<< Cerpen Pacarku Pembunuh Ayahku  >>

Pacarku Pembunuh Ayahku

E-mail Cetak PDF
 PACARKU PEMBUNUH AYAHKU
Oleh: Berliany Kurniasih

 

 

 

Namaku sebut saja Naya. Punya seorang pacar bernama Dika, aku memanggilnya dengan sebutan Mas Dika. Kami sudah pacaran sekitar 3 tahun lamanya. Dan komitmen dalam hubungan kami adalah saling percaya dan pengertian. Oleh karena itu aku sangat percaya sekali dengan mas dika 100% di banding dengan orang lain termasuk keluargaku sendiri.

Aku bekerja di sebuah kantor perpajakan di Jakarta di posisi back office, tepatnya bagian administrasi keuangan. Sedang mas Dika bekerja di tempat yang sama pula dengan kantorku, tapi dia bekerja sebagai pegawai bagian HRD. Ya, benar kami bertemu di satu lokasi yaitu tempat kerja kami yang akhirnya kami saling jatuh cinta. Kalau bahasa nge-trennya cinlok, cinta lokasi. Berawal kami jatuh cinta karena di antara kami ada saling pengertian.

Mas Dika orangnya dewasa dan lumayan pintar. Aku sangat menyukainya, begitu juga dia. Alhasil dia meminta aku untuk menjadi pacarnya, kata itu dia lontarkan pada saat jam makan siang, di kantin.

“ Nay, ada yang mau aku bicarakan “, kata mas Dika yang bagi aku penuh teka-teki.

“ Memang ada apa sih, mas ? kok aku lihat mas nyembunyiin sesuatu. Memang penting ya? sampe aku lihat paras mas serius sekali “, kataku dengan mencoba mencongkel rasa penasaranku.

“ Iya, penting banget. Ini menyangkut impian dan harapanku. Terutama masa depanku “, kata mas Dika yang semakin bikin aku penasaran.

“ Ada apa sih, mas ? kok kata-katanya begitu amat. Malah bikin aku serba penasaran nih !”, aku yang semakin nggak sabaran untuk mendengar perkataan selanjutnya.

“ Tapi Naya tutup mata dulu ya ?!”, kata mas Dika lagi dengan permintaan yang nggak masuk akal itu.

“ Apa ? tutup mata ? memang ada apa sih, mas ?”, kataku sedikit kaget dengan permintaannya. Tapi mas Dika hanya diam dan tersenyum. Alhasil aku menuruti kemauannya,

“ OK. Aku tutup mata deh!”.

Aku dengar dengan samar kayaknya mas Dika mengeluarkan sesuatu dan membukanya serat. Lalu kudengar…

” Nay, sekarang kamu boleh buka matamu “, kata mas Dika lagi. Lalu aku membuka mataku pelan, memang awalnya agak samar-samar pandanganku, kuning kehijauan. Tapi lama-lama semakin jelas, dan pandanganku mendarat pada sebuah kotak berisi cincin emas bermata satu.

“ Apa ini, mas ? maksud mas apa sih ? aku nggak ngerti “, aku dengan kebingunganku dan pertanyaanku yang memberondong mas Dika.

“ Ini…cincin “, kata mas Dika singkat.

“ Iya, aku tahu ini cincin, mas. Tapi….buat apa ? “, aku yang semakin bingung saja.

“ Ya…buat kamu, Nay “, tegas mas Dika meyakinkanku.

“ Aku ? Nggak salah nih, mas ? dalam rangka apa ? aku nggak sedang ulang tahun kok “, kataku dengan tertawa kecil.

“ Memang aku tahu kamu nggak sedang ulang tahun. Ini cincin aku beli untuk kamu, Nay. Dalam rangka ingin aja, lagi pula ini cincin sebagai tanda cinta aku pada kamu “, kata mas Dika yang benar-benar perkataannya membuatku bagai tersambar petir.

“ Apa ? Ci..cinta..? Maksud mas ? “, aku yang semakin nggak mengerti.

“ Maksud saya, selama ini aku merasa sudah kenal dekat sama kamu. Kira-kira kita sudah satu kantor ‘kan selama 3 bulan ini ? (aku hanya mengangguk) dan aku merasa cocok sama kamu naya. Aku fikir apa salahnya kalau kita punya hubungan yang lebih dari sekedar teman. Aku milih kamu. Kamu mau ‘kan nerima cinta aku, Nay ? Kamu mau ‘kan jadi pacar aku, Nay ? Kalau kita sudah cocok banget, baru hubungan kita bawa ke yang lebih serius lagi. Yaitu pernikahan “, kata mas Dika lagi yang benar-benar membuatku tersambar hebat.

