Oleh: Jamaatun Rohmah
Hal yang membahagiakanku akhirnya hampir tiba. Minggu depan Alif akan membawaku ke rumah orang tuanya. Aku akan dikenalkan secara resmi kepada keluarganya. Setelah lebih dari setahun kami berpacaran, akhirnya saat ini akan tiba juga. Aku belum pernah ke rumah Alif sebelumnya. Aku hanya mendengar darinya jika ayahnya seorang dosen dan ibunya penulis. Alif mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah menikah dengan 2 anak dan seorang adik laki-laki yang masih SMA. Mereka semua tinggal di Surabaya. Surabaya, aku dulu pernah kuliah di sana.
Awal pertemuan kami
bukanlah hal yang menyenangkan. Tidak akan bisa disebut menyenangkan
kalau ketika kamu sedang berjalan pulang ke rumah ada yang menabrakmu
dari belakang dengan sepeda motornya, meskipun kecepatannya
sedang-sedang saja. Sudah bagus dia meminta maaf. Tapi tetap saja
perasaan jadi bete. Karena pada saat itu aku sedang mengenakan rok
berwarna putih yang langsung kotor begitu bersentuhan dengan body
kendaraan tersebut. Kami bertemu lagi selang beberapa hari kemudian
ketika aku memasuki pintu gerbang puskesmas tempat aku bekerja. Dia yang
pertama mengenaliku. Siang harinya aku baru tahu kalau ternyata dia
adalah dokter baru yang akan menggantikan Dokter Maria yang sudah purna
tugas.
Alif orangnya menyenangkan, rendah hati, humoris, dan supel.
Usianya 29 pada saat itu, 4 tahun lebih tua dariku. Dengan cepat dia
bisa akrab dengan pegawai di puskesmas yang lain. Bahkan para pasien pun
senang padanya. Ketika menabrakku dulu itu karena dia memang belum
terbiasa mengendarai motor sehingga kikuk. Dan dia akan bertugas selama 2
tahun di puskesmas ini.
***
“Sudah siap?” Alif tersenyum
ketika dia datang menjemputku. Aku sudah menunggunya dari 15 menit yang
lalu. Setelah berpamitan dengan orangtuaku kami berangkat. Kami harus
berjalan sekitar 1 km karena mobilnya tidak bisa masuk jadi harus
diparkir di gerbang desa. Sepanjang perjalanan aku menyiapkan
kalimat-kalimat yang mungkin harus aku ucapkan pada keluarga Alif.
Apakah mereka menerimaku? Aku hanya pegawai yang tidak penting di
puskesmas terpencil. Beberapa kali aku memandangi Alif yang membawa
mobil dengan ketenangan yang luar biasa membuatku kagum. Siapa sangka di
daerah terpencil pun bisa menemukan laki-laki seperti itu. Hm.. sungguh
aku masih belum bisa mempercayai ini.
Kami tiba 2 jam kemudian.
Rumahnya bagus, kira-kira 4 kali luasnya dibanding rumahku. Memiliki
taman bunga di sisi kanan halaman. Dan banyak tanaman anggrek aneka
jenis di situ. Kata Alif, yang hobi menanam bunga anggrek adalah
ayahnya, bukan ibunya. Ibunya lebih suka memelihara ikan koi.
Aku
membiarkan Alif menggandeng tanganku ketika kami memasuki rumah. Ini
hari Minggu dan kedua orangtuanya berada di rumah. Ayah Alif berusia
sekitar 60 sedangkan ibunya lebih muda beberapa tahun. Mereka
menyambutku dengan baik.
“Alif sering membicarakanmu, ternyata baru
hari ini bisa bertemu.” Kata ibunya padaku.
“Mas Alif juga sering
bercerita tentang Anda berdua. Saya tahu kalian pasti orang-orang yang
hebat.”
“Ah, dia itu terlalu melebih-lebihkan. Kami juga seperti
orang tua yang lain, hanya menginginkan anak kami bahagia, bukan begitu,
Yah?”
