Tatkala Sayap Jibril Masih Memetik Kecapi
Oleh: Jun An Nizami
Panas terik tepat lurus di ubun-ubun kota
luka dan malah seperti terkesan bermain-main dengan kerudung Fatma, si
ibu tua yang hampir berkepala lima. Helai-helai rambut hitam yang
sebagian telah berubah uban. Terlihat beