Ode ½ Blues
Oleh: Reza Syauqi
Sejak kita lewati bulan purnama itu,
Masih terasa jejak bayangmu gerayangi tubuhku
Saat kita lalui gelap malam di pantai
Bercumbu berdua di pasir putih
Kapan itu terulang lagi?
Aku ingin sekali lagi
Mungkinkah kan terulang lagi?
Hanya untuk semalam lagi?
-Full moon Blues,SLANK.-
Di dalam kamar, Aku dan Headphone, Aku dan setengah bungkus rokok lights menthol kesukaanmu, Aku dan buku-buku, Aku dan lagu-lagu, Blues tentu, juga sedikit Jazz, tapi cuma Blues yang kudengar, Jazz hanya ada di kepalaku, di bagian yang merupakan tempatmu, dalam kepalaku.
Di dalam kamar, Aku dan Headphone, Aku dan beberapa batang rokok lights menthol kesukaanmu, Aku dan lagu, tanpa buku, Aku sedang malas membaca, juga malas menulis, Aku cuma mau mendengar Blues… Cuma Blues yang membuat dadaku kosong, seperti ada yang mewakili hilangnya Jazz dan tempatnya dalam kepalaku, yang -seperti kau tahu- tempat siapa itu.
Di dalam kamar, Aku dan Headphone, Aku dan sebatang rokok lights menthol kesukaanmu, Aku dan lagu, lagi-lagi tanpa buku –kau tahu mengapa- Cuma Aku dan Blues.. Melayang dalam nada dan tembangnya yang perih, seperti suara tangis yang merintih, dadaku masih kosong, begitu pula kepalaku, tak ada Jazz, dan tak ada –kau tahu siapa-.
Di dalam kamar, Aku dan Headphone, rokokku habis, Aku dan lagu, masih tanpa buku -tak perlu kusebut lagi mengapa- Cuma Blues, Aku menyatu dalam rintihannya, tak perlu waktu untuk itu, Aku memang telah merintih sejak mula, sejak lama, sejak Jazz itu hilang, sejak -kau tahu siapa- hilang, bayu yang bertiup lewat jendela kamarku yang terbuka setengah memberitahuku, “Ia pergi ke Utara, tidak terbang bersamaku, ia jalan kaki, sepertinya ia kehilangan sayapnya” ucap bayu sepintas lalu. Ia jalan kaki? Ke utara? Tanpa sayap? Pertanyaan-pertanyaan ini menggangguku sesaat, lalu Aku kembali pada Blues, kembali merintih.
Di pintu kamar, hanya Aku dan Headphone, tanpa semuanya, Cuma Blues yang setia merintih, Aku mau keluar kamar, tak peduli buku, tak peduli bayu, tak peduli sayap di punggungku, tak peduli Jazz, tak peduli –kau tahu siapa-, Aku tak punya rokok, sudah 2 jam Aku tak berasap, Aku mau rokok kretek, rokok lights menthol kesukaanmu buatku mandul, Aku terbang ke warung dengan sayap di punggungku.
Depok, Jum’at dini hari
dua puluh februari
dua ribu sembilan
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Ode ½ Blues




