Kami melalui beberapa belas menit yang menyenangkan. Mereka
pribadi-pribadi yang hangat. Aku merasa sangat diterima di sini. Bencana
itu dimulai ketika pintu terbuka dari luar dan seorang anak kecil masuk
sambil berlari-lari menuju ke ibu Alif. Gadis itu berusia sekitar 9
tahun. Berambut keriting dan pipinya tembem.
“Eyaaang…” Dia langsung
bergelayut manja pada neneknya.
“Papa dan mama di mana?”
“Masih
di mobil. Katanya hari ini Oom Alif mau membawakan tante untukku, ya?”
Wanita
itu mengangguk sambil mengalihkan pandangannya padaku. “Itu Tante Novi,
calon istrinya Oom Alif. Ayo beri salam dulu.”
Gadis itu mendekatiku
dan menyalamiku. “Selamat pagi, Tante,”
Aku baru selesai berkenalan
dengan Tita ketika kemudian aku mendengar langkah-langkah orang memasuki
ruangan. Orangtuanya Tita. Seorang wanita umur 30an awal, dia sedang
menggandeng bocah laki-laki berumur 4 tahunan dan seorang pria yang… aku
merasa pernah melihatnya. Entah di mana. Awalnya dia hanya memandangku
sekilas tapi kemudian terlihat kaget. Dan aku mengenalinya. Laki-laki
itu Hendra.
Tuhan, Kota Surabaya sangat luas. Kenapa aku harus
bertemu dengan dia di sini? Kenapa harus hari ini? Ini seharusnya
menjadi hari yang paling membahagiakanku. Tapi justru pada hari ini aku
seperti dibawa kembali ke masa laluku.
***
Hendra adalah
alasanku meninggalkan kota Surabaya dan memilih kehidupan tenang di
desa. Kami bertemu ketika aku masih kuliah dan bekerja part time menjadi
SPG untuk pameran sebuah produk di mall. Dia bekerja di perusahaan
tersebut. Waktu itu aku masih sangat muda. Melihat seorang pria yang
sudah mapan, apalagi sangat tampan, siapa yang sanggup menolaknya? Kami
berpacaran selama beberapa bulan sebelum akhirnya aku tahu kalau dia
sudah menikah. Aku tidak sengaja melihatnya sedang bersama perempuan
lain dengan perut besar. Dan dengan entengnya dia mengatakan itu
istrinya. Aku marah, hancur dan sangat kecewa. Bagaimana mungkin aku
dengan mudahnya bisa dibohongi oleh laki-laki itu. Dia meminta maaf dan
mengatakan masih mencintaiku. Tapi apa gunanya ucapan dan janji-janji
itu kalau kenyataannya dia adalah milik orang lain? Akhirnya aku kembali
ke rumah orang tuaku di desa. Pengalaman bersama Hendra sungguh
membuatku trauma. Kepada orangtuaku aku katakan kalau aku dipecat oleh
atasanku. Aku sempat cuti kuliah selama 1 semester dan baru melanjutkan
lagi semester berikutnya. Akhirnya dengan ijazah sarjana ekonomi aku
rela hanya menjadi pegawai administrasi di puskesmas terpencil ini.
Suasana
yang tadinya akrab mendadak membuatku jadi kaku. Aku tahu Hendra juga
kaget. Dia pasti tidak menyangka akan bertemu aku lagi di sini. Sebagai
calon istri untuk iparnya. Sementara yang lainnya aku yakin tidak
menyadari hal itu. Aku merasakan tanganku begitu dingin. Bahkan kata
Alif wajahku pucat hingga semua yang ada di ruangan itu mengira aku
sakit. Ibu menyuruh Alif membawaku beristirahat di kamarnya tapi aku
menolak dan lebih memilih pamit pulang. Aku juga menolak diantarkan.
Alif tidak layak mendapatkan semua ini. Dia terlalu baik untuk
mengetahui kenyataan siapa diriku.