“ Waduh, pernikahan ? aku belum siap, mas. Tapi kalau dalam hal penjajakan, pacaran maksud mas itu. Mmmm….aku mau. Aku mau nerima cinta mas. Karena aku fikir apa salahnya aku nerima mas. Siapa tahu kita cocok dan memang jodoh. Tapi masalah pernikahan ‘ntar dulu ya, mas. Tunggu sampai aku siap. Kalau mas setuju “, kataku meyakinkannya dan membenarkan perkataan mas Dika.

“ Oh, its ok! Aku nggak keberatan untuk masalah pernikahan yang di cancel dulu. Aku bisa terima dan mau nunggu sampai kamu siap. Yang penting kamu sudah mau terima cinta aku dan mau jadi pacar aku. Jadi….kita resmi pacaran nih ? “, kata mas Dika yang kulihat dengan senyum kegembiraannya dan kelegaannya.

“ Mmm…iya (aku tersenyum) tapi kayaknya nggak perlu pakai cincin deh, mas. Masak belum apa-apa kamu sudah kasih aku cincin, aku nggak enak nih. Nggak usah ya ?”, kataku merajuk.

“ Jangan. Cincin ini memang sengaja aku kasih buat kamu. Di terima ya ? Lagi pula buat tanda aja, kalau kamu itu milik aku, he…he…he…”, kata mas Dika yang kini tertawa kecil.

“ Ah, mas Dika. Ada-ada aja. Tapi aku nggak mau dianggap cewek gampangan loh! Nerima kamu karena kamu kasih aku cincin (mas dika mengangguk kecil) kalau gitu, ya udah aku terima. Dari pada mas Dika nanti nangis, kan gawat. He…he…he…”, kataku usil.

“ Dasar, Naya…Naya…”, mas Dika tertawa lepas. Alhasil kami jalanin hubungan ini dengan rasa gembira. Tak lupa dengan rasa saling percaya dan jujur. Tak sedikit pun mas Dika membuat kesalahan padaku, apa lagi menyakiti hatiku.                        

Itu tiga tahun silam lamanya terjadi. Dan kini aku baru mengetahui bahwa hubungan kami yang berawal dari kebaikan ternyata ada juga kerikil-kerikilnya. Yang aku kira biasa dan baik-baik saja, ternyata tidak. Di belakangku ada percekcokan antara ayah dan mas Dikaku. Ternyata ayah tidak menyetujui hubungan kami karena ayah pernah memergoki mas Dika sedang ke luar dari pusat perbelanjaan bersama tante-tante.  

Di ruang keluarga…

.“ Ayah berkata benar, Nay. Percaya ayah. Kamu itu sudah ditipu sama Dika. Ayah lihat dia dengan mata kepala ayah sendiri kalau Dika itu baru ke luar dari Mall Kelapa Gading bersama seorang wanita berperawakan sangat keibuan. Dan anehnya lagi mereka begitu mesranya. Sampai berpelukan dan cium pipi segala “, kata ayah meyakinkanku.

“ Tidak ayah. Aku nggak percaya. Nggak mungkin mas Dika begitu. Nggak mungkinnnn…!!!!”, kataku lantang lalu meninggalkan mereka semua di ruang itu.

“ Bu, gimana nih ? Naya nggak mau percaya sama omongan ayah. Aku takut terjadi apa-apa sama Naya, aku takut Naya dibohongin dan diapa-apain sama itu orang “, kata ayah kepada ibu.

Sedang ibu….

” Sudah, yah. Ibu percaya ayah. Sekarang kita lihat aja nanti. Kalau ada apa-apa sama Naya baru kita bertindak. Tapi…moga aja nggak ada apa-apa sama Naya. Lagi pula ibu juga percaya bahwa Naya bisa jaga diri “, kata ibu menenangkan ayah. Kak Frans hanya mengangguk saja mendengar perkataan ayah dan ibu.  

Di kamarku….

