Sebuah
Bulan dan Seribu Bunga
Oleh: Syarah Veriaty
Santi menyerah. Ia kehabisan kata-kata untuk membujuk bocah perempuannya segera tidur. Seperti malam-malam sebelumnya, Santi lah yang memang harus mengalah dan menemani Kirani hingga larut malam. Selimut tebal berwana kuning cerah dengan gambar tokoh kartun seekor bebek sudah sedari tadi menutupi tubuh Kirani. Namun, anak perempuan berusia sepuluh tahun itu belum juga mau memejamkan matanya. Sang ibu duduk di sebelahnya.
“Ibu, kapan ayah pulang?”
Dulu, dulu sekali, ketika Kirani sudah semakin lancar bicaranya, Santi begitu kaget saat putri tunggalnya bertanya demikian. Tapi kini, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi mengenai jawaban yang mesti ia tuturkan. Hampir setiap malam, Kirani memang akan selalu menanyakan hal yang sama.
Santi menyunggingkan sedikit senyum sambil mengusap kepala Kirani yang menanti-nanti jawaban ibunya.
“Ayah sedang pergi untuk bekerja.”
“Ibu selalu bilang itu padaku. Tapi kenapa ayah belum pulang-pulang juga, bu?”
“Kirani, ia terlalu banyak pekerjaan.”
“Masak tidak ada hari libur untuk ayah? Ayahnya teman-temanku…”
“Kirani…” Santi sudah tahu hendak mengatakan apa bocah itu. Kirani diam, mengerti bahwa ibunya sejak dulu kurang suka membicarakan soal ayah.
“Ayahmu berbeda dengan ayah teman-temanmu.”
“Masak?”
Santi mengangguk, ragu. Jemarinya masih mengusap kepala Kirani.
“Ibu…”
“Ya?”
“Aku mau ketemu ayah.” Kirani tiba-tiba merengek.
“Iya. Nanti, ya.”
“Kapan, bu?”
“Nanti.” Santi menggigit-gigit bibirnya. Semakin lama, ia semakin membenci sosok laki-laki yang pernah menyatakan cinta dan berjanji untuk menikahinya. Tapi ternyata, lelaki itu malah kabur saat mengetahui bahwa Santi tengah mengandung anaknya. Santi kecewa. Ia berusaha membuang wajah lelaki itu. Tapi tidak bisa, wajah lelaki itu adalah separuh dari bagian dari Kirana, putri tunggalnya.
“Ibu selalu bilang nanti. Tapi buktinya ayah tidak pernah datang. Tiap liburan atau lebaran, ayah juga tidak berkumpul bersama kita.”
“Dia akan pulang, nanti.” Dengan bibir gemetar Santi berkata. Di dalam hatinya, tak pernah terlintas sekali pun niat untuk mempertemukan Kirana dan lelaki yang membuatnya dibuang oleh keluarga sendiri karena mengandung seorang anak tanpa ayah. Santi sudah teramat benci dengan lelaki itu! Lelaki itu juga yang membuatnya harus mencari nafkah sendiri dengan jalan yang benar-benar membuat hubungannya dengan keluarga semakin memburuk : menjadi perempuan malam.
Kirani putus asa. Sejak kecil, ia hanya akan menelan rasa rindu pada ayah.
“Lebih baik kamu tidur. Sudah terlalu malam.” Santi mengingatkan Kirani. Kirani tak menjawab, hatinya masih kesal karena selalu diberi kata-kata ‘nanti’ jika ia bertanya soal kepulangan ayah.
***
Kirani panik, ia berusaha berlari menuju sebuah pohon besar, bersembunyi di bawahnya. Sambil memandangi langit malam, Kirani mencoba menenangkan diri yang terengah-engah. Di langit, segerombol bintang menari-nari riang mengelilingi sebuah bulan purnama. Alunan musik gempita begitu riuh. Perdu-perdu berhenti mendesir, jangkrik berhenti bernyanyi, kelopak-kelopak bunga terpana takjub tanpa khawatir ganas sang angin malam mengoyak tubuh.
Kirani lekat memandangi langit. Lamat-lamat, terukir sebuah wajah cantik di bulan. Bukan nini Anteh*). Tapi seorang perempuan, cantik. Wajahnya begitu kerap dilihat Kirani. Wajah dalam purnama itu tersenyum riang., bangga dikelilingi bintang-bintang. Kirani mencoba mengingat-ingat wajah siapa yang sedang berada dalam bulan purnama itu.