“Kamu kenapa? Apakah keluargaku
bersikap tidak menyenangkan padamu?”
Aku menggeleng.
“Sama sekali
tidak. Kamu lihat sendiri betapa baiknya mereka tadi menyambutku. Aku
hanya harus cepat kembali sebelum malam tiba.
” Aku tertawa sinis dalam
hatiku. Benar-benar kebohongan yang tidak masuk akal. Hanya anak kecil
yang percaya dengan kebohongan semacam itu. Aku tahu Alif tidak percaya
tapi dia tetap menghormati keinginanku untuk pulang sendiri. Dia hanya
mengantarkanku hingga ke terminal bis terdekat.
Sepanjang perjalanan
pulang aku tidak berhenti menyalahkan diriku sendiri. Tuhan, betapa
bodohnya aku. Aku sudah pernah bersumpah dalam hati tidak akan jatuh
cinta lagi setelah putus dengan Hendra. Aku sudah berhasil melakukannya
selama bertahun-tahun. Tapi setelah bertemu Alif, kenapa aku melupakan
sumpah itu? Kenapa, sehingga aku mendapat hukuman segini berat?
Mencintai Alif yang ternyata ipar dari laki-laki yang telah membawa
pergi seluruh masa depanku tanpa sisa?
“Hallo…” Aku mengangkat hpku
dengan malas.
“Novi?”
“Ya. Ini siapa?”
“Hendra. Kamu ke mana
saja, aku mencarimu selama ini?”
“Untuk apa kamu mencariku lagi?
Tidak cukup kamu menghancurkan hidupku beberapa tahun yang lalu?”
“Aku
minta maaf soal itu. Tapi setidaknya kamu mempercayai ucapanku. Aku
masih mencintaimu seperti dulu.”
“Kamu tidak malu mengatakan itu?
Alif salah apa padamu? Teganya kamu mengatakan itu padahal kamu tahu aku
akan menjadi istrinya. Aku juga akan menjadi iparmu!”
“Ini masalah
perasaan, Vi. Tidak ada hubungannya dengan hubungan persaudaraan kami.
Atau status perkawinanku. Kamu tidak bisa memaksaku untuk menghilangkan
perasaan ini.”
Mudahnya dia mengatakan itu. Lalu apa arti
perkawinannya? Kalau dengan wanita yang dia nikahi secara sah dan
memberinya anak 2 saja dia bisa mengkhianatinya begitu mudah, lalu apa
artinya diriku?
Aku memutuskan sambungan telfon secara sepihak dan
langsung mengeluarkan kartunya. Aku membuangnya jauh-jauh dan berharap
itu bisa memutuskan hubunganku dengan masa lalu. Andai saja bisa semudah
itu.
Sejak kejadian hari itu aku memilih berhenti dari pekerjaanku
di puskesmas. Aku tidak sanggup untuk bertemu Alif. Untuk sementara aku
tinggal di rumah Bu Dhe di Lumajang karena aku yakin Alif akan mencariku
di rumah. Kepada orangtuaku aku sudah berpesan agar merahasiakan
kepergianku darinya. Beberapa kali bapak menelfonku dan mengatakan kalau
Alif mencariku ke rumah. Dia kelihatan sangat menderita, kata bapak.
Aku juga sakit tapi rasanya begini lebih baik. Aku tidak berhak
mendapatkan cinta tulus dari laki-laki yang baik seperti Alif setelah
apa yang pernah aku lakukan di masa lalu dengan iparnya.
***
“Kamu
jadi pulang besok?” Tanya Bu Dhe Anis ketika melihatku sedang mengepak
pakaian ke dalam travel bag.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Sudah
hampir 7 bulan, Bu Dhe. Aku kangen bapak dan ibu. Lagipula Mas Alif juga
pasti sudah melupakan aku.”
Bu Dhe lalu duduk di tepi ranjang dan
membantuku melipati baju untuk dimasukkan ke dalam tas. “Kamu mestinya
tidak boleh seperti ini. Lari dari kenyataan. Mau sampai kapan?”