Aku menelungkup berbaring di atas ranjangku yang empuk bersprei jingga. Dan aku terus berfikir dan mengomel kecil. Semua beradu di dalam otakku. Aku nggak percaya ayah, mungkin tante itu adalah tante sesungguhnya mas Dika atau ibunya. Yang kebetulan lagi jalan-jalan bareng aja. Karena aku sendiri juga nggak tahu sih bagaimana paras sesungguhnya ibunya mas Dika, walaupun sudah 3 tahun pacaran lamanya. Aku nggak pernah dikenalkan kekeluarganya mas Dika. Nggak seorangpun. Sedang aku selalu perkenalkan mas Dika ke keluargaku terutama ke ayah dan ibu. Tapi, lagi pula aku percaya kok sama mas Dikaku. Karena aku yakin dia nggak mungkin bohong sama aku. Sedang ayah, aku kenal dengan sifat over protective-nya pada anak-anaknya. Terutama sama aku anak bungsu dari 2 bersaudara ini.

Mungkin terlalu protectivenya, ayah membatasi lingkungan pergaulanku terutama pada laki-laki. Pada hal aku ‘kan sudah dewasa, sudah bekerja lagi. Yang nggak perlu sifat protectivenya yang terlalu itu. Aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan aku bisa jaga diri aku sendiri baik-baik kok. Memang sih ayah sudah banyak makan asam garamnya kehidupan di banding aku. Tapi ayah juga nggak bisa seenaknya membatasi tingkah laku dan gaya pergaulanku dong.

Sudahlah ! aku capek mikirin ini. Mungkin ayah salah lihat orang saja. Kalaupun benar mungkin wanita dewasa itu benar-benar tante atau ibunya mas Dika. Lagi pula aku percaya banget kok sama mas Dikaku. Tanpa terasa aku terlelap juga dan terbius pulas di atas bantalku yang empuk.  

Beberapa bulan lamanya, sekitar 2 bulanan…..

Akhir-akhir ini aku nggak mendengar lagi ketidakbolehan dan larangan-larangan dari ayah. Meskipun kami lagi ngumpul di ruang keluarga. Sedikitpun tidak kudengar.

Dan esoknya…..

“ Ahhhhh….Ibu…..!”, aku menemukan ayah tergeletak berlumuran darah di ruang kerjanya yang kebetulan aku ingin meminjam laptopnya. Ayah dengan pisau tertancap di dadanya dan….saputangan yang sangat aku kenal itu. Saputangan itu….saputangan punya mas Dika. Hadiah ulang tahun dariku untuknya 2 tahun yang lalu. Aku terkejut. Sedang ibu menangis pilu dan memeluk ayah erat. Sedang mas Frans langsung menelepon polisi.  

Selang beberapa jam lamanya…..

Polisi datang. Menginterogasiku karena aku adalah orang pertama yang menemukan ayah tergeletak berlumur darah. Polisi itu mengambil barang bukti termasuk saputangan itu yang sudah terkena percikan noda darah ayah. Ayah pun di bawa ke Rumah Sakit untuk diperiksa, di otopsi. Beberapa jam kemudian, pemeriksaan selesai dan sudah dapat ditarik kesimpulannya bahwa ayah di bunuh.  Dan ada sidik jari yang tak dikenal mendarat di gagang pisau yang tertancap di dadanya itu. Tapi kami harus menunggu lagi, lamanya satu minggu. Untuk melihat sidik jari siapa itu. Lalu kami bertiga pulang ke rumah.

Esoknya kami mengubur ayah di Penguburan Umum Tanah Kusir. Kulihat ibu terpukul sekali dan sangat sedih. Kak Frans dengan susah payah mengajak ibu pulang, tapi ibu enggan. Beberapa menit, akhirnya ibu mau pulang bersama kami. Kini rumah kami kehilangan satu anggota keluarga, anggota yang sangat berperan penting dalam keluarga ini. Yaitu ayah. Kini rumah kami sepi, yang ada hanya kesedihan yang berlarut-larut. Tapi kami tetap menjalankan kehidupan sehari-hari sambil menunggu hasil keputusan dari polisi tentang pembunuh ayahku. Terkecuali ibu, beliau kini jarang ke luar dari kamar. Aku dan Kak Frans sedih melihatnya berbagai cara kami untuk menghibur ibu. Namun tak bisa.

Hari ini, di kantor aku kehilangan gairahku untuk bekerja. Dan sudah dua hari ini aku nggak pernah ketemu lagi sama mas Dika. Ada apa sama mas Dika ya ? Kepulanganku dari kantor dengan berat langkahku ku menuju rumah yang kali ini sendiri tidak ditemani oleh mas Dika. Kurebahkan tubuhku di atas ranjangku. Setelah otot-ototku melemas, aku pergi untuk membersihkan diri. Mandi. Selesai mandi, aku menemui ibu dan Kak Frans yang sedang bermuka serius.  

Di ruang keluarga….

