<< Cerpen NOT YESTERDAY, TODAY OR TOMORROW  >>

NOT YESTERDAY, TODAY OR TOMORROW

E-mail Cetak PDF

NOT YESTERDAY, TODAY OR TOMORROW
Oleh : Yathi Hasta
 

“Dik, dik!” Waitress yang melintas di depanku dengan lincah membalikkan badannya yang mungil. Aku tahu, gadis ini bukan waitress yang tadi melayaniku, tapi menilik dari seragamnya, aku yakin dia bekerja di café and resto yang sama dengan waitress yang pertama. Si gadis yang kupanggil datang menghampiri seraya tersenyum manis. Aku merasakan senyumnya yang tulus, bukan sekedar senyum buatan karena tuntutan pekerjaan yang memaksanya untuk selalu melayani tamu dengan senyum.  

“Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya dengan wajah bersemangat. Sekarang aku tidak saja melihat senyum manisnya yang tulus, tapi juga wajah yang bright di balik temarannya senja di pantai Jimbaran yang alunan debur ombaknya lembut menentramkan hati.

“Tolong bill-nya, ya!” pintaku sambil memperhatikan mata gadis itu untuk memastikan apakah senyum manis dan wajahnya yang cerah selaras dengan pancaran matanya. Dan, memang begitulah adanya…matanya mencerminkan ketulusan melayani, seolah sadar bahwa ia bekerja untuk melayani. Kesadaran seperti inilah yang tidak dimiliki sebagian besar waitress-waitressku.

Di Jakarta, aku memang pengusaha resto mahal dengan para waitress yang cantik berseragam seksi. Tapi sekarang aku merasa seolah menang berkelahi dengan anak kecil. Waitress-waitressku yang cantik dan tinggi semampai dengan baju bagus seolah tak ada apa-apanya begitu aku bertemu gadis ini yang secara fisik dan performance nilainya di bawah waitress-waitressku, tapi ia memiiki yang tidak dimiliki waitress-waitressku, yakni senyum tulus seperti senyumnya, yang bagiku lebih berharga.

“Baik, Nyonya. Tolong tunggu sebentar,” jawabnya sambil sedikit menundukkan kepala dan tersenyum. Aku tidak menjawabnya, malah menatapnya tajam dan dalam. Sambil menunggu waitress itu datang, sengaja aku memperhatikan rombongan orang-orang Korea yang duduk persis di depanku. Mereka selalu tertawa, entah apa yang lucu, tapi tiap patah kata selalu mereka sambut dengan tawa. Meski kegembiaraan mereka tak sanggup menulariku yang sedekat ini, tapi aku berharap agar mereka terus tertawa. 

Tak lama, si gadis telah berada di hadapanku lagi. Mengawali ucapannya, lagi-lagi dia suguhkan senyum manis, seolah tak pernah lelah tersenyum.

“Ini bill-nya, Nyonya. Silahkan ambil.Lalu ia sedikit mundur. Aku melihat total tagihan lalu mengambil uang di dompet.

“Nyonya, kenapa anda sendirian? Anda dari Jakarta, ya?” tanyanya dengan nada ceria seolah tak peduli dengan air mukaku yang sama sekali tak ramah. Aku tak menyangka dia berani bertanya dengan entengnya, tanpa takut aku akan bereaksi apa. Aku diam, tak menjawab. Dalam hati mengeluh, kenapa pertanyaan seperti itu yang ia lontarkan? Ah…sebuah pertanyaan yang seketika memanggil sedu sedan yang berhari-hari coba kuatasi.

Sendirian, aku memang sendirian kini. Aku memandang langit yang mulai gelap untuk menahan agar airmata tidak jatuh berderai. Langit yang tadi sore sangat indah, saat sebuah pesawat jet sedang naik ke angkasa di atas pantai Jimbaran yang masih ramai oleh anak-anak yang bermain bola. Dari ekor pesawat jet tersebut keluar asap putih yang membentuk lukisan garis-garis panjang yang alirannya sangat indah. Sayang, aku tidak mampu melukiskan keindahannya. Aku hanya bisa mengatakan kalau itu sangat indah.

Setelah tersadar dari lamunan, aku menaruh sejumlah uang ke atas bill yang ditaruh di atas nampan kecil, lalu tanpa berkata apapun aku bergegas pergi. Gadis itu terpana melihatku pergi seperti itu.

*** 

Taksiku memasuki gerbang pantai Nusa Dua. Aku mengunjungi pantai ini karena beberapa hari ini, aku telah begitu dekat kembali dengan pantai ini.

Sebelum pulang ke Jakarta, aku ingin memanggil kembali kenangan 28 tahun silam bersama Raju muda dan bersama Raju paruh baya yang 3 malam yang lalu  masih ada di sini, bersamaku. Aku ingin mengeluarkan seluruh airmataku di sini karena sesampainya di Jakarta esok hari, aku adalah mama Giring yang  tak boleh menampakkan kesedihan menjelang hari pernikahannya dan akan tetap menjadi seorang atasan yang tak boleh menampakkan kerapuhan di depan anak buah.