Aku
tidak menjawab. “Kalau kamu menjadi Alif. Dibiarkan sendiri dalam
kebingungan tanpa tahu alasannya, apakah kamu tidak akan menjadi gila?”
Aku
tahu Bu Dhe benar. Tapi aku tidak sanggup melakukannya. Biarlah aku
disebut pengecut seumur hidupku oleh satu-satunya laki-laki yang aku
cintai saat ini.
“Entahlah, Bu Dhe. Aku sendiri juga bingung
bagaimana harus mengatakannya jadi aku memutuskan untuk meninggalkan
dia.”
“Tapi kamu mencintai dia, kan?”
Aku mengangguk dan tanpa aku
sadari ternyata aku menangis. Bu Dhe bangkit dan memelukku.
“Semua
orang punya masa lalu, Nak. Kalau kamu mau berterus terang pada Alif aku
yakin dia bisa menerima dan memaafkanmu.”
Malam sebelum aku pulang
Bu Dhe kembali memberiku wejangan dan meyakinkan aku agar menemui Alif
dan menceritakan alasan kenapa aku meninggalkan dirinya selama beberapa
bulan ini. Dan, semangatnya membuatku yakin aku akan sanggup
melakukannya. Hingga akhirnya aku berada dalam keputusan bulat. Aku akan
menemuinya besok. Aku akan ke Surabaya dulu sebelum pulang. Dan malam
itu juga aku memutuskan untuk menelpon Alif meskipun aku yakin dia pasti
sudah tidur.
Nomor telfon yang aku hubungi dari tadi hanya berisi
nada sambung lagunya entah siapa, aku tidak pernah menelfon Alif
sebelumnya dan aku baru tahu kalau ternyata dia menyukai lagu yang
bahasanya saja aku tidak tahu. Yang jelas bukan bahasa Inggris atau
Indonesia. Dan terdengar seperti lagu di film kartun anak-anak.
“Hallo.”
Aku
gugup dan langsung memutuskan sambungan telepon. Yang mengangkat bukan
Alif tapi orang lain dan dia perempuan. Saat ini hampir jam 3 pagi dan
yang menerima telfonku perempuan. Apakah Alif sudah menikah? Kalaupun
benar itu wajar saja. Alif seorang laki-laki dewasa, memiliki pekerjaan
mapan, baik, menyenangkan, pintar, supel, dan juga tampan. Hanya
perempuan bodoh seperti aku yang tidak menginginkan dia. Aku meletakkan
hpku kembali ke dalam tas. Mestinya aku senang kalau Alif sudah menikah.
Ini akan jauh lebih mudah daripada yang aku perkirakan. Aku tidak perlu
lagi memberikan penjelasan apa-apa padanya dan menghilang seumur hidup.
Dan aku juga sekali lagi akan melupakannya. Untuk seumur hidupku. Maka
akupun memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di Samarinda. Adikku
yang mendapatkan tawaran itu dari temannya.
***
Beberapa
bulan kemudian...
Menghilangkan kepenatan setelah kerja dengan
berjalan-jalan adalah hal yang sangat menyenangkan. Tidak hanya aku, di
sini juga banyak orang yang melakukan hal yang sama. Aku sudah mulai
terbiasa dengan kehidupan di kota ini. Aku bukan satu-satunya orang Jawa
di sini. Aku pernah dibuat kaget ketika melihat sekelompok orang yang
berbicara dengan bahasa Jawa atau logat Madura. Begitu juga melihat
penjual Soto Ayam Lamongan, Pecel Madiun, Bakso Malang, sate Madura,
gudeg Jogja dan lain-lain. Bahkan temanku juga ada yang pernah menemukan
kembali teman SD-nya yang sudah terpisah hampir 20 tahun di sini. What a
small world!
