Tentang Sekolah, Tentang Jakarta
Oleh: Widdy Appriandi
Siang
hari, kawan. Kurang lebih seperti itu. Tapi, ah tidak!, tidak!, tidak
seperti itu. Justru tepat. Ya!, jelas ini siang hari, tak lebih tak
kurang. Matahari telah meninggi tepat di atas ubun-ubun, udara semakin
terasa sesak, pengap, pedih menusuk rongga dada yang kembang-kempis
tertekan bengisnya zaman.
Panas,
ya!...itu, panas. Siang hari bukan?. Paling tidak menurut pengalamanku
saja, kawan. Pengalaman turun-temurun. Buyutku bilang begitu, dilanjut
ke kakek, ayah, kakak dan akhirnya meresap ke lumbung ingatanku. Aneh
memang, tapi ya…sudahlah. Harap dimaklum, kawan.
Tak
tahu aku itu soal putaran jam. Soal huruf, soal angka, ah !...misteri.
Tak ada itu!, tak pernah sekalipun Bapak cerita soal itu. Kami tak
ambil peduli, dingin. Biarlah alam bicara apa adanya. Siang itu berarti
panas, terang benderang…dan beberapa hal yang kuketahui pasti; guyuran
keringat, pegal di tangan dan kaki akibat seharian mengolah sawah milik
juragan Tommy yang konon tinggal di Jakarta—negeri yang kata Bapak
gemerlapan, meriah sejadi-jadinya. Itu!, sebatas itu saja pengetahuanku
kawan soal siang hari.
Dan,
ah!...ya!…satu lagi; soal malam hari, kawan!. Perkara itu aku tahu.
Jelas Bapak yang cerita…bukan mantri, lurah apalagi Pak guru yang
sampai saat ini hanya kukenal dari obrolan warung kopi anak-anak
sekolah Inpres. Lagi-lagi, pengalaman saja yang membuatku paham tentang
apa itu sesuatu yang disebut malam hari.
Sederhana,
kawan. Begini, begadang semalaman di gubuk dekat sawah juragan Tommy
bersama hawa dingin dan pekatnya malam yang kadang bikin bulu kuduk
merinding, berjaga-jaga khawatir ada orang yang nekad memutar jalur air
irigasi yang membasahi sawah juragan. Itu!, itulah malam hari. Sudah
kubilang dari tadi bukan?!, sederhana!.
Anak-anak Inpres seringkali cekikikan
tiap kali kubuka persoalan siang dan malam itu tadi. Tolol mereka
bilang, telunjuk mengarah angkuh tepat ke mukaku. Setelah itu biasanya
bergantian mereka melemparkan ejekan demi ejekan. Kurasa-rasa, temponya
teratur, tak jauh berbeda seperti embikan kambing. Buta huruf!...tak
lama…Kampungan!. Kemudian suasana mendadak riuh layaknya pesta-pesta
Jakarta yang Bapak ceritakan kepadaku. Entah kenapa mereka tertawa,
terus terang aku tak tahu. Manusia terbelakang!...tak beradab!. Tertawa
lagi…heran lagi aku dibuatnya.
Pacul
masih tergenggam kuat di tangan. Sembari menyeka keringat yang mengalir
begitu deras, aku merenung, mencari serpihan hikmah dari hidup yang
kujalani. Tolol, buta huruf, kampungan, manusia terbelakang, tak
beradab…suara-suara sumbang anak-anak Inpres. Di sela-sela tarikan
nafas yang terasa berat, kucoba berani menyimpulkan sesuatu yang bahkan
tak kumengerti sama sekali ; itukah arti sekolah ?!.
***
Bapak diam saja sedari tadi, tanpa kata atau bahkan sekadar sapa kecil Bapak kepada anaknya. Hening, bisu, itu saja. Tak
seperti biasanya, entah apa yang sedang dipikirkan Bapak. Cicit centil
suara burung yang lalu lalang, semilir angin panas yang tak tahu
diri…berlalu, mondar-mandir seperti arus lalu lintas yang sempat
kulihat dengan penuh ketakjuban sewaktu menikmati tontonan manusia aneh
yang bergerak-gerak persis di layar. Misbar, Gerimis Bubar,
kira-kira seperti itulah namanya. Sapaan akrab untuk hal yang demikian
itu. Intinya seperti itulah, aku tak mau bertele-tele.
