Layang-layang
Oleh: Adhi Puji Hermawan
Sore ini angin menari-nari di udara, senang, riang dan tanpa beban, karena angin memang tak seberat tubuh manusia. Langit sangat cerah, warna biru adalah aura kegembirannya. Di bawah kakinya, makhluk-makhluk kerdil bermain layang-layang. Anak-anak kecil itu sibuk dengan tarik-ulur benang sambil berteriak-teriak ”Aku pasti menang..! Layanganku adalah juara..!” Dengan sombong dan sesumbar mereka ingin menjadi jagoan udara. Pastilah iri hati jika seorang dewasa melihat mereka, karena mereka tak bisa lagi menikmati masa kecilnya.
Namun, tak semua anak-anak dapat menikmati harinya yang indah. Tidak jauh dari situ, seorang pria cilik berpakaian lusuh sedang memanggul sebuah karung goni. Tangan kirinya menggenggam sebuah besi garuk kecil, Jemari tangannya kotor dengan kuku yang hitam. Tubuhnya kumal, dekil dan berkulit legam. Tapi ia terlihat gagah dengan kulitnya yang legam akibat tak luput dari jilatan matahari. Yoto, nama laki-laki kucel itu. Beban orang tuanya sedikit ia pikul dengan memulung barang bekas di sekitar perumahan mewah.
Tertegun ia melihat anak-anak lain. ”Aku ingin bermain-main seperti mereka, tak adilkah dunia ini ?” Bukanlah itu yang ia ucap dalam hati, karena ia bukan lelaki cengeng. Ia hanya tersenyum, tertawa hingga lupa berat barang bekas yang dipanggul sambil berkata dalam hatinya ”Esok, aku akan membuat layangan sendiri, akan aku jadikan layanganku nomor satu.” sambil berlalu menjauhi lapangan. Hari sudah sangat sore, ia harus pulang ke istananya di bawah jembatan.
***
”To, berapa kilo hari ini kamu dapat rongsok ?” Tanya sang ayah, yang ternyata sudah lebih dahulu berada di rumah kardusnya.
”Yoto belum menimbangnya di Bang Sono, Pak..” Jawab Yoto sambil menuangkan air ke dalam gelas plastik.
”Ya, sudah. Nanti biar Bapak saja yang menimbang. Makan lalu mandi sana, ibu sudah menggoreng ikan asin dengan sambal terasi kesukaanmu.”
”Iya, Pak, sebentar lagi. Yoto masih gerah, sumuk..” Kata Yoto sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan sobekan kardus.
Pak Oyon, ayah Yoto, mengangkut barang-barang bekas yang sudah terkumpul hari ini ke atas gerobaknya. Ia membawanya ke Bang Sono untuk ditimbang. Sedangkan Yoto, menghampiri ibunya di belakang rumah. Di sini tak ada dapur meski tersedia kompor dan peralatan masak di ruang belakang rumah, karena memang tak layak disebut dapur, dan mereka pun tak mau menamakannya dapur. Sudah lima tahun keluarga urban itu menempati rumah hasil kolaborasi kardus dengan seng.
”Bu, Yoto lapar. Ada lauk apa, Bu ?”
Bu Iyah, ibunya lalu mengambilkannya piring dan menyendokan nasi ke atasnya. ”Ya, seperti biasa, Nak. Ikan asin plus..” Jawab ibunya sambil memoyongkan bibir tanpa gincu.
”Plus apa Bu ? Plus daging ?” Celetuk Yoto penuh harap.
“Hehe..Plus sambal terasi..” Kata sang ibu mencandai anaknya.
Ada senyum, ada tawa dan ada keharmonisan di dalam kekurangan. Itulah keluarga Yoto. Sesaat kemudian, Yoto melahap tanpa ampun nasi beserta ikan asin plus-nya itu. Ia tampak kelaparan, maklum keringatnya begitu deras mengucur saat memunguti barang-barang rongsok di tempat sampah. Ibunya senang melihat Yoto mau menikmati hidangan yang sangat sederhana itu, namun dalam palung hatinya ia ingin sekali melihat Yoto menggendong tas sekolah dengan memakai seragam merah putih.
