Satani
Oleh: A.Totabuan Syukur
Wanita cantik itu datang padaku
bersama buntalan pakaian. Masih muda. Pipi padat memerah, juga bibirnya
merekah. Manis, polos, lugu—khas gadis desa. Dia duduk di hadapanku,
bersimpuh. Bagian tubuhnya mengintip di balik pakaiannya. Kepolosan yang
menggairahkan! Mau apa dia ke sini? Mau jadi pembantu?
“Hamba
bukan ingin jadi pembantu, Tuan. Tapi hamba ingin mengabdikan hidup
hamba pada Tuan,” katanya masih dengan bersimpuh.
“Mengabdi? Tanpa
imbalan?” tanyaku tak percaya.
“Ya, Tuan, tanpa imbalan! Hamba akan
melayani Tuan lahir batin.”
Aku semakin terperangah. “Lahir batin?
Tanpa imbalan?”
“Ya, Tuan, itu keinginan hamba!”
Aku tersenyum.
Berulang kali aku memandanginya, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sempurna, desisku dalam hati. Cantik, sensual, menggairahkan. Pikiran
kotor mulai merayapi pikiranku. Aku ingin segera menyeretnya!
“Ampuni
hamba, Tuan, hamba punya satu permintaan!” sambungnya menghentikan
pikiran kotorku.
“Apa itu? Uang? Mobil? Rumah? Bicara saja, jangan
sungkan!”
Aku tak berpikir panjang lagi. Untuk wanita secantik dan
sepolos ini memang tak perlu pemikiran panjang. Gadis ini bukan hanya
polos dalam ucapannya tapi juga polos dalam penampilannya, penampilan
khas pelosok yang alami. Selama ini telah banyak wanita yang kukenal
luar-dalam, namun belum pernah dengan wanita seperti ini. Gairah
menyelimutiku. Aku tak sabar lagi menunggu.
“Apa permintaanmu?
Katakanlah, jangan ragu!” desakku.
“Hamba tidak minta yang Tuan
sebutkan tadi. Hamba hanya melayani, bukan memiliki!” Bibir merah tanpa
gincu itu berhenti, “tapi hamba berharap pelayanan hamba direstui oleh
sesembahan hamba.”
“Langsung saja, tak usah bertele-tela,” ujarku
mulai kalap. Hasrat sudah menyelimuti ubun-ubunku.
“Mohon jangan
marah, Tuan. Hamba hanya minta Tuan menikahi hamba terlebih dahulu.”
“Apa?
Menikah? Jangan ngawur, to!” ujarku terbelalak.
“Tidak, Tuan, hamba
tidak ngawur. Itu hamba minta agar pelayanan hamba direstui sesembahan
hamba. Itu keharusan bagi hamba, Tuan. Jika Tuan mengabulkan, hamba akan segera melayani apa pun permintaan Tuan.”
Hasrat sudah menguasaiku
sepenuhnya. Sepengetahuanku, ada kiyai yang membantu menikahkan
pasangan-pasangan yang menginginkan pernikahan of the record. Ah, pasti
dia akan membantuku! Apalagi kalau ditimbuni uang!
“Baiklah, kita
berangkat sekarang,” kataku tidak sabar.
“Ke mana, Tuan?”
“Ya,
menikah! Kamu ini bagaimana?” tukasku kesal dan bingung.
“Hamba hanya
mengabdi, Tuan, tidak layak menikah di depan orang,” dia berhenti,
mungkin menungguku memotong namun aku tak melakukannya, “Tuan mengatakan
bahwa Tuan menikahi hamba itu sudah cukup. Hamba tak punya pilihan
karena mengabdi sudah pilihan hamba!”
“Ha—ha—ha—“ Aku terbahak
mendengar permintaan ganjil itu. Ganjil tapi sangat mudah. Aku mengira
dia akan menyeretku ke depan pengadilan agama yang akan menjadi gosip
terhebat di awal abad 21 ini. Ternyata tidak. Menimbuninya dengan
segunung uang saja aku rela, apalagi hanya memenuhi permintaannya yang
ganjil ini. Bicara “aku menikahimu!” saja, mana susahnya?