“Biar anak-anak Inpres yang pusing memikirkan tetek bengek penjelasan ini-itunya”, bisik suara batin yang tak jelas apakah lirih ikhlas nrimo atau malah tak percaya diri. Tampak
seperti ramai memang, tapi tidak. Jelas-jelas aku menunggu, menanti
sesuatu yang tak pasti juga apa gerangan itu. Tak pasti…ya!, namun
kutahu itu lebih menggelegar dari segala keramaian. Suara bapak…cerita
bapak tentang apapun yang dia ketahui dan lantas dibaginya khusus
untukku. Potongan-potongan kisah yang selalu punya arti tersendiri,
meski bagi anak-anak Inpres itu sepele.
Kutatap
wajah Bapak, terlihat murung kehilangan gairah. Sorot matanya kosong.
Berkedip sekali-kali, namun berat. Jauh dari kelincahan yang
ditampilkannya sehari-hari. Seperti mencari sesuatu, dipandangnya
apapun di arah kiri dan kanannya. Liar, bingung. Padahal sawah, hanya
sawah tempat bergantungnya nasib kami dari masa ke masa.
“Nak...”, mulai Bapak bicara. Kutangkap jeli getaran simfoni dukanya.
“Parmin,
anak si Sadli…dia pergi ke Jakarta besok. Kerja katanya…”, deras
kata-kata Bapak tiba-tiba terhenti. Terganjal. Sejenak ditariknya nafas
dalam-dalam, sekadar melepaskan secuil beban perasaannya mungkin.
“…lepas
dari Sekolah Inpres, Sadli bilang…Parmin dicarikan kerja oleh pamannya.
Bayar tukang catut pabrik, Parmin diterima. Urusan mesin begitulah
katanya, Nak. Upahnya besar, lebih dari lima ratus ribu. Hebat itu si
Sadli…” , lagi-lagi tuturan curahan hatinya terpenggal di tengah jalan.
Sebatang
rokok diambil Bapak dari kantong celananya. Kepulan asap putih yang
serta-merta bergabung bersama angin seakan menjadi saksi kepedihan yang
sedang ditanggungnya. Mengapung tinggi, semakin tinggi. Sontak hilang,
sirna seakan menandai pupusnya harapan seorang Bapak. Masih saja aku terpaku, berpikir keras mencerap segala hal yang dibicarakan Bapak. Tak berani aku menjawab, lebih baik membisu.
“…maafkan
Bapakmu ini, Nak. Tak mampu Bapak menyekolahkanmu…ke sekolah Inpres
seperti anak-anak yang lain. Seperti si Parmin…bekerja…ke Jakarta…dapat
upah !”, luapan emosi campur aduk dalam kata-kata yang meluncur dari
mulut Bapak. Pecah, membludak begitu saja penuh tekanan. Tidak
lagi putus-putus seperti sebelumnya, kali ini benar-benar berbeda.
Tegas, namun miris. Hentakan suaranya lebih mirip pernyataan
keputusasaan daripada kehilangan.
“Ah...Bapak”, jerit batinku yang tanggap menyelami samudera derita Bapak. Sempat
kulihat tetes air mata Bapak dalam langkahnya kembali ke sawah. Tak
sanggup rupanya dia menahan sesak di hatinya. Lelaki tua yang sedang
kucermati ini…dia menangis. Tangis kekalahan manusia di tengah arena
pertandingan yang disebut kehidupan. Sendiri. Kuteruskan perbincangan ini bersama alam. Berdialog, membuka makna sekolah.
Setelah
celaan yang tempo hari dilontarkan anak-anak Inpres kepadaku, sekarang
Bapak yang dirundung malang. Gara-gara sekolah, kemudian kerja, terus
upah…Bapak terluka.
***
Musim
panen tiba, kebahagiaan bersemi tanpa perlu dipinta. Seantero kampung
bergembira, wajah sumringah para buruh penggarap sawah menguap tanpa
ampun. Di sana-sini, meriah sekali. Selalu
ada cerita yang mengisi hiruk-pikuk kehidupan kampungku. Selain kisah
sehari-hari tentang buruh penggarap, para juragan dan sawahnya tentu
saja… silih berganti cerita demi cerita datang dan pergi. Ramai Parmin
jadi buah bibir kemarin, semua tahu dari ujung ke ujung. Tentang
kepergiannya ke Jakarta, siapa yang tidak menyempatkan diri untuk turut
serta berwacana?.
