<< Cerpen Pelacur Yang Menangisi Temannya  >>

Pelacur Yang Menangisi Temannya

E-mail Cetak PDF
Pelacur Yang Menangisi Temannya
Oleh: Parma Andhika Puspita Dewi

            Tugas pertama sebagai seorang jurnalis, aku harus berada di Markas Besar Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang tepat pukul sepuluh malam ini.

            “Bikin berita operasi pekat, cari sisi lain,” kata Mas Nandang koordinator liputan tadi pagi. ”Sebelum jam dua belas berita itu harus sudah masuk. Kamu jalan dengan Bondan,” tambah Mas Nandang sambil menunjuk fotografer yang lima menit lalu aku kenal. Aku mengangguk, menerima block note dan surat tugas sementara, yang besarnya seijasah SD.

            Aku bersemangat! Sebelum pukul sepuluh aku sudah berada di Markas Kepolisian terbesar di Semarang, aku minta ijin kepala satuan operasional untuk ikut naik di dalam truk yang akan digunakan untuk mengangkut Pekerja Seks Komersial yang terjaring nantinya.

            Awalnya kepala satuan operasional atau kasat ops tidak mengijinkan, tapi setelah aku kemukakan alasan dengan jujur, bahwa aku ingin mendapatkan cerita lain yang bisa mendukung tugas pertamaku ini, Kasat Ops yang gagah itu mengijinkannya. Bondan juga mendukung, jaket yang kukenakan dimintanya.

“ PSK kalau lagi beredar harus seksi, jangan pakai jaket kayak gini,” ujarnya sambil memasukkan jaketku ke dalam ranselnya yang telah penuh dengan kamera. Aku tersenyum, apa iya aku akan seksi dengan kaos ketat seperti ini? Hehe, jadi malu. Kaos ini sengaja kupinjam dari Dewi temen kostku.

            “Kenapa senyum-senyum sendiri, cepatlah masuk ke truk. Biar teman-teman lain tidak mengikuti,” Bondan mendorongku. Aku naik ke dalam truk besar itu. Dingin, senyap. Sayup terdengar petugas yang akan melakukan operasi, tengah berkoordinasi dalam apel malam antara polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja atau istilah kerennya Satpol PP.

            Mudah-mudahan nanti semua berjalan lancar, aku mendapatkan cerita bagus yang bisa kutulis dengan indah. Aku ingin bapak dan  ibu di kampung bangga dengan aku, juga Endro kekasihku.

            Sengaja keluarga besarku di kampung tidak kuberitahu jika aku menjadi wartawan di Semarang, aku ingin membuat kejutan untuk mereka. Terutama Endro, sekaligus membuktikan jika aku, Prita mampu menjadi perempuan tangguh.

Awalnya aku datang ke Semarang karena Rina tetanggaku menawari aku kerja di perusahaan tempatnya bekerja di Semarang ini. Tapi restu tak kunjung kudapat. Ayah dan Ibu amat mencemaskan aku, jika aku bekerja dan tinggal berjauhan. Begitu juga dengan Endro. Namun, setelah beberapa hari merayu, akhirnya aku bisa menyakinkan semuanya, untuk berangkat ke kota yang panas ini.

Tapi terlambat, lowongan kerja yang ditawarkan Rina telah diisi orang lain. Aku kecewa, tapi tidak lama, karena kemudian lewat teman Rina pula aku mendapat informasi adanya lowongan jurnalis ini. Semoga aku bisa melakukan pekerjaan yang amat menantang ini.

Suara langkah langkah kaki mendekat, membuyarkan lamunanku. Beberapa Polisi dan Satpol PP ikut naik di atas truk. Truk melaju pelan meninggalkan Mapolwiltabes. Aku melihat di luar, Bondan dan wartawan-wartawan dari media lain mengikuti kami dengan menggunakan sepeda motor.

            Udara malam betul-betul menusuk. Wah, ternyata Semarang sangat indah, lihat saja ada sebuah swalayan yang menyorotkan lampu dengan  sinar sangat terang ke atas, seandainya itu dipasang di desaku pasti bisa menyinari seluruh kampung.

Tiba-tiba truk berhenti, aku berdebar dan menanti.  Suara-suara di luar sangat berisik. Orang berlarian, berteriak. Truk polisi ini ada penutupnya jadi aku tidak bisa melihat keramaian di luar. Tapi aku yakin, pasti seperti yang biasa kulihat di berita kriminal televisi. Perempuan-perempuan akan berontak dan petugas terus memaksa masuk.

