AKU PULANG.....!!
Oleh: Berliany Kurniasih
Terik surya semakin menyengat, badanku kini sudah bau matahari apek. Sudah sekian kilometer aku melangkah menyusuri jalan yang penuh dengan kerikil. Tapi kehadiran kerikil-kerikil ini tidak mengusikku, karena aku telah asik dengan permainan kebingungan yang menari-nari di pikiranku.
Kuberhenti sejenak, aku pun menghirup sedikit udara yang kini tak lagi segar karena bercampurnya polusi. Ku melihat sekeliling, dengan penuh cemas bercampur bingung. Yang ada hanyalah mobil-mobil yang berlalu lalang tanpa henti. Kubetulkan tas ransel butut di punggungku, dan kukibaskan tanganku ke kaos lecek dan jeans lusuhku. Maklum sudah beberapa hari ini aku berkelana dan tinggal di jalanan, karena aku sudah males pulang ke rumah. Aku seka rambut keritingku dan kulap keringkat di wajahku.
Dan ku sadari, aku telah dahaga akan air yang segar. ”Krucuk...krucuk..krucuuk....”, suara perutku berkumandang. ”Aduh...selaen haus, aku juga laper banget lagi..”, gumamku sendiri, layaknya orang gila kelaperan (hii..hiii..hiii). lalu kulanjutkan langkahku menuju ke tempat yang aku bisa dapati makanan dan minuman untuk melepas dahaga dan laparku. Selangkah demi langkah ku berjalan hingga ku tanpa sadari ku menghitung pohon-pohon di pinggir jalan. ”....23...24...25....lah kok, aku malah itungin pohon sih! Dasar orang aneh”, senyumku sengit. ”Tapi mana nih! Kok nggak ada satupun pedagang yang berjualan. Jangan-jangan mereka pada libur, tapi nggak mungkin memang mereka pegawai negeri apa”, kataku. Maklum....kalo aku lagi lapar dan haus banget sikap dan pikiranku ngawur, lah wong aku ini ’orang aneh’ seperti julukan yang diberikan oleh sahabat dekatku dulu 5 hari yang lalu sewaktu aku belum pergi dari rumah.
Aku menghampiri seorang bapak yang sedang menunggu bis di halte. ”Permisi, pak ! saya mau tanya, kok dari tadi saja berjalan dari sana (ku menunjuk arah datangku) saya nggak menemukan orang berdagang makanan dan minuman ya ?”, kataku pada bapak berkumis tebal yang tengah asik menghisap rokoknya.
”Lah...! saya mana tau ya, mas. Memang saya ini hansip atau orang kurang kerjaan yang cuma ngawasin datang perginya pedagang”, kata bapak itu tegas.
”Oh..maaf, pak! Saya cuma sekedar tanya saja, barang kali bapak tahu. Kalau gitu permisi...maaf sudah ganggu bapak”, kataku dengan senyum simpul sesimpul tali pramuka. Tapi, dalam hati aku menggerutu juga. Lalu kulanjutkan jalanku dengan hati sedikit kesal, maklum....aku ini type orang yang gampang emosi dan tersinggung.
Setelah beberapa meter kumenyusuri jalan dengan nafas kini terengah-engah, lalu aku tersentak girang. ”Nah...!itu dia yang aku cari...”, kataku senang sambil menunjuk ke arah tempat yang berjualan makanan dan minuman. Lalu kupercepat langkahku. Hingga aku nyampe di sebuah gerobak coklat reot yang berjualan berbagai minuman.
”Pak, aqua botol 1. yang dingin ya, pak!”, kataku. Lalu bapak tua itu memberiku sebotol aqua yang aku liat sangat dingin.
”Berapa, pak?”, kataku lagi.
”Oh...cuma 2000 aja, mas.”, kata bapak tua itu.
”Nih uangnya, Pak! Pak, saya nitip minuman dan tas ransel saya dulu ya? Saya mau beli makanan di warung itu”, kataku sambil menunjuk sebuah warung dekat gang kecil kumuh itu.
