By Tyara Nurani
“Kenapa kamu kasih undangan ini ke aku?!” Lelaki itu menatap tajam ke arahnya. Tersirat semburat luka terpancar di mata itu.
Almira menghela napas masygul. Ia tersenyum miris. “ Aku hanya ingin ucapin terima kasih doang kok sama kamu! Makanya aku spesial ngasihin undangan ini langsung ke kamu.” Angin bertiup sepoi-sepoi mengibarkan ujung kerudungnya. Lapangan basket SD Melati menjadi saksi pertemuan keduanya.
Mars, lelaki pemilik mata elang itu terduduk di tepian lapangan. Ia pandangi langit yang mulai keemasan, suasana sore nan indah, begitu kontras dengan hatinya.
“Buat apa kamu kembali ke sini kalau cuma ingin membalas dendam masa lalu kita?!”
“Memangnya kamu ingat apa dengan masa lalu kita?! Aku rasa kamu amnesia dengan semua itu!!” Mars tertunduk, ia gigit bibirnya agar tak mengucapkan kata kekalahan.
“Ya. Seharusnya aku amnesia dengan semua itu! Tapi kedatangan kamu mengusik ketenanganku!” Almira tertawa sumbang.
“Aku tahu kok, kehadiranku selalu mengusik ketenanganmu! Bahkan sejak kita sekelas dulu!” Ia menghela napas. “ Ku harap kamu datang, hanya untuk menjadi saksi kebahagiaanku. Itu saja!” Lalu gadis yang saat itu mengenakan kerudung berwarna peach itu berlalu meninggalkan Mars.
Mars terdiam menatap nanar kartu undangan berwarna merah muda itu. Kartu yang cantik, secantik pembawanya. Almira kini telah mejadi bidadari yang begitu mempesona, persis seperti imajinasinya.
***
Ia mengurung diri seharian di kamar setelah pertemuan itu. Hatinya begitu teriris menatap undangan itu. Seperti dugaanya, Almira datang membawa kabar yang tak ingin ia dapatkan. Namun apa dikata, semua ketakutan itu menjelma nyata di hidupnya.
Kini ia hanya mampu menyesali diri. Seandainya tujuh tahun lalu ia tak melukai perasaan Almira, seandainya saat itu ia jujur pada diri sendiri dan gadis itu, seandainya keangkuhan itu luruh di hatinya, seandainya…seandainya… Ia menangis dalam diam. Sungguh naïf bagi seorang lelaki yang selalu tegar dalam hidupnya menitikkan buliran bening kekalahan itu.Namun hatinya tak mampu mengelak rasa sedih yang menyesakkan. Ia akhirnya mengakui kesalahannya. Ia kalah, kalah pada sesuatu yang tak berwujud namun nyata bernama cinta. Keangkuhan itu runtuh di jiwanya yang rapuh.
Ia ingat kehadiran sosok Almira yang dulu selalu menjadi sorotan satu angkatan karena ke-super cuek-annya dan juga malas mengerjakan PR sekolah. Seorang trouble maker yang tomboy tetapi supel dan ceria itu mengusik ketenangannya di kelas V a, kelas yang seharusnya tak pantas dimasuki oleh seorang Almira. Entah mengapa sebabnya, kelas terelite di SD Melati itu menerima seorang murid yang notabenenya memliki kemampuan pas-pasan dan pemalas luar biasa.
Terlebih pada hari selasa, hari yang ia ingat dan abadikan menjadi hari tersial di hidupnya. Saat itu ia lupa bahwa ada PR pelajaran IPA, dan otomatislah ia menjadi pajangan kelas, sebagai hukuman atas kelalaiannya. Dan secara kebetulan, si malas Almira pun maju menjadi pajangan kelas. Ia berharap-harap cemas, semoga saja ada lagi yang tidak mengerjakan PR. Namun sungguh malang, ternyata hanya mereka berdua yang menjadi pajangan kelas hari itu.