Kini
tak ada lagi. Tergusur. Parmin tak lagi terangkat namanya sebagai bahan
pembicaraan orang sekampung. Musim panen membawa ceritanya sendiri.
Dari tahun ke tahun…sama saja, selalu itu. Juragan Tommy, melulu beliau yang hadir dalam setiap obrolan. Dari kelurahan sampai ke warung kopi, Juragan Tommy lagi…Juragan Tommy lagi. Bagaimana
tidak?, juragan Tommy yang baik hati itu…dibagi-baginya
berlembar-lembar uang kepada seluruh buruh penggarap yang bekerja di
sawahnya. Tiap kali musim panen, sungguh beliau orang yang murah hati.
Berkah musim panen, kata beliau, “harus dibagi…biar semua senang”.
Kami bersyukur, sesekali melontarkan kekaguman yang tak terkira untuk beliau. Juragan
Tommy…orang Jakarta. Baik hati dia itu. Ingin aku pergi ke Jakarta…jadi
orang Jakarta seperti Bapak bilang. Menyusul Parmin, menguji
peruntungan di tanah harapan. Kalau juragan Tommy saja baik hati
begitu, artinya orang Jakarta memang baik semua. Kubagi-bagikan nanti
uang untuk orang sekampung setelah jadi orang Jakarta. Mungkin…suatu
saat nanti...entah…
***
Juragan
Tommy tidak datang sendiri. Musim panen ini turut serta pula saudara
kandungnya, juragan Bambang. Gagah dan berwibawa, seperti itulah
gambaran sekilas sosok juragan Bambang yang setengah malu-malu kutengok
dari kejauhan. Sulit untuk melihat mereka berdua, orang sekampung
berjejal-jejal ingin menyaksikan tokoh yang telah memberikan kesempatan
untuk merasakan nikmatnya makan tiap hari walau serba seadanya.
Kehadiran
juragan Bambang…dalam sikap, lirikan mata hingga ke langkah kaki yang
dipertontonkan ke khalayak ramai menambah sedikit perbendaharaan
kesanku tentang orang Jakarta. Hebat, luar biasa. Ditambah mobil mewah
dan puspa ragam peralatan yang disandangnya…ah !, otakku semakin
menggila memikirkan alam raya yang disebut Jakarta. Parmin jelas tahu
itu, Jakarta…dia tahu.
“Punya
kesempatan jadi orang hebat si Parmin itu”, bunyi suara hatiku yang
terdengar seperti meronta-ronta. Esok atau lusa, bulan depan, tahun
depan…kampung ini mungkin punya juragan baru, juragan Parmin. Balai
desa ramai dipadati orang sekampung. Pak Lurah memberikan perintah
kemarin, orang sekampung harus hadir ke balai desa untuk kepentingan
silaturahmi dengan juragan Tommy dan saudara kandungnya.
Dialog,
seperti itulah istilah yang sampai dari mulut ke mulut. Apapula itu
dialog, aku tak tahu. Hanya manggut-manggut saja aku ketika Bapak
menyampaikan perihal itu selesai membenahi peralatan kerja sawah kami
kemarin sore. Acara resmi dibuka oleh juragan Tommy. Setelah sambutan Pak Lurah yang begitu hangat, sepatah dua patah kata Pak camat yang alamak
begitu panjang hingga pantat terasa beku, juragan Tommy angkat bicara.
Tak banyak apa dan apa, itu yang kusuka. Singkat saja waktu bicara yang
dipakai juragan Tommy. Selesai mengucapkan salam, masih kuingat beliau
bilang begini, “mari kita buka acara ini dengan mengucapkan basmallah”.
Luar
biasa !. Tak seperti Pak Camat yang terlihat makin pikun dan mengerikan
itu, lama dia bertutur kata. Tak sampai pula di otakku apa yang dia
maksud; ekstensifikasi pertanian-lah, modernisasi, etos kerja,
kemandirian komunal. Sulit dimengerti, paling tidak olehku. Bapak tak
pernah cerita masalah itu. Namun begitu, hal itu tak menghalangi niatku
untuk turut serta bertepuk tangan untuk beliau setelah rampung
pidatonya. Meski banyak sesal membuncah-membuncah di dalam hati, meski
terjal kerikil perasaan mengganjal di benak serta otakku.
