IBLIS YANG TERTAWA
Oleh: Adhi P Hermawan
“Memang penyesalan selalu datang terlambat..Tapi, aku tak mengira jika kata ‘setuju’ yang aku sebut setahun silam adalah mukadimah petaka bagi diriku dan kelurgaku..” Laura sesenggukan, menangis sendiri dalam kamar yang terkunci.Hanya bonekanya yang menjadi saksi setiap kali Laura menangis seperti ini. Dipeluknya erat boneka beruang putih kesayangannya.
Di rumah besar, megah dan mewah ini, seorang gadis berusia lima belas tahun mendera beribu kali perih, nanar dan binar hatinya saat Marlita mengatakan sesungguhnya tentang musabab sakit ayahnya. Perempuan yang telah dinikahi oleh ayahnya setahun lalu, ternyata telah menyuguhkan racun tiap hari diminuman sang ayah kandungnya itu. Hampir satu tahun si suami meminum racun yang telah bercampur kopi di tiap pagi hari dari istri keduanya. Sang suami yang malang itu kini hanya dapat terbaring lemah di tempat tidurnya, saat racun mulai menggerogoti tubuh.
Ibu tiri itu tak hanya ingin membunuh pria yang juga cinta pertamanya saat di SMA dulu, tapi juga ingin mengusai hartanya serta menyiksa Laura, anak tirinya.
”Kau tahu tidak ?!.. Begitu sakitnya hati ini ketika dulu ayahmu menikahi sahabatku sendiri yang telah kuanggap sebagai saudaraku! Ibumu itu pengkhianat, hatinya lebih kotor dari pada kotoran hewan!..Kini setiap kali aku melihat wajahmu, seakan aku melihat wajah pengkhianat itu..! Ayahmu..aku telah puas membuatnya menderita, seperti dulu yang aku alami saat cintaku tak terbalas oleh lelaki bodoh itu..! Kata dokter usia ayahmu tinggal beberapa minggu lagi!..” kata Marlita sebelum meninggalkan Laura dalam kamar.
”Ta..Tapi..apa semua ini setimpal dengan kebaikan yang telah diberikan keluargaku padamu!” gemetar dan gemelutuk gigi Laura saat mengucapkannya.
”Setimpal?! Tahu apa kau tentang itu,. anak kecil!..Itu semua adalah sandiwaraku agar aku bisa masuk kedalam keluarga ini.. Sudahlah! lebih baik kau kutinggal sendiri di sini. Awas bila kau macam-macam, jangan lupa sore ini sehabis makan kau harus mandi yang bersih.” perempuan kejam itu membanting daun pintu kamar Laura dan memastikan pintu kamar itu sudah terkunci.
“Iblis kau..!” Laura berteriak, memaki ibu tirinya.
***
Jam tiga sore, satu jam setelah perempuan psikopat itu menemuinya, Laura masih termenung. Dibukanya catatan hariannya, lalau dibacanya. Teringat saat keluarga mereka masih dihembus angin surga. Damai, harmonis, canda dan tawa memenuhi setiap sudut ruangan di rumah mewah ini. Namun semua itu terkikis habis oleh kuku-kuku tajam Marlita, sang ibu tiri yang kejam.
Sorot mata Laura kosong, benaknya menerawang jauh beberapa tahun silam saat pertama kali Marlita datang pada keluarga Laura. Ibu dan ayahnya menyambut hangat perempuan itu. Mereka menerima wanita itu lantaran Marlita sudah dianggapnya keluarga sendiri oleh ayah dan ibu kandung Laura, seperti dulu Marlita menganggap almarhumah sang ibu kandung Laura sebagai saudaranya.
Marlita datang dengan sejuta linangan air mata, menangis tersedu dipelukan sahabat supelnya, Vena. Vena, Ibu kandung Laura, terharu dan ikut merasakan kepedihan yang tengah dialami sahabatnya itu. Marlita bercerita pada keluarga Laura, jika sudah bercerai dengan suaminya karena sering disiksa oleh suaminya dan hendak dibunuh. Sebatang kara di kota Jakarta, keluarga Laura iba dan menampungnya. Ayah Laura, Rusdi, menjanjikan akan mencari pekerjaan yang layak untuk Marlita. Tapi apa boleh buat, Marlita hanya lulusan SMA dan ijazahnya pun sudah ludes, si jago merah telah melahap rumah Marlita beserta keluarganya di kampung halamanya dulu. Sukar mendapatkan pekerjaan di kota besar, akhirnya Marlita mengajukan diri untuk menjadi pelayan di rumah keluarga bahagia itu. Vena benar-benar tak tega menjadikan sahabatnya sebagai pelayan di rumah. Marlita mendesak dan memohon, berujung dikabulkan. Namun, bersembunyikan dendam serta kepalsuan di hati dan pikiran Marlita. Petaka pun dimulai sejak itu. Keluguan dan kebaikan keluarga harmonis itu adalah kesempatan Marlita untuk membalas sakit hatinya dulu.
