<< Cerpen AKU MEMANG TEGAR  >>

AKU MEMANG TEGAR

E-mail Cetak PDF

AKU MEMANG TEGAR
Oleh: Tulus Budiyono

 

Kudedikasikan cerita pendek ini buat kakakku Tutik Endarwati. Kisah ini kuangkat dari tragedimu.

 

Aku masih shock dengan kejadian tadi. Tiba-tiba saja penagih hutang datang kepadaku. Tanpa babibu sang bodyguard memukuliku. Badanku yang ceking dengan mudah jadi bulan-bulanan. Tanpa sempat aku melawan. “Sudah 2 bulan kamu belum bayar. Hari ini adalah hari terakhir,” bentak sang debt collector. “Tolong beri waktu satu minggu lagi” “Tidak bisa. Hari ini kamu harus bayar” “Tapi bagaimana aku bisa membayar, kalau uang sepeser pun tak ada” “Aku beri waktu sampai besok pagi, kalau besok tidak bayar, habislah kau.” Dengan pongahnya kedua orang itu meninggalkanku. Aku hanya tertegun. Perlahan kuusap darah di ujung bibirku. Apes benar aku. Sementara lagu Love Hurt dari The Nazareth masih mengalun dari compo tuaku.

*             *             *

Sore itu aku termangu di tepian rel kereta api, tak jauh dari stasiun Tawang Semarang. Aroma amis menyengat dari comberan rob air laut yang terbentang di sekitarku. Tak jauh dari tumpukan kayu bantalan rel kereta yang ku tongkrongi, menggunung sampah yang tak kalah menyengat baunya. Namun itu tak mampu membantuku mengusir penat di kepalaku. Sampai Robert, sahabat yang selalu penuh dengan masalah datang menghampiriku.

“Hai Friend… ke mana aja kamu. Kucari ke mana-mana, e… ternyata ngumpet di sini.” Aku cuma tersenyum kecut.
“Tampaknya kamu lagi ada masalah bro? kenapa? Ayolah cerita padaku, siapa tahu aku bisa bantu.”
“Tidak ada apa-apa,” aku masih berkilah.
”Kamu memang hebat, bro. kamu tidak pernah berkeluh kesah menghadapi persoalan hidupmu. Kamu memang tegar.” Aku tersenyum. Pahit rasanya.
“Kamu tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini sobat” bisik hatiku. “hidup itu seperti sungai yang mengalir. Dan bebatuan kali ibarat persoalan dan tantangan hidup yang kita harus hadapi.” Kataku dengan nada lirih, entah Robert mendengarnya atau tidak. “Ada apa mencariku.” Tanyaku kemudian.
“Begini. Aku mau pinjam uang, 500 ribu rupiah aja. Bulan depan kuganti. Anakku tidak mau nyusu ibunya, jadi ya harus minum susu instan. Masak kamu tega anakku diberi air tajin.” Aku gak mau mikir panjang, kurogoh saku celanaku lalu menyodorkan nokia 3100. Hp satu-satunya punyaku.
“Aku gak punya duit. Hp ini gadaikan aja, nanti kalau sudah punya uang kau tebus lagi.”
“Benar nih, bro. wah kamu memang sahabatku yang paling baik. Okelah aku pulang dulu ya.” Robert berlalu dari hadapanku. Anganku tiba-tiba melayang pada Sri. Gadis manis yang dengan jelas dan tegas menolak cintaku. Ah… semakin pahit rasanya lidah ini mengingatnya.
“Sorry, mas. Aku tidak bias menerima cintamu, karena aku sudah punya kekasih.” Pernyataan Sri yang membuat sesak dadaku. Kelu lidahku. Tidak ada lagi kata-kata yang dapat kuucapkan untuk lebih mengungkapkan dalamnya cintaku padanya. Aku hanya menelan ludah. Pahit. Sri. Sri. Apa salahku…?

*             *             *

Tak kusadari buliran bening hangat merambati kedua pipiku. Ah… selama ini aku tak pernah menangis. Sebesar apapun masalahku. Tapi kali ini. Sakit rasanya. Ada bom yang seakan hendak meledak di dadaku. Aku tak punya solusi. Harapanku hanya satu. Aku harus dapatkan uang itu. Ibuku sudah 21 hari koma di rumah sakit Panti Wiloso. Sementara semakin hari biaya rumah sakit semakin membengkak. Asuransi Kesehatan pegawai negeri ibupun tak banyak membantu. Banyak obat yang tidak ditanggung pemerintah untuk mengatasi gagal ginjalnya. Setiap minggu harus 2 kali cuci darah. Sementara biaya cuci darah tidak murah… ah…

Tanpa sadar langkah ku terus mengayun mengikuti suara angin berhembus. Arloji tua warisan kakekku menunjukan pukul 19.43 wib. Aku terus melangkah menyusuri hiruk pikuk alun-alun kota semarang. Apa yang dapat kulakukan.

Malam terus merambat. Tanpa kusadari aku telah berdiri di atas sebuah jembatan. Entah di mana ini, aku tak tahu tempat ini. Kulayangkan pandanganku ke dasar sungai. Batu-batu besar di bawah itu seakan dengan pongah menyongsong arus air yang sangat deras. Aku limbung.

Aku merasa tubuhku melayang terbang ke atas. Ringan sekali, seringan kapas. Sementara di atas batu itu, kulihat  tubuhku tergeletak dengan berlumuran darah. Arus sungai yang deras berusaha menghanyutkan tubuhku. Namun sebuah batu besar seakan memegang tubuhku dengan erat sekali.

Ya. Aku telah mengakhiri hidupku di dasar sungai. Aku pergi meninggalkan segudang persoalan yang tidak terselesaikan. Aku tidak tahu, apakah ini wujud suatu ketegaran ataukah kerapuhan. Yang semestinya aku tahu, ini bukan jalan keluar.

KEHIDUPAN BERNYANYI DALAM KESUNYIAN DAN BERMIMPI DALAM KESADARAN, BAHKAN KETIKA KITA JATUH TERSUNGKUR, KEHIDUPAN TETAP BERTAHTA DAN MULIA – KAHLIL GIBRAN

(Kisah ini telah diproduksi sebagai film pendek oleh Cakrawala Biru Studio dan disiarkan secara eksklusif oleh Showbiz News Metro TV)

Semarang, 10 desember 2004


Joomlart