“Oh, boleh….”, kata bapak tadi. Lalu aku meninggalkan bapak yang dengan gerobak coklatnya itu menuju ke warung makanan.
“Bu, nasi bungkusnya 2 pake sayur nangka, tempe bacem, mie dan sambel ya”, pesanku langsung kepada ibu setengah baya pemilik warung ini.
“Semuanya berapa, bu ?”, kataku lagi saat ibu itu menyodorkan 2 bungkusan nasi itu kepadaku.
”Semuanya jadi 5000, mas”, kata ibu tadi dengan suara yang sedikit keras. Akupun langsung merogoh kantung jeansku dan kutemukan 5000an, untung ada uang 5000nya masalahnya uangku ada di tas ransel jadi nggak bolak-balik lagi untuk mengambilnya (pikirku).
“Ini bu…uangnya. Pas ya…”, kataku sambil memberi uang 5000an lecek ini, maklum sudah lama berada di dalam kantung celana jeansku.
“Terima kasih ya, nak!”, kata ibu pemilik warung nasi itu dengan tersenyum. Akupun langsung pergi meninggalkan warung itu dengan membawa dua bungkusan nasi di dalam kantong plastik hitam. Lalu aku menghampiri bapak penjualan minuman itu.
“Nih, Pak…. Nasi bungkus buat bapak, bapak pasti belum makan siang ya ?”, tanyaku.
“Bener nih, nak? Ini buat saya?”, Tanya bapak itu juga.
“Iya, bapak….. saya ikhlas kok, bahkan seikhlas-ikhlasnya”, kataku sambil tersenyum.
“Waduh….nak…?”, kata bapak sedikit bertanya tentang namaku yang sebelumnya aku belum memperkenalkan diri pada bapak itu.
“Saya Firman, pak. Ampe lupa saya memperkenalkan diri ke bapak. Maaf…”, kataku sambil meringis.
”Oh...ndak apa-apa nak Firman. Iya...nak Firman ini baek banget, bapak jadi nggak enak sama nak Firman”, kata bapak lagi sambil tertawa kecil.
”Nama bapak sendiri siapa kalau saya boleh tahu ? dari tadi saya panggil bapak dengan sebutan ’Pak’ atau ’Bapak’ saja tanpa tahu nama bapak”, kataku bertanya.
”Nama saya Pak Narto”, jawabnya. ”Oh...Pak Narto. Pak Narto sudah lama berjualan di sini?”, tanyaku lagi melanjutkan perkataan yang lebih serius tentang kehidupan.
”Saya sih...sudah 3 tahun berjualan nak Firman. Tapi nggak di sini aja, tapi saya suka berjualan di daerah senayan, uki, melawai masih banyaklah”, jawab pak Narto.
”Wah....lama juga ya, Pak. Banyak pengalaman juga dan tapi dari 3 tahun itu sampai sekarang keadaan bapak tidak berubah-ubah?”, tanyaku heran.
”Ya....namanya juga nasib, Nak. Saya mau berbuat apa lagi, lah..gusti Allah sudah berkehendak begini. Masak saya mau mengingkarinya”, kata pak Narto pasrah dengan nasibnya.
”Tapi bapak sudah usaha yang lainnya? Siapa tahu ’kan bisa menambah pendapatan bapak, ya....untuk mencukupi kehidupan keluarga bapak”, kataku lagi.
”Memang...saya punya keluarga di kampung, istri sama dua orang anak saya yang masih kecil-kecil. Saya juga sudah buka usaha lagi, tapi di kampung. Istri saya buka warung nasi kecil-kecilan tapi terkadang dia juga menerima cucian tetangga kalau ada yang mau dicuciin sama istri saya. Hasilnya lumayan sih...bila digabungi sama penghasilan dari warung dan kiriman dari saya bekerja di sini. Lumayan bisa menyekolahkan anak saya yang paling besar ke sekolah dasar. Karena anaknya sendiri selalu minta sekolah sama ibunya”, cerita pak Narto, sedangkan aku hanya termanggut-manggut aja dengan pikiran yang sangat terharu dan simpatik sama usaha pak Narto dan keluarganya.
