<< Cerpen Kaum Lut  >>

Kaum Lut

E-mail Cetak PDF

                                                                                  Kaum Lut
                                                                          Oleh: Azizahriyanni


Apa-apaan ini? Dia pikir dunia ini hanya butuh uang. Lagi pula, memangnya aku ini robot manis yang bisa menurut saja semua kata-katanya. Ergh... aku! Aku yang buat diriku jadi robot. Mau-maunya saja menuruti kehendaknya. Dia tinggal pegang remote, dan degiit...aku bergerak kanan-kiri sesuai dengan tombol yang ditekannya.

            Dunia ini jadi sempit saja rasanya. Ke mana-mana dengan chip yang melekat pada satu bagian tubuhku. Kemana pun aku pergi, aku bisa saja dipanggil pulang, lalu terkuyu di ruangan megah tapi serakah. Di mana-mana ada pernak-pernik yang mengundang decak kagum para tamu. Mata mereka seperti liar. Dan aku seperti melihat mata pernjilat-penjilat di binar mereka.

“Ini barang antik, Bos. Wah, Bos dapat dari mana barang kayak gini” ucap lelaki binal yang mencolek-colek barang kesayanganku.

“Hei! Sekali lagi kau colek dia, kupatahkan tanganmu!!” ujarnya berang. Hm, ternyata dia pencemburu juga. Namanya Rico. Jantan sekali kedengarannya, bukan?

Laki-laki binal itu terdiam. Aku senyum-senyum saja. Senyum jijik. Semua di sini sama saja! Sama binal! Sama menjijikkannya. Aku menoleh ke arah luar dan pandanganku menabrak cermin. Iyack!! Satu orang menjijikkan lagi terlihat di sana. Dan itu aku!

* * *

Kami berangkat menuju restoran yang paling jarang dijamah oleh orang biasa karena biaya konsumtifnya yang teramat mahal. Tapi untukku, untuk pacarku, dan untuk rekan-rekannya, ini hanya makanan biasa yang sangat biasa kami makan. Yah, sama seperti cacing yang menjadi makanan bebek sehari-harinya. Tak ada yang spesial. Pembicaraannya pun tak spesial, hanya seputar bisnis dan bisnis. Dan itu bisnis pacarku. Aku hanya diajaknya untuk makan siang. Uh! mata mereka kembali liar saat menatapku. Ow! Mungkin mereka belum biasa saja dengan tampangku di dunia mereka. Jadi menganggapku spesial di antara semua ke-tidak spesial-an hari mereka.

Aku ikut pembicaraan alot mereka. Antara bisnis bercampur cinta. Aku bisa menatap mata temannya yang memandang “pacar” gilaku ini. Rasanya ingin kucolok mata besarnya. Dia pikir aku tidak tahu apa yang disembunyikan di balik tatapan mesranya. Heh! Dan pacarku juga menatap lawannya dengan perasaan menggebu-gebu. Hei! Apa tak cukup aku yang siap jadi robotmu? Aku tidak pernah melakukan hal yang kau lakukan ini. Setidaknya tidak di depanmu. Sepertinya, kau ini mulai nakal juga ya...

Salah seorang temannya menyusul datang. Akhirnya tatapan mereka bisa lepas juga. Kalau tidak, aku sudah angkat bicara, angkat tangan, bahkan angkat kursi bila perlu.

* * *

            “Sayang, di mana? Kangen nih...” ujarnya jujur.

            Heh! Nadanya manis sekali. Bukannya aku yang seharusnya bertanya dengannya ke mana saja dia pergi seminggu ini. Tanpa kabar sama sekali. Dia pikir, aku tak gila mondar mandir mencarinya. Aku sudah seperti robot kehilangan remote saat dia menghilang. Seminggu tanpa dia, aku marah-marah saja kerjaannya. Saat aku bertanya dengan teman-temannya, bukan jawaban yang aku dapat. Aku malah digoda habis-habisan. Saat aku menolak mereka, mereka menertawakan aku sambil membujukku untuk tidak setia dengan Rico. Banyak yang ingin aku ceritakan dengan kekasih hatiku itu. Dan banyak juga kemarahan yang ingin tumpahkan padanya. Namun setelah mendengar suaranya, aku batal marah, dan aku juga batal menceritakan gelitikan-gelitikan rekan bisnisnya padaku saat dia tak ada. Aku kan tahu dia pencemburu berat. Dan aku pun begitu.