Pak wali kelas
tersenyum jahil, alih-alih sang guru iseng mengerjai keduanya dengan berdiri di
depan papan tulis dengan jarak sepetak ubin lantai. Kemudian beliau menggunting
sebuah kertas dan menempelkan kertas itu yang kini berbentuk ‘love’ di papan tulis. Lalu menggodai
mereka hingga membuat riuh kelas dengan candaan dan ledekan pada keduanya.
Wajah Mars bersemu merah menahan kesal dan dongkol luar biasa.
Sial banget sih hari ini?! Disetrap bareng trouble maker! Ia
mendengus sebal.
Dan sejak kejadian itu ia jadi berhati-hati dan mengantisipasi diri untuk tidak terjerumus dalam kesialan hari itu. Mars menjadi sering bertanya pada Almira perihal PR, alih-alih menghindari kejadian itu, mereka malah menjadi dekat. Dan resmilah mereka bersahabat sampai mejelang kenaikan kelas.
Masalah lain timbul ketika mereka akan lulus sekolah, saat itu ia, Almira dan sahabat-sahabat mereka sedang asyik mengobrol di lapangan basket. Tiba-tiba seorang teman mengantarkan surat untuknya. Surat yang tertuju untuknya akhirnya ia baca, dan betapa terkejutnya ia, ternyata surat itu surat ‘tembak’ untuknya dari Almira. Seketika, terpancarlah bias api kemarahan di mata elangnya.
“Parah lo ya Mir, gak punya otak apa lo?! Berani-beraninya ‘nembak’ gue! Ngaca dong! Pantes gak ?! Dasar trouble maker!” Almira tersentak mendengar bentakan itu. Tesirat ketidakmengertian di raut wajahnya. Dan sahabat-sahabat mereka terbengong-bengong melihat kejadian itu.
Dan seterusnya persahabatan itu pun hancur terhempas gelombang tanpa pernah sempat memberikan kesempatan baginya untuk mengucapkan satu kata. Kata ajaib yang mampu mengembalikan keceriaan dan tawa riang persahabatan mereka.
Bahkan saat Almira datang di acara reuni pada tiga tahunnya mereka mejadi alumni, ia tak mampu berucap sepatah kata pun menatap kedatangan Almira yang begitu berbeda, Almira si trouble maker telah berevolusi menjadi perempuan anggun dalam balutan busana muslimahnya.
Dan Almira yang menjelma dewasa pun mejadi semakin mengagumkan dari Almira saat SMP. Ia begitu menyesal tak mampu meruntuhkan benteng keangkuhannya sampai akhirnya ia menggenggam kartu merah muda itu. Kini ia hanya mampu menyesali diri dan berharap mampu mengucapkan satu kata itu di hari pernikahan Almira.
***
Almira menangis dalam diamnya. Inilah saat yang ia impikan. Menggenapkan separuh agamanya yang sabit. Dan mengarungi bahtera indah bernama perkawinan dengan Zaid, lelaki pilihan orang tuanya yang begitu sempurna di matanya. Lelaki yang mau menerimanya apapun kekurangan dan selalu mendukung segala obsesinya untuk menjadi lebih baik.Sosok Zaid yang berbanding terbalik dengan Mars membuatnya mantap menerima lamarannya. Zaid yang akan menjadi belahan jiwanya dan Zaidlah labuhan hatinya yang lelah mengarungi kehidupan dengan bayang-bayang Mars.
Namun, entah mengapa kini ia merasa bimbang. Bimbang pada keputusannya. Bimbang karena masih menyimpan satu rahasia akan penjelasan dari kesalahpahaman masa lalu yang membuatnya terus berharap kiranya ada satu keajaiban yang datang untuknya membuat Mars mau meruntuhkan benteng keangkuhannya dan mengucapkan satu kata yang selama ini ia nantikan.
Buliran bening itu mengalir deras menganak sungai di pipinya. Make up-nya yang telah menghiasi wajah manisnya perlahan luntur tersapu air mata.