Sebuah keluarga katak turut melompat-lompat girang di tanah becek. Segerombolan bintang di langit makin mendekat ke arah purnama. Mereka membentuk lingkaran, bergandengan tangan, bernyanyi-nyanyi. Kirani terpaku, ia jadi ingat permainan sewaktu Taman Kanak-kanak dulu. Si Purnama makin bersorak girang.
“Hahaha… Hahaha… Hahaha…” Sebuah tawa yang nyaring memnggema di sudut malam.
Kirani menengok ke kanan-kiri, mencari asal suara. Ia terperanjat, karena di sekelilingnya sudah berkumpul berbagai macam bunga.
“Lihat! Lihat! Ahh… Kasihan sekali si purnama?” Mawar berkata iba. Bunga-bunga lain menengadah ke langit yang sedang menggelar pesta.
“Teman, bukankah itu Kirani?” Setangkai bunga tiba-tiba menunjuk ke arah Kirani. Kirani bengong.
“Ya… Ya… itu Kirani! Itu Kirani… hahaha… ahahaha…”
Kirani bingung melihat bunga-bunga yang seakan memojokkan dirinya.
“Hey, Kirani! Lihatlah! Lihatlah ke langit.”
Kirani mencari-cari asal suara yang ternyata milik bunga asoka. Kirani segera melihat ke langit lagi.
“Bukankah wajah bulan itu mirip wajah ibumu?”
Tiba-tiba gelak tawa dari beraneka bunga itu terhenti. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Kirani masih mengamati bulan purnama.
“Dia…” Kirani berkata lirih dengan kata yang hampir tak terdengar ketika ia mengenali wajah dalam bulan itu.
“Dia ibumu!”
“Ibumu, Kirani!”
“Lekaslah suruh ibumu pulang! Kasihan dia! Apa kamu tidak tahu kalau bintang-bintang itu tak akan pernah setia pada bulan?”
Kirani diam.
“Ya… Ya… Bintang-bintang itu akan pergi! Bulan akan sendiri! Bintang-bintang itu hanya akan meninggalkan luka untuk bulan!”
“Luka!” Sorak bunga-bunga yang lain.
“Luka sepertimu, Kirani! Kamu adalah luka! Hahahaha…”
“Hahaha…”
“Hahahaha…” Tawa bunga-bunga itu melengking. Kirani sudah tak bisa mendengar cemoohan bunga-bunga itu. Ia menangis.
“Ibu…”
***
Kirani bangun dengan tubuh yang bermandikan peluh. Dadanya bergemuruh hebat, jantungnya berdetak cepat. Napasnya tersengal. Mimpikah yang barusan itu?
Kirani memandangi ibunya yang ternyata tertidur di sampingnya. Di wajah Kirani, masih jelas terbayang bagaimana wajah ibu yang terukir di bulan. Kirani masih mendengar ejekkan bunga-bunga pada bulan yang mirip ibunya.
Handphone ibunya tiba-tiba berdering, Kirani kaget. Ia tak segera beranjak. Kirani memandangi ibunya yang seakan begitu terlelap dan tak mendengar dering handphone. Kirani bangkit, berjalan menuju meja kecil dimana handphone itu tergeletak.
Ragu, Kirani menyenuh handphone dan menekan tombolnya.
“Santi… dimana kamu, hah? Aku sudah menunggumu berjam-jam lamanya? Kamu jadi datang atau tidak? Kalau tahu begini, lebih baik aku cari teman kencan lain!” Suara di handphone terdengar begitu gusar memekakkan telinga.
“Hey Santi! Dengar aku tidak? Kamu sedang apa??”
“Haloo…” Kirani baru berani membuka suara. Suara lelaki di seberang sana agak bingung. Lelaki itu buru-buru mematikan telepon. Kirani bingung.
“Apa itu ayah?” Tanyanya pada diri sendiri.
***
Palangka Raya
12062009
*) Nini Anteh adalah salah satu tokoh dalam dongeng anak-anak yang tinggal di bulan. Nini Anteh selalu menjahit pakaian untuk diberikan pada anak-anak yang baik hati.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Sebuah Bulan dan Seribu Bunga






































