<< Cerpen Jimat Ki Suro Banaspati  >>

Jimat Ki Suro Banaspati

E-mail Cetak PDF

 

                                                                             JIMAT KI SURO BANASPATI

Oleh: Nurfita Kusuma Dewi

 

Kamar tamu rumah itu tampak ramai.  Ada sekitar sepuluh bapak-bapak duduk lesehan di atas tikar yang disediakan tuan rumah.  Beberapa bersandar di dinding rumah yang warna catnya sudah mulai lapuk, dan yang lain memilih duduk melingkar ngobrol ngalor ngidul.  Kursi dan meja tamu yang biasanya ada di ruangan itu dipindah ke teras rumah.  Tiga bapak-bapak tampak jagongan mengelilingi pot besar tanaman kuping gajah di dekat pintu masuki.

 

Udara sekeliling berwarna kelabu, terpolusi oleh asap rokok, mengepul dari hidung dan mulut bapak-bapak itu.  Mungkin ada sebuah kesepakatan.  Hampir semua bapak-bapak di ruangan itu menghisap rokok lintingan buatan sendiri.  Hanya ada dua bapak yang tampak menghisap rokok kretek bikinan pabrik.  Aroma khas tembakau dan kertas rokok yang terbakar kini menyengat hidung.

Dan mungkin memang ada sebuah kesepakatan.  Kali ini, semua bapak-bapak yang datang pada acara selametan itu memakai baju surjan lengkap dengan blangkonnya.  Kecuali satu orang lelaki yang duduk lesehan di sudut ruangan, Tejo.  Sejak datang ke rumah itu, Tejo sudah celingukan.  Ia mencari Kang Kliwon.  Tidak ada satu pun bapak-bapak di rumah itu yang ia kenal.  Satu-satunya yang Tejo kenal, ya Kang Kliwon itu.  Sang pemilik rumah, sekaligus yang punya hajatan.  Sejak diberi tahu istrinya bahwa ia diundang Kang Kliwon untuk datang pada acara selametan, Tejo sudah urung untuk datang.  Menyan, kembang setaman, dan ingkung di sudut lain ruangan itu semakin membuatnya yakin bahwa ada yang tidak beres dengan acara selametan hari itu.

 

***

 

“Emang Kang Kliwon ndak bilang acara selametan apa?  Bukannya anaknya sudah selapanan seminggu yang lalu, Bune?” tanya Tejo pada istrinya yang sibuk masak genjer  di dapur.

“Lha yo ndak tahu.  Kang Kliwon cuma bilang selametan sambil ngasihkan undangan itu.” jawab Surti datar.

“Iki acara opo yo?  Undangannya kok apik ngene, atau jangan-jangan Kang Kliwon mau rabi lagi ya?” tanya Tejo penuh selidik.

“Hush!  Mbok dibaca dulu undangannya, wong jelas-jelas nggak ada gambar burung merpatinya, ya berarti bukan undangan nikah.  Mungkin selametan empat puluh lima hari anaknya lahir.” jawab Surti sambil mencicip kuah masakannya.

“Tambah ngawur.  Mosok ya tiap minggu anaknya Kang Kliwon dirayakan kelahirannya.  Dari tiga puluh lima hari, empat puluh lima hari, lima puluh lima hari, sak teruse.  Lha yo bangkrut Bapak Ibune!” kata Tejo sewot sambil ngeloyor pergi.

Tejo duduk di lincak depan rumahnya.  Ia buka plastik undangan itu dan mulai membaca undangannya.  Undangan berwarna hijau tua itu memang layak disebut undangan manten karena bentuk dan jenis kertas yang digunakan tergolong “wah”.  Bahasa yang digunakan dalam undangannya pun boso jowo kromo alus.  Tulisan-tulisan di dalamnya tidak ada yang menerangkan selametan dalam rangka apa.  “Jadi sebenarnya, Kang Kliwon ini mau nyelameti apa?” batin Tejo.  Hingga kemudian mata Tejo sampai pada jejeran-jejeran huruf-huruf di bawah undangan itu.  Kali ini menggunakan aksara Jawa.  Tejo yang membaca tulisan itu sontak berdiri dan bergegas menuju dapur, mencari istrinya yang sedari tadi sibuk memasak di dapur.

