<< Cerpen Rapshody  >>

Rapshody

E-mail Cetak PDF

Rhapsody

By Tyara Nurani
 

 

            ‘Kreek’, ku buka pintu gudang. Seraya terbatuk-batuk, ku tetap memasuki gudang ini. Gudang  tua yang telah  lama tak ku kunjungi. Mataku tertuju pada sebuah kotak usang berwarna kecoklatan. Kotak ini dulunya berwarna putih, mungkin seiring berjalannya waktu, warnanya berubah. Perlahan ku buka kotak itu. Ku ambil isinya. Ku bersihkan dan ku pandangi.

          Sepatu ini, sepatu lusuhku dengan warna merah  kumal dasarnya, sepatu yang begitu istimewa. Karena sepatu ini ada sebuah harta berharga  yang membuatku terpana. Terkenang masa lalu kita. Masa indah penuh tawa ceria. Gambar sepasang anak dengan sebentuk hati di antaranya  yang dulu kau lukis untukku sebagai tanda persahabatan kita.

          Aku ingat sepatu ini adalah hadiah terakhir darimu di hari ulang tahunku. Sungguh berbeda dari sekian banyak hadiah yang ku terima. Seperti arti dirimu, hadiahmu pun begitu berharga bagiku.

          Tapi, akankah kau mengingat aku di sini?! Sepuluh tahun sudah kau pergi meninggalkanku tanpa pernah ada kabar darimu. Kau pergi bagai hilang ditelan bumi. Kau tak tahu betapa aku selalu kehilanganmu, betapa aku selalu menangis untukmu, betapa aku inginkan hadirmu seperti masa kecil kita dulu.

          Kau dan semua kenanganmu masih abadi di hatiku. Ku hela napas perlahan, mencoba menghalau rasa yang menyesakkan ini. Ku tinggalkan gudang, bersama sepatu lusuhku ini, ku susuri jejak-jejak masa indah kita.

***

          Ku ayun-yaunkan kakiku sambil duduk manis di rumah pohon kita. Dulu, kita biasa melepas penat seharian sekolah dengan bermain di sini. Kita bernyanyi bersama dan kau mainkan pianika sebagai musiknya.

          Dan aku pun pandangi langit yang mulai keemasan. Matahari sebentar lagi akan terlelap dan membangunkan sang rembulan untuk menggatikannya. Entah sudah berapa kali aku menatap sunset  di sini, tanpa hadirmu. Dan ku tak tahu sudah berapa banyak air mata yang membasahi pipiku dalam menemani hatiku yang masih menanti hadirmu.

          Hari ini, tepat tanggal 25 Maret. Sepuluh tahun sudah kau tak mengabariku, sejak kau tinggalkan aku tepat di hari jadimu. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunmu, seharusnya aku pun mengucapkan doa kebahagiaan di hari kelahiranmu ini.

          “Hm…Sunset yang indah ya?!” Satu suara menghenyakkanku. Aku terperangah, kamukah dia?!

          “Sudah lama ya kita tak melihat sunset bersama lagi?! Apa kabar, Khira?!” Lelaki itu tersenyum. Senyuman yang tak asing bagiku, tapi aku tak ingin menyimpulkan akankah lelaki itu adalah kamu.

          Aku pun turun dan mengamati seksama siapa lelaki ini. Benarkah dia adalah kau yang menghilang sepuluh tahun lalu.

          “Kenapa kau ragu begitu, Fakhira?! Ini Aku,Agha sahabatmu!”

          “Agha?! Benarkah kau Agha?!” Sungguh, aku tak ingin percaya!

Lelaki itu pun tersenyum seraya mengangguk meyakinkanku.

          “Iya, ini aku. Aku pulang untukmu.”

          “Kenapa kau pulang untukku?! Sedangkan sepuluh tahun lalu kau pergi tanpa peduli padaku, kau pergi dan tak pernah memberitahuku dimana dan kemana kau pergi!” Buliran bening itu kembali mengalir deras di pelupuk mataku. Sungguh rasa ini tak bisa ku definisikan. Akankah ini senang, bahagia, marah ataukah rindu, aku tak tahu.

          “Maafkan aku, Khira. Saat itu aku tak punya waktu untuk menemuimu karena kepergianku dimajukan seminggu lebih cepat. Sungguh, aku menyesal! Maukah kau memaafkanku?!”

          Aku menggeleng. Masih tak mampu menerimanya.” Kau tak tahu, betapa terlukanya aku saat kau pergi, betapa sedihnya kau tinggalkan aku. Bahkan kau pun tak pernah tahu aku selalu menantimu selama ini…Aku…aku…aku kehilanganmu, Agha!”

          Kau menunduk. “ Maafkan aku, Khira. Sungguh, aku pun juga kehilanganmu! Aku juga terluka meninggalkanmu tanpa pamit, aku juga \berharap cepat kembali pulang dan bertemu denganmu. Aku ingin kita seperti dulu, bermain, bernyanyi, bercanda bersama-sama. Tapi apalah dayaku, aku tak mampu melawan waktu hingga akhirnya aku bisa pulang hari ini. Mengertilah.” Ucapmu mengiba.

          Kuhapus air mataku, berusaha tersenyum. “ Aku mengerti. Aku sudah memaafkanmu.” Kau tersenyum cerah. Ku tatap sepatu lusuh di genggamanku.

          “Ini…”

          “Sepatu itu?! Kau masih menyimpannya?! “ Kau tertawa senang.” Itu hadiah saat ultahmu kesepuluh kan?!” Aku mengangguk.

          Langit yang beralih malam menjadi saksi kebahagiaan kita. Penantianku sepuluh tahun akhirnya berbuah bahagia. Kita pun kembali menelusuri jejak masa kecil yang indah dan penuh warna. Meski kini kita berada di dimensi yang berbeda, setidaknya untuk malam ini, kita kembali menjadi kanak-kanak.   

          Rembulan dan bintang-bintang tersenyum menatap kita. Seolah mengerti kebahagiaan yang kita pancarkan di wajah kita. Rhapsody menjadi jalan kita, jalan yang mengantarkanmu pulang dan menjadikanku bertahan menantimu.Dan sepatu lusuh inilah bukti kisah kita, senandung indah masa lalu dalam dimensi berbeda.

           

 

25 March , 2010

Joomlart