”Oh...bapak suka ngirim uang ke kampung? Berapa minggu sekali, Pak?”, tanyaku lagi.
”Ya....saya tetap ngirim uang ke kampung. Walaupun saya hanya bisa kirim 20000 saja, saya tetap mengirimnya buat tambahan modal warung di kampung. Saya sih nggak ngirim berapa kali dalam seminggu tapi dalam 2 atau bahkan bisa 3 mingguan dan itu hanya 2 kali saja. Belum lagi kalau penghasilan saya di sini nggak mencukupi untuk dikirim, bisa-bisa saya hanya bisa kirim sekali dalam 3 minggu terkadang saja juga pernah nggak ngirim ke kampung”, kata pak Narto sambil melayani pembeli yang membeli sebungkus fanta.
”Lalu....istri bapak nggak marah kalau bapak sampe nggak ngirim uang ke kampung?”, tanyaku lagi setelah pembeli itu sudah meninggalkan kami berdua lagi.
”Ya nggak lah, Nak. Istri saya juga ngerti, namanya juga nasib. Mau diapain lagi. Tinggal pinter-pinternya istri saya aja bisa cari uang tambahan di kampung. Eh...dari tadi kayaknya saya terus yang cerita tentang keluarga saya. Nak Firman sendiri gimana ? dari yang bapak lihat penampilan nak Firman kayak orang yang nggak pernah pulang ke rumah ya? Memang ada apa, Nak? Nggak boleh gitu, nanti kalau orang tua nak Firman khawatir gimana?”, kata pak Narto yang balik bertanya kepadaku.
”Orang tua saya khawatir sama saya, Pak? Kayaknya nggak mungkin deh, Pak! Mereka sibuk sama kepentingannya sendiri, pekerjaannya mereka sendiri. Bapak saya selalu pergi ke luar kota karena mengurusi perusahaannya. Sedangkan ibu saya... dia asik dengan temen-temen arisannya, kalau nggak gitu dia pergi entah ke mana. Yang pasti lebih suka mengisi hari-harinya bersama temennya dibandingkan dengan anaknya sendiri yaitu aku. Kalau khawatir...nggak mungkin !!!”, kataku pesimis.
”Jangan gitu, nak Firman. Mereka kan juga orang tua kamu sendiri. Mereka selalu bekerja, cari uang, itu juga buat memenuhi kebutuhan kamu. Trus kakak atau adik kamu sendiri sikapnya bagaimana melihat kesibukan mereka? apakah sama dengan sikap kamu ini? Pergi dari rumah.....”, kata pak narto.
”Saya nggak punya kakak maupun adik, Pak. Saya anak tunggal. Mungkin saya bisa mengerti kenapa mereka terlalu sibuk cari uang hanya untuk memenuhi kebutuhan saya, tapi apakah nggak ada sedikit waktu untuk menemani saya di rumah. Saya selalu ditemani sama pembantu, dan menurutku hanya pembantuku yang bisa mengerti akan saya, bukan orang tuaku. Mungkin secara materi saya akui terpenuhi bahkan lebih, tapi batin....bagi saya belum, Pak”, kataku merajuk sedih sambil kulihat sebungkus nasi yang masih setengah utuh di tangan.
”Jangan pernah punya perasaan dan fikiran begitu. Semua orang tua pasti sangat sayang sama anaknya. Contohnya saja sama kamu, demi memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan kamu mereka rela banting tulang mencari uang untuk kamu. Kalaupun mereka nggak ada waktu sedikitpun buat kamu, mungkin mereka saat ini lagi sibuk-sibuknya. Suatu saat mereka pasti akan meluangkan waktu buat bersama kamu. Jadi, kamu sabar dan berfikiran positif saja ya”, kata pak Narto yang sambil melahap nasinya pelan-pelan.