Bahkan sekembalinya Giring dan Esha dari India lusa, aku harus bisa menyembunyikan kesedihan yang mendalam ini, karena tak lucu bila aku tampak begitu berduka karena meninggalnya calon besan. Ya, calon besan…karena hanya itu yang diketahui orang tentang hubunganku dengan Raju.

Begitu sampai di depan pantai, seperti 3 malam yang lalu, pantai ini sangat sepi, hampir tak ada orang. Aku duduk di hamparan pasir, di depan sebuah restoran dengan halaman yang luas, meja kursi yang ditata rapi siap menampung tamu yang banyak, tapi nyatanya tak satu pun pengunjung datang malam ini. Restoran yang sepi, sesepi hidupku kini.

Sejak 3 malam yang lalu, aku menjadi begitu rapuh. Kenangan yang indah dan pedih tersebar di seluruh pantai di Bali, terutama di Nusa Dua ini. Di sinilah penyakit jantung Raju kambuh lalu meninggal tanpa sempat dibawa ke rumah sakit. Aku tak akan pernah melupakan saat-saat itu, saat di mana Raju sedang memegangi dadanya dan tampak sangat kesakitan.

“Raju, what’s happened with you?” tanyaku begitu tiba di sini. Raju hanya menatap mataku sambil menahan sakit yang sepertinya sungguh mendera. Aku rebahkan kepalanya di pangkuanku. Aku tak mampu menahan airmata melihat dia begitu kesakitan. Sambil mengusap airmataku, Raju menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mau melihatku menangis. Tapi aku tidak bisa menguasai diri…tangisku semakin keras.

Ombak bergemuruh kian ganas, bergulung dan menggeliat kian dahsyat. Apa ombak juga tidak mau aku menangis? Atau justru menabuhku untuk menangis kian menjadi?? 

Notyes…ter…day, to...to...day…or...tomo...rrow... kata Raju terbata-bata.What are you talking about, Raju?” tanyaku tak mengerti.

Please...don’tmind!...Though...wecan’t...get...married...butpro....miseme, youwon’tcry…I…can’t...tole…rate...yourtearsyouknowthat… So…please...do…notcry!Keep...smiling...for...our...children...Andthey... shouldn’t...know...about... our past…Pro...mise me…ok? !

Tak sadar, airmataku kian dan kian deras mengalir mengingat kata-kata terakhirnya. Akupun tak bisa lupa bagaimana ia menarik tanganku dengan kuat dan meletakkan di kepalanya, tanda aku mau berjanji dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Tapi Raju, aku hanya sanggup berjanji untuk memegang rahasia, tapi tidak akan pernah sanggup memenuhi janji untuk tidak menangis. Mengingat namamu saja, airmataku langsung ‘berpesta’.

Sekian lama aku menjalani hidup tanpa life partner, begitu kamu datang dan cinta kita bersemi lagi…secepat ini engkau direnggut dariku. Raju, sejak kamu masih muda hingga sesaat sebelum meninggal pun, kamu masih Raju yang sama, Raju yang tak pernah tahan melihat aku menangis. Not yesterday, today or tomorrow. Ya, sekarang aku mengerti maksud kata-katanya waktu itu. Di masa lalu, kita tidak bisa menikah karena orang tua yang tidak restu. Saat ini pun tidak bisa, karena justru anak-anaklah yang saling cinta dan minta dinikahkan, tak menyadari kalau orang tua mereka pun punya jalinan rasa yang sama. Dan esok pun tak mungkin…sebab….sebab dia telah tiada…

“Nyonya, ini buku agenda kerja anda yang tertinggal…” Serta merta aku menoleh karena kaget. Kulihat gadis yang tadi di pantai Jimbaran kini ada lagi di belakangku. Kali ini, dia sama sekali tidak tersenyum manis tapi menatap lurus mataku yang basah. Tak kusangka, gadis itu kemudian memelukku lalu meletakkan kepalaku di pundaknya.Tapi aku malu diperlakukan seperti itu. Aku ini hampir separuh abad, masak menangis di pundak gadis muda yang tidak aku kenal?

“Aku tidak apa-apa, terima kasih,” kataku sambil mengangkat kepala dari pundak gadis itu, lalu menghapus airmata di pipiku.

“Bila Nyonya butuh teman, saya akan menjadi teman anda selama di Bali,” kata gadis itu menawarkan kebaikan.

“Terima kasih. Oh ya, kamu pernah ke Jakarta?” tanyaku sengaja mengalihkan perhatian.

“Sebenarnya saya ingin sekali ke Jakarta, tapi tidak mungkin, Nyonya,” kata gadis itu sambil tersenyum, sebuah senyum yang tak bisa aku lukiskan dan juga tak kupahami artinya.

“Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di restoranku,” kataku menawari.

“Kita tidak selalu bisa mendapatkan yang kita mau, Nyonya.”

“Kamu bisa kalau kamu berfikir bahwa kamu bisa.”

“Saya ingin bekerja di Jakarta, atau setidaknya sekali saja melihat kota Jakarta, tapi saya tidak bisa meninggalkan nenek saya barang sehari pun.