”Kamu seharusnya sekarang ini sedang belajar Nak.., mengerjakan PR sekolah ataupun membaca buku pelajaran kelas enam..” Bisik hati seorang ibu yang tak berdaya.
Tatapan mata sang ibu ternyata mengganggu kenikmatan makan Yoto.
”Bu, ada apa ? Kok, melihatnya seperti Yoto punya salah?” Kata Yoto. Ia pun berhenti mencaplok nasi.
”Ahh, nggak ada apa-apa..Ibu cuma kagum dengan anak laki-laki ibu yang tampan..” Jawabnya dengan senyum lebar.
”Haha..” Yoto tertawa geli mendengar jawaban konyol dari perempuan yang telah melahirkannya.
Seusai mengisi perutnya, Yoto mengambil selembar handuk biru muda yang sedikit berwarna gelap. Polutan dalam air sungailah yang menyebabkan sedikit warna gelapnya itu. Kemudian Yoto meraih sabun dan sikat gigi yang letaknya lebih tinggi dari tinggi badannya. Ia menuju sungai untuk membersihkan dirinya.
Malam sedang merangkak, hitamnya kian merambat ke atap dunia. Yoto, duduk di depan gubuknya. Ia merenung, membayangkan apa yang ia lihat di tengah lapangan tadi sore. Matanya tertuju pada selembar kertas minyak berwarna putih yang tergulung di dalam anyaman ranjang, biasa tempat kertas-kertas bekas. Ia ambil kertas itu lalu ia rapikan setiap jengkalnya. Imajinasinya mulai menggambarkan sebuah benda gagah berselancar di atas angin. Yoto memulai proyek besarnya membuat layang-layang. Ia mulai mencari potongan bambu untuk membentuk kerangkanya, lalu benang untuk mengikat kerangka itu. Tak lupa, ia mengambil pisau dapur milik ibunya lalu ia mulai mengerjakan.
”Jika panjang kerangkanya aku buat 40 centimeter maka lintangnya aku buat masing-masing 15 centimeter kekiri dan kanan, bentangannya aku taruh 15 centimeter dari jarak bujur atas..” Pikirnya. Aneh, ia tak pernah belajar matematika ataupun fisika tapi tekad dan imajinasinya membuatnya seakan pernah mengenyam bangku pendidikan.
”Tapi, apa nanti bisa terbang ya, jika lebarnya aku buat lebih pendek dari panjangnya ? Ahh, bukankah aku akan membuat layang-layang yang beda dari lainnya. Aku yakin layanganku lebih hebat..” Gumam Yoto, dengan sangat yakin.
Setelah rangka yang ia bentuk sudah jadi, Yoto mulai menggunting kertas putihnya. Kerja kerasnya kini tinggal selangkah lagi, ia tempelkan kertas itu pada rangka layang-layang. Puas dengan kerja kerasnya, Yoto tersenyum bangga tak sabar menunggu hari esok.
Hari sudah semakin malam, ia merebahkan tubuh kurusnya di atas tumpukan kardus tebal sebagai kasur empuk. Matanya mulai terpejam perlahan, lelaki kecil itu hanyut dalam mimpi yang indah.
***
Mentari pagi yang hangat membuat pepohonan tetap hidup, seperti barang-barang rongsokan yang telah menghidupi keluarga Yoto. Seperti biasanya, pagi ini Yoto bergegas mengambil ’tas kerjanya’, sebuah karung goni ia lipat lalu pergi berkeliling, menghampiri setiap sudut kota Jakarta mengais tempat sampah. Tidak lupa ia selempangkan layang-layang karya besarnya. Langkah kakinya bertolak dari arah anak-anak yang hendak menuju sekolah. Ia cuek, tak memikirkan itu, meski Yoto juga ingin bersekolah.