Ya Rabb…bagaimana ini? Mengapa aku masih berharap Mars mencintaiku?! Sedangkan beberapa saat lagi aku akan bersanding dengan Zaid. Ia pandangi wajahnya di depan cermin. Almira, sekarang kamu bukanlah kamu yang dulu. Kamu tak boleh lagi mengharapkannya! Dia tak pantas untukmu! Terbesit sekelebat bayangan Mars. Mars, andai kamu tahu…surat itu bukan dariku. Andai kamu sadar, mereka tak ingin melihat kita tertawa ceria, andai kamu mengerti bahwa aku di fitnah…
“ Mir,sudah siap?!” Tanya Bunda membuyarkan lamunannya. Ia hapus air matanya.
“Sebentar lagi Bun!” Ia pun membenahi make up-nya kembali.
Almira, sebentar lagi kamu menjadi istri Zaid. Dialah pangeran hatimu! Ia tersenyum. Perlahan darah segar mengalir dari hidungnya. Bumi terasa berputar baginya.Dan ia tak sadarkan diri.
***
Diam-diam Mars penasaran siapakah gerangan lelaki beruntung yang akan menjadi pangeran hati Almira. Ia berharap semoga saja lelaki itu tak lebih apapun darinya. Setidaknya dengan begitu ia bisa merasa sedikit kemenangan di tengah kekalahannya.
Namun sungguh malang, sosok Zaid yang menjadi pengantin pria itu ternyata lebih segalanya. Ia pun terpana menatap betapa tampannya lelaki itu. Laksana malaikat turun ke bumi. Sungguh pantas bersanding dengan bidadari seindah Almira. Hatinya miris. Ia kalah telak dari lelaki tampan bernama Zaid.
Akad nikah pun segera dimulai. Namun sang pengantin wanita tak jua muncul ke peredaran. Tampak sang Bunda bergegas masuk ke ruangan Almira.
“TOLONG! Almira pingsan!” Sontak seisi gedung bergegas menghampiri sang Bunda yang berseru panik. Terutama Zaid, ia segera menerobos kerumunan dan menggendong pengantinnya.
***
“Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin.” Bunda tersedu mendengar kepergian putrinya. Zaid tertunduk lesu menerima kenyataan cintanya. Semua berduka di hari seharusnya bersuka cita.
Mars terperangah tak percaya melihat kenyataan akan kepergian Almira yang begitu tiba-tiba. Almira pergi di saat bahagia akan bersanding dengan pangeran tampan bernama Zaid yang telah membuatnya kalah telak.Almira pergi sebelum ia mengucapkan satu kata yang ia niatkan akan diucapkan hari ini.
Kini semua sia-sia, hanya penyesalan tak berujung di hati Mars. Ia tak sempat mengungkapkan perasaannya, ia tak sempat mengucapkan satu kata yang menjadi penantian Almira hingga akhir hayatnya.
“Almira pergi begitu saja. Padahal ini adalah hari bahagia bagi kami. Seharusnya kami sudah mewujudkan impian kami.” Ucap Zaid padanya di tempat pemakaman.
“Semoga kamu tabah.”
Zaid tersenyum sendu.
“Dia banyak menceritakan kamu. Dia bilang kamu satu-satunya sahabat terbaiknya.”
Mars surpised.
“Oya?! Dia bilang begitu?!”
Zaid mengangguk.
“Saya tahu, sebenarnya dia hanya mencintai kamu, bahkan saat saya melamarnya dia menerima dengan syarat saya mau mendampinginya untuk membantu melupakan perasaanya kepadamu. Dia bilang masih menanti satu kata dari kamu. Kalau boleh tahu apa itu?”
Mars gugup.
“Oh…itu…ng… saya telah bersalah menyakiti perasaannya dan tak memberinya kesempatan untuk memberi penjelasan. Satu kata itu adalah…hm…maaf.”
Zaid tersenyum.
“Ucapkanlah sekarang! Semoga saja dia mendengar.”
“Mir, aku ingin ngucapin satu kata ini…yang selalu kamu tunggu tapi selalu aku bungkamkan. Aku…aku…maafkan aku, Mir. Semoga kamu tenang di sisiNya.” Buliran air mata mengalir deras membanjiri pipinya. Begitupula Zaid, diam-diam tak mampu menahan air mata kesedihan.
05 March 2010
Say sorry before it too late!| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
one word






