”Nanti kalau kamu begini terus, lebih memilih pergi dari rumah. Jalan tanpa arah tanpa tujuan, yang rugi ’kan kamu sendiri. Yang seharusnya saat ini kamu sedang melakukan hal-hal yang bermanfaat buat kamu dan orang lain, tapi hanya karena kamu pergi dari rumah nggak ada pekerjaan...nggak melakukan apa-apa yang berguna. ’Kan percuma kehidupan yang kamu jalani ini. Kamu mau kehidupan ini kamu lalui dengan sia-sia?”, kata pak Narto lagi yang kelihatannya sudah selesai makan begitu juga dengan aku.
”Ya....nggak lah, Pak! Saya nggak mau kehidupan saya berjalan dengan sia-sia. Saya malah ingin menjadi seorang penulis terkenal lagi pula kuliah saya dikit lagi juga mau selesai”, kataku setengah menenggak air di botol aqua.
”Tuh...apalagi kamu punya cita-cita dan keinginan begitu. Kamu mau jadi seorang penulis yang terkenal kan? Coba buat itu semua jadi kenyataan. Bapak yakin kamu akan berhasil dan sukses jadi seorang penulis jika bakat dan keinginan kamu untuk terus menulis dilanjutkan lagi bahkan kalau bisa sampe ditongolin di berbagai media massa. (diam sejenak).......kuliah. kejar terus masa kuliahmu hingga kamu bener-bener selesai. Dengan begitu pasti orang tua kamu akan bangga sama kamu dan malah bersyukur sama Yang Kuasa kalo mereka punya anak seperti kamu. Yang kuliahnya berhasil dengan menyandang sebuah sarjana, belum lagi kamu sukses menjadi seorang penulis terkenal. Apakah kamu tidak menginginkan keadaan begitu?”, kata pak Narto sedikit memberiku semangat.
”Wah...saya ingin sekali semua itu jadi kenyataan dalam kehidupan saya. Tapi.......... apakah saya bisa melakukannya?”, tanya aku.
”Pasti bisa..... optimis dong!!”, kata pak Narto memberi semangat padaku dengan mengangkatkan satu kepalan tangan kanannya ke atas mirip sedang tablig akbar. Aku melihatnya langsung tersenyum dan...,
”He..he..he...bapak bisa saja”.
* * *
Di lain tempat, di rumah....dan di waktu yang sama. Di ruang tamu, kedua orang tuaku dan para pembantu sedang mengumpul dan membicarakan tentang anaknya yaitu aku yang sudah tiga hari nggak pulang ke rumah.
”Bi Ijah..Pak Darmo.... kalian tahu ke mana Firman pergi? Apakah Firman bilang ke kalian kalau dia mau pergi ke mana?”, tanya papa pada pembantu-pembantu.
”Ndak, ndoro... saya nggak ngelihat den Firman pergi dari rumah. Dan den Firman kalau ke luar biasanya sih bilang ke saya, tapi waktu itu den Firman nggak bilang ke saya”, kata bi Inah. ”Kalau pak Darmo sendiri bagaimana?”, tanya mama. ”Waktu itu sih saya lihat nak Firman ke luar dari gerbang depan, hanya nak Firman nggak bilang mau pergi ke mananya sama saya. Tadinya sih, saya mau tanya ke nak Firman mau pergi ke mana. Tapi...saya ndak berani karena saya lihat muka nak Firman lagi kusut, terlihat lagi marah dan sewot sambil ke luar dari gerbang”, kata pak Darmo polos. Mama terlihat lemes langsung jatuh ke sofa, mendengar jawaban dari pak Darmo. Sedangkan papa terdiam. Suasana di ruang tamu sunyi..tak ada sedikitpun suara terdengar. Yang terdengar hanyalah sedikit gemericik air yang ke luar dari kran yang belum tertutup rapat. Lalu.....suara papa terdengar kembali memecahkan heningnya suasana.
“Sekarang…bi Inah dan pak Darmo boleh kembali ke tempat kalian masing-masing. Segera lanjutin pekerjaan kalian”, kata papa.
”Baik, ndoro...!!”, jawab serentak bi Inah dan pak Darmo. Kini tinggallah mereka berdua (papa dan mama) di ruang tamu yang saat ini masih dalam keadaan sepi dan keduanya terdiam seribu bahasa
”Pasti Firman sangat marah, dia itu tipe anak yang gampang marah. Tapi kenapa ya?”, kata mama. Papa masih terdiam sambil berdiri di dekat perapian yang dikit akan redup.