Kudengar pembicaraan antara ibu dan Kak Frans, dan mereka menyebut-nyebut nama mas Dika. Ibu curiga sama mas Dika. Karena ibu pernah melihat ayah bertengkar hebat di taman dengan mas Dika sewaktu aku masih di dalam rumah. Mereka berdua benar-benar bertengkar hebat. Kata ibu, ayah menanyakan tentang keberadaan mas Dika dengan wanita dewasa di mall itu yang ayah lihat jelas benar. Ayah melarang mas Dika untuk mendekati aku lagi dan memutuskan hubungan denganku. Tapi mas Dika bersikeras untuk tidak mengaku dan enggan meninggalkanku. Memutuskan hubungannya denganku. Karena mas Dika sayang sama aku. Kakakku juga melihat kejadianku itu saat sedang menyuci mobil. Aku mendengar perkataan ibu, langsung kuhampiri mereka berdua.

“ Ayah bicara keras begitu bu sama mas Dika ? Keterlaluan sekali ayah !”, kataku bentak.

“ Kamu yang keterlaluan sekali, Nay. Kamu lebih percaya sama Dika di banding ayah kamu sendiri. Kamu tuh anak yang nggak tahu diri. Jangan-jangan kamu sudah cinta buta sama Dika. Sampai-sampai tidak tahu perbuatan bejatnya itu. Nggak percaya lagi sama keluarga kamu, terutama ayah yang sudah membesarkan kamu dengan materi dan kasih sayang yang banyak “, kata Kak Frans yang kini kulihat dia mulai emosi dengan perilakuku.

“ Sudah deh ! Kak Frans jangan ikut campur urusan Naya. Kak Frans nggak tahu apa-apa “, hardikku pada Kak Frans kasar.

“ Kamu, Nay. Nggak boleh gitu sama kakak kamu. Yang kakak kamu bilang dan ibu ceritakan ini benar. Nggak bohong dan nggak dibuat-buat. Cuma kebetulan saja waktu kejadian pertengkaran itu kamu lagi di dalam rumah. Tapi saat kamu ke luar seakan tidak terjadi apa-apa kan ? Tapi kamu pasti ngerasa saat itu sedang terjadi sesuatu. Tapi kami termasuk Dika menyembunyikannya dari kamu. Sadar, Nay “, ibu meyakinkanku. Aku fikir benar juga perkataan ibu tadi, memang saat itu aku ngerasa ada yang tidak beres. Tapi kutanya mas Dika, dia bilang tidak terjadi apa-apa. Tapi, nggak mungkin !! Aku nggak percaya.

Aku meninggalkan mereka dengan menangis terisak, aku merasa tidak ada yang sayang aku lagi. Tidak ada yang bisa mengerti aku lagi, terkecuali mas Dika. Aku berlari ke kamarku dan kubanting pintu kamarku keras. Ibu hanya mengurut dada.

“ Sekarang bagaimana, bu ? Malah polisi belum ada hasilnya siapa pembunuhnya “, kata Kak Frans bingung menggaruk kepalanya.

“ Ibu juga nggak tahu lagi, Frans. Dan ibu bingung harus bagaimana lagi bersikap sama adikmu itu. sekarang. Naya susah dibilangin semenjak kenal dan pacaran sama Dika itu. Ibu nggak tahu, sekarang ibu cuma bisa nunggu keputusan dari pihak polisi. Tapi sampai sekarang belum ada kabarnya “, ibu pusing tujuh keliling sampai-sampai akhir-akhir ini kesehatan ibu menurun.

“ Jadi, ibu diam aja nih ? Frans nggak akan tinggal diam, bu. Frans akan lakuin sesuatu. Demi kebaikan kita semua terutama buat Naya. Gimana kalau kita selidiki Dika aja, bu ? Masalah caranya, serahin sama Frans aja “, kata Kak Frans penuh selidik.

“ Terserah kamu ajalah, Frans “, komentar singkat ibu. Tapi diam-diam Kak Frans menyelidiki mas Dika, dengan cara membayar seorang perempuan untuk mendekati mas Dika. Alhasil tanpa sepengetahuanku mas Dika janjian sama perempuan itu di sebuah pub. Aku nggak tahu sekarang mas Dika suka main ke pub-pub. Temanku melihatnya dan menghubungiku.

“ Hallo, Nay ! ini Tedy. Asal kamu tahu aja ya. Saya sama Reny ngelihat masmu si Dika di dalam pub bersama seorang perempuan “, kata Tedy teman sekantorku juga yang bagian administrasi keuangan.

“ Nggak mungkin, Ted. Kamu salah orang kali “, kataku nggak percaya omongan Tedy.