“Bune!  Iki..  Diwaca..” kata Tejo sambil menyodorkan undangan Kang Kliwon.

Halah iki opo meneh?  Nggak lihat apa bojone lagi nggoreng tempe.  Tanganku gupak lenga iki lho.  Bapak saja yang baca.  Aku mendengarkan.” kata Surti sambil membolak-balik tempe gorengnya.

Iki lho.  Paguyuban Suro Banaspati!” kata Tejo dengan penuh penekanan pada setiap kata yang mengikuti kata “Paguyuban”.

Opo?!” sontak istrinya ikut kaget.

 

***

 

Kang Kliwon akhirnya menunjukkan batang hidungnya.  Tapi kali ini Tejo tidak hanya melihat batang hidung Kang Kliwon.  Tejo juga melihat batang hidung seorang sesepuh di kampung itu.   Terakhir kali Tejo melihat lelaki tua itu di acara pitulasan setahun yang lalu.  Sesepuh itu duduk di barisan paling depan, ngebyar nonton wayang yang jadi acara puncak perayaan kemerdekaan di Balai Desa.  Orang-orang di kampung Tejo memanggilnya dengan nama “Ki Suro Banaspati”.  Tidak ada yang tahu dengan pasti, apakah itu nama asli lelaki itu, atau hanya sebuah nama “gelar”.  Toh, tidak penting juga untuk mencari tahu tentang asal usul nama sesepuh itu.  Yang jelas, kalau lelaki tua itu dipanggil dengan nama “Ki Suro”, niscaya ia tidak akan merespon.  Orang harus memanggilnya dengan nama lengkap, “Ki Suro Banaspati”.  Barulah lelaki tua itu akan mengangguk merespon panggilan itu dan tersenyum tipis penuh wibawa.

Bapak-bapak yang tadi jagongan di depan rumah, bergegas menghampiri Kang Kliwon dan Ki Suro Banaspati yang baru saja turun dari motor King berwarna kuning.  Mungkin Kang Kliwon tidak tampak sedari tadi karena menjemput sesepuh itu di rumahnya.  Bapak-bapak itu kemudian merunduk menyalami dan mencium tangan sesepuh itu.  Kemudian Kang Kliwon menunjukkan arah pintu masuk rumahnya kepada Ki Suro Banaspati dengan menggunakan jempolnya.  Jempol tangan tentu saja.

Adegan Ki Suro Banaspati memasuki ruang tamu itu ibarat klimaks sebuah drama tragedy bagi Tejo.  Melakukan aksi melarikan diri jelas tidak mungkin.  Satu-satunya pintu masuk di rumah itu kini penuh sesak oleh bapak-bapak yang tadi duduk lesehan di dalam rumah.  Semuanya berebut untuk menyalami dan mencium tangan Ki Suro Banaspati.

Tejo mulai menyesal kenapa ia tidak memutuskan untuk pulang sedari tadi saja.  Sejak Kang Kliwon belum datang.  Tampaknya itu lebih mudah dari pada berniat pulang saat bapak-bapak itu mulai duduk bersila mengelilingi ruang tamu itu dan Ki Suro Banaspati menduduki “singgasana”-nya di dekat menyan, kembang setaman, dan ingkung di sudut ruangan itu.  Atau, mungkin lebih baik, tadi pagi Tejo memutuskan untuk tidak usah datang saja, seperti kata istrinya.  Ah, semuanya hanya karena budaya ewuh pekewuh.

 

***

 

Tejo pulang dengan meremas sebuah kantong berwarna putih.  Tidak begitu jelas apa yang dibawanya.  Tapi ia tampak tergesa-gesa memasuki halaman rumahnya.  Langkah kakinya lebar dan cepat.  Orang yang melihat Tejo siang itu akan menduga bahwa Tejo baru saja melihat gendruwo di bawah pohon beringin di dekat Balai Desa.