”Papa sih.... papa ’kan nggak pernah di rumah. Selalu ke luar kota. Saya saja merasa kesepian apa lagi dengan Firman. Mungkin Firman ingin bertuker pikiran dan bercerita sama papa karena kalian sesama lelaki, tapi nggak bisa. Karena itu...papa nggak pernah ada di rumah. Sedikit waktupun nggak ada buat dia”, tuding mama dengan suara agak meninggi menyalahkan keberadaan papa yang jarang di rumah.
”Lah kok... papa sih yang disalahkan. Seharusnya mama dong, yang seharusnya pantes disalahkan. Mama ’kan seorang wanita, seorang ibu harusnya selalu didekat dia dan selalu ada buat dia. Bukannya seorang ibu itu mempunyai peran juga dalam mendidk anak, bahkan sangat berperan. Tapi yang papa lihat mama tuh selalu aja sibuk sama temen-temen mama, ya...arisanlah, ya....belanja-belanjalah kalau sudah cape langsung ke tempat tidur. Saya nggak pernah lihat mama ngobrol sama Firman”, kata papa marah sedikit memuncak.
”Kok... papa yang salah. Jadi bapak juga nggak bisa mengerti anak. Kalian ’kan sama-sama laki-laki jadi harusnya banyak bersamanya karena kalian pasti banyak kecocokan”, kata mama lagi yang nggak mau mengalah suara yang semakin mengeras.
”Ma, walaupun saya sama Firman sama-sama laki-laki tapi bukan berarti kami selalu sama. Apa lagi saya seorang bapak, kepala rumah tangga ini. Tugas saya mencari nafkah dan menghidupi keluarga ini. Memang saya akui juga nggak pernah ada waktu untuk Firman, tapi itu semua karena saya lagi bener-bener sibuk. Kalaupun saya punya banyak waktu pasti saya akan memilih bersama Firman dari pada selalu ada di kantor. Sedangkan seorang ibu itu nggak selamanya selalu ke luar dengan temen-temennya hanya untuk arisan dan belanja setiap hari. Selain rugi buat kita sendiri karena uang akan habis, kesehatan mama ’kan juga akan terganggu. Dan seharusnya mama yang banyak waktu bersama Firman. Karena seorang anak ingin selalu disayang...dimengerti...selalu ada mamanya di sampingnya. Baik si anak dalam keadaan gembira maupun dia sedang memiliki masalah. Kalau anak punya masalah, pasti orang pertama yang diajak cerita olehnya yaitu ibunya. Nah...peran ibu untuk menenangkan hati dan fikirannya selain itu membantu dia mencari jalan ke luarnya. Kalau dari ibunya nggak bisa membantunya karena masalah itu terlalu berat, baru seorang bapak turun tangan membantunya. Mengerti, ma....”, jelas papa sambil mengarah duduk di samping mama dengan suara yang melembut.
”Iya...mama tahu. Mama mengerti.. mungkin mama juga yang salah, nggak pernah ada buat Firman. Nggak pernah tahu kalau apakah Firman dalam keadaan seneng ataupun mungkin memiliki masalah berat. Mama akan berusaha untuk selalu ada dan mengerti perasaan Firman, Pa. Lagi pula Firman itu anak kita semata wayang”, kata mama menunduk dengan di kedua mata lentiknya mengeluarkan air mata tetes demi tetes. Papa melihat mama menangis langsung memegang tangan mama dengan lembut dan berkata..
” Ma, bukan mama saja yang merasa bersalah. Papa juga kok.... mari kita perbaiki semuanya. Kalau Firman sudah pulang, papa janji akan selalu ada waktu buat dia”, kata papa dengan sebuah janjinya itu.
”Mama juga janji, Pa. Mama akan selalu bersama Firman setiap saat dibanding bersama temen-temen mama, lagi pula mama juga mulai cape”, kata mama.