“Baiklah,
baiklah,” ujarku setelah tawaku reda, “siapa namamu?”
“Marni, Tuan!”
“Satani,
Tuan!”
“Satani? Ha—ha—ha—“ Kembali aku terbahak. Perempuan secantik
ini kok bernama Satani?! Tapi pikiranku telah dipenuhi hawa lain, “nah,
baiklah, Satani. Aku menikahimu dengan setulus jiwa dan perasananku,”
lanjutku formal tapi dengan bibir tersenyum.
Tiba-tiba terdengar
bunyi bergemuruh dan halilintar menyambar, kemudian . Aku tak begitu
mempedulikannya. Bagiku, itu hanya fenomena alam. Apalagi aku akan
segera menikmati bulan madu, entah untuk ke berapa kalinya. Semua yang
ada di dalam maupun di luar diri terlupakan sudah.
Aku segera
menyeretnya. Dia pasrah.
Luar biasa perempuan ini. Tapi menikmati
yang luar biasa harus sedikit-sedikit. Aku mempelajari ini dari sekian
banyak pengalaman. Lagi pula, kulihat dia lelah. Ah, perempuan kampung.
Betapa beruntungnya aku!
Maka, kubiarkan dia istirahat. Dan dia pun
langsung lelap.
Tiba-tiba, bumi bergoncang keras. Kupandangi
sekeliling. Lukisan wanita setengah bugil, Julia judulnya, yang
tergantung di dinding tengah kamar bergoyang ke kiri dan ke kanan seolah
penari hippies yang hendak membangkitkan birahi. Bagai tersengat
listrik aku melompat dan memeluk lukisan yang hampir jatuh itu. Tidak,
aku bukan hendak bermesraan dengan lukisan, betapapun cantiknya dia. Aku
pria normal yang tak mungkin dapat bercinta dengan bayang-bayang. Aku
pria normal, yang mungkin kelewat normal!
Lukisan itu harganya, aku
dapatkan dari lelang amal, katanya untuk korban banjir di Malang
Selatan. Pemborosan! Tapi, demi gengsi semua itu tak ada artinya.
Pemborosan? Aku rasa tidak! Amal baikku tetap terjaga berkat lukisan
itu. Bahkan untung. Kemarin aku korupsi tiga ratus juta tanpa seorang
pun yang curiga. Bagaimana mereka akan curiga? Bukankah aku pejabat
mulia yang telah menyumbang untuk korban banjir?
Bumi diam kembali.
Julia kuletakan kembali di tempatnya. Di ranjang aku melihat Satani
masih pulas. Selengkung senyum menghias bibirnya. Aku heran. Tidakkah
dia merasakan gempa tadi? Julia saja hampir jatuh, mengapa Satani tidak
terusik? Dasar ular! Ah, bukan. Satani bukan ular. Dia hanya kebo bego
yang menyelinap dalam hidupku. Yah, dia hanya kebo bego yang datang
untuk mengabdi luar-dalam dengan pernikahan anehnya.
Aku menatapnya.
Cantik sekali dia ketika tidur. Apalagi dengan lengkungan senyum itu.
Kuulurkan tangan hendak meraba pipinya yang mulus. Aneh, tanganku tak
sampai. Aku mendekatinya, mengulurkan tangan lagi. Sama saja. Aku coba
beberapa kali tapi nihil.
Kemudian, bumi berguncang dahsyat. Lebih
dahsyat dari yang pertama. Di luar kudengar angin menderu-deru,
halilintar bersahutan. Aneh. Marni masih asyik dengan mimpi-mimpinya.
Kucoba membangunkannya namun tanganku tak pernah sampai.
Praaang…
Julia
jatuh tak tertolongkan. Kacanya berserakan, bingkainya berhamburan. Oh,
hancur sudah amalku! Kupandangi Julia yang tak berbingkai lagi. Aneh.
Julia memudar, memudar dan terus memudar sampai yang tersisa hanya
sketsanya. Dan sketsa itu juga menghilang sehingga yang tertinggal hanya
kanvas yang catnya juga mulai memudar sampai yang tersisa hanya sulaman
benang.
