Kekasih Adam
Oleh: Riris Raden
Laki laki itu memasuki rumah. Langkahnya tetap gagah seperti tahun tahun yang lalu. Senyumnya mengembang. Membungkuk memberi hormat. Aku berdiri berkemeja kuning, tersenyum di balik tirai ungu. Menyembunyikan senyum, ia paling takut aku tersenyum.
Berjalan ia memasuki teras rumahku. matanya teduh. Pipinya merah halus melebihi kulitku. Tubuhnya jangkung. Kumis tipis…. Lembut menggantung. Satu… dua.. tiga… kupu kupu terbang. Hinggap di antara kembang alamanda kuning ungu. Sebentuk ulat kecil hijau merayap. Belalang merangkak… satu satu.. lantas terbang.
“Masuk”, Aku menyambutnya
Tasnya menggantung di pundak. Jaketnya coklat membalut tubuh tegapnya. Sama seperti tahun tahun yang lalu. Pandangnya senantiasa tembus jantungku
“Boleh?”
“Ya…”
Berdua duduk. Kenanga di depan halaman berayun. Dua bunga jatuh. Aku berlari memungut.. Mencium dan membawanya ke teras. Duduk di hadapan. Mengulurkan tangan.
“Bawa… kamu masih suka meletakkan kenanga di atas bantalmu, kan?”
Hanya memandangku. Lantas menunduk. Memungut kenanga. Menciumnya. Tatapnya pada batang kenanga berayun. Kupu terbang melintas. Belalang hijau hinggap. Semut satu satu merayap pelan. Saling menyapa berciuman.
Aku tau Adam paling suka kenanga. Setiap sore mengajak pergi aku ke kebun kenanga. Berlarian di antara batang batang kenanga. Lalu memungut kenanga yang berjatuhan di atas kaki kaki atau bahkan rambutku. Mengumpulkan. Lantas meletakkannya di atas bantal Adam. Dan Adam hanya memandangku dari jauh. Begitu selesai aku meletakkan kenanga di kamar…..Ia hanya berdiri di pintu kamar…. Berhadapan. Dijamahnya ujung rambutku.
“Terima kasih”, bisiknya.
Aku hanya tersenyum
“Jangan tersenyum!”, dijamahnya kembali ujung rambutku
“Ayo…!”, Ia tarik ujung jariku. Berlari ke halaman. Pohon jambu. Bercabang lebat. Puluhan buah menggantung. Adam membawa galah. Sentuh buah buah itu. Dan aku yang memungut setiap buah yang jatuh. Tak segan ku cubit lengannya ketika jambu itu jatuh mengenahi kepalaku. Tak jarang suara jambu jatuh di atas genting dan tersangkut di atas talang air.
Adam mengangkat tangga. Menata tangga tegak. Aku pegangi batang tangga.
“Kamu yang naik!”, kata Adam.
“Aku takut”
“Kamu berani”
Adam memegangi batang tangga. Dan kakiku lincah menaiki tangga. Merayap di atas genting. Memungut jambu jambu itu. Kulempar ke tanah. Bahkan kubuat tepat ke atas kepala Adam. Adam berlarian, terkena lemparan jambu. Dan aku terus melemparinya dengan jambu ke atas kepalanya. Tertawa riang. Sampai akhirnya batang tangga di angkat Adam. Aku hanya merengek rengek tapi Adam tak peduli. Dia bawa tangga itu pergi. Berteriak sekuat apa pun… mana Adam peduli.
Hujan mulai agak deras. Aku hanya diam memeluk lutut. Tiba tiba Adam muncul di hadapan. Kepalanya tersembul ke atas. Kakinya berdiri di atas tangga. Sejenak membiarkan aku kehujanan. Wajahku memelas, namun wajah Adam indah teduh dan damai. Perlahan ia pungut tetesan hujan di rambutku.
“Kamu jahat!”, umpatku pelan
Mengulurkan tangan menuntunku turun.
“Pake bajuku”, Ia menarik lenganku ke kamar mandi lantas mengulurkan handuk.