”Tapi... sekarang Firman di mana ya, Pa ? sudah tiga hari dia belum juga pulang. Mama khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Firman”, kata mama lagi yang mulai mencemaskan keberadaan Firman yang nggak pulang-pulang. ”Tenang, ma... Papa yakin, Firman akan baik-baik saja. Apa lagi dia seorang laki-laki, pasti bisa jaga diri. Mungkin sekarang dia butuh suasana dan udara segar dan lainnya, kalau sudah baikan pasti dia pulang ke rumah kok. Mama tenang aja, tapi papa akan berusaha juga mencari dia kalau sampai malam ini dia belum pulang juga ”, kata papa menenangkan mama. Kini, keadaan di ruang tamu kembali tenang setelah beberapa menit terjadi ketegangan antara papa dan mama.
* * *
Kembali ke lain tempat dan waktu yang bersamaan. Masih di sebuah tempat banyaknya pedagang makanan dan minuman. Aku masih duduk bersama pak Narto, masih asik mengobrol yang setiap saat diselingin dengan canda tawa. Ternyata pak Narto orangnya selain baik, beliau juga bisa melucu. Waktu sudah menunjuk pukul 5 sore saat kulihat jam di tangan kiriku.
”Wah... sudah sore banget nih. Ya sudah, saya akan turuti perkataan bapak. Saya akan pulang”, kataku sambil memasukkan botol aqua ke dalam tas ranselku yang dekil.
”Jangan karena perkataan saya nak Firman lalu pulang ke rumah. Tapi karena keinginan dan niat nak Firman sendiri untuk kembali ke rumah. Itu juga untuk kepentingan kamu juga”, kata pak Narto membetulkan perkataanku.
”Iya...saya akan pulang ke rumah atas dasar keinginan dan niat saya, Pak. Lagi pula saya juga mulai khawatir dengan keadaan mama di rumah”, kataku.
”Oh iya, jangan lupa jalanin kuliah dan cita-citamu yang mau jadi penulis terkenal itu. Kalau sudah sukses, inget-inget pesan bapak ya... Jangan pernah terlalu puas dan khilaf setelah kamu berhasil dan sukses. Selalu ingat sama Allah Yang Maha Esa”, kata pak Narto sedikit canda.
”Pasti saya akan menjalankannya, Pak. Dan pasti saya akan inget-inget pesan bapak itu”, kataku sambil memanggul kembali tas ranselku.
”Pak, saya pamit pulang dulu. Bapak baik-baik saja, ya. Salam buat keluarga bapak. Assalamu’alaikum.....”, pamitku pada pak Narto sambil mencium tangan kanannya.
”Wa’alaikumsalam..... hati-hati ya, Nak Firman”, kata pak Narto yang menjawab salamku.
Aku berjalan melawan arah, meninggalkan pak Narto sendiri lagi dengan dagangannya. Aku berjalan terus dan berfikir terus.
Allaahu akbar- allaahu akbar..... Asyhadu an-laa ilaaha illallah..... Asyhadu anna muhammadan rasuulullah..... Hayya ’alal shalaah...... Hayya ’alal falaah...... Allaahu akbar-allaahu akbar...... Laa ilaaha illallah.......
Suara adzan berkumandang sayup-sayup dari kejauhan. Tapi sampai saat inipun aku belum menemukan sebuah mesjid untuk menjalankan shalat maghrib. Akupun terus berjalan sambil kepalaku terus menengok ke kanan ke kiri mencari sebuah mesjid.
”Aduh... mana nih mesjid dari tadi yang aku temui cuma gereja terus, kok jarang sih daerah sini aku temui mesjid”, kataku ngedumel. Jangan-jangan ampe rumahpun aku baru nemuin sebuah mesjid lagi.....(pikirku). Terus kuberjalan tanpa mengenal lelah, walaupun sudah basah sekujur bajuku karena keringat yang nggak ada hentinya. Hingga aku sadari sudah sampai di tikungan rumahku, dan akhirnya aku temui juga mesjid yang sangat megah. Aku berhenti sejenak di depan gerbang mesjid tersebut.
