<< Cerpen Cerita Dalam Bui  >>

Cerita Dalam Bui

E-mail Cetak PDF

Cerita Dalam Bui
Oleh: Adhi Puji Hermawan

             Arto Suryo dan Ali, mereka satu nasib, mendekam di ruang sempit di balik jeruji besi. Gembok baja, besar dan sedikit berkarat adalah centeng penjaga agar mereka aman berada di dalam ruangan pengap itu. Sudah hampir dua bulan mereka berada dalam penjara. Arto Suryo, berada dalam ruangan sumpek ini karena mencopet. Terpaksa ia lakukan karena merasa kepepet hidup di kota besar. Sedangkan Ali, bukanlah pencopet melainkan karena kekonyolannya, ia di tuduh mencuri ayam tetangganya di malam tahun baru. 

            Ali lebih dulu tiga hari masuk bui dari pada Arto Suryo maka ia merasa berkuasa di dalam kamar sel yang hanya dihuni oleh mereka berdua. Anehnya, mereka akur dan tak ada acara pelonco oleh Ali. Mungkin mereka berdua sama-sama suka melamun dari pada bergerak. Berkhayal adalah obat yang ampuh mengusir kejenuhan mereka.

             ”Li, kamu punya khayalan apa biar kita di sini gak merasa bosan?” Tanya Arto Surya sambil tangannya mencorat-coret tembok dengan serpihan batu bata merah.

            ”Bukan tempatnya yang sekarang bikin aku jenuh, tapi pertanyaanmu itu yang selalu saja kamu ulang tiap harinya di kala sore tiba.” Jawab Ali yang masih berdiri, kedua tangannya memegangi jeruji besi.

            ”Ngarang kamu ini ! Nggak mungkin tiap hari aku bertanya soal itu terus..”

            ”Kalimat itu juga sudah bosan aku dengar, selalu itu sanggahanmu.” Ali kembali duduk bersila sambil mengacak-acak rambut lurusnya yang sudah satu minggu tak keramas.

“Kau pikir aku juga tak bosan..melihat tingkahmu berdiri memegang jeruji..duduk…berdiri memegang jeruji, lalu duduk lagi..Itu-itu saja ! Masih mending aku, jiwa seniku tak padam meski dalam penjara.”

”Jiwa seni apaan, Ar !? Melukis dinding ini dengan batu bata? Kau pikir tembok ini kain kanvas yang bisa kamu lepas, lalu kamu bawa kesebuah gedung seni kemudian kamu pamerkan dan ditawar orang milyaran rupiah ?” Ujar ali dengan wajah sangat kusam, apalagi Arto Suryo tak pernah memberinya frase yang berbeda, begitupun dengan Arto Suryo ia jenuh dengan gerak-gerik tubuh Along.

”Kamu menghina gambarku ya? Ini gambar rumahku..di kampung..Aku rindu pada keluargaku, rumahku dan pemandangan sawah yang hijau. Tidak seperti disini, tiap hari aku melihat tembok, jeruji, sipir juga kamu. Haha..”

”Ya sama, aku juga rindu pada ayahku, ibuku juga ayam-ayamku yang sedang mengerami telurnya di kandang.” Balas Ali.

 Wajah kedua pria malang itu sangat memelas, kerinduan tampak pada sinar mata mereka. Mereka tak sabar menanti hari dan jam besuk oleh keluarga masing-masing. Keluh kesah mereka juga derita pada keluarganya. diluar sana, anak-anak kecil sedang bermain bola. Sorak sorai mereka sampai terdengar di kamar penjara Arto dan Ali. Mereka sirik sekaligus pedih, mendambakan hari berlalu cepat menanti kebebasan. 

 ”Nanti setelah aku keluar dari sini, aku kapok Li. Nggak akan nyopet lagi, aku mau pulang saja. Lebih baik hidup tani dari pada nggembel di kota besar.” Sesal Arto Suryo.

”Yang namanya penyeselan pasti datangnya belakangan Ar, kayak adegan polisi di bagian akhir cerita film-film Bollywood..”

”Kamu nyesel juga nggak ?”

”Apa lagi aku Ar. Aku itu gak ada niatan buat nyolong ayam tetangga. Aku kira itu ayamku yang lepas di malam hari, maklum aku abis minum anggur import. Hehe...”

”Mudah-mudahan aja, ada potongan masa tahanan lagi ya Li..” Kata Arto Suryo penuh harap.

”Iya Ar, itu harapan semua napi.”

”Li, masih mending nasib kita sebagai maling kecil..”