“ Benar, Nay. Malah aku lihat pakai rangkulan segala lagi, trus minum-minum gitu “, kata Tedy meyakinkanku lagi.

“ Nggak mungkin ! Kamu jangan ngada-ngada ya ? aku nggak percaya kamu “, kataku semakin sewot membela mas Dika.

“ Ya udah, kalau kamu nggak percaya datang aja sekarang. Kalau nggak mau juga, teserah kamu deh ! udah ya…Tut...tut…tut…”, bunyi telpon dari Tedy tertutup kudengar dari sebrang sini. Nggak mungkin, aku nggak percaya dia. Apa lagi sama Tedy. Aku tahu dulu dia rivalnya mas Dika. Mungkin aja dia mau jelek-jelekin mas Dika di hadapanku.                         

Esoknya aku memutuskan untuk bertemu dengan mas Dika, di kantin. Aku menanyakan keberadaan dia yang selama ini nggak nongol-nongol di hadapanku. Tapi dia menjawab, dia lagi sibuk banget dengan pekerjaannya. Aku mengerti, memang di bagian HRD kerjaannya banyak apa lagi saat-saat ini kantor kami sedang dalam perekrutan pegawai baru dan pemindahalihan pegawai lama ke cabang kantor kami lainnya. Aku juga bertanya tentang Tedy melihat mas Dika bermesraan bersama dengan seorang perempuan di sebuah pub. Tapi mas dika mengelaknya, katanya saat itu dia lagi di rumah keluarganya sedang ngumpul dengan keluarganya. Malah dia memberi nomor telepon abangnya. Untuk sebagai bukti ke aku. Alhasil aku percaya sama omongan dia. Mungkin semua yang dibilang orang-orang tentang kejelekan mas Dika, salah.                         

Di lain tempat dan lain waktu, ternyata perempuan suruhan Kak Frans berhasil untuk mengambil cap jarinya mas Dika sewaktu di pub itu di beberapa barang yang dipegang mas Dika, seperti gelas ataupun rokok bekas mas Dika. Cap jari itu diperiksa polisi.  

Seminggu kemudian….

Polisi mendatangi rumah kami untuk memberitahukan hasil penyelidikannya yang dibantu oleh Kak Frans. Dan terbukti mas Dika bersalah, itu jari mas Dika. Dugaan ibu selama ini benar bahwa yang bunuh ayah adalah mas Dika. Dan bersamaan dengan itu aku mulai curiga sama mas Dika yang sering bohong dan nggak mau diajak pergi lagi sama aku tiap malamnya. Ternyata dia janjian untuk ke sekian kalinya dengan perempuan itu. Dan untuk ke sekian kalinya temanku Tedy dan Reny melihatnya dan memberitahukanku. Aku yang dasarnya sudah mulai curiga sama mas Dika, aku kini ikut dengan temanku ke pub itu. Dan benar, aku melihat mas Dika sedang merangkul seorang perempuan. Aku kecewa sekali.

Aku hampiri mas Dika.

“ Mas….ternyata Tedy benar mas Dika main perempuan lain di sini. Pantas, aku hubungin tiap malam nggak ada terus. Ternyata ayahku benar kalau mas itu bejat. Mulai sekarang kita putus !”, kataku dengan sekejap dengan mencopot cincin pemberiannya dan melempar ke hadapannya. Mas Dika hanya diam, asik mabuk bersama perempuannya itu. Waktu yang kurasa  indah berganti murka dan menyedihkan.                        

Selang beberapa hari, aku dapat kabar bahwa mas Dika ditangkap dan aku baru tahu dan yakin ternyata benar yang membunuh ayah adalah dia. Kini begitu besar rasa benciku pada mas Dika. Apakah semua lelaki seperti itu ?                        

Aku sedih yang ke sekian kali, karena aku nggak pernah percaya sama orang yang selama ini sayang padaku yaitu ayah. Ternyata ayah benar bahwa mas Dika itu memang bejat. Tapi aku kini menampung seribu penyesalanku dalam hidupku sehari-hari. Ayah meninggalkan kami semua dengan sangat mengenaskan, itu semua karena salahku. Yang terlambat percaya pada ayah. Ayah, maaf kan aku…..maafkan naya….                       

Ku bersimpuh di atas kuburan ayah, airmataku menetes tak beraturan. Kuberjanji akan selalu percaya sama keluargaku, ibu dan Kak Frans. Dan aku akan lebih hati-hati lagi menghadapi seorang lelaki.

Joomlart