Si rambut api yang terik tak kenal kompromi, ia terus bergerak ke arah barat. Dua jam, empat jam dan beberapa jam berikutnya tak terasa sudah jauh langkah Yoto. Ia berhenti sejenak di pohon mangga pinggir lapangan, yang biasa dipakai anak-anak lain bermain layangan. Ia mengkhayal, membayangkan layang-layang miliknya mengalahkan layang-layang di lapangan kemarin. Diambilnya layangan yang ia selempangkan ke belakang badan, lalu ia elus. Tapi, ada yang Yoto lupakan. Dirinya lupa membeli benang untuk menerbangkan layangannya.
Ia merogoh saku celana pendeknya, didapati uang tiga ribu rupiah. Yoto menuju warung kecil tak jauh dari lapangan yang menjual perlengkapan layang-layang.
”Aku letakan dahulu rongsokan ini di sini..” Ia berkata pada dirinya sendiri.
Yoto menelantarkan sebentar benda-benda tak berharga yang ia bawa, jika tidak ia tidak boleh masuk ke kawasan perumahan itu. Sebab ia pernah melihat temannya sesama pemulung yang diusir oleh warga.
”PEMULUNG DILARANG MASUK!” Kata warga yang mengusir, sambil menunjukan plang warna merah yang tertancap, di depan jalan masuk perumahan.
Benang sudah ia beli dan tergenggam di tangan kanannya. Yoto kembali ke pinggir lapangan tempat ia meletakan karung goninya. Entah mimpi apa semalam, di tengah langkahnya ia hentikan oleh tiga orang anak lain. Mukadimah kekecewaan dimulai.
”Hei, itu layangan siapa ? Nyolong ya ?” Tuduh salah seorang anak.
”Nggak..Aku bikin sendiri.” Jawab Yoto dengan tenang.
”Bohong ! Kamu pasti nyolong di warung itu kan ?” Tuduh anak itu lagi.
”Beneran nggak..aku nggak nyolong..”
”Sini, untuk kami aja layanganmu ! Atau kami teriakan maling, biar dibakar sama warga sini !” Ancamnya.
Yoto mulai gemetar dengan ancaman yang didengarnya. Ia tak bisa berbuat banyak selain melarikan diri dari ketiga anak nakal itu, tapi ia pun takut jika dikejar warga lain karena teriakan maling.
”Bisa habis aku, jika lari dan tertangkap..” Ucap Yoto dalam hati.
”Ya sudah, layanganku buat kalian saja. Tapi benar, aku nggak nyolong, layangan ini aku yang buat sendiri..” Dengan sangat pasrah Yoto menyerahkan layangan kebanggaannya itu. Hatinya sangat sedih.
Dengan perasaan yang hancur dan langkah kaki yang berat, ia pulang ke rumah. Ingin ia menangis mengeluarkan air mata, tapi tidak ia lakukan. Ia tetap tegarkan dirinya. Wajahnya lesu, tertatih Yoto memanggul karung goninya menuju rumah. Tak seperti hari kemarin yang penuh dengan semangat.
Sesampainya di rumah, Yoto langsung mencari sisa kertas semalam jika masih ada. Tapi tak diketemukannya, kertas sisa semalam sudah dikilo-kan oleh ibunya bersama tumpukan kertas bekas lain, pikir Yoto. Hatinya kembali kecewa.
Yoto tak mau hanya diam, ia menuju tempat Bang Sono untuk mencari selembar kertas baru. Berlari penuh semangat dan harapan untuk kembali membuat layangan. Sesampainya di tempat Bang Sono, ia meminta kertas bekas yang ada yang dapat digunakan untuk mencairkan kekecewaannya. Selembar kertas minyak, kali ini ia mendapat kertas minyak berwarna merah. Ia meminta ijin pada Bang Sono untuk mengambilnya.