            Aku janjian dengannya. Di tempat yang belum pernah kami kunjungi. Yah, restoran ternama yang baru buka cabang di kotaku. Nuansa cokelat kayu jati semakin menambah kental kemesraan kami. Lebih kental dari pada cappucino andalan tempat ini. Aku rasa mereka yang ada di sini iri dengan aura kami sekarang. Wah, penuh pink dengan assesoris bentuk hati yang maya tak terlihat.

Dia banyak bercerita tentang semingguannya kemarin. Aku tak perlu curiga. Toh, dia hanya pergi untuk urusan bisnis. Bukan untuk urusan yang lain, apalagi urusan hati. Mula-mula dia bercerita tentang keberangkatannya dengan rekan kerjanya. Nyaris saja tabrakan gara-gara sopir sialan yang mengantuk. Mendengar ceritanya itu, aku menyerapahi sopirnya berkali-kali. Tak bisa tidak. Aku mencintainya. Dan aku rela mati untuknya.

Dia terus berceloteh dengan riang. Dia memang sedikit manja. Kadang aku geli. Namanya Rico, tapi terkadang bisa manja melebihi Rica. Hingga satu bagian dari ceritanya, binar matanya menunjukkan ekspresi yang berbeda. Lebih terang dari pada anak kecil yang dapat permen atau balon. Ada satu nama yang dia sebut. Nama yang sudah lumayan aku kenal karena Rico pernah bercerita kalau orang itu menempati urutan kedua di hatinya –aku yang pertama, tentunya. Matanya kembali berbinar. Sedangkan aku miris dan nyaris nangis. Dia ini gila ya? Dia lupa kalau aku di depannya?

Melihat aku yang diam saja, dia kembali memegang erat tanganku.

“Kau bukan siapa-siapa bagiku” ucapnya dengan lembut. Selembut apapun dia bicara, aku tetap tak percaya. Bak sambar geledek aku mendengar ucapannya. Hangus! Dan tak ada bentuk lagi.

“Tapi kau adalah aku. Kau adalah semua dariku. Kaulah semua nafas yang kuhirup, darah yang mengaliri jantung dan tubuhku. Apa aku tanpamu?” lanjutnya lagi.

Fly! I’m going to sky. Jauh sekali aku terbang mendengar ucapannya. Aku tahu dia romantis. Tapi aku tak tahu dia seromantis ini. Meskipun orang itu punya tempat kedua di hatinya, aku tetap yang pertama. Dan aku yang tetap memilikinya. Dan aku yang masih mendapatkan dirinya. Hanya sayang, negaraku tak terlalu mendukungku untuk selalu bersamanya. Jika saja aku bisa mengikatnya dalam tali suci cinta kami, tentu aku tak akan siakan itu.

* * *

            Lagi-lagi aku terpaksa jauh darinya. Urusan bisnis lagi, urusan bisnis lagi. Bagaimana dengan hari-hariku yang sepi tanpanya. Uh!! dia tega padaku. Tapi, dia bilang... “aku harus kerja, Sayang. Kau mau kita menikah di luar negeri kan? Kita bisa sah di sana. Kau tak ingin saat-saat itu lebih terasa abadi?” Saat itu aku diam saja mendengar alasannya. Dekat denganmu sudah segala-galanya.

            Aku jadi tidak bersemangat kerja. Tadi siang, aku ijin pulang cepat dengan alasan sakit. Ya memang aku sedang sakit. Sakit karena rindu yang tak kunjung ada penawarnya. Kuhitung lirik-lirik hari yang berjalan semenjak kepergiannya ke luar kota yang paling jauh selama dia pernah bekerja di perusahaan yang sedang naik daun itu. Ah, ternyata baru satu hari dia berangkat dan masih enam hari lagi aku akan dapat serum ajaibnya. Oh-Oh-Oh. Apa bisa bertahan selama itu?

Setiap tak ada dia, kelam semakin lekat. kekelaman yang berlarut lebih-lebih menjadikan aku kalut. Di sebuah rumah sederhana yang dia belikan untukku empat bulan yang lalu, aku bersembunyi dari setan-setan kecil yang berbisik padaku tentang apa yang dia lakukan di luar sana. Setan itu mempermainkan pikiran jelekku dan seolah-olah ada video yang terpampang di depanku. Artisnya, Rico dan rekan kerjanya itu. Tak tahan melihat gambar itu, aku melempar barang-barang di sekitarku yang kutujukan pada Rico.

Prang!!” Sial, Rico tak kena! Yang ada hanya dinding. Dan seketika, gambar itu lenyap.

Tabrakan antara barang dan dinding menghasilkan suara yang teramat merdu. Argh! Baru sehari, aku sudah gila seperti ini. Apalagi enam hari lagi. Mungkin aku sudah mati. Aku menekan angka dua di hpku. Nomor speed dialsku untuknya. Andai angka satu bisa kutempatkan untuknya, tentu akan kusimpan di sana. Sayang, angka satu khusus untuk mail box.