“Jadi maling kok mending sih Ar?”

”Maling kecil kayak kita aja udah kayak gini bosannya..apalagi maling besar ya Li..”

 Arto Suryo memang orang yang lugu dan sedikit bodoh, ia tidak mengerti hukum ataupun realita yang ada, sama halnya dengan Ali. Dua pria bodoh bertemu dalam satu ruangan penjara, entah apa yang akan menjadi topik pembicaraan mereka. 

 ”Benar juga Ar, untung aku cuma dituduh maling ayam, coba kalo dituduh nyolong barang-barang negara ataupun jadi bandar narkoba. Ihh, serem..aku gak bisa bayangin gimana nasibku di dalam penjara ini. Masih untung ya Ar, kita dikasih tikar. Aku yakin, kalo maling besar pasti tidurnya udah di kakus.”

”Sendirian lagi, gak ada temannya. Haha..” Tambah Arto Suryo.

Kala itu, lembaga pemasyarakatan yang mereka huni sedang sepi. Kabar-kabarya para mantan napi setelah bebas, membagi cerita kehidupannya selama berada dipenjara seperti yang dialami Arto suryo dan Ali. Sampai-sampai pencopet, maling-maling spesialis rumah kosong, bandar-bandar togel dan tukang-tukang cabul merinding mendengarnya, mereka takut dan tak ingin dijebloskan ke dalam sana. Mereka tak mau tidur beralaskan koran ataupun tikar tanpa bantal dan makan makanan tak enak. Pada akhirnya penjahat-pejahat kelas teri itu berpikir seratus kali untuk mengulang kejahatannya. ”Yang kecil aja susah, apalagi yang besar..!” Kata para penjahat kelas teri itu.

                                                              ***

Kelam kian merangkak mendominasi warna langit yang biru, jangkrik-jangrik memulai paduan suaranya di lapangan rumput, depan gedung bui. Dingin pun mulai merambat ke lantai, Arto Suryo mulai menggigil lalu ia meringkukan tubuhnya seperti anak kucing ditengah hujan. Ali, masih tersadar dengan kedua kelopak matanya yang terbuka. Tak habis pikir dirinya, mengapa Arto Suryo dapat terlelap nyenyak sedang ia tidak. Bukan saja dingin yang mengganggu tiap malam, juga hewan-hewan kecil bersayap penghisap darah.

 ”Nyamuk tak punya belas kasihan padaku, sudah kurang gizi masih saja dihisapnya darahku..” Gerutu Ali ditiap malam saat ia terjaga.

 Arto Suryo sudah melabuhkan rohnya di pulau mimpi, disana ia telah menyewa kamar president suit di hotel berbintang lima lengkap dengan apa yang ia perlukan. Mulai dari kasur empuk, bantal nyaman, kamar mandi mewah. Ia bersihkan dirinya dalam kubangan air segar di bathtub. Setelah itu ia memesan makanan mewah dan minuman penghangat tubuh. Belum puas dengan kebutuhannya lalu ia keluar kamar, berjalan-jalan, menggoda wanita-wanita cantik, pergi ke sebuah bar lalu ia berkaraoke menyanyikan lagu favoritnya sejak kecil ’Gundul-gundul Pacul’ ciptaan...

 Ditubuhnya yang nyata, terlihat ia tidur sambil tersenyum-senyum bahagia, mengolet keasikan dan sesekali mengigau sebait syair jawa ”Gundul-gundul pacul..cul..gembelengan..” lalu terdiam lagi sambil tersenyum puas.

 Ali risih melihat Arto Suryo, ia pun berniat mengerjai teman sekamarnya. ”Enak kamu ya, bisa tidur nyenyak. Pasti kamu juga lagi mimpi karaoke dengan gadis-gadis cantik ya.. ! Aku tak diajaknya mimpi indah. Awas kau !” Kata Ali sambil ia mencari cara untuk mengerjai Arto Suryo.

 Akhirnya ia mendapati sebatang rokok disaku seragam penjaranya ”Ahh, aku masih punya rokok sebatang. Akan aku jepitkan rokok ini disela-sela jari kakinya.” Ide cemerlang untuk membangunkan temannya.

Ali berteriak memanggil petugas yang berjaga di depan lorong ruangan jeruji. ”Pak..Pak..! Minjam korek..!” Tak lama seorang sipir yang terlihat sangar mendatanginya.

”Ada apa?” Jawabnya dengan nada yang galak dan tak bersahabat.

”Maaf, Pak. Saya pinjam korek untuk nyalakan rokok.” Kata Ali sambil menyodorkan rokok yang sudah tertanam dimulutnya.