Mandi di rumah Adam baru sekali ini kulakukan. Adam menjagaiku di luar pintu. Ada sesuatu yang aneh. Aku tak melihat Adam tertawa, apalagi bercerita seperti biasanya sepanjang hari ini. Padahal aku paling suka candanya. Aku paling bisa menikmatinya. Berhari… berbulan… bertahun.. aku paling banyak menikmati canda Adam… di rumahnya… rumahku. Di mana saja. tiba tiba hari ini aku merasa sangat kehilangan. Serasa sepi… serasa berdiri sendiri. Serasa mati.
Ketika hujan mulai reda. Aku berdiri di teras. Baju Adam terasa kebesaran. Aku sepertinya tenggelam. Kemeja kuning menenggelamkan aku seakan masuk dalam tubuh Adam. Ya Tuhan… Adam…..kenapa kamu begitu menyiksaku.
Ia membuka payung untukku. Memayungi aku di teras. Saat kuraih gagang payung, tiba tiba ia meraih wajahku dengan dua tangannya, meraih perlahan….. dan aku merasakan bibirnya menyentuh keningku. Lantas senyap…..Menatapku sekilas, tanpa senyum lantas menunduk….. Adam…. Kenapa kamu tidak menatapku. Aku paling suka matamu….. kenapa tidak mencegah kepulanganku. Bukankah kamu selalu mecegah sejenak setiap kepulanganku. Adam…. Kenapa tidak….
“Maaf”, katanya.
Adam membiarkan aku pergi. Berpayung di tengah hujan aku berusaha menoleh Adam. Aku berharap Adam memanggilku atau paling tidak memandangku. Tapi Adam pergi begitu saja. Semakin aku tak mengerti.
Sore… aku berlari di antara batang batang kenanga. Memetik bunga kenanga untuk kamar Adam yang indah. Cat warna warni. Bantal berbentuk hati warna pink. Menjelang sore, aku kan rajin menata di sekitar bantal dan Adam senantiasa menungguiku di pintu kamar. Tapi Adam hanya diam tak memperdulikan aku. Tak ada ucapan terima kasih atau sentuh ujung rambutku. Adam diam.. bahkan tak peduli kehadiranku. Hatiku sakit…. Lebih sakit ketika esok harinya aku Adam tak bisa ketemui lagi. Dia pindah…. Tanpa pamit.. tanpa kata pisah… tanpa ucapan apa pun.
Sejak itulah. Aku benar benar berpisah dengan Adam tanpa bisa ku mengerti kenapa mesti berpisah. Aku berpisah dengan Adam saat cinta tumbuh berkembang berurat berakar dalam dadaku. Tanpa bisa kujinakkan, cinta berkembang dengan cepat dan ganas dalam sel darah dan otakku. Cinta itu merenggut segala energi, nafsu dan hampir nyawaku. Tanpa Adam apa artinya aku.
Bertahun kemudian aku mendengar Adam menikah. Undangan pernikahan Adam sampai juga ke tanganku. Aku menangis. Adam menikah tepat di hari ulang tahunku. Ia memberi kado paling hebat dalam hidupku. Aku hampir menangis sepanjang malam. Bahkan aku mengira…. Aku akan menangis sepanjang hidupku.
Sampai kemudian………..
Di ruangan diklat penulisan scenario film aku berjumpa kembali dengan Adam, Kebetulan aku hanya seorang peserta dan Adam adalah tutornya. Pertemuan yang sama sekali tak terduga. Membakar rinduku. Seperti aku mendapatkan sebuah kado besar yang sangat istimewa. Dan ini tepat di ulang tahunku
“Tulisanmu bagus dan sangat perempuan”, pujinya ketika keluar ruangan diklat, “Kamu… hebat juga. Pemain film ya?”
…………………………………………………………………..
Mata Adam teduh pandangi batang kenanga berayun. Bibi pembantu mengantar segelas jeruk hangat. Hujan rintik mulai turun. Adam tidak pernah berhenti pandangi kenanga berayun di halaman rumah sampai kemudian tangannya hangat menggenggamku.