Topeng baik dan jahat dikenakan di wajah anggun wanita pendusta, dua lakon sekaligus berhasil diperankan. Laura, gadis cilik harta paling berharga keluarga itu menerima Marlita dengan sepenuh hati dan telah menganggapnya sebagai ibu sendiri, di kala ibu kandungnya sudah mulai rapuh kesehatannya. Maut menjemput ibu yang baik hati.
Seusai pemakaman ibu kandungnya, Laura lebih sering terlihat murung dan bersedih. Ayahnya merasa terpukul melihat anak gadis semata wayangnya bersedih.
”Nak, ikhlaskan ibumu pergi ya..Masih ada Ayah disini. Jangan bersedih terus.” hibur sang ayah pada gadis ciliknya.
”Aku ingin punya ibu lagi, Yah..Aku ingin tiap malam ada yang mau ceritain aku sebelum tidur.” jawab Laura sedih, air mata pun menitik dari mata indahnya.
Satu tahun berlalu, sang kepala keluarga mengambil keputusan yang dianggapnya tepat bagi masa depan anak gadisnya. Laura pun sangat setuju bila Marlita menjadi ibu tirinya. Pernikahan belangsung meriah, kebahagiaan melarungkan keluarga baru itu. Namun sayang, kebahagiaan yang dirasakan Laura hanya seumur jagung. Pernikahan itu adalah awal petaka baginya juga ayahnya. Kini keberingasan Marlita semakin menjadi setelah lelaki yang menikahinya lumpuh, tak berdaya. Marlita bagai malaikat yang dikirim raja neraka untuk memusnahkan keluarga yang telah berbaik hati padanya.
***
Suara pintu terkunci yang hendak dibuka terdengar, Laura meringkuk ketakutan di tempat tidurnya. Beruang putih dipelukannya hanya diam, membisu dan tak bergerak. Laura semakin menggigil kala langkah kaki Marlita mulai mendekati tempat tidur. Marlita menutup dirinya erat dengan selembar selimut tebal pemberian almarhumah ibunya.
Marlita mendekat dan tangannya menarik paksa selimut pelindung tubuh gadis cilik itu.
”Kau melawanku ya..!? Kenapa belum mandi juga ! Tubuhmu itu bau dan aku tak bisa melakukannya jika kau seperti itu..!” amarah membakar Marlita.
Marlita menyeret paksa Laura untuk masuk ke kamar mandi, yang terletak di dalam kamar gadis manis itu. Berhasil dengan usahanya, Marlita melucuti pakaian yang dikenakan Laura. Diguyurkannya air, digosoknya tubuh molek anak tirinya dengan sabun, lalu dibilasnya. Sesekali Marlita menampar wajah Laura, karena ia geram melihat Laura kembali mengeluarkan air mata.
Tubuh Laura sudah harum dan bersih, Marlita memulai aksinya. Keji dan tak memiliki hati. Karena luka lama dan dendam atas cintanya pada Rusdi, sejak itu ternyata Marlita menjadi sadism-lesbian. Ia meyukai sesama jenisnya, lebih menikmati ekstasi liarnya dengan cara memukul pasangan lesbinya dan tak pernah merasa bersalah atas perbuatannya itu. Meski Marlita pernah menikah dan mau dinikahi oleh Rusdi, tapi semua itu hanya untuk mengejar materi semata-mata.
Tak terhitung lagi berapa kali Marlita melakukan kegiatan biadabnya pada Laura, dan pada beberapa gadis lain. Setiap kali ia melakukan itu, yang terbayang wajah sahabat yang telah mengkhianatinya. Begitu dalam dendamnya pada masa lalu. Marlita tak ingin menyesali kebodohannya di masa lalu, ia tipe orang yang lebih suka menyalahkan orang lain. Sebenarnya jalinan cinta Rusdi pada Vena tidak akan terjadi jika Marlita saat SMA dulu, mau menerima cinta lelaki itu padanya. Namun Marlita terlampau gengsi, ia belum mau menerima Rusdi jika baru satu kali Rusdi menyatakan cintanya. Ia ingin mendengar pernyataan cinta Rusdi ketiga kalinya, dan ingin melihat Rusdi benar-benar bertekuk lutut dihadapannya. Sebagai lelaki, Rusdi lebih mementingkan harga dirinya dan akhirnya cinta Rudi berpaling pada Vena. Iblis yang bersemayam dalam hati Marlita menabur benih cemburu yang berujung pada dendam kesumat.