“Begitu, ya?”

“Iya, Nyonya. Karena saya tinggal hanya dengan nenek saya. Ibu saya sudah lama meninggal. Sedangkan ayah saya tinggal di Jakarta bersama istri pertamanya, ibu saya istri kedua,” cerita gadis itu tanpa beban dan rasa sedih. Aku sungguh heran mengapa dia bisa begitu.

“Kamu sempat kenal kasih sayang ayah kamu?”

“Ya, sedikit. Waktu kecil, ayah saya kadang-kadang datang, tapi sudah 15 tahun ini tidak datang sama sekali. Entah masih hidup, entah sudah meninggal. Tapi, sebelum menghilang, ayah membelikan ibu rumah, mobil dan cafe.”

“Jadi, kamu pemilik café itu? Kenapa kamu berlaku sebagai waitress? ”

“Setelah lulus kuliah nanti, saya ingin mengelola dan mengembangkan café itu dengan baik. Jadi saya harus mulai belajar dari bawah.”

“Gadis yang pintar,” kataku memuji.

“Mari, Nyonya saya antar anda pulang. Sepertinya anda sedang tidak sehat.”

Tidak. Aku masih ingin di sini.”

“Baiklah, kalau begitu saya akan menemani Nyonya.”

“Terima kasih. Oh ya, jangan panggil Nyonya lagi, ya. Panggil saja Tante.”

“Baik, Tante.”

“Nama kamu siapa?”

“Nama saya Desak, Tante.”

“Desak?”

Benar Tante.”

“Kapan Tante pulang ke Jakarta?” lanjutnya.

“Besok pagi.”

“Tante jangan meninggalkan Bali dengan hati sedih, ya? Saya tidak mau Tante membawa kenangan pahit dari Bali. Tolong ingat yang manisnya saja. Tinggalkan  kesedihan Tante disini.

Aku hanya tersenyum getir mendengar kata-kata itu.

“Maaf, kalau kata-kata saya membuat Tante tambah sedih.”

“Tidak. Tante sudah mulai bisa menguasai emosi, lagi pula kamu benar, kok.”

Desak menoleh dan sepintas memandang wajahku sambil tersenyum senang.

“Tante sering ke Bali?”

“Dulunya iya…tapi semenjak suami Tante meninggal tidak pernah lagi.

“Lho, kenapa sekarang ke Bali?”

Kunjungan Tante saat inisemula untuk berdiskusi dengan calon besan Tante. Bali lebih tenang, tidak seperti Jakarta. Jadi, kami kemari. Tapi dia malah meninggal di sini. 3 malam yang lalu...”

“Tepatnya lagi, di tempat Tante duduk?”

“Kamu, tahu saja,” jawabku getir.  

“Saya ikut berduka cita, Tante. Tapi, apa benar kesedihan Tante hanya karena meninggalnya calon besan? Sepertinya, kesedihan Tante sangat mendalam.”

“Calon besan Tante itu…mantan pacar Tante 28 tahun yang lalu,” aku memulai cerita lamaku, Waktu itu, kami bertemu di Nusa Dua. Kami saling mencintai tapi karena orang tua, kami tidak bisa menikah. Lalu dia dinikahkan dengan gadis pilihan orang tuanya, Tante pun sama. Beruntung, suami Tante sangat baik, sabar, pengertian dan lembut. Tante menghormati beliau dan lambat laun mencintainya. Tapi beliau meninggal saat putra kami satu-satunya baru berusia 7 tahun.”

“Setelah itu, Tante tidak pernah menikah lagi?”

Ah, kamu ini seperti penulis cerita yang tahu semuanya.”

“Tapi, benar kan tebakan saya?”

“Ya, begitulah. Tante membesarkan putra Tante seorang diri. Tapi walaupun begitu, Tante bahagia dan tak pernah merasa kesepian walau hidup tanpa suami. Hingga 8 bulan yang lalu saat bertemu kembali dengan Raju. Kami jatuh cinta lagi dan berencana akan menikah. Tapi….” aku berhenti bercerita dan tertawa sedih bercampur bahagia. Namun bila bisa diukur, aku yakin lebih banyak bahagianya ketimbang sedihnya. Perasaanku sebagai ibu jauh lebih kuat daripada sebagai wanita yang mengalami puber kedua di usia paruh baya.

“Tapi….?”

“Ternyata Esha, calon menantu Tante adalah anak Raju. Anak-anak tidak tahu-menahu tentang kami dan masa lalu kami. Kami pun tidak tahu kalau anak-anak kami saling mencintai. Kami ini orang tua, selalu ingin melihat anak-anak kami bahagia, jadi mana mungkin kami yang menikah? Iya kan, Desak?” tanyaku sambil mendekap Desak tanpa sadar. Desak dalam dekapanku hanya manggut-manggut, seolah memahami situasi yang aku hadapi. Bukan hanya Desak, aku yakin semua orang pun tahu bahwa orang tua selalu ingin melihat anak-anaknya bahagia dan akan berkorban apa saja untuk kebahagiaan buah hatinya.***  

Joomlart