”Subhannallah...... mesjidnya megah sekali. Allah itu memang Maha Kaya”, kataku terpesona dengan kemegahan mesjid Al-Ikhlas (nama mesjid tersebut).
”Tapi kok aku baru tahu keberadaan nih mesjid ya, pada hal nih mesjid dekat rumah aku ya ? emang sih masih berjarak 2 blok rumah dengan mesjid ini. Tapi ’kan pasti kelihatan kubah mesjid ini dari kejauhan. Ya Allah..... maafkan aku, aku baru sadar dengan keberadaan tempat suci-Mu ini”, kataku sambil menengadahkan kedua tanganku, memohon pada Sang Maha Kuasa. Lalu aku menurunkan tanganku.
”Oh iya, lagi pula aku juga jarang ke mesjid ini. Karena aku selalu beribadah hanya di rumah terus. Kalau sudah tahu keberadaan mesjid ini, InsyaAllah..... aku akan selalu ke rumah-Nya untuk menghadap kepada-Nya”, kataku lagi. Tanpa berfikir panjang lagi, akupun langsung memasuki gerbang mesjid lalu melangkahkan kakiku di atas lantai bermarmer hijau ini.
Setelah beberapa menit lamanya aku shalat dan berdoa mengadu dan memohon ampunan atas dosa-dosaku pada-Nya yang selama ini telah aku perbuat. Akupun langsung meninggalkan mesjid ini menuju ke rumahku yang berjarak 2 blok dari mesjid ini. Dalam perjalanan ke rumah, hatiku tak henti-hentinya berdetak sangat cepat. Gelisah. Takut. Dan berfikir apa yang akan diperbuat oleh orang tuaku terhadap aku yang pergi dari rumah tanpa pamit. Pasti mereka marah besar (pikirku).
Sampai aku menapakkan kakiku di depan gerbang rumahku berwarna merah marun yang besar dan kokoh ini.
”Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.......”, bisikku pelan. Aku membuka pintu gerbang yang berukuran kecil, kulihat di pos tidak ada satpamku yang lagi menjaga.
”Jangan-jangan nih satpam lagi deketin pembantu gue nih”, kataku karena pembantuku bukan bi Inah, pak Darmo dan satpam ini aja, tapi baru-baru ini kami mengangkat pembantu baru yaitu seorang perempuan. Ya....lumayan mudaan, ampe-ampe satpam kami kayaknya naksir nih.
”Hmm...dasar satpam.....”, kataku lagi sembari tersenyum kecut. Aku berjalan lagi menuju pintu rumahku, ”Kreeekk......!!!!”, suara pintu terdengar berat. Akupun memasukinya dengan keadaanku yang masih dalam jantung berdetup kencang dan berkeringat. Ku melangkah menuju kamarku yang berada di lantai 2, dan memang melewati juga ruang tamu rumahku. Sesaatku sampai di ruang tamu, ternyata.... aku temui kedua orang tuaku yang aku lihat di wajah mereka terbesit wajah kecemasan. Mama langsung menghampiriku dan memelukku erat.
”Firman.....”, kata mama. ”Sudah.... sini duduk dulu, ada yang harus kita bicarakan”, kata papa ramah yang meleraikan kami yang berpelukan dan membawa kami ke salah satu sofa panjang coklat.
”Ma.......”, kataku yang langsung di potong pembicaraanku sama papa.
”Firman, papa dan mama mau minta maaf sama kamu. Mungkin kamu pergi dari rumah ini karena kesalahan kami juga. Pasti kamu merasa kesepian dan kamu merasa sendiri bila sedang memiliki permasalahan yang tanpa kami ketahui dan membantu kamu mencari jalan keluar untuk masalahmu itu. Papa dan mama tahu, kami terlalu sibuk sama pekerjaan dan urusan kami masing-masing tanpa pedulikan keberadaan kamu dan kami berfikir hanya menyerahkan urusan kamu pada pembantu saja. Maaf..... memang pemikiran kami itu salah. Dan pasti kamu marah besar sehingga kamu berfikiran untuk pergi dari rumah ini, maafkan papa dan mama ya firman......”, kata papa panjang lebar yang nggak habis-habisnya menyalahkan diri mereka sendiri.