***
Wanita psikopat itu telah puas melepas hasratnya pada anak kandung dari orang yang dianggapnya pengkhianat. Ia meninggalkan Laura di kamar dan menguncinya kembali. Saat kaki Marlita ingin melangkah keluar kamar, Laura bangkit dan berdiri lalu mengejar Marlita sambil tangannya mengambil jam wekker, dihantamkannya dikepala Marlita. Marlita tersungkur ke lantai. Kini gantian Marlita yang dikurung dalam kamar Laura. Setelah siuman, Marlita menjerit-jerit histeris seperti yang pernah di lakukan oleh Laura setiap kali Marlita mengunci kamarnya.
Segera saja gadis lima belas tahun itu memanggil dokter keluarga yang biasa mengani sakit ayahnya. Tak lama kemudian dokter muda itu datang memenuhi panggilan Laura. Mimik wajah dokter itu terkejut saat Laura yang membukakan pintu rumah.
”Tidak biasanya, kamu yang membukakan pintu untuk saya?” kata dokter muda, dokter Dolus namanya.
Tak ingin mengundang curiga dokter muda itu, marlita dengan tenang menjawab ”Kebetulah Mamah Marlita sedang pergi ke mall..Silakan masuk dok.”
”Terima kasih Nak..”
Dokter muda itu masuk ke rumah dan menuju kamar ayah Laura. Laura berdiri di depan pintu kamar ayahnya. Gadis itu menangis, hatinya berdoa ”Oh Tuhan..keluarkan keluargaku dari lingkaran penderitaan. Tolong selamatkan ayahku dan bebaskan keluarga kami dari orang-orang jahat..”
Setelah dua kali dokter menyuntik lelaki sekarat itu, Laura meminta tolong padanya agar ayahnya dibawa saja ke rumah sakit untuk dirawat di sana. Dokter itu mengiyakan permintaan Laura.
”Baik. akan saya bawa ayahmu ke rumah sakit. Tapi tidak hari ini, karena baru saja saya memberi ayahmu suntikan. Biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Besok baru kita bawa ayahmu ke rumah sakit untuk di rawat.” kata dokter Dolus sambil menata alat-alatnya.
”Terima kasih dok..” ucap girang Laura, hinga tak sadar ia memeluk dokter Dolus.
Sengaja Laura tak bercerita tentang semua hal yang terjadi di rumahnya pada dokter Dolus untuk meminta perlindungan. Hati Laura sudah terlampau sakit dan niat hatinya sudah bulat untuk membalas semua perbuatan Marlita. Ia ingin menyiksa Marlita, ingin menjadikan ibu tirinya itu sebagai tawanannya. Dikurung dalam kamar tanpa ada sinar matahari yang masuk.
Dalam kamar Laura di lantai dua, Marlita mendengar jika di lantai bawah rumah ada orang lain yang sedang bicara pada Laura. Marlita sudah menduga, orang asing itu adalah dokter Dolus. Marlita berteriak-teriak minta tolong dibukakan pintu.
”Keluarkan aku..! Dokter..tolong saya..!”
Pekikan Marlita rupanya sayup-sayup terdengar di telinga dokter Dolus. Mata dokter Dolus menghujam tajam ke wajah Laura.
”Siapa yang berteriak itu, Nak..?” mata dokter Dolus mengamati setiap sudut ruangan, mencari sumber suara itu.
”Bukan siapa-siapa dok, hanya suara dari film di kamar saya. Tadi saya sedang menonton film drama dan lupa mematikan tv serta vcd..” dusta Laura pada dokter Dolus. Laura sedikit grogi, takut rencananya gagal.
”Tapi suara itu seperti sungguhan, Nak..”
Dokter Dolus yang tadi sudah berdiri di depan pintu utama rumah dan hendak pulang, tiba-tiba ia menunda untuk meninggalkan rumah besar itu. Ia malah masuk ke ruang dalam rumah, mencari dari mana arah teriakan itu.
”Maaf dokter Dolus, bukankah anda sudah selesai memeriksa ayah saya..” dengan suara yang sedikit tinggi, Laura berusaha mencegahnya untuk menaiki anak tangga.