Pandanganku seketika terpaku pada seseorang yang
berdiri hanya beberapa meter dariku. Dia tidak sendirian tapi bersama
beberapa orang lain, 3 perempuan dan dan 2 lagi laki-laki. Dia juga
tengah memandangku. Dia terpaku di antara teman-temannya yang masih
tertawa satu sama lain, entah apa yang mereka bicarakan tadi. Aku tidak
bisa menghindar lagi. Ternyata di sinilah kami bertemu, dan hari ini,
ketika matahari hampir tenggelam di kota Samarinda. Aku sudah siap
menerima kenyataan terburuk dalam hidupku. Toh, aku sudah tahu kalau
Alif sudah menikah dan aku sendiri tidak ingin terlibat dengan hubungan
cinta dengan laki-laki mana pun. Hatiku sudah mati untuk itu. Mengenal
Alif dan Hendra sudah cukup memberiku pelajaran berharga seumur hidup.
“Novi...”
Kami
sedang duduk berhadapan di sebuah rumah makan apung yang menjual ikan
bakar yang langsung diambil dari sungai kolam di sekelilingnya. Tadi
Alif meminta izin pada teman-temannya untuk berbicara sebentar denganku.
“Aku
senang bertemu denganmu lagi di sini.”
“Aku juga.”
Dia tidak
banyak berubah. Sudah lebih dari setahun sejak peristiwa menyakitkan
itu. Dia masih tetap memiliki lesung pipit yang membuatnya begitu
memikat ketika sedang tersenyum. Dan hatiku ternyata masih berdebar
ketika berada di dekatnya seperti ini. Aku kira aku sudah kehilangan
perasaan itu setelah jauh darinya sekian lama.
“Kamu berhutang
penjelasan padaku,”
”I know,”
Aku menceritakan yang sebenarnya
kepadanya, semuanya. Dan aku sudah tidak peduli lagi bagaimana
reaksinya. Tidak akan ada bedanya. Dia sudah menikah kini. Dia bisa
memaafkanku atau tidak, hal itu tidak akan mempengaruhi hubungan kami,
meskipun tidak bisa kuingkari kalau aku ternyata masih mencintainya.
Jauh di dalam hatiku aku masih berharap padanya. Setelah makan kami
melanjutkan ngobrol sambil berjalan di sepanjang jalan yang mulai
diterangi lampu-lampu. Di atas langit sedang cerah dengan bulan yang
bersinar penuh. Aku merapatkan tanganku ke jaket karena udara lumayan
dingin.
“Kenapa tidak berterus terang sejak dulu? Aku juga pernah
mendengar kalau Mas Hendra selingkuh dengan seorang mahasiswi. Aku tidak
tahu kalau itu kamu.”
”Aku minta maaf, aku benar-benar malu padamu
dan keluargamu,”
”Kamu tidak sepenuhnya salah, Mas Hendra memang
brengsek, aku rasa kamu hanya korban.”
”Aku memang tidak tahu kalau
dia sudah menikah,”
”Begitu juga gadis-gadis muda lainnya yang telah
dia bohongi. Mestinya saat itu kamu jujur saja pada kami,”
”Itu tidak
mudah,”
”Ya, aku tahu. Sudahlah, sekarang pun dia sudah kena
getahnya, Kakakku sudah bercerai dengannya dan dia diberhentikan oleh
perusahaannya karena dia mengencani putri bos-nya,”
Aku tertawa
sumir. Hendra mendapat hukumannya, begitu juga aku.
“Semua ini ada
hikmahnya, ’kan? Yang aku lakukan sudah benar. Andai saat itu aku tidak
pergi, selain akan mengungkit luka lama, kamu juga tidak akan bisa
menemukan perempuan lain yang baik untuk kamu nikahi.”
Alif tidak
merespon. Aku mengulurkan tanganku. “Oh, ya. Aku belum mengucapkan
selamat.”
Alif menerima uluran tanganku.
“Selamat? Apa hari ini
aku berulang tahun?”
“Tentu saja tidak. Hari ulang tahunmu ‘kan 12
Maret. Selamat untuk pernikahanmu. Aku sudah pernah ngobrol dengan
istrimu, loh.”