“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk atau berada di luar servis area. Cobalah beberapa saat lagi”

Uh! kenapa lagi nomornya? Jangan-jangan, dia memang ada main dengan orang itu. Kalau ada apa-apa, kucincang dia!!

* * *

            Ini sudah hari keempat dari ketidakjelasannya. Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya, apalagi dihubunginya. Berkali-kali aku telepon tetap tak ada yang mengangkat. Aku semakin tak konsen dengan pekerjaanku. Rambut pelangganku malah jadi berantakan. Aku dimarahi oleh Bos. Orang itu benar-benar membuatku susah.

            “Kalau dia bisa selingkuh, yei juga mesti bisa dong...” jawab sahabatku saat aku bercerita tentang semua kekesalanku plus ornamen air mata yang tak kubuat-buat. Tapi sayang, dia tak mengerti sama sekali. Mana bisa aku selingkuh dengan orang lain. Dia yang hanya mengerti aku, mengerti keadaanku, dan berjanji akan menikahiku di luar negeri suatu saat nanti. Kalau dia saja sudah mulai tak peduli padaku, siapa yang akan peduli padaku?

            Sekali lagi, aku ijin pulang cepat. Aku akan ke kantornya dan menanyakan tentang keberadaannya. Di perjalanan yang menggerahkan ini, aku semakin sensitif. Ada orang yang melihat padaku saja, rasanya ingin kutelan hidup-hidup orang itu. Macet! Sudah setengah jam aku dalam taksi ini. Dan perjalanan masih tak jauh dari tempat kerjaku.

            Setelah sampai di kantornya, aku lebih bergegas. Untunglah aku bertemu dengan temannya yang lain. Tak segan aku menyapanya.

            “Hei, permisi. Temen Rico, kan?”  tanyaku basa-basi.

            “Oh, Rela? Pacarnya Rico, kan?”  tanyanya.

            Aku menjawabnya dengan mengangguk pelan. Langsung saja aku bertanya dengannya tentang Ricoku yang tak kunjung ada kabar. Aku juga menceritakan padanya betapa pusingnya aku mencari tahu di mana Rico berada. Bukannya menjawab, dia malah mengajakku makan siang. Makan sambil cerita katanya. Yah, aku pun ikut saja. Asal tahu keadaan Rico, aku akan lakukan apa saja. Kami berangkat dengan mobilnya ke tempat waktu aku pertama kali dikenalkan Rico padanya.

            “Kau ingat kan tempat ini?” tanyanya seketika kami sudah duduk mantap di kursi masing-masing dan tinggal menunggu pesanan datang. Dia terus berceloteh tentang kenangan beberapa jam itu. Hm, hanya dengan beberapa jam kami bertemu waktu lalu dia bisa merangkai banyak cerita. Dan aku jadi objek perhatiannya. Aku masih menunggu dengan sabar sampai dia berhenti bicara tentang kenangannya. Aku ingin bertanya tentang Rico!! Tapi belum berhenti juga.

            “Mas, maaf. Aku mau nanya tentang Rico boleh?” potongku di sela-sela kunyahannya. Yah, hanya saat mengunyah dia berhenti bercerita. Dan ini kesempatan kecilku yang harus kumanfaatkan karena dia lebih sering bicara dari pada mengunyah makan siangnya.

            Dia pun mengangguk tak semangat. Lalu, aku pun bertanya tentang tidak aktifnya nomor Rico. Memang dia pulang dua hari lagi. Tapi, aku sudah tidak tahan lagi. Orang di depanku, yang namanya kulupa, tersedak saat mendengar ceritaku. Dengan cepat dia menyeruput air putih di dekatnya.

            “Lho? Bukannya Rico sudah pulang tadi malam? Lagi pula, kemarin-kemarin nomor dia aktif kok” jawabnya. Bingung setengah mati aku dibuatnya. Aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan ini. Dan aku juga hilang nafsu makan. Aku pamit.

            Perasaanku masih gamang. Ada apa dengan Rico? Kenapa dia tidak mengaktifkan nomornya untukku. Kembali setan membisikkan kata-kata kejinya. “Dia itu akan meninggalkanmu. Perlahan-lahan...Mulai dari tidak bertemu denganmu, lalu tidak mengabarimu, lalu dia akan benar-benar jauh dari kamu. Sudahlah, tak ada harapan bagimu!!