“tak paham aku itu, Pak…apa maksud bela negara, sedang negara pun tak pernah kusadari bagaimana rupanya”. Juragan
Tommy menyapa para buruh penggarap sawahnya. Berbincang-bincang santai.
Tanpa prasangka, lurus-lurus saja. Pak Sadli ditanyanya, bagaimana
perkembangan keluarganya sebagai salah seorang mandor buruh tani
kepercayaannya. Seperti baru saja mendapatkan utangan, Pak Sadli
semangat mengisahkan segala hal yang berkenaan dengan pertanyaan itu,
“Anakku,
juragan… Si Parmin…telah lulus sekolahnya. Di sekolah Impres,
juragan…Impres begitulah kata si Parmin. Dia bekerja, juragan…di
jjjjj…Jakarta. Jakarta, juragan”. Si penanya diam saja, tak bergeming
dengan kilatan sejuta cahaya kegirangan yang meluncur dari mulut Pak
Sadli. Turun naik kepalanya, mengikuti setiap petak cerita yang
dirangkai Pak Sadli.
“Ya…Ya
!. Terus cerita, Sadli…terus…”, mungkin demikianlah pesan yang bisa
kutangkap dari gerakan kepala juragan Tommy yang kurekam.
“Inpres
Sadli !...Inpres !...bukan Impres !. Tapi, ya…sudahlah. Mulia kau itu
bisa menyekolahkan anakmu. Apalagi sampai lulus, sampai kerja…di
Jakarta !. Bravo !. Hebat kau, Sadli”, hadirin terhenyak dari lamunannya. Suara juragan Tommy memecahkan kebuntuan suasana di ruangan ini.
Ada yang memulai tepuk tangan. Satu orang, dua orang, sampai Bapak dan akhirnya aku. Semua hadirin tepuk tangan, suka ria.
“Hidup Sadli, Hidup Parmin !”, melintas suara bising dari arah belakangku.
“Sekolah !...sekolah !...
Kerja
!...Jakarta !”, balas teriak orang lain dari arah yang tak jelas.
Juragan Tommy tersenyum puas kini. Bangga boleh jadi, karena ada anak
mandornya yang bisa lulus sekolah dan akhirnya bekerja di Jakarta.
Beliau ikut tepuk tangan, mengamini dan larut dalam suka cita bersama.
“Dan…ah
!...kau !...ya !...kau…siapa namamu ?”, juragan Tommy kembali mencoba
membuka perbincangan. Riuh tawa yang tadi sempat bergelombang di Balai
Desa, tergerus makin tipis kini. Lama-lama sepi, tak lagi bising. Tak
lagi ada yang berani berbicara apalagi menjerit keras seperti tadi. Tak
ada. Tinggal juragan Tommy dan yang ditanya, pusat perhatian semua
orang. Mencekam.
“ya !...kau !...siapa namamu pak tua ?”, tandas juragan Tommy kembali.
“Sapardi…Juragan”, lemah suaranya, tak seperti letusan suara juragan Tommy yang penuh rasa percaya diri. Pak
tua yang dimaksudkan juragan Tommy ternyata adalah bapak, lelaki tua
yang semakin kurus saja. Wajahnya mendadak pucat. Bibirnya kaku, semu
beku. Tegang dia memandang juragan Tommy.
“Kau punya anak Pak tua ?!”, tanya juragan Tommy.
“Ppp…punya, juragan. Satu saja. Suhadma namanya”, jawab Bapak.
“Sekolah dia ?”, layaknya hakim agung, juragan Tommy menyarangkan pertanyaan khusus untuk sang tertuduh…Bapak.
“……….”, tak menjawab apa-apa Bapak. Hanya diam, murung sembari menggulung punggungnya hingga nyaris seperti kura-kura. Dunia
boleh saja iri dengan apa yang terjadi di ruangan ini. Seakan tinggal
dua manusia saja yang kebetulan hinggap di bumi. Juragan Tommy,
Bapak…sebuah klise tragis yang masih tetap saja ada, walaupun ada sosok
lain yang konon lebih arogan.
Kutahu itu dari Pak Camat…negara. Mungkin
Bapak sadar bahwa dirinya terhimpit, terdesak oleh sebuah pertanyaan
yang mau tidak mau harus dijawabnya. Bapak sadar pula mungkin, semua
orang menanti jawabannya. Bukan saja juragan Tommy, bukan saja Pak
Sadli…kesaksiannya dinanti oleh semua orang di kampung ini yang
sekarang menjejakkan kakinya di balai desa. Kesaksian orang
kampung…kesaksian seorang manusia yang pengertiannya tentang dunia
terkurung oleh suatu kenyataan bahwa yang ada di hadapannya adalah
petakan tanah berhektar-hektar yang harus digarapnya demi sekadar
bertahan hidup.
“Tidak, juragan….anakku tidak sekolah”, jawab Bapak setelah cukup lama dia membatu. Juragan Tommy tersenyum kecut, sehingga kontan lebih mirip seringai serigala. Mimik muka yang sungguh aneh sebetulnya.
“Ah
!...Sapardi. Manusia udik…Sapardi…ah !”, jawaban Bapak dibalas dengan
letusan kata-kata yang cukup memekakkan telinga. Setengah melotot
juragan Tommy di waktu melepaskan kata-kata itu. Juragan
Tommy tertawa. Keras…keras sekali. Disusul Pak Sadli, disusul pula oleh
orang banyak di belakangku. Semua tertawa…terbahak-bahak.
Balai
desa sepi. Tinggal aku dan Bapak yang masih belum beranjak dari tempat
duduk. Malu Bapak…merasa ditelanjangi begitu rupa. Kini semua orang
tahu…Sapardi, Bapakku…manusia udik. Kuulas kembali, manusia udik…karena
tak mampu menyekolahkan anaknya.
***
Bapak
belum lagi kuat kembali ke sawah. Beberapa hari ini dia sakit, terkapar
dia di tempat tidurnya. Beberapa hari ini pula kugarap sawah juragan
Tommy sendiri, tanpa Bapak.
Kasihan
Bapak…terputus sejenak kesempatannya untuk bercerita tentang apa saja
kepadaku. Lebih dari itu, kasihan juga Bapak…tak mampu dia berkumpul di
balai desa hari ini.
“Ada
berita besar yang harus disampaikan ke semua orang kampung”, demikian
kata Pak Lurah. Berita apa, aku tak tahu. Sejujurnya tak ada yang tahu.
Tak ada desas-desus, kali ini berbeda. Berita itu akan disampaikan
langsung oleh orang berseragam yang selama ini kukenal sebagai tuan
Kapolsek. Lagi-lagi itu juga kata Pak Lurah yang kebetulan berpapasan
denganku siang tadi.
Orang-orang
sekampung pun berkumpul, sesuai dengan permintaan Pak Lurah dan tuan
Kapolsek. Tanpa sambutan yang membuat badan pegal, acara langsung
diawali dengan uraian dari tuan Kapolsek.
“ada
tembusan dari kepolisian Jakarta sana. Parmin…jadi buronan. Setelah
mencuri barang di pabriknya, Parmin terlibat dalam tragedi pembunuhan
bosnya. Kawan-kawannya sudah ditangkap, di penjara. Parmin belum.
Jadi…kuharap bapak-bapak sekalian bisa bantu kepolisian. Lapor ke
Polsek kalau-kalau Parmin datang ke kampung ini…”, tutur Kapolsek. Tanpa tawa, tanpa tepuk tangan…acara pertemuan ini bubar begitu saja.
Tersisa
pertanyaan di benakku…tentang sekolah, tentang Jakarta. Tak berani aku
bercerita ke Bapak ihwal kejadian ini. Biar Bapak saja yang ceritakan
semuanya nanti.
Sore
menyapa seisi kampung. Kulangkahkan kaki untuk pulang ke rumah bersama
Pak Lurah. Melewati sawah yang biasa kugarap, kupaksakan niat untuk
bertanya kepada Pak Lurah, “apa maksud papan yang menandai sawah
juragan Tommy itu, Pak ?”
Enteng jawaban yang ditandaskan oleh Pak Lurah, “Oh…TANAH NEGARA, nak !”.
Purwakarta, 24 Maret 2009 Lorong Sepi Proletariat – Purwakarta