<< Cerpen kamboja empat mahkota  >>

kamboja empat mahkota

E-mail Cetak PDF
KAMBOJA EMPAT MAHKOTA
Oleh: Windy Aurora

Rembulan telah memeluk malam, semilir angin membelai mimpi. Ribuan jiwa masih berdansa di ujung gelisah, menanti kekasih di pucuk rindu. Masih ku dapati diriku tenggelam dalam linang kebosanan. Sampai kapan semua ini berakhir, Tuhan?
 Pertanyaan yang sama terus terlontar setiap hari, minggu, bulan, dan tahun. Setahun lagi kami menikah, dia masih sama tak berubah. Ingin ku lari dari cinta yang menjeratku puluhan tahun ini. Cinta yang mengakar tanpa mampu tumbuh mengembang, menguncupkan bunganya bertahun-tahun. Sulit untuk mekar, tak terhitung berapa malamku di temani tangisan. Air mata yang tak bermuara di ujung waktu tersisa.

"Gitu aja ngambek..." ucapmu saat ku inginkan perhatian penuh. Ya, aku perempuan, perlu di sayang, di manja, dan di nomor satukan. Namun hatimu takkan mampu menembus rasa yang ku punya. Bertahun-tahun lamanya, takkan bisa. Saat ini titik kebosananku memuncak, tepat hendak pecah di tepi murka. Semua serasa tak layak di pertahankan. Tak layak lagi cinta bicara dengan jarak terbentang. Hanya pertengkaran setia mewarnai malam bisu kita.

Kepergianku selama 4 tahun ini inginkan perhatian dalam menanti, bukan sekedar kata setia benteng diri. Cara bagaimana merawat rindu yang kian pias, di terpa topan waktu tak berbelas.
Bisakah dirimu disana?Lagi-lagi sebuah tanya tak terjawab. Cinta... mengapa kau hadir tanpa bicara, semakin kuat dindingmu dengan rindu, lalu pecah dalam temu. Ada kalanya dirimu hadir dengan senyum itu, senyum yang menggetarkan seluruh nadi-nadiku. Tak hanya senyum di mimpi malamku. Senyum yang ada saat dulu, dulu... sekali. Ketika kita masih selalu bermain bersama, memetik buah duku kampung sebelah. Menyebrangi sungai widas pemisah kampung kita. Beristirahat sejenak di atas tanah pemakaman kampung kita. Tepat di bawah pohon kamboja. Semilir angin menjatuhkan perlahan kuntum demi kuntumnya. "Hei, lihat ini mahkotanya empat.... !" teriakmu kegirangan. Kau temukan dua kuntum kamboja bermahkota empat. Senyum itu mengembang bersama ceritamu yang antusias. Masih jelas terekam dalm memori ingatan adegan masa kecil kita.

Bersamaan dengan terselipnya kamboja di telinga kananku, lembut kau bisikan" kita akan selalu bersama hingga nadi tak lagi berdenyut". Semua itu menjadikan satu kebohohan yang ku yakini, bahwa sama halnya menaruh kamboja dalam sebuah buku pelajaran disertai puasa akan membuat kita pandai dalam pelajaran itu. Begitu pula keyakinanku kala kau bisikan kata itu, layaknya bintang jatuh pengabul do'a.

Dan semua hanya semu, buram tanpa warna di atas kanvas cinta, sebuah lukisan tak berseni. Hambar, hampa tak berasa. Ingin ku muntahkan riak rindu yang menyekat, di iringi deru angin yang menyayat. Dua hati itu telah terkubur dalam liang masa silam. Tak mungkin lagi terkuak kisahnya. Biarlah kini terjalani apa yang menjadi tilisan Lauful Mahfuz-Nya. Andai cinta harus pergi perlahan, biarlah... Jalinan bertahun-tahun takkan mampu menariknya kembali. Orang ke tiga itu hadir tanpa permisi, aku harus melepas diri. Meski kau tutupi hatimu dengan dalih suci"aku memang ada yang lain, namun hatiku tetap menyayangimu..." Heh, mungkin bila kau di depanku, berpaling mukaku pasti. Sayang? orang ketiga? setia? Menyatu dalam satu hati, mampukah merekatkanya kembali?

