Bangun Sore Berbumbu Fiksi
Oleh: Lalu Abdul Fatah
Aku bangun dengan
tenggorokan yang terasa kering menggelinding. Pandangan masih
samar-samar. Iler berkubang di bantal. Membentuk lambang olimpiade
Beijing. Heran juga. Kok bisa? Ah, kepalaku masih berat untuk berpikir.
Terlalu banyak kemungkinan dalam hidup ini. (Bangun-bangun sudah bisa
berfilsafat, piye toh?)
Dengan malas, aku beranjak. Duduk di tepi ranjang. Menengok ke
belakang. Dua makhluk bernama buku dengan sukses aku tiduri. Mereka
tampak layu, acak, berantakan. Halaman terlipat-lipat. Tapi, mereka
tidak protes. Nrimo saja. Aku pun cuek ayam.
Tangan kananku refleks garuk-garuk mata. Sinar matahari sore yang
iseng menyeruduk dari jendela kamarku yang terbuka. Kamarku yang sampai
sekarang tanpa jendela. Kamar yang siangnya bertabur cahaya dan
malamnya dirundung dingin. Ah, I love you, my lovely room.
Aku masih mengenakan sarung dan celana panjang karate yang kubuat
semasa masih imut – SMA dulu. Kemeja abu-abuku untuk jumatan juga masih
lekat di badanku. Tentu saja, bahannya yang tipis, membuatnya seperti
kerupuk saat aku bangun seperti sekarang ini.
Sony Vaio-ku yang tergeletak manis di lantai dengan layar menganga ke
atas, kugeser posisinya dengan kaki kiriku. Kali ini layarnya yang
hitam karena memang kondisi off itu, menghadap ke arahku. Lalu, tidak
jauh dari tebakan Anda, aku pun mulai memperhatikan detail wajahku.
Bercermin sambil mencoba berbagai senam wajah yang kelihatan aduhai –
sementara yang lain mungkin pengen langsung ngeremes mukaku.
Sampai detik ini, aku masih belum tahu, apakah aku telah sadar ataukah belum. Atau masih dalam tahap pendadaran.
Aku belum kepikiran untuk berdiri lalu mandi atau menunaikan sarapan
pagi yang tertunda hingga kini. Ya, aku belum sarapan. Belum sebutir
pun nasi memasuki terowongan dan septic tank-ku yang bernama lambung
itu. Belum. Hanya dua biji permen asem yang kubeli di atas bus kemarin
dan beberapa teguk aqua yang sudah tandas.
Aku pun mulai pusing memikirkan kehidupanku. Semua slide buruk masa
lampau langsung berkelebatan. Aku punya pendapat, kalau tidak ingin
disebut prinsip bahwa karma itu pasti ada. Ada sebab akibat. Yin yang,
isitilah yang sering kutemui dalam novelnya Dee. Dan, aku dengan
keyakinan 100 persen kurang sedikit, yakin kalau apa yang kujalani hari
ini – yang lengkap dengan penderitaan berupa kelaparan sejak pagi,
adalah akibat perbuatanku di masa silam.
Jadi, Kamu telah menghamili anak orang dan tidak memberinya makan?
Aduh! Jangan pula kalian tuduhkan hal itu padaku. Aku kaget sungguh.
Beneran. Main tuduh itu tidak baik. Kalau main unduh itu, baik. Sebab,
Axis adalah GSM yang baik. (ngelantur itu indah!)
Tidak, Kawan! Aku tidaklah seekstrem itu. Mungkin dulu – masih dalam
konteks kelaparanku – aku pernah tidak memberi makan beberapa ekor anak
kucing yang masih hijau. Artinya, mereka baru lahir. Ini kejadian
nyata. Jadi, aku pernah menyekap salah satu anak kucing yang baru lahir
di dalam gudang, lalu selang beberapa jam, meongan-nya pun senyap. Aku
curiga. Dan kecurgiaanku terbukti. Dia telah wafat, menemui cinta-Nya.
Saat itu, aku pura-pura sedih. Aku pura-pura takut. Seperti orang
sering bilang, membunuh kucing bisa mendatangkan karma. Duh, aku antara
takut, kesal, bingung, dan tak mau ambil pikir. Kucing kok bisa ya
diperlakukan seistimewa gitu oleh alam. Alam? Bukan Alam Mbah Dukun,
oey!
Nah, aku bertanya: ‘alam’ yang aku maksudkan di sini itu, apa? Bisa dibantu.
Oke, balik lagi ke kasus utama yang lagi menimpaku: KELAPARAN plus
KEHAUSAN. Aku ingin berhenti membicarakan karma dan karma sutra,
entahlah!
Sekarang, aku lapar juga haus. Rezeki tidak datang kalau tidak dicari.
Langit mana yang mau menge-gol-kan sepincuk makanan kalau kau tidak
mencarinya di warung? Langit mana yang akan menurunkan aqua kalau kau
tidak mencarinya di toko? So, aku pun beranjak dari tepi ranjang.
Keluar dari kamar. Turun ke lantai bawah. Ingat aku pada jemuran yang
belum kuangkat sejak kemarin. Mungkin sudah kering kerontang keset
maknyus brudul bredesss. Kasihan.
Setelah kalap menguntit jemuran sendiri, aku pun berjalan ke pohon
keres yang berada di belakang kandang. Lalu, kupungut satu-satu buahnya
yang masih menggantung ranum kemerahan kecil-kecil. Aku membayangkan
itu anggur.
Oya, buat permakluman, inilah kehidupanku sebagai anak kos di Pare,
Kediri. Tak semua yang di atas kenyataan. Aku bumbui juga dengan
fiksi-fiksi tak bermutu. Maafkan!
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Bangun Sore Berbumbu Fiksi






