Kualihkan pandangan. Apa? Semua jadi suram dan tak
menggairahkan lagi. Ke mana cat-cat yang kubeli dengan harga mahal itu?
Ke mana cat-cat yang anti bakar dan anti karat itu? Bunga plastik dalam
jambangan warnanya juga memudar. Semua jambangan menghilang, entah ke
mana.
Aku berlari ke brankas penyimpanan barang-barang dan beberapa
ratus juta uang tunai. Uang tunai itu yang kugunakan untuk berfoya-foya
dengan wanita lain. Untuk menggunakan uang di bank aku takut diketahui
isteriku. Dalam urusan seperti ini, isteri penghalang!
Apa? Mataku
terbealak tak percaya. Berlian dan emas simpananku tak ada bedanya
dengan batu biasa dan besi rongsokan. Kemilaunya menghilang. Uang
simpanan pun tak lebih dari kertas bekas yang tak ada harganya.
Aku
pernah mendengar bahwa manusia tak pernah mencipta. Manusia hanya
berkarya. Ya, manusia hanya merajut dan menjalin bagian demi bagian
ciptaan Tuhan kemudian mengklaim sebagai ciptaannya. Mungkinkah
warna-warna di barang ‘ciptaan’ manusia itu telah kembali ke penciptanya?
Syuuur…syuuur…
Angin
di luar menggelora.
Buuuk…buuuk…
Nampaknya angin telah mencabut
segala yang dilewatinya dan mencampakan di tembok kokoh rumahku. Ah,
apalagi ini? Apakah tsunami akan memorak-morandakan daerah ini?
Praaang…
Kaca
jendela kamar pecah. Angin menerobos membawa sekeping pecahan besar
yang hampir mengenaiku. Untung aku pernah belajar silat waktu mahasiswa
dulu. Bukan untuk menyerang atau mmpertahankan diri, tapi untuk memikat
teman-teman mahasiswiku yang tergila-gila pada mahasiswa perkasa.
Angin
terus mengamuk, menerbangkan sebagian kaca yang masih tertinggal
dibingkainya. Sebagian kaca itu mengarah ke tubuh Satani namun
berhamburan menjadi kepingan-kepingan halus sebelum mengenai tubuhnya,
dan sebagian lagi masuk ke tubuhnya tanpa meninggalkan bekas. Ajaib!
Tubuh Santani punya kekuatan menghancurkan dan menyerap pecahan kaca
itu. Aku mencoba berbuat seperti dia. Sekeping pecahan kecil aku
tantang. Aduh! Untung pecahan itu hanya mengenai paha kananku. Ah, aku
tak bisa seperti Satani.
Angin terus menerobos, semakin kencang.
Barang-barang di dalam kamar terlemparkan. Bumi bergoncang bertambah
keras seakan mengimbangi angin. Semua benda di lemari sudut kamar jatuh
berhamburan. Sebentar lagi langit-langit dari beton akan jatuh. Sejenak
aku melihat Satani. Dia masih puas. Dasa ular, umpatku. Segera kuulurkan
tangan lagi, kali ini sampai. Tubuhnya aku guncangkan.
“Ada apa,
Tuan?” tanyanya tanpa ekspresi.
“Ayo keluar dari rumah keparat ini.”
Aku lengsung menyeretnya.
Baru satu langkah dari pintu kamar…
Buuuk…
Langit-langit
kamar runtuh. Aku terus menyeretnya ke luar. Aku tak dapat lagi
mengemasi barang secuilpun. Yang ada di pikiranku hanya menyelematkan
diri dari bencana ini.
Di luar, suasana lebih menyeramkan.
Pohon-pohon beterbangan laksana kapas ditiup angin. Di angkasa, bintang
jatuh ribuan banyaknya. Halilintar menyambar-nyamar. Hujan terus
mengguyuri bumi.
“Banjir,” ujarku sambil memandangi air yang mengalir
di depanku. Aliran itu bertambah, bertambah, dan terus bertambah. Bumi
pun seakan mengeluarkan air.
“Ayo, Tuan kita ke sana,” ajak Santani.