“Assalamu’alaikum.” kata Tejo saat memasuki rumah.

“Wa’alaikumsalam.” jawab istri Tejo sembari membawa setumpuk baju yang sudah selesai disetrika.

Nyoh!  Aku dapat ini.  Semua orang dapat benda ini.  Katanya buat nolak bala.  Banyak bencana di negeri ini, dan kalau nggak mau kena tsunami seperti di Aceh waktu itu, benda ini musti digantung di atas pintu depan rumah.  Itu kata Ki Suro Banaspati.” kata Tejo sambil menyodorkan kantong putih itu kepada istrinya.

Surti hanya bisa melongo.

Iki opo?  Kok kaya kain mori?” tanya Surti sambil meletakkan tumpukan baju di meja yang tadi digunakannya untuk menyetrika.

Embuh.  Terserah mau Bune apakan.  Yang jelas Bapak nggak percaya.  Aku arep luhur sik.” kata Tejo menyerahkan benda itu pada Surti.

Surti mengamati kantong putih kecil itu.  Kantong itu memang terbuat dari kain mori, bentuknya persis seperti kantong uang yang digunakan pendekar-pendekar di film kolosal “Misteri Gunung Merapi”.  Ia membuka ikatan tali kenur di salah satu bagian kantong itu.  Terdorong rasa penasaran, Surti menumpahkan semua isi kantong itu di meja.  Ada beberapa biji gabah, dua butir pala, setangkai bunga kanthil, beberapa buah cengkeh kering, dan uang logam lima ratus rupiah baru berwarna kuning mengkilap.  Surti memungut isian kantong mori itu dan berjalan menuju dapur.  Surti kembali ke ruang depan, mengambil tumpukan baju yang selesai disetrikanya, dan menuju kamar tidur.

Selesai menunaikan sholat dzuhur, Tejo menghapiri Surti yang meletakkan tumpukan baju di lemari.
“Kantong morinya tadi dimana, Bune?” tanya Tejo.

“Kenapa?  Mau Bapak pasang di atas pintu?” jawab Surti, bernada mengejek.

Ora.  Atau malah sudah Bune pasang?” tanya Tejo lagi, mengikuti gaya bicara Surti yang bernada mengejek.

Ning pawon” jawab Surti datar.

“Lho?  Kok dipasang di pawon?  Kata Ki Suro Banaspati itu harus dipasang di atas pintu depan rumah.  Katanya, hukumnya wajib lho Bune!” kata Tejo menerangkan, bernada sok serius.

“Lah ya di pawon.  Cengkeh dan pala ada di toples bumbon.  Bunga kanthil, gabah, dan kain morinya ada di tempat sampah.  Uang lima ratusnya Bune kantongi.  Buat beli moto!” kata Surti sambil njawil pundak Tejo dan berlalu meninggalkan Tejo.

Tejo terbahak.

 

***

 

Seminggu setelah acara selametan Kang Kliwon, kampung itu kembali dihebohkan dengan sebuah kabar.  Menurut cerita dari mulut ke mulut yang didapat Surti saat berbelanja sayur di warung Mbah Trimbil, ada kewajiban lain yang harus dilakukan warga di kampungnya.  Sekali lagi, kewajiban yang fungsinya untuk nolak bala.  Paguyuban Ki Suro Banaspati mewajibkan warga kampungnya untuk masak lodeh tujuh rupa selama tiga hari berturut-turut dan menanam uang lima ratus logam di halaman depan rumahnya.  Bencana sudah semakin dekat dengan kampung itu, dan warga kampung harus segera bergerak untuk menolaknya.

“Hari ini Bune masak sayur lodeh juga?” tanya Tejo saat menghampiri istrinya memotong-motong kacang panjang di dapur.

“Iya.  Lah ibu-ibu yang lain masak sayur lodeh, ya Bune jadi kepingin nglodeh juga.  Ketoke seger, siang-siang makan lodeh sama ikan teri.” kata Surti sambil mencecap lidahnya.