Aku lelah, nafasku terhempas di antara malam gelisah. Tangisku serasa tak lagi terkendali. Semudah itu air mata ini jatuh untukmu?
Apakah karena kau cinta pertama? Berulang kali ku coba menghapus bayangmu, terlalu sulit dan ku gagal lagi. Kenangan itu telah meracuniku, membutakanku dari cinta yang lain. Siapa yang lebih berhak mendapat cintamu? Diakah? Atau aku, aku yang telah sepuluh tahun menjaga hatimu dalam relungku. Selama sepuluh tahun menemani sukmaku dengan jiwamu. Selama sepuluh tahun senyum itu hadir dalam hariku. Haruskah ku lepas begitu saja?

Mengapa tak sedari dulu kau pertanyakan itu dengan mereka? Mereka yang melahirkan ragamu di dunia ini. Mengapa setelah sekian lama, baru sekarang kau ungkap.
Hanya karena jalan yang seharusnya tak ada, adat yang mengekang sebuah hubungan. Kemana harus ku bawa pergi hati yang telah pecah bersama sendu malam ini. Aku tak mampu melepasmu, tak pernah mampu. Walaupun jarak memacu pertengkaran, orang ketiga pemutus jalan. Aku takkan pernah sanggup melepasmu dari hatiku. Tak sanggup kehilangan senyum itu. Hingga ujian cinta terberat ini'restu orang tua'. Mengapa kau hanya mampu diam, membisu di keheningan. Memelukku dari belakang, dadamu terasa sesak tertahan. Ku tatap cahaya itu di matamu, cinta yang bersemi bertahun-tahun. Tak pernah sekalipun terungkap lewat kata, namun aku mengerti kau begitu menyayangiku. Sepenuh hatimu, sama sepertiku. Kita adalah satu hati dengan dua sayap cinta, takkan mampu terbang dengan satu sayap saja. Orang ketiga itu hadir sesaat, ku tahu kau takkan mampu mengahapus senyumku.

Kata ikhlas ku rakit pelan lewat tangisan, sumpah serapah orang tuamu semakin menulikan telingaku. Mengusirku jauh dari sudut hatimu. Menyumpahimu tak lagi di anggap anak andai menyandingku. SEPARAH ITUKAH? Bukankah semua hanya karena weton, hari lahir yang tak berkenan menurut adat, juga jalan tempuh saat kita menikah nanti. Apakah tak ada cara lain sebagai siasat? Bukankah segala hidup dan mati di tanganNYA. Mengapa manusia harus takut menjalaninya? Tuhan takkan murka bila hambaNYA berusaha merubah nasib lebih baik. Apa dalih para nenek moyang menciptakan tradisi weton tanpa dasaran? Bukankah mereka dulu kala masih ATHEISME, menyembah pohon, sungai juga patung. Apa dasar dari semua itu?

"Sadarlah sayang...! sadar!" ku koyak tubuhmu yang terpaku menyaksikanku bicara sekeras itu di hadapan orang tuamu. Ke empat mata itu melotot menatapku. Ku ciptakan senyum setegar mungkin agar aku tak terjatuh malam ini. Mengambil hatiku kembali dan memilikinya utuh lagi. Aku ingin tubuh itu memelukku sepanjang malam, tak terbagi oleh apapun. Ikatan yang akan melahirkan tawa kecil bayi mungil, yang ku impikan setahun kemarin. Kau masih tertunduk, tak mampu berdiri dari dudukmu. Di tanganmu masih tergenggam kamboja empat mahkota yang telah kering, sepuluh tahun telah kau simpan. Aku melangkah tanpa arah, tatapanku nanar pada temaram lampu di sudut ruangan. Payah, perempuan yang harus berjuang demi cintanya. Langkahku kian terseret roda waktu, dirimu masih terdiam di sana. Meski batinku berteriak "larilah...! peluk aku sayang!"

Aku tersadar ketika sosok itu merangkulku erat, kurasakan dekapanya semakin kuat. Kamboja itu bersama memelukku dalm jemari tanganya. Tangisku tak tertahan, mengalir perlahan. "KITA AKAN TETAP MENIKAH SEPERTI JANJIKU SAAT PERTAMA KALI KU SELIPKAN KAMBOJA EMPAT MAHKOTA INI DI TELINGA MANISMU...." Bisikmu begitu jelas, menaungi seluruh jiwaku yang hampir remuk tak berbentuk.

Joomlart