<< Cerpen Empat Setengah Jam Menunggu  >>

Empat Setengah Jam Menunggu

E-mail Cetak PDF

Empat Setengah Jam Menunggu
Oleh: Syarah Veriaty

 

“Kamu jadi berangkat, Pur?” Syaiful, abang tertuanya bertanya sambil mengamati tingkah si bungsu yang menyisir rapi rambut di depan cermin. Purwanto hanya mengangguk, wajahnya senang.

“Kamu yakin dia akan datang?” Surya yang duduk di atas ranjang di sebelah Syaiful agak sangsi. Purwanto membalikkan tubuh menghadap kedua abangnya.

“Aku yakin dia akan datang.” Purwanto penuh percaya diri.

“Siapa tahu dia lupa.”

“Itu kan janji beberapa tahun silam, Pur.”

Purwanto menggeleng cepat. “Tidak, dia tidak mungkin lupa.”

“Siapa tahu…”

“Aku yakin dia tidak akan mengingkari janjinya.” Tukas Purwanto memotong kata-kata Syaiful.

“Aku berangkat, mas.” Purwanto segera bergegas. Ia ke luar kamar menuju dapur mengambil sepatunya.

“Apa kamu pikir Ayu akan datang?” Surya bertanya pada Syaiful. Syaiful tak menjawab, ia hanya menggeleng penuh ragu.

 

***

 

“Jangan menangis, kita pasti ketemu lagi.” Purwanto menenangkan Ayu yang terisak. Halte sekolah sudah mulai sepi. Tinggal mereka berdua saja. Ayu terus menangis. Purwanto hampir-hampir putus asa.

“Begini saja, bagaimana kalau kita buat janji?” Usul Purwanto. Ayu mengangkat wajahnya.

“Janji?” Bola mata kanak-kanak Ayu segera berpijar penuh riang.

Purwanto mengangguk.

“Sepuluh tahun lagi, kita akan ketemu, di sini, pada tanggal hari ini. Janji?” Purwanto menyodorkan kelingking kanannya. Ayu mengangguk pasti.

“Janji.”

Mereka tertawa bersama.

“Pur, jangan sampai lupa ya.” Ayu berkata lagi.

Purwanto mengangguk. “Aku tak akan lupa. Kita ketemu di sini, ya.”

“Pukul berapa?”

“Mm… sekitar jam delapan malam.”

“Delapan malam?” Ayu bingung. “Kalau ke luar rumah malam hari, ibuku pasti tidak akan mengijinkan.” Kata Ayu.

Purwanto tersenyum.

“Kalau sepuluh tahun mendatang, pasti akan dapat ijin, kan?” Tanya Purwanto. Ayu segera tersenyum dan mengangguk.

“Hei… Sudah jam tiga sore! Ayo lekas pulang! Nanti orang tua kalian panik! Hh… Murid kelas satu kan?” Suara Satpam SMP mereka tampak garang menegur. Ayu dan Purwanto saling berpandangan dan segera lari.

Sepanjang jalan, sambil bergandengan tangan mereka terus tertawa-tawa seakan ingin menghabiskan sisa-sisa waktu sebelum berpisah.

 

***

 

Purwanto menyentuh bangku halte yang sudah berganti cat. Beberapa kenangan pernah tercatat di sini, di SMPnya dan Ayu dulu. Ia masih ingat hari terakhir mereka bersama dan membuat sebuah janji untuk masa depan. Saat itu Ayu menangis, tak henti. Purwanto sampai bingung sendiri.

Ayu adalah sahabatnya sejak Taman Kanak-kanak dulu. Sayang, mereka harus berpisah saat kedua orang tua Purwanto bercerai dan Purwanto lebih memilih untuk tinggal bersama ayahnya di luar kota.

Sudah sepuluh tahun lebih. Purwanto mencoba membayangkan wajah Ayu yang sekarang. Apakah bola mata Ayu yang teduh telah berubah? Setinggi apa tubuh mungil Ayu dulu? Apakah ia lebih gemuk? Atau malah bertambah kurus? Apakah…

Purwanto menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Ia duduk di bangku halte. Lalu lintas di jalan raya depan halte begitu ramai.

“Ah… malam minggu. Pantas…” Purwanto tersenyum lagi. Beberapa pasangan tampak erat berpelukan di sepeda motor.

Purwanto mulai gelisah, cukup lama ia sudah tiba di sini. Tapi Ayu tak kunjung datang. Apakah Ayu lupa? Purwanto melirik arloji perak di pergelangan tangan.

“Sudah lebih dua puluh menit dari waktu perjanjian.” Keluhnya pada diri sendiri.

Purwanto tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Seraya membuang bosan, ia memandangi apa saja yang melintas di jalan raya sambil terus mencoba membayangkan wajah Ayu sepuluh tahun yang lalu.

 

***

 

“Ayu…” Mila mengejar langkah Ayu yang sudah berdiri di ambang pintu diskotik.

“Aku gak bisa.” Ayu berteriak agar suaranya terdengar di tengah hiruk-pikuk musik.

“Ayolah… Om Rudi kan langgananmu. Dia biasa bayar kamu mahal.” Mila membujuk.

“Maaf. Tapi malam ini benar-benar gak bisa.” Ayu menolak.

Wajah Mila kesal, ia menarik Ayu ke luar diskotik. Dua orang penjaga mengamati tingkah mereka. Suasana bising agak kurang.

“Lagi pula gak bakal lama kok! Om Rudi udah teler dari tadi! Paling kamu cuma temenin dia sebentar di kamar!”

“Aduh… Maaf. Gak bisa.” Ayu menggeleng, ia bergegas. Tapi lengannya keburu ditarik Mila.

“Kamu mau ketemu laki-laki impian kamu itu kan? Hh… Yu, dari mana kamu bisa yakin dia akan datang? Mungkin aja dia lupa sama janji yang udah bertahun-tahun itu! Lagi pula, apa dia mau terima kamu yang sekarang? Heh?” Mila bertanya, menyindir. Ayu diam, Mila melepaskan cengkraman tangannya di lengan Ayu.

Gak, Mil. Aku yakin dia datang.” Ayu tegas.

“Ahh… Kamu…”

“Kamu aja yang temenin om Rudi. Aku benar-benar gak bisa malam ini.”

“Yu…” Mila memohon. Ayu bimbang.

“Baiklah, begini saja.” Mila mengusulkan sesuatu. “Kalau kamu memang yakin lelaki itu masih ingat pada janjinya, aku yakin dia juga mau menunggu kamu beberapa jam lagi.”

Gak bisa. Aku mesti pergi sekarang!” Ayu menolak.

“Ahh… Yakin deh! Kalau dia sudah mau menunggu bertahun-tahun lamanya, kenapa dia gak mau menunggu buat beberapa jam aja?” Mila bertanya. Ayu tampak berpikir. Tanpa banyak bicara, Mila menyeret Ayu yang masih diam ke dalam diskotik menemui Om Rudi.

 

***

 

“Apa mereka sudah ketemu ya?” Tanya Syaiful sambil memindah-mindah channel televisi seenaknya. Surya yang duduk di sebelahnya tampak menggeleng.

“Aku masih ragu.”

“Aku yakin Ayu gak datang.” Syaiful bicara lagi.

“Siapa tahu dia datang.” Sela Surya. Mereka saling berpandangan.

“Aku pikir… Pur gak pantas bersama perempuan itu.”

“Aku juga berpikir yang sama. Aku malah berharap mereka tidak bertemu malam ini.” Timpal Surya.

“Kasihan Pur…”

“Jadi, kamu juga pernah lihat Ayu bersama Pak Rudi atasan kita itu?” Surya bertanya. Syaiful mengangguk.

“Beberapa hari yang lalu. Waktu aku makan malam bersama Tini. Mereka mesra, kayak suami istri.”

“Wah… aku gak bisa membayangkan kalau sampai istrinya pak Rudi tau…” Surya tersenyum. Syaiful hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Ayu sudah jauh berubah.”

“Keadaan yang memaksanya begitu.” Syaiful tak ingin terlalu memojokkan perempuan yang dicintai adik bungsunya itu.

“Mestinya ia bisa cari pekerjaan yang lebih layak.”

“Sebagai apa? Dia cuma tamatan SMP waktu kedua orang tuanya meninggal dan ia dipaksa membesarkan tiga orang adiknya.”

Surya diam. Ia menerka-nerka apakah saat ini Purwanto tengah bersama Ayu, membicarakan masa-masa kecil dulu atau malah mereka belum bertemu.

 

***

 

“Astaga!” Ayu terlonjak dan bangkit dari tidurnya. Ia menepuk-nepuk keningnya kesal. “Aku ketiduran!”

Ayu melirik jam dinding, pukul setengah satu. Ayu bergegas, pelan-pelan takut membangunkan om Rudi yang masih pulas di sebelahnya. Ayu mencari-cari sepatunya di bawah ranjang. Ia berjingkit-jingkit menuju pintu kamar dan menutupnya pelan.

“Ayu…” Mila memanggil namanya.

“Mau kemana?” Teman-teman yang lain bertanya.

Ayu segera berlari tanpa menghiraukan pertanyaan teman-temannya yang heran. Ia segera berlari menuju satu tempat : halte. Apakah Pur masih di sana? Apakah Pur masih menunggunya? Pur…

Ayu berlari, langkahnya tergesa. Napasnya tersengal-sengal. Wajah Purwanto makin jauh ia rasa. Wajah Purwanto berlari meninggalkannya. Ayu menangis, terus berlari.

 

***

 

Purwanto merutuki arlojinya. Apakah memang waktu yang terlalu cepat melangkah atau Ayu yang telah lupa pada janji mereka sepuluh tahun lalu? Purwanto menggaruk-garuk rambutnya yang mulai berantakan.

“Empat setengah jam, Yu. Kamu datang atau tidak?” Purwanto berdiri, melihat jalanan yang mulai sepi. Menanti sosok yang ia tunggu berjam-jam lamanya, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun.

Purwanto duduk lagi di bangku halte.

“Sepuluh menit lagi aku akan pulang, Yu. Aku harap kamu akan datang sebelum sepuluh menit berakhir.”

 

***

 

Palangka Raya

09062009

Joomlart