*******
Akhirnya Adam bermain di film garapanku. Berhari hari aku menikmati lokasi syuting dengan Adam. Aku menemukan kembali Adam yang dulu. Yang baik. Yang lucu. Yang suka ketawa, yang paling suka membuatku tertawa terpingkal pingkal.. Adam yang suka menggoda. Adam yang romantis. Adam yang selalu mengulurkan tangan ketika aku tak kuat lagi berjalan menanjak. Adam yang selalu menawarkan pelukan saat aku lelah.
Selembar tikar aku duduk. Tubuhku lelah bersandar pada tumpukan tas. Jaket menutup kaki yang mulai kedinginan. Adam mengoleskan minyak kayu putih di atas telapak kakiku. Beberap kru istirahat. Sebagian bercanda, sebagian makan, sebagian lagi ke mushola, sebagian sama dengan yang kulakukan tiduran di alam terbuka.
Adam tetap membalurkan minyak kayu putih di telapak kakiku
“Kamu masih ingat?”, tanyaku
“Kamu selalu mengusapkan minyak kayu putih setiap sore. lalu lari ke ladang kenanga. Memunguti bunga bunga itu dan membawa ke kamarku. Meletakkan di atas bantal dan aku hanya menunggumu di pintu kamar. Di pintu kamar itu aku selalu menjamah ujung rambutmu. Dan setiap kau hendak pulang aku selalu menundamu. Lantas sore berikutnya aku menungguimu memetik kenanga di ladang itu”
“Aku melakukannya 11 tahun bersamamu. Selama 11 tahun, setiap sore. Berarti kamu menemaniku memetik kenanga untuk kamarmu 3960 kali”
“Kamu menghitungnya?”
“Selama 18 tahun, setiap hari, aku pergi ke kebun kenanga, memetik bunga tanpamu dan hanya untuk mengenangmu. Berarti aku melakukannya 6480 kali.”
Ia hanya menatapku, matanya berkaca-kaca
”Kamu tau berapa kali aku memetik kenanga untukmu? ”
“Aku tak sanggup menghitungnya”
“10440 kali. Bayangkan!”
Ku arahkan pandanganku. Pohon beringin kokoh. Besar. Tegak. Membumi. Jarak dua meter batang kenanga tinggi. Bunganya jauh dari jangkauan. Aku terdongak. Mataku serasa sembab. Aku ingin menangis. Angin menerbangkan… setangkai kenanga jatuh di kakiku. Adam memungutnya. Mempermainkan di ujung kakiku.
“Apa kamu pernah mencintai aku?”, aku mulai berharap
Tatap matanya tajam. Lantas luruh. Aku duduk menatap tajam Adam
“Aku sangat mencintaimu”
“Kenapa tak pernah kau katakan?”
“Karena aku merasa kau akan menolakku dan aku tak sanggup kehilanganmu”
“Adam…..?!!. Itukah yang membuatmu lari meninggalkan aku?”
“Aku terlanjur menunggumu”, Adam terbelalak. Menutup muka. Aku melihat ada titik airmata di pipinya tertutup tangannya. Dan aku sentuh air mata yang meleleh di pipinya, tangannya bergerak menggenggamku.
Kameramen sudah sudah siap. Juru make up sudah mengangkat tas tas menuju tempat. Aku menarik nafas panjang.
Aku ambil cermin aku ingin membenahi kusut rambut dan wajahku. Adam mengulurkan cermin. Kusentuh pipiku, yang mulai berkerut kerut dan berlipat. Beberapa bagian rambutku mulai memutih. Jujur saja hampir semua memutih. Kembali aku menatap Adam di depan. Sebuah mobil berhenti. Laki laki muda seusia SMA keluar menggandeng perempuan baya. Menaiki anak tangga.
“Dia istri dan anakku”., ujarnya datar.
Adam menarik lenganku menuruni anak tangga. Bersalaman dengan perempuan dan anak SMA itu. Aku dan perempuan itu berpelukan. Tangan kiriku tetap dalam genggaman Adam. Menangis. Cinta itu telah memakan usia. Ya….Adam…. Aku menunggumu dengan setia menjaga perawanku…..
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Kekasih Adam






