“Kok nggak ada kluwih, tempe gembus, sama jipang, Bune?” tanya Tejo mengamati sayur-sayuran yang ada di depan Surti.

“Muahaaal.  Sejak Paguyuban Ki Suro Banaspati itu mengumumkan kewajiban masak sayur lodeh tujuh rupa, harga-harga sayur pada naik semua.  Terutama bahan-bahan buat masak sayur lodeh tujuh rupa itu.  Mulai dari kelapa, daun so, kacang panjang, tempe gembus, kluwih, jipang, sampai rebung.  Bapak tahu satu tempe gembus itu dijual berapa di warung mbah Trimbil?  Dua ribu rupiah!  Edan.  Rata-rata, harga sayuran naik sepuluh kali lipat.  Mending Bune nggak makan tempe gembus daripada kantong Bune ikut nggembus gara-gara buat masak lodeh.”  kata Surti menerangkan panjang lebar.

Tejo terbahak.

“Aneh kabeh!  Semua orang sudah jadi aneh.  Alasan Kang Kliwon kasih undangan seminggu yang lalu itu pun kalau dipikir-pikir juga aneh.  Mosok gara-gara aku jadi pranoto adicoro di rapat bapak-bapak di rumah pak RT sebulan yang lalu, terus aku dianggap layak masuk Paguyuban Ki Suro Banaspati.  Boso kromo mas Tejo niku sae, Ki Suro Banaspati niku remen kaliyan tiyang ingkang boso kromone alus kados panjenengan mas.  Mas Tejo niki persis kados priyayi kraton!  Ningrat!” Tejo kembali tergelak setelah menirukan gaya bicara Kang Kliwon dua hari yang lalu.  Tejo bertemu dengan Kang Kliwon di pasar dan ia sempat menanyakan tentang alasan dirinya diundang di acara selametan itu.

Iyo ningrat.  Ning ratan!” kata Surti sambil memotong terong berwarna ungu gelap.

Tejo masih tertawa terkekeh-kekeh.

 

***

Saiduh metu saucap nyata.  Ternyata kabar bencana yang sempat gencar tersebar di kampung itu benar-benar terjadi.  Gempa berkekuatan 6 skala richter itu mengguncang kota Gudeg itu di pagi hari, tanggal 27 Mei 2006.  Hampir sebagian besar rumah-rumah di daerah selatan kota Yogyakarta itu ambruk.  Gempa dahsyat itu menelan banyak korban dan ditaksir menimbulkan kerugian yang besar.

Kampung Tejo yang terletak di Kabupaten Bantul itu pun tak luput dari gempa.  Walau tidak semua rumah di kampung itu rusak berat, tapi trauma yang ditinggalkan bagi warga kampungnya cukup hebat.  Warga kampungnya mendirikan tenda-tenda darurat dan dapur-dapur umum di lapangan depan sekolah.  Semua orang, tua muda, kaya miskin, berkumpul dan saling membantu meringankan derita satu sama lain.  Sudah tiga malam ini hujan mengguyur kampung itu.  Listrik pun padam, menciptakan suasana kampung itu semakin mencekam.  Di beberapa rumah yang kehilangan salah satu keluarganya diadakan tahlilan kecil-kecilan.  Walau tak ada makanan yang bisa disuguhkan, do’a-do’a itu tetap terus dilantunkan oleh warga kampung Tejo.

Tejo dan Surti, walaupun rumahnya tak ikut ambruk, memilih untuk tinggal di tenda darurat.  Mereka berdua takut ada gempa susulan yang akan merobohkan rumah mereka.  Pada siang hari, Tejo dan bapak-bapak di kampungnya akan pergi ke kota Bantul untuk mendatangi pusat posko bantuan dan mengambil bahan-bahan makanan untuk kampungnya.  Sedangkan Surti bersama ibu-ibu lain memasak di dapur umum untuk makan warga sekampung.  Selama di tenda darurat, Surti tidak lagi masak oseng genjer atau sayur lodeh seperti biasanya.  Sehari-hari Surti memasak mie instan dari berbagai merek, kiriman bantuan orang-orang yang peduli terhadap gempa di Yogyakarta dan sekitarnya.