Setibanya di rumah, seperti malam kemarin ia membuat layangan tapi kali ini sedikit berbeda. Layangan yang sudah jadi ia lukis dengan cat seadanya. Gambar naga terpampang di atas kertas layangannya meski warnanya sedikit amburadul. Tapi itu bukan masalah baginya. Benang yang ia beli pun diolahnya kembali. Diliumurinya tumbukan kaca yang sudah menyerupai bubuk pada benang yang akan ia gunakan.
***
Keesokan sore di lapangan.
Hatinya berharap sore ini, ia tidak lagi bertemu tiga anak kemarin yang sudah merampas layangan perdananya. Diletakannya karung goni di bawah kaki. Yoto mulai mengikat layangannya dengan benang tajam yang ia buat sendiri. Layangan siap ia terbangkan. Setiap anak yang ada di situ menatap Yoto, maklum mereka baru melihat Yoto bermain di lapangan ini.
Layangan membumbung tinggi, terbang kesana-kemari tertiup angin liar. Di udara, layangan andalan Yoto mendekati salah satu layangan milik anak-anak di lapangan. Pemiliknya pun tak mau hanya diam, ia menanggapi tantangan Yoto. Layangan saling membelit, melingkar-lingkar bagai ular meremukan mangsa.
”Kena kau..! Kena kau !” Teriak Yoto pada layangannya.
Pertarungan layang-layang Yoto sangat seru, hingga pemain layangan yang ada tak lagi menghiraukan layangannya masing-masing. Mereka keasikan melihat ’sang naga’ sedang melumpuhkan mangsanya.
”Horeee..! Horeee..!” Teriak Yoto kegirangan, saat mengalahkan layangan musuhnya. Layangan yang sudah tak bertali itu melayang entah kemana. Si pemiliknya kesal.
Itu adalah kemenangan pertama Yoto. Anak-anak lain berpanas hati, mereka tak mau kalah. Akhirnya layangan mereka mendekati layangan Yoto, mereka mengeroyoknya. Namun, sore ini adalah sore keberuntungan bagi Yoto. Kini yang tersisa di udara hanya layangan Yoto sendiri.
”Sudah nggak ada musuh, kurang asik. Lebih baik aku turunkan saja layanganku..” Ujarnya. Yoto, sembari menurunkan layangan bergambar naga miliknya.
Saat hendak pulang, Yoto didekati oleh seorang anak yang sudah dikalahkannya.
”Ehh.., namamu itu siapa sih ?” Tanya si anak itu ramah.
Hati Yoto sedikit lega, setidaknya anak yang bertanya padanya tidak seperti tiga anak nakal dan usil yang kemarin ia jumpai.
”Namaku Yoto, kalo kamu siapa ?”
”Aku Dodo, anak komplek sini. Kok, layanganmu bisa hebat kayak gitu ?”
”Aku juga nggak tahu..” Kata Yoto merendah.
”Aku bisa pesan layangan sama benang yang kayak milikmu nggak? Atau layanganmu aja yang aku beli. Boleh ?” Tawar Dodo.
”Ya udah, aku bikinkan aja ya. Gratis kok, kamu tinggal beli benangnya aja. Gimana ?”
”Iya deh, tapi beneran gratis?” Tanya Dodo yang tak percaya ada anak sebaik Yoto.
”Iya..”
Sejak itu mereka menjadi sahabat. Pada akhirnya teman-teman Dodo pun banyak yang memesan layangan pada Yoto. Kini jika musim layangan tiba, Yoto bagai pengusaha parcel di saat lebaran akan tiba, Yoto kebanjiran order puluhan layangan. Dibantu oleh Dodo yang juga ingin tahu bagaimana cara membuat layangan, Yoto mulai menabung untuk biaya sekolah dari hasil mencari rombeng dan menjual layang-layang.
-S E L E S A I-
Malang, Februari 2010
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
LAYANG-LAYANG





































