<< Cerpen Gadis sakura 1  >>

Gadis sakura 1

E-mail Cetak PDF

 
GADIS SAKURA I
Oleh_yudha SR.


Malam telah datang ketika itu, langit yang bergemuruh dan tetesan air hujan menambah pekat suasana. Terminal tanah lapang terlihat begitu riuh, teriakan kondektur dan pedagang jajanan malam terlihat slowmotion bagiku, semuanya mengharapkan nafkah yang berlebih di langit yang muram ini.

Tetapi angkot menuju koskosan ku sama sekali tidak terlihat, seketika aku mengutuki diri yang tidak tahu waktu saat mengobrakabrik kumpulan bukubuku bekas tadi, ditambah lagi hasilnya yang nihil. Karena kumpulan karyakarya Khairil anwar yang terangkum dalam sebuah buku “AKU” sama sekali tidak terlihat, meskipun sang pedagang bersikeras kalau buku legendaris itu ada di dalam tumpukan buku-bukunya yang terlihat usang-usang.

Entah mengapa belakangan ini aku sungguh berminat pada susunan-susunan kata yang berprosa itu, maknanya yang tidak secara gamang tersirat mempunyai arti dan keasyikan tersendiri bagiku. Bukan hanya puisi sebenarnya, tetapi karya-karya sastra lain juga menggelitik keingintahuanku dan mungkin ini akan menjadi minatku yang baru meski pun aku sama sekali tidak berbakat. Sangking sebegitu minatnya aku sampai meng-add anak-anak FLP “Forum Lingkar Pena “untuk jadi soibku di salah satu situs pertemanan, yang dengan sendirinya aku jadi berada di tengah-tengah mereka dan bisa mengintip karya-karyanya secara gratis.

Dari kejauhan kulihat angkot hijaulumut dengan nomor 77, “ah itu dia yang kutunggu tunggu”. Tangan ku melambail-ambai sambil melangkah ke badan jalan , tapi tampaknya sang supir tidak mengurangi laju kendaraannya. Sudah penuh ternyata.
Begitu juga dengan angkot-angkot berikutnya yang ku stop, sementara malam semakin larut, jam di HP bututku sudah menunjukan pukul 21.15, sudah larut memang. Dengan keadaan seperti ini aku putuskan untuk untuk menaiki angkot jurusan lain yang pasti akan memakan waktu yang lebih lama , karena angkot ini akan mengelilingi kota terlebih dahulu, meski pun perjalanan yang membosankan tapi setidaknya lebih baik dari pada harus bermalam di emperan toko kelontong ini.

Melihat kelakuan sang supir, aku bisa memastikan kalau perjalanan ini pasti akan jauh lebih membosankan. Bayangin aja, angkotnya yang masih kilat itu tidak lebih cepat dari becak dayung yang dikayuh kakek tua ringkih, dan lebih parah lagi ia akan mengerem 10 meter lebih cepat, artinya kalau ada jejalanan yang berlobang atau kendaraan lain di depannya maka dari jarak 10 meter ia sudah mempaku kendaraan. Entah karena baru belajar atau terlalu takut jika butirbutir debu malam menggores angkotnya, tapi yang jelas kelakuan sang supir adalah kelakuan minoritas supir angkot Medan kebanyakan.

Sampai-sampai seorang ibu nyindir dengan logat khas bataknya “ kau pijak lah sikit pedal gas itu”.
dengan gentel man sang sopir berdalih “ ini trip terakhir buk…., kasihan nanti kalau ada penumpang yang ketinggalan.

“ ah sejak kapan kau peduli akan penumpangmu”, gumamku.





Dan tepat ketika dalihan sang supir berakhir suasana angkot berubah 180 derjat, ocehan inang-inang yang sengau itu berubah menjadi alunan so in love yang jadi soundtrack film korea legandaris “love in hardvard” itu, sedangkan bau sirihnya yang pekat lenyap digantikan harum putik-putik sakura. Dan nyatanya sang gadis yang duduk di hadapanku ini adalah kuntum sakura yang mekar di musim gugur. Benar-benar special.

“ah, apa ku bilang tadi kan masih ada penumpangnya”, sanggah sang supir sambil menganggu-anggukkan kepalanya, memamerkan giginya yang tonggos dan merasa bangga. Tapi setelah itu aku tak peduli lagi ocehan sang supir dan repetan penumpang lainnya yang benar-benar kesal karena angkot tetap berjalan lambat.

Karena perhatianku sudah tertuju kepada gadis timur bermata sendu yang duduk di hadapanku ini dan keturunan hawa ini benar-benar membuatku exited, biasanya aku tak ambil pusing dengan kebanyakan dari mereka tetapi di depan titisan kim tae hee ini, aku memberanikan diri untuk menyapanya sambil memberikan senyum terbaik yang ku punya.

Dari percakapan itu aku tahu kalau dia baru pulang intensive untuk SPMB tahun depan, “hari yang sibuk”, pikirku dan dari paparannya itu juga aku tau kalau dia berminat untuk menjelajahi bagian kedokteran. Cita-cita yang mulia. Entah mengapa, dari caranya berbicara, busana yang wajar, dan senyum yang tidak dilebih-lebihkan aku bisa menyimpulkan kalau perempuan ini benar-benar satu dari sedikit di antara mereka yang benar-benar mengamalkan lantunan surat al-‘asr, mereka berpacu dengan waktu dan berusaha untuk memaknai setiap detaknya.

Merasa lebih senior aku pun berlagak untuk memberikan arahan agar SPMB nya dapat dilalui dengan lebih mudah. Meskipun terlihat sedikit bodoh karena aku sendiri nyatanya tidak pernah merasakan euphoria akan kelulusan itu, dan harus terseok-seok mengikuti suasana di universitas swasta.

Sayangnya, setelah sekian panjang aku berkhotbah. Ia hanya senyum-senyum, mungkin ocehanku yang paspasan tidak mampu mengimbangi itelegensianya yang tinggi. Entah mengapa sekarang aku merasa angkot ini berjalan lebih cepat, dan menjadi menikmati kelakuan sang supir yang plamboyan itu. Yang pasti kekaguman akan seseorang dapat memfilterisasi kejadian tertentu untuk disikapi dengan kepala dingin, dan aku jelas-jelas menghianati diriku sendiri dan penumpang lain angkot ini.

Tepat di perempatan depan sang gadis memberhentikan angkot ini, sebelum turun ia memberikan senyum kecil kepada ku. Tidak banyak informasi yang ku peroleh dari gadis yang lebih suka tertunduk ini. Tidak nomor handphone, alamat rumah, bahkan namanya. Tampaknya aku benar-benar tidak punya keahlian untuk memaknai sebuah perkenalan. Dengan sebelah tangan yang menutupi ujung kepalanya ia turun menapaki angkot ini dan redup di pangkal gang itu dengan gerimis yang belum reda. Dan aku sendiri benar-benar kagum dengan gadis ini, waktu terasa seakan berhenti berputar dan dada ku sesak dipenuhi sebuah rasa, hingga hari di mana kumpulan ilmu-ilmu botani bersemayam di tengah orang-orang yang tidak pernah mengerti aksara dan menjadi saksi akan sebuah keajaiban.
 
G
Joomlart