Suatu kali, pak Walikota datang berkunjung ke kampung Tejo.  Pagi harinya, warga sudah diberi tahu bahwa akan ada kunjungan Walikota ke tenda darurat mereka.  Ibu-ibu pun mulai sibuk mempersiapkan makanan ala kadarnya.  Istri Kang Kliwon bertindak sebagai komando ibu-ibu di tenda itu.  Beberapa ibu-ibu ditugasi oleh istri Kang Kliwon untuk memasak air panas.  Ibu-ibu yang lain tampak pontang-panting mencari teh dan gula pasir di rumah-rumah yang masih tegak berdiri.  Ada trauma tersendiri saat mereka masuk ke rumah-rumah itu, takut-takut kalau terjadi gempa susulan saat mereka mengambil persediaan teh dan gula pasir di rumah itu.  Padahal kadang kala, rumah yang mereka masuki itu rumah mereka sendiri.

Surti sendiri, bersama istri Kang Kliwon, mendapat tugas untuk mengambil beberapa gelas di rumah Kang Kliwon.  Rumah Kang Kliwon rusak berat diguncang gempa, ambruk.  Untuk menuju dapur di rumah Kang Kliwon, Surti tidak perlu lagi melewati teras, ruang tamu, atau ruang keluarga.  Dari halaman depan Kang Kliwon, Surti bisa melihat dengan jelas dimana letak dapur, kamar mandi, bahkan kamar Kang Kliwon.  Kasur itu masih tergeletak disana, tertimpa almari dan reruntuhan tembok.  Surti dan istri Kang Kliwon berjingkat-jingkat menuju dapur, menghindari potongan-potongan kayu dan paku yang mencongat kemana-mana.  Sesampainya di dapur, mereka berdua mengumpulkan gelas-gelas yang masih utuh dan layak untuk digunakan.  Setelah mendapatkan sekitar dua lusin gelas, mereka memasukkan gelas-gelas itu ke dalam kantong plastik besar berwarna hitam.

Keduanya bergegas keluar dari reruntuhan rumah Kang Kliwon.  Saat berjingkat-jingkat melewati bekas ruang tamu Kang Kliwon, Surti mendadak berhenti, berdiri di depan sebuah kusen yang ambruk.  Ada sebuah benda yang tersangkut di kusen itu.  Surti merasa pernah melihat benda itu sebelumnya.  Surti mengamati lagi benda kecil itu.  Bukan, bukan.  Benda itu tidak tersangkut, tapi justru terpaku pada kusen.  Saat ingatan dalam otak Surti mulai mengenali benda berbentuk kantong kecil itu, mata Surti terbelalak.  Surti hampir memekik.

Di halaman rumah, istri Kang Kliwon memanggil Surti untuk segera bergegas kembali menuju tenda darurat.  Sadar dengan apa yang baru saja dilihatnya, Surti masih melongo menatap kantong kecil itu.  Surti kembali berjingkat meninggalkan reruntuhan bangunan rumah Kang Kliwon.  Meninggalkan kantong kain mori itu yang kini sudah tidak berwarna putih lagi.  Warnanya telah berubah menjadi hitam kecoklatan.  Mungkin karena diguyur hujan dan terkena panas beberapa hari ini.  Surti mengingat kembali benda-benda apa saja yang kira-kira masih tertinggal di dalam kantong kecil itu.  Beberapa biji gabah, dua butir pala, setangkai bunga kanthil, beberapa buah cengkeh kering, dan uang logam lima ratus rupiah baru berwarna kuning mengkilap.  Sayang, tidak ada bungkusan teh disana.  Andai saja bungkusan teh celup ada di dalam kantong kain mori itu, niscaya Surti akan mengambilnya.  Surti bergegas pergi sembari mengulum senyum.  (http://www.akusukamenulis.wordpress.com/)

Joomlart