”Ini..Awas kalo sampai kebakaran..! Bisa dituntut penjaraseumur hidup kamu !” Ancam petugas penjara. Setelah meminjamkan koreknya, ia melenggang pergi.

”Terima kasih Pak..!” Teriak Ali.

 Dihisapnya dahulu rokok semata wayang miliknya. setelah tinggal beberapa sentimeter dan hampir habis, ia selipkan rokok itu ke jemari kaki Arto Suryo. Detik demi detik berlalu, bara api pada batang rokok pun kian mendekati titik sasarannya. 

 Pada akhirnya ”Auww..auww...! Panas..!” Arto Suryo terbangun dari lelapnya dan menjerit-jerit kepanasan. ”Setan buntung kamu ! Bikin susah teman sendiri !” Maki Arto.

”Haha...haha..” Terpingkal-pingkal Ali tertawa. Perutnya hingga sakit tak kuat menahan geli.

”Dasar sirik ! Makanya tidur biar bisa jalan-jalan bebas..!” Arto suryo bukanlah pemarah dan tak pernah memukul orang apalagi sahabatnya, karena itu ia tetap sabar menanggapi kelakuan Ali.

Sorry..Aku iri sama kamu. Aku lihat kamu nyenyak sekali tidurnya, aku kesepian nggak ada teman ngobrol. Ceritain mimpimu dong..” Pinta Ali.

Sungguh bagai anak kecil mereka berdua. Dibalik deritanya mereka masih bisa tertawa, dibalik kesengsaraan mereka masih bisa berbagi meski hanya cerita mimpi. Karena ulah Ali, Arto Suryo tak dapat melanjutkan mimpinya bahkan ia ikut terjaga bersama Ali. Mereka akhirnya saling bercerita.

 ”Hei, Li. Tadi aku baru mimpi indah, menginap di hotel berbintang, berendam air panas, minum kopi, jalan ke bar, terus karaoke ditemani cewek-cewek cantik super seksi.”

”Terus..Gimana akhirnya?” Ali sungguh penasaran dengan akhir cerita Arto.

”Akhirnya ya..endasmu soak ! Gara-gara kamu, aku gak bisa ngelanjutin mimpiku..”

”Haha..Enak juga ya..” Kata Ali dengan pikirannya yang melayang membayangkan kemewahan di luar sana.

”Coba kalo disini kita bisa bebas memakai fasilitas pribadi. Aku pasti minta ibuku di kampung menjual sawah warisannya. Aku mau beli kasur dan bantal yang bikin tidurku pulas, sound system canggih, kamar mandi dalam dan...dan tentunya aku bawa gadis idamanku menginap disini..Haha.. Sudah kamar gratis dapat makan pula.” Bagai orang gila saja Arto. Ia mengkhayal melebihi imajinasinya.

”Kamu kira disini kontrakan Ar..?! Aku juga mau sih kayak gitu. Aku akan jual ternakku dan kubelikan semua kebutuhanku disini. Kita jadikan tempat ini mewah kayak dihotel..Haha..” Penyakit gila Arto Suryo menular pada Ali, ia pun memimpikan hal yang tak masuk akal, hingga jantungnya berdegup seakan impiannya itu benar-benar terwujud.

 Dari lorong gang kamar sel, sayup-sayup terdengar hentakan sepatu milik petugas yang berjaga. Arto dan Ali masih sibuk dengan obrolannya hingga tak mendengar seorang sipir sedang mendekati kamar bilik mereka. Kian lama kian mendekati.

 ”Hai..sudah malam..! Berisik ! Pasti membicarakan hal-hal yang mewah ya..Bosan saya mendengarnya ! Tiap malam kalian bicarakan itu, tapi..tapi mana buktinya ?!” Nada bicara sipir itu sangat gemas, kecut dan seolah ia hendak melahap dua tahanan kelas terinya. 

”Kami juga sudah bosan, melihat anda yang selalu diam-diam menguping pembicaraan kami..!” Gumam Arto dan Ali dengan suara sangat pelan.

”Apa!? Kalian bicara apa tadi?” Mata sipir itu melotot pada Ali dan Arto.

”Tidak ada Pak..Kami hanya mau tanya, kapan akan ada lagi pemotongan masa tahanan kami?” Jawab Ali dengan tenang.

“Saya tidak tahu! Tanya aja sana sama rumput yang bergoyang.” Kata sipir itu sambil berlalu dari hadapan mereka.  

 

-SELESAI-

Joomlart