“Istriku? Kapan aku menikah?”
Aku spontan
melepaskan tanganku darinya. “Kamu nggak usah pura-pura kenapa, sih?”
“Pura-pura
tentang apa dan untuk apa?”
“Sebelum pulang ke rumah aku memutuskan
untuk menelfonmu. Aku ingin bertemu denganmu dan menceritakan semuanya.
Saat itu hampir jam 3 dan seorang perempuan menjawab telfonku.
“Kapan
kamu menelfonku?”
“4 bulan lalu, sebelum akhirnya aku memutuskan
untuk merantau ke sini dan melupakan semuanya.”
“Aku sudah berganti
nomor hp sejak berada di sini, itu 6 bulan lalu. Yang kamu kira istriku
itu pasti Astri, sepupuku. Aku memang memberikan hpku yang lama padanya
beserta nomornya juga.”
“Oh…”
“Memangnya apa yang dia katakan
sampai kamu mengira dia istriku? Astri itu lulus SMA saja belum.”
“Ehm…”
Tiba-tiba aku menggaruk kepalaku meskipun tidak gatal. “Se…benarnya aku
tidak sempat bicara apa-apa. Begitu mendengar suaranya aku langsung
menutup telfon. Aku sungguh mengira kamu sudah menikah.”
Aku jadi
faham kenapa waktu itu aku mendengar nada tunggunya seperti lagu yang
ada di film anak-anak. Ternyata pemiliknya memang masih anak-anak.
“Novi,
kenapa kamu suka mengambil kesimpulan bodoh seperti itu? Pertama kamu
mengira aku tidak akan memaafkanmu kalau aku tahu masa lalumu dengan Mas
Hendra, dan kedua kamu mengira aku sudah menikah. Tidak bisakah kamu
membicarakannya denganku sebelum berprasangka yang tidak-tidak tentang
aku? Aku lebih mengenal diriku daripada kamu. ”
“Maaf…”
“Setiap
orang berhak memiliki masa lalu. Baik atau buruk, orang lain tidak
berhak menghakimi. Aku juga tidak mau dihakimi orang hanya karena mereka
tidak menyukai masa laluku,”
Dia masih seperti dahulu, terlihat
tenang meskipun dalam situasi tidak menyenangkan seperti sekarang. Aku
mencuri lihat ke arahnya yang sedang menatap lurus ke jalan di depannya.
Tuhan… apa yang telah aku sia-siakan selama ini? Seseorang yang begitu
istimewa. Aku hanya sanggup memaki diriku dalam hati.
“Dan kita
tidak akan bisa merubahnya,”
“Ya, mas. Maafkan aku…”
“Kamu tahu
tidak, hanya karena kesimpulanmu yang bodoh itu kita telah terpisah dan
menderita begini lama?”
Aku menunduk, merasa sangat malu dan tidak
tahu harus mengatakan apa lagi. Alif menceritakan alasannya pindah ke
Samarinda selain karena tugas juga karena dia ingin melupakan aku.
Betapa bodohnya kami, sama-sama pergi jauh dari rumah agar bisa saling
melupakan namun akhirnya justru bertemu lagi di tempat yang kami kira
jauh itu. Tapi aku tidak menyesalinya. Setidaknya jeda waktu setahun
bisa menjernihkan pikiran kami. Aku rasa Alif juga tidak menyesalinya.
Dan kali ini sudah benar-benar yakin ketika dia mengatakan akan
membawaku kembali ke orangtuanya pada liburan Idul Fitri mendatang.
Butuh waktu setahun untuk membuatku merasa seyakin dan sebahagia ini.
Kami berjalan bergandengan sambil menatap purnama yang menyinari kota
Samarinda, dan hati kami berdua. (End)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
SEKALI LAGI MELUPAKANMU







