            “Ah!!” aku kesal. Sopir taksi hanya diam saja melihat tingkahku dari kaca spionnya. Ya, dia memang harus diam kalau tidak mau menjadi sasaran emosiku.

            Hpku berdering. Nomor yang belum pernah masuk ke hpku sebelumnya. Siapa lagi ini?

            “Halo!”

            “Hey, kok jawabnya ketus gitu Sayang...” itu suara Rico. Dia bercerita kalau hpnya digondol maling. Itu alasannya tidak menghubungiku beberapa waktu lalu. “Say, tenang. Dua hari lagi aku pulang. Aku kangen sekali nih” tambahnya lagi.

Aku masih bingung, siapa yang harus aku percaya. Aku akan cari tahu sendiri. Aku akan pastikan kalau dia memang benar-benar tak ada main di belakangku. Aku ikuti saja cerita-cerita yang dia buat. Aku pura-pura senang mendengar suaranya. Dan nada suaraku kubuat seriang mungkin, meskipun sebenarnya mataku menggambarkan kesadisan yang tak bisa kusembunyikan. Lagi-lagi, sopir taksi melihat dari pantulan kaca spionnya.

* * *

            Aku telah bosan menunggu cerita tentang Rico. Lama dia tak menghubungiku. Setelah ada kabarnya pun, aku belum dapat kabar tentangnya. Setidaknya, aku akan pura-pura tidak tahu. SELAMANYA. Aku sudah pindah rumah. Aku lebih baik pindah dari rumah sederhana yang dia berikan. Sekarang aku sudah ke luar kota dan menyewa rumah kecil plus perabotannya.

            “Sekilas info. Sekali lagi, gempa berkekuatan kecil terasa di Kota X. Sejak pagi tadi, gempa susulan terus terjadi. Diperkirakan...”

            “Ah! Bosan aku mendengarnya. Beritanya akhir-akhir ini selalu saja begitu. Toh, tak ada apa-apa” aku terus menggerutui kotak kecil berlayar warna itu. Kutekan remotenya berkali-kali. Nyaris bosan!

“Korban yang bernama Rico Kusnadi dibunuh malam tadi. Para saksi menyatakan bahwa mereka sempat melihat teman korban yang bernama Ferdi atau yang lebih dikenal dengan Rela masuk ke rumahnya tadi malam. Dan ini juga diperkuat dengan adanya tulisan ‘cintaku Rela’ di dada korban. Diduga ini dilakukan dengan menggunakan pisau yang masih tergeletak di samping korban. Sampai saat ini tersangka Ferdi alias Rela masih dalam buronan polisi...”

Ah!! Akhirnya televisi yang sengaja kuhidupkan seharian itu bercerita juga tentang korban sakit hatiku. Ya, memang harus ada tumbal. Dan yang paling tepat adalah dia. Masa’aku yang jadi tumbal?

“Kemarin siang kami makan siang bareng. Tapi saya ga tahu kalau dia ada rencana seperti itu.”

“Sebelumnya bapak kenal dekat dengan dia?”

“Ga. Saya baru dua kali ketemu dengan dia. Lagi pula, saya juga baru tahu kalau dia itu bukan wanita sesungguhnya. Dan...” laki-laki di restoran itu kembali berceloteh di dalam kotak 14inch itu. Sedangkan aku, hanya senyum-senyum mendengar ketidak-percayaannya atas status kelaminku.

            “Rico...Rico... Salahmu sendiri. Nakal sih! Kau pikir, aku tak punya hati untuk sakit hati? Aku juga punya hati, Sayang. Lagi pula, kau bohong! katamu di dadamu ada namaku. Setelah kulihat, ternyata tidak ada. Aku tak akan percaya lagi denganmu. Untuk kebohonganmu, kau dapat door prize namaku di dadamu. Biar dunia tahu kalau kau bukan pembohong. Dan kau tak akan dicap sebagai lyer” aku terbahak dengan pernyataanku sendiri. Lucu saja.

            Tiba-tiba, tempat dudukku bergoyang sedikit. Jam dindingku pun ikut geger dari tempatnya. “Gar!” jatuh. Gempa bumi? Uh! semakin keras saja guncangannya. Gara-gara masalah ini, aku terpaksa minggat ke luar kota. Dengan rumah rapuh seperti ini, bisa-bisa aku penyet karena tertimpa runtuhan bangunannya. Buru-buru kubuka pintu depan. Tapi...

            “Kunci? Mana kuncinya?”

            Aku terus mencari sambil terus mengumpat dalam hati. Sial!!

* * *

            Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Lut, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim (QS. 11:82-83)

            Lalu apa yang terjadi pada kaum Lut?

Joomlart