”Iya, sayang.... maafkan kami ya, Firman. Mama janji nggak akan terlalu sibuk lagi sama temen-temen mama itu yang hanya sekedar arisan dan berbelanja saja, mama akan selalu meluangkan banyak waktu buat kamu. Mama akan selalu ada buat kamu kalau kamu sedang ada maupun tidak ada masalah. Fir....”, kata mama lembut sambil meremas kedua tanganku.
”Ma.....”, kataku.
”Iya, Firman. Mamamu benar, kami janji....”, kata papa lagi.
”Pa... Ma... kalian nggak usah janji sama aku. Cukup papa dan mama mengerti perasaan Firman, Firman sudah senang kok. Lagi pula selama ini papa dan mama yang memenuhi semua kebutuhan Firman sejak bayi hingga segede ini. Malah Firman berhutang budi sama papa dan mama, malah juga Firman merasa malu sama papa dan mama kalau-kalau aku marah sama kalian tanpa alasan. Firman beruntung punya orang tua seperti kalian, yang peduli sama kebutuhan aku. Nggak banyak anak yang merasa beruntung punya orang tua seperti kalian, kalian adalah orang tua yang paling baik. Bagi firman, mama dan papa merupakan orang tua yang is the best. Dan seharusnya Firman yang meminta maaf sama mama dan papa yang selama ini buat susah, repot, kesal, marah dan bingung mama dan papa. Firman minta maaf ya ma… pa….. tapi ya itu, Firman cuma minta untuk papa jangan terlalu sibuk dan sering ke luar kota karena aku kan juga butuh figur papa yang bukan hanya sebagai orang tua saja tapi melainkan sebagai teman sesama lelaki. Begitu juga sama mama, Firman nggak ngelarang mama selalu sering menghabiskan waktu bersama teman-teman mama. Karena Firman tahu, mama butuh itu. Tapi Firman juga butuh sama keberadaan mama di samping Firman di kala Firman merasa sendiri di rumah ini. Karena pernah di suatu saat Firman butuh kasih sayang dan pengertian mama, mama selalu tidak ada buat Firman. Itu yang Firman sesalkan saja, apa lagi Firman akhir-akhir ini sering mendapat masalah dalam hal perkuliahan dan pribadi Firman. Tapi sudahlah lupain saja, toh…ini sudah berakhir. Lagi pula kita sudah kumpul lagi kan“, kataku senang yang tanpa kusadari aku meneteskan air mata di sudut sela mataku.
Lalu kami bertiga saling berpelukan hangat. Suasana ruang tamu inipun berasa menjadi mengharu biru, dan akupun merasakan kebahagiaan dan kebersamaan dahulu yang sempat hilang di tengah-tengah kami. Tapi mulai saat ini, kebahagiaan dan kebersamaan itu telah kembali pada kami untuk selamanya. Aku beruntung aku mengambil keputusan itu untuk pulang kepada orang tuaku yang aku sadari mereka orang tua yang terbaik. Dan itu semua juga berkat dukungan dan bertemunya aku dengan seorang bapak tua pedagang minuman yaitu pak Narto. Saya juga beruntung telah bertemu dengannya.
Ternyata di dunia ini masih ada dan banyak hal yang terbaik. Dan yang terbaik itu adalah orang tuaku, aku sangat sayang pada mereka. Dan nggak semua seberuntung saya yang memiliki orang tua dan keadaan yang sangat mampu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Karena masih banyak mereka yang nggak seberuntung seperti saya, dan saya harus menghargai Dan saya harus mensyukuri itu semua, pemberian yang tak terhingga dari Sang Pencipta Allah Yang Maha Esa.
* * * *
Keterangan :
* ndoro : tuan/nyonya
* den : tuan muda/nak
* ndak : tidak
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Aku Pulang





