Aku
memandaangi telunjuk Marni. Aneh. Mengapa di depan rumah ada vila
padahal aku tak pernah membangunnya? Alangkah klasik dan mengerikan vila
itu. Bentuknya seperti setan yang aku lihat di komik anakku. Beberapa
detik kemudian, mulut bangunan itu terbuka dan keluarlah gadis-gadis
seksi berwajah anjing. Aku muntah namun tak ada cairan yang keluar dari
mulutku.
“Ayo,Tuan, mereka telah menunggu kita,” ajak Satani lagi.
“Tidak!
Aku tidak mau!”
“Tidakkah Tuan melihat membawa nampan berisi
bunga-bunga untuk menyambut kita? Lihatlah! Lihatlah, Tuan! Betapa
mereka mengagungkan Tuan,” bujuk Marni.
“Tidak, Satani! Aku tidak
akan bergabung dengan setan-setan itu!”
“Apa?” suara Satani
menggelegar mengagetkanku. Sontak aku memandanginya. Aku kaget setengah
mati. Yang ada di sampingku sekarang bukan lagi Satani yang cantik dan
polos melainkan gadis seksi berkepala anjing, tak ubahnya dengan
gadis-gadis di vila itu. Spontan aku lepaskan genggamannya.
“Pergi—pergi—menjaulah
dariku,” teriakku ketakutan.
“Hai manusia,” katanya dengan suara
yang lebih menyeramkan lagi, “kau telah menikahiku. Tak mungkin kau lupa
itu. Sekarang, masuklah ke golonganku!”
“Tidak! Aku tak pernah
menikahimu setan durjana, iblis laknatullah! Aku tak mengakui pernikahan
itu.” Emosi telah mengalahkan ketakutanku. “Jadi kamu yang menyebarkan
kerusakan ini? Dasar setan!”
“Tidak, hai manusia! Kau telah mengabdi
padaku jauh sebelum mengenalku. Tidakkah kau sadari bahwa di setiap diri
perempuan yang kau tiduri hanya untuk melampiaskan nafsu di situ ada
aku? Juga di setiap lembar rupiah yang kau korupsi di situ ada diriku!
Dasar manusia bodoh!”
Aku menggigil. Baru sekarang aku menyadari
betapa salah jalan yang telah aku tempuh.
“Tidak! Aku tak mau! Aku
ingin brtobat!”
“Apa? Bertobat? Ha—ha—ha—ha.” Taringnya menyembul.
“Tidakkah kau ketahui hai turunan Adam, ini Hari Penghabisan?!”
“Apa?
Hari Penghabisan? Kiamat?”
“Ya, kiamat hai turunan Adam! Tidakkah
kau melihat benda-benda langit saling bertabrakan? Tidakkah kau rasakan
bumi bergoncang? Inilah kiamat hai turunan Adam! Waktumu sudah habis!
Mau tak mau kau haru ikut denganku sekarang.”
Marni menjepit leherku
dan menyeretku ke kelompoknya. Aku terus berontak namun tenagaku kalah.
Dia terus menyeretku melewati banjir yang sekarang telah mejadi banjir
bandang. Kepalaku timbul-tenggelam. Aku mulai sulit bernapas. Aku
megap-megap. Apalagi ketiak Satani busuknya luar biasa.
Saat seperti
ini aku ingat Tuhan. Aku terus berdzikir mengharapkan ampunan-Nya.
“Bangun,
Pa, bangun!”
Mataku terbuka. Wajah isteriku pertama kali terlihat.
Dia masih mengenakan mukena, mungkin baru selesai melaksanakan tahajud.
Dan jua di sana aku dengan orang mengaji.
“Mimpi buruk, ya?”
tanyanya.
Aku hanya diam. Memandangi sekeliling. Semua warna seakan
telah kembali. Persyukuran terucap di bibirku. Ternyata kiamat hanya di
mimpi, dan aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Tak
lama kemudian adzan subuh dikumandangkan. Segera kulangkahkan kaki,
bewudu dan mengimami sholat berjamaah dengan isteri dan anak-anakku.
***
Mocil, Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Sulut
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Satani







































