu   tiba tiba menjadi pemain utama dalam pementasan itu”

“Seminggu lagi aku harus berangkat, aku di terima seleksi pertukaran pelajar Indonesia-Jerman”

“Kamu sangat baik”

“Selamat malam, Ki”

“Malam, Mir”

Kirani beranjak menuju tempat tidur dimana Bunda Khasmir menunggunya dengan cinta. Khasmir tetap berdiri di depan pintu meskipun Kirani sudah menutup pintu itu. Khasmir ingin mengucapkan selamat malam  sekali lagi dengan  lebih manis. Dengan ciuman di bibir seperti yang dilakukan pak Hanani menjelang kepergiannya ke Jerman. Bagaimanapun ia juga akan ke Jerman.  Bagaimanapun ia perna menjadi pacar Kirani meskipun sesaat di atas pentas.  Pacar yang diyakini lebih laki laki dibanding dengan Hanani yang dilakukan secara sembunyi.

“Malam, Ki”, bisiknya

Tiba tiba  sang ayah menepuk pundak dan mengajak pergi. Pergi dengan sesekali menoleh ke arah pintu. Ia berharap Kirani muncul menebarkan senyum. Sama sekali tak terbayangkan Kirani tidur berpeluk bunda Khasmir, “Selamat malam, Mir”, bisiknya.

 

                               *********

Joomlart