Benar saja, lima perempuan  diseret-seret. Karena terus berontak dan berteriak. Akhirnya semuanya masuk di dalam truk. Lima perempuan itu sebaya denganku, kira-kira duapuluh lima tahun, cuma dandanannya sangat tebal sehingga mereka terlihat lebih dewasa.

Ah aku bingung akan bertanya apa pada mereka, mereka tampak sewot dan enggan berbicara panjang. Harum parfum lima perempuan itu membuat aku sedikit pusing. Aku  membutuhkan udara segar. Aku melangkah dalam truk besar itu, agak terhuyung-huyung sebelum akhirnya sampai dipintu truk.

“Duduk saja di situ!” teriak petugas Satpol PP yang melihat tingkahku.

“Maaf pak, ijinkan saya duduk di sini, saya agak sakit,” tanpa menunggu jawabannya aku sudah duduk di pingir pintu bersebelahan dengan para petugas yang jumlahnya tak lebih dari lima orang.

Ada dua truk yang digunakan beroperasi malam ini satu yang kutumpangi, satu lagi dipenuhi petugas yang bertugas menyisir para pelacur yang sedang mangkal. Aku mulai gelisah, belum menemukan apapun yang akan kutulis.

Kurang dari setengah jam, truk ini hampir terisi penuh, perempuan, lelaki bahkan banci. Hmm, tampaknya operasi masih terus berlanjut. Di sebuah tempat yang gelap, lagi-lagi truk itu berhenti. Suara riuh rendah di luar kembali terdengar. Sementara di dalam semua diam dan tampak tegang. Wah kenapa harus diam, ayolah bercerita, sudah berapa lama jadi psk? Berapa kali tertangkap? Apapun itu  tentu akan menarik. Huh ! kenapa aku sendiri tak mampu bertanya?

“Pak ..pak aku ki belum dapet apa-apa kok sudah mbok tangkep,”  suara sember yang sangat akrab  terdengar sangat dekat. Karena truk sudah sangat penuh petugas mendorong banci itu dengan kasar, tubuh wangi itu menimpaku. Belum hilang  rasa kaget ini aku mendengar teriakan,

“Prita!, kamu Prita!,” ternyata banci yang menubrukku itulah yang berteriak. Ah siapa dia, sangat akrab. “Aku Bejo, teman SMP-mu di Klaten. Namaku Beti sekarang.” Ya betul hidung mancung dan kulit bersih ini sangat kukenali.

“Hah! Bejo, kamu cantik sekarang.” Aku berteriak girang. Bejo atau Beti itu  mendekapku sangat erat. Wah benar-benar dekapan laki-laki. Aku jadi ingat, Endro juga suka memeluk erat seperti ini jika kita lama tak bertemu, dan itu membuat aku sesak nafas.

“Ah, sudah….sudah.”

Aku berusaha melepas pelukannya.

“Kamu jadi lonthe juga?” tanya Bejo sambil melepaskan pelukannya. Semua mata memandangku. Gawat, kalau aku bilang aku wartawan pasti aku akan digebuki mereka.

“Ya, aku lonthe” aku menjawab lirih, dengan menundukkan kepala berharap tak ada yang mendengar. Ups ..  tanpa sengaja aku melihat dada Bejo membubung indah.

“Ini asli?” aku menuding .

“Asli Neng, berkat suntikan ahlinya. Mau lihat?”, Bejo berusaha membuka kancing bajunya yang tampak ketat membungkus tubuhnya .

“Tidak usah Jo…eh Bet, aku sudah punya,” aku  mencegahnya. Bejo  ngakak. Truk berjalan pelan-pelan. Bejo duduk di sampingku.

“Sejak kapan kau di Semarang?” tanya Bejo memandangku.

“Baru sebulan.”

“Belum pernah ketangkep ya?” aku menggeleng.

“Kau tahu. Dalam sebulan ini aku sudah tiga kali terjaring. Besok untuk yang keempat kalinya, dan itu berarti aku akan dikirim ke panti sosial, selama tiga bulan,”  Bejo terdiam, Aku bersemangat mendengar cerita Bejo.

“Tiga bulan Prita, bayangkan tiga bulan dan itu berarti aku tidak bisa mengirim uang ke kampung, padahal emak sakit. Kemarin saja untuk denda sidang aku masih ngutang temanku,” Bejo menangis. Aku meraih tangannya. Cerita yang bagus, tapi kenapa harus Bejo?

“Ini tidak adil bagiku Prita, kau tahu begitu lulus SMP aku lari ke Semarang. Aku bosan mendengar olok-olok orang kampung. Mereka tidak pernah mau mengerti jika aku ingin benar menjadi perempuan sejati. Aku juga tidak ingin dilahirkan sebagai laki-laki. Kau tahu itu kan, bagaimana aku harus berjuang untuk menjadi lelaki tapi tetap tak bisa?” Ya, ya aku ingat itu. Bejo yang sebenarnya memiliki paras tampan, tapi sangat gemulai selalu berusaha tampil dengan gagah.

“ Di Semarang, aku bisa menjadi diriku, tanpa ada yang menghalangi. Aku juga bisa mencari kesenangan dan uang secara bersamaan. Lihat Prita, aku bisa beli baju bagus, parfum, suntik silikon bahkan ngirim duit buat emak di kampung.” Bejo menatapku, matanya indah bersinar. Bejo berbisik

 Garukan ini membuyarkan segalanya, aku tak bisa menerima ini.”

Suara truk masih menderu. Beberapa perempuan lain di dalam truk mulai terlihat mengobrol, tapi aku tidak bisa mendengarnya suara angin dan truk mengalahkan suara mereka. Selain itu, aku lebih ingin mendengar cerita Bejo.  

“ Prita, jika terjadi apa-apa padaku maukah kau kabarkan pada emak jika aku  menyayanginya,”  Bejo kembali berbisik.

“Kau tidak akan apa-apa Beti, percayalah. Nanti aku akan membantumu, “ aku berusaha menenangkan Beti yang terlihat sedih. Masih kugenggam tangannya, ketika tiba-tiba Beti melepas tanganku dan bangkit.

Dalam hitungan detik, tubuh gemulai yang kuat itu menerobos barisan Polisi dan Satpol PP yang duduk di pintu truk dan melompat dari truk yang masih melaju.

Semua terpana dan berteriak. Petugas tidak mampu mencegah tubuh Bejo yang melompat dan beradu dengan aspal. Truk berhenti setelah semua berteriak.

Aku melompat turun mengikuti para petugas itu, aku melihat Beti jatuh tertelungkup. Darah ke luar dari kepalanya.

“Beti!, bangun Beti!” tanpa sadar aku berteriak menyingkirkan para petugas dan orang-orang yang merubung Beti. Aku seperti gila, tidak memperdulikan mereka. Aku sangat syok melihat tubuh Beti bersimbah darah, aku memeluk Beti, berharap dia membuka mata dan berkata bahwa ini hanya mimpi.

****

Bajuku masih membekas darah Beti ketika aku menghadap mas Nandang pagi ini. Setelah mengantar jenasah Beti ke kamar mayat dan mengurus semuanya, termasuk memberi keterangan polisi. Aku langsung ke kantor, tanpa sempat menulis laporan. Hmm… entahlah apa yang akan terjadi. Mas Nandang masuk ruangan wajahnya masam tanpa senyum.

“Lihat ini,” Mas Nandang menyodorkan beberapa surat kabar. Aku melihat foto yang ditunjuk Mas Nandang, Hah ! fotoku sedang memeluk Beti. Di bawah foto itu tertulis : Seorang PSK menangisi temannya yang tewas setelah nekat melompat dari truk polisi.

“Semua koran memuat fotomu, semua koran menulis berita itu. Tapi kamu. Apa yang kamu kerjakan. Maaf Prita, kami tidak bisa mempekerjakan orang seperti kamu.” Ucapan Mas Nandang betul-betul memukulku. Aku ingin menangis, tapi airmata ini seakan sudah kering sejak semalam.

“ Ya sudah Mas, saya memang gagal. Permisi,” aku tak perlu berlama-lama di ruang Mas Nandang, aku segera ke luar ruangan. Berjalan cepat meninggalkan teman-teman wartawan yang masih berkumpul di ruang redaksi.

Hampir ke luar gerbang ponsel di saku celanaku berdering. Ups..Endro.

”Jadi itu yang kamu lakukan di Semarang Prita. Aku sangat kecewa padamu. Aku malu mengenalmu!.”

Tanpa basa basi Endro berteriak dan memutus telpon itu tanpa aku sempat menjelaskannya. Tentu Endro sudah melihat foto itu.

Ya Allah, apa yang harus kulakukan, bagaimana jika ayah dan ibu juga melihat foto itu dan mempercayainya. Tubuhku mulai lemas dan tiba-tiba  semuanya menjadi gelap.

 Semarang, April 2008

 

 

Catatan: cerpen ini memenangkan juara ke 2 penulisan cerpen yang diadakan Hans Advertising  dan dibuat sandiwara radio oleh panitia untuk  diputar di 30 radio di Indonesia.

Joomlart