MIMPI RINTIK HUJAN
Imran Makmur
Di pelataran Monas, hujan bergerai bercampur air mataku. Lantai masih basah, diguyur hujan sejak pagi tadi. Di bawah tiang bendera, aku duduk menelungkup. Bendera di atasku kusut, menggigil dingin disirami rinai hampir tiap hari. Tetes-tetes air yang merembes di ujung kain merah putih, jatuh di pangkuanku. Ingin memelukku, atau menghangatkanku. Tapi aku tetap menangis, menemani hujan. Menggambarkan sendu jiwa bersama mendung langit. Mencari keramaian.
Sebulan aku meninggalkan emak, jauh di ufuk timur membelah laut. Wanita yang sempurna, ikhlas segalanya hanya untukku. Namun bayangnya, senantiasa menggapai dari jauh, terisak dan berbisik, “Nak, cepatlah pulang!”
Pekik kereta bersandar di pojok kota. Bersanding bersama keras dan tak gentarnya keadaan stasiun. Orang-orang tak peduli, hilir mudik ke sana ke mari. Cuek, acuh. Tapi di sanalah kutorehkan bagian kehidupanku, untuk membuka lembaran baru yang abstrak. Yang sulit ku prediksikan sejak dulu.
Di sana pula masa depanku kian membius, cerah memandang bangunan tinggi-tinggi serta ribuan mobil yang melaju acuh. Pun di sanalah sesungging senyum kepastian menggaris bibirku, memutuskan bahwa inilah jalan dan lembaran kehidupanku yang mau tak mau akan aku lalui.
Di tempat duduk stasiun itu pula, aku pernah berjanji pada emak – meski tak didengar langsung oleh beliau - akan membawa pulang masa depan untuk menggendong emak memeluk bahagia. Kian pasti ku melangkah, meski tak kuketahui arah tujuanku di metropolitan Jakarta. Tapi tekad ternyata telah membangun pikiranku, lurus memutih di ufuk. Di pintu surga aku akan mengetuk. Aku yakin itu.
***
Lirih semilir angin berbisik penuh gairah.
Cepatlah berlari kawan. Di sini akan kau temukan kesenangan tanpa batas. Di sinilah kau berlonjak, mengikuti musik gaya pop dan materialistis, kemudian berdentamlah. Semangatlah kawan. Ayo, senyumlah.
“Tapi aku bingung, aku dari kampung,”
Justru di sini kau akan temukan kepastian tanpa kebingungan, teman yang tak peduli kastamu. Di sinilah kau temukan persamaan, di sinilah kau temukan bahagiamu. Dalam melambungnya angan dan ekstasi bawah sadarmu. Cepatlah Yung. Aah, pergerakanmu sangat lambat. Kau akan digilas zaman jika berjalan layu seperti itu.
“Tapi bolehkah kau diam sebentar. Aku sedang berpikir.”
Ah, kau seperti ilmuwan saja. Tak ada yang patut dipikirkan. Terlalu banyak memilah justru semakin menambah kebingunganmu.
“Berikan aku waktu sedikit saja.”
Kalau begitu aku pergi saja. Sudahlah, kau tak pantas meraih kegemarlapanku. Kau sama saja dengan kaum urban lain. Pengecut.
“Baik. Baiklah. Aku terima tawaranmu. Bukankah kebahagiaan itu penting. Bukankah kegemerlapan itu penting. Lantas mengapa aku harus menolak keberadaanmu.”
Benar, kau memang cerdas kawan. Ayo ikutlah bersamaku.
“Baiklah, aku siap.”
Tiba-tiba,
“Mas. Maaf. Anda mengigau tadi. Waktu telah larut. Sebaiknya anda tidak tertidur di stasiun ini. Agak rawan gitu mas!” seorang satpam membangunkanku.
“Oh maaf. Iya, terima kasih. Eem, tapi di mana orang itu? Andakah?”
Satpam tersebut bingung. Keningnya berkerut.
“Maksud anda?”
“Seseorang yang menawarkan kegemerlapan, kebahagiaan, keceriaan, keriangan, kedamaian, ke…” ucapku terpotong.
“Maaf mas, mungkin anda belum terlalu sadar saat ini. Silakan fokuslah dulu.”
“Oh. Eh. Ya, maaf. Sepertinya. Saya masih menganggap ini mimpi.”
Namun buru-buru aku teringat sesuatu.
“Tapi di mana tas saya, pak?” tanyaku pada satpam itu. Panik.
***
Gerimis kembali mengering. Menguap dan melayang. Monas yang menjulang, menjadi bagian latar-latar di belakangku. Ujung-ujungnya yang berkilau, seakan menusuk matahari yang membara menyengat tak kenal siapapun.
Aktifitas Jakarta menggeliat. Kendaraan lalu lalang dengan ego. Bunyi klakson bertabrakan dengan derum yang tak henti-henti. Patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia masih memancang kekar. Air mancur menari. Tapi di sisinya aku tergeletak, bermuram durja.
Tiga hari aku di Jakarta. Pakaian yang kukenakan pun tak pernah lepas sejak tiga hari. Barang bawaanku raib. Aku tak tahu lagi, apa yang ku perbuat. Saat ini jiwaku sedang terseok-seok. Linglung, putus asa. Tiba-tiba wajah emak mengiang di benak, serta cinta terakhir yang mengalir pada air matanya saat melepaskanku ke Jakarta.
“Apa yang kau pikirkan, kawan?”
Sebuah suara perlahan melintasi telingaku.
“Hei. Aku di sini.”
Aku celingak-celinguk. Mencari sumber suara. Memahami perkataan itu.
“Kawan kau tak melihatku ya. Aku di atasmu.”
Aku mendongak ke atas. Sekejap aku terkesiap. Desiran darah berhenti mendadak.
“Kau...kau?”
“Ya, ini aku kawan!”
“Ah, aku pasti bermimpi. Tidak mungkin, tidak mungkin!”
“Kembalilah ke asalmu. Jakarta tidak akan mampu memberikanmu apa-apa. Kemampuan dan pendidikan yang kau miliki, hanya akan terdepak, tidak dihiraukan di sini.”
“Ya, aku bingung saat ini. Tolonglah aku. Aku tak memiliki apa-apa saat ini.”
“Jakarta memang keras. Kesenjangan dibungkus halus dengan metropolitan. Jangan tertipu, segeralah balik ke kampung halaman.”
“Tapi tolonglah aku. Aku tak memiliki uang untuk pulang. Barang bawaanku dicuri di stasiun.”
“Hei, tolonglah. Mengapa kau kembali diam saja.”
Patung Selamat Datang itu tak peduli. Dia diam.
***
Keadaan yang memaksaku melakukan ini. Bukan kehendakku, tapi keadaanlah yang menentukan kisahku. Aku hanya terbawa dan terombang-ambing bagai plankton. Arus keterpaksaan itulah yang mengombang-ambing. Jika tidak seperti itu, aku akan ditenggelamkan. Dan aku tak ingin mati tenggelam.
Bulan memerah. Pukul dua belas malam. Kendaraan melaju bagai angin. Perutku melilit dan aku sangat ingin makan. Seharian aku tidak pernah makan. Dan perutku meronta-ronta, mengeluarkan keringat dingin menjalar. Aku gemetar. Lagi-lagi aku tertidur di pelataran toko, berjubel bersama lalat, nyamuk dan himpitan dingin malam.
Di hadapanku sepasang manusia berduaan di bawah pohon. Sekelilingnya sunyi, hanya mereka berdua. Sekitarku pun begitu, kendaraan melaju tak begitu peduli.
Terbesitlah keinginan untuk meminta tolong untuk pengganjal perutku. Aku betul-betul lapar. Bahkan pandanganku menjadi suram dan berkunang-kunang.
“Maaf, mengganggu.” Kata-kata itu mengalir dan bergelombang. Seperti ada beban yang menggantungi suaraku.
Kemesraan keduanya pecah. Sang gadis menatap acuh. Pemuda menatap sinis.
“Kau mau apa hah?” bentak pemuda itu sambil maju.
“Saya lapar. Bolehkah saya me....”
“Pergi kau gembel.” Tolaknya mentah-mentah. Di dorongnya aku ke belakang, keras. Dan aku terpental. Bedebum, kepalaku mendarat tepat di tanah. Kurasakan asin di hidungku. Darah.
Lapar buru-buru mendekapku, namun kali ini dengan diselimuti rasa marah. Emosiku meluap. Dan iblis menyanyikan lagu harga diri, aku harus mendapatkan makanan. Apapun caranya.
Mataku menangkap sinyal, sebuah balok tergeletak diam tidak jauh di sisiku. Segera kuraih kemudian memukulkannya tepat di kepala pemuda. Gadisnya berteriak. Pemuda itu jatuh tersungkur seketika. Pelan-pelan dari kepalanya mengalir cairan merah. Seperti warna darah.
Aku segera berlari. Jauh. Sangat jauh.
***
Di sini aku duduk tertelungkup. Siraman selaksa hujan dari atas menerpaku lembut. Sekelilingku memberi cekam, gelap di antara deru hujan. Dunia sekelilingku beranjak malam, remang-remang. Rinainya yang turun serta langit mendung, menambah keremangan duniaku. Aku bagai patung di antara tubuh Monas yang menjulang dan ujung tiangnya yang bercahaya, emas.
Peristiwa kemarin seketika mengingatkanku pada emak. Kembali kukenang saat ia berkata, “Emak berharap kau kerjalah di sini. Bersama adik-adik kau, Bantu emak di sini.”
Tapi untaian kata itu tidak mampu membendung semangatku yang menggebu. Aku hendak ke ibukota. Kata-kata orang pun tidak ku hiraukan. Tujuanku hanya satu, dan kesuksesanku telah digoreskan di tanah itu, Jakarta. Kataku dengan pasti.
Tapi telah hampir sebulan, aku telah berbuat fatal. Dan aku tak tahu, apakah pemuda itu tewas, atau hanya luka. Entahlah. Sekarang biarkanlah aku sendiri, menikmati setiap rintik rinai, kembali bersama bayang emak dan adik-adikku. Setidaknya aku harus kembali, atmosfer Jakarta ternyata keras, tidak cocok untukku. Aku tak akan mampu bertahan dalam kondisi seperti ini. Di kampung, biarlah ku garap lahan pak lurah. Tapi aku terkendala sesuatu, uang. Aku tidak memiliki sepeser pun untuk kembali.
***
Anganku mengambang pagi ini. Telah lama aku terkatung-katung. Disergap gelisah dan putus asa. Kini saatnya aku memutuskan. Selama ini aku tak juga mendapatkan pekerjaan. Aku hanya mendapatkan makanan dari pengurus mesjid tempat aku bermalam. Dan aku pun malu. Meminta seperti itu tak ubahnya seorang gembel. Dan kau tak ingin dikatakan seperti itu. Aku adalah pemuda kuat. Tapi, Jakarta tidak hanya membutuhkan pemuda kuat, namun juga ijazah dan kecerdasan.
Aku berjalan, merintis masa depan yang terpecah-pecah. Aku berjalan mencari serpihan-serpihan yang berhamburan. Mungkin saja aku akan menemukannya dan menyusunnya kembali. Aku akan menyusunnya menurut kehendakku. Tapi mencari serpihan masa depan itulah yang sulit. Aku harus merasakan pula kepahitan.
Persimpangan jalan, aku berhadapan dengan sebuah rumah. Tidak besar, hanya pekarangannya yang luas. Namun bukan rumah itu yang membuatku tertarik, tapi sebuah motor yang terparkir di luar, di tepi jalan. Di motor itu bergantung kunci. Sebuah kendaraan yang tak berpemilik, untuk saat ini tentunya. Telingaku panas, otakku mengembang, nafasku naik turun. Tiba-tiba dalam kebimbangan ini, aku terpikir untuk mencuri motor itu.
Sekali tak mengapalah. Ambil saja.
Lagipula, keadaanmu saat ini dapat ditolerir. Malaikat pun takkan mencatat hal ini sebagai keburukan. Ia pasti akan mengibakanmu. Sudahlah, jangan banyak pikir lagi. Waktumu tak banyak.
Tunggu dulu, kejahatan sekecil apapun tetaplah kejahatan. Ingat, rezeki itu telah ditentukan jauh sebelum kau terlahir di dunia ini.
Jangan dengarkan dia. Dia hanya mengatakan itu, agar kau semakin sempit. Apakah dia mampu menjamin. Tidak bukan. Cepatlah. Waktumu kian sedikit. Sebelum keadaannya ramai.
Aku tergerak. Duniaku limbung kembali. Biarlah, biarlah. Sekali ini saja. Itupun hanya keterpaksaan. Aku tak memiliki pilihan. Hanya ini, ya hanya ini.
Pelan-pelan kudekati motor itu. Jantungku berdegup kencang sekali. Aku gemetar saat memegang kunci. Wajahku pucat pasi. Baru kali ini kesalahan tak kurasakan sebagai kesalahan. Kekhilafan tak kupikir sebagai kekhilafan.
Namun akhirnya waktu berjalan lambat. Sangat lambat. Seorang warga berteriak, memergokiku. Aku sekarang panik. Remuk jiwaku, lemah tulang belulangku. Aku disergap kerumunan. Diperangkap perasaan. Ada gejolak penyesalan, namun semua terlambat. Seperti pergerakan waktu. Sehingga akupun berlari sekencang mungkin, melaju dalam kejaran orang yang memburu.
Di persimpangan, beberapa orang memalangi jalan. Wajah-wajah diselip kebencian. Menatapku tajam, menusuk dadaku. Aku melangkah, berhenti. Secuil harapanku kini pergi. Aku menatap sekilas kemudian kuserahkan diriku pada waktu yang berjalan.
“Hajar. Berikan tendangan pada maling ini. Ayo!”
Duk, duk. Pukulan dan hantaman benda-benda keras nyasar di tubuh dan kepalaku.
“Jangan beri ampun!”
Ingatanku kembali ke masa lalu.
“Bakar saja!”
Kenanganku mengulas masa kecil. Aku teringat adik-adikku di kampung.
“Jangan, kita tidak bisa main hakim sendiri!”
Aku teringat lagi cita-citaku dulu, sukses di kota ini. Menggendong emak memeluk bahagia.
“Laporkan saja ke polisi!”
Aku menangis, mengenang kisahku. Perjalanan hidupku.
“Ah, bakar. Bakar!”
“Rasakan bensin ini, brengsek!”
Aku diguyur minyak. Kulitku dingin. Aku menggigil.
Aku rindu emak!
“Jangan. Tidak bisa. Kalian akan saya laporkan ke polisi. Kita tidak bisa main hakim sandiri, pak!” Sebuah suara, kulihat seorang pemuda, tampaknya mahasiswa berdiri di antara kerumunan. Namun samar-samar. Aku tak dapat memastikan.
Sekelilingku bisu. Jiwaku mengambang. Emak dan adik-adikku, berdiri di depan. Mengajakku, merangkulku, memanggilku pulang. Aku harus segera berdiri. Menggapai tangannya, merangkul lengannya. Tapi seketika aku tak sadarkan diri. Orang-orang tak menaruh iba. Aku tenggelam dalam lautan pasrah.
***
Makassar, 7 Nov 2008
20:05
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Mimpi Rintik Hujan






