Dokter Dolus menghentikan langkahnya, dan berjalan menuju Laura yang sedang berdiri di muka pintu utama.
”Akhirnya..dia tak jadi ke kamarku..” desah lega hati Laura melihat dokter itu menuju pintu keluar.
..Brrakk..
Laura terperanjat, melihat dokter Dolus yang bukannya keluar rumah malah menutup pintu dengan cara membantingnya dan menguncinya. Setelah aman terkunci rumah itu, anak kunci ia masukan ke dalam saku celananya. Laura mematung, kaget tak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan dokter Dolus padanya.
”Di mana ibu tirimu..!” wajah Laura pucat pasi mendengar suara keras dari dokter Dolus. ”Di mana..?! Di kamarmu kan !?”
Tak buang waktu, dokter yang tiba-tiba berubah sikap itu pun langsung menaiki anak tangga menuju kamar Laura.
”Laura..!” teriak dokter Dolus memanggil. ”Mana kunci kamarmu..?”
Laura tak ingin bertindak bodoh dengan memberikan kunci kamarnya pada dokter Dolus. Dokter Dolus kembali ke bawah, mengejar Laura yang lari hendak bersembunyi. Tapi dokter Dolus mendapatinya.
”Plakk..” itu adalah tamparan di wajahnya yang kelima yang diterima Laura hari ini.
Laura melemah, gadis malang itu tergelepar di lantai dengan sedikit darah di bibirnya akibat tamparan keras. Dokter Dolus mencari kunci kamar yang tersimpan di antara saku pakaian Laura. Kunci di dapat. Dokter Dolus membebaskan Marlita.
”Oh..akhirnya aku bisa keluar dari kamar pengap ini..” kata Marlita sambil memeluk dokter Dolus.
”Ayo cepat urus anak sialan itu !..” kata dokter Dolus
Laura sedikit sadar, dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Laura berusaha bangun dan berdiri. Belum sempurna berdirinya, dekapan erat dokter Dolus mematahkan semangatnya. Laura diseret ke hadapan Marlita.
”Anak setan kau..!” maki Marlita, telapak tangan kanannya pun mendarat dipipi kiri Laura.
Laura hanya bisa menjerit menahan sakit.
”A..a..apa yang dokter la..lakukan..?” tergagap Laura berkata.
”Haha..Dasar gadis bodoh ! Aku sudah dijanjikan oleh ibu tirimu seperempat bagian dari harta ayahmu.” jawab dokter Dolus dengan bangga.
”Akhirnya aku bisa mengusai seluruh harta keluarga ini. Kamu akan kujadikan budakku di rumah ini. Lebih cepat lebih baik, Ayahmu dalam minggu ini harus mati menyusul ibumu di neraka..Dokter Dolus akan menambah dosis obat yang akan segera membunuh ayahmu.”
”Iblis kalian semua ! Cuiihh..” Laura meludahi Marlita. Ingin rasanya memukul ibu tiri kejinya itu, tapi ia tak bisa melepaskan tubuhnya dari kuncian tangan dokter Dolus.
***
Matahari kian meninggi, condong ke barat lalu tenggelam diujung laut. Hari ke hari makin memburuk kondisi kesehatan ayah kandung kandung gadis malang itu. Benar apa yang dikatakan oleh Marlita, dalam satu minggu ini ayahnya harus mati. Sang kepala keluarga akhirnya meninggal dunia. Laura sebatang kara di dunia ini. Tragisnya ia perlakukan sebagai budak Marlita. Abad sudah modern namun di rumah yang megah ini, bagi Laura bagaikan Bastille Saint-Antoine di Paris.
Tak lama setelah kematian Rusdi, dokter Dolus menikahi wanita berhati keji itu. Laura tetap menjadi budak. Ia hanya bisa menyaksikan dan mendengar perempuan yang dulu pernah dianggapnya peri penolong, kini dilihatnya Marlita bukan lagi sosok manusia tapi sosok iblis. Iblis yang menari riang, tertawa renyah dan meneguk anggur penderitaan dirinya.
Berdoa, itulah yang hanya bisa dilakuakan oleh Laura. Hatinya tak pernah lelah bertasbih, merangkai kalimat doa dan berharap Tuhan akan mengirimkan malaikat penolong untuknya. Malaikat yang asli bukan utusan dari raja setan neraka.
-SELESAI-
Malang, 22 Februari 2010
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Iblis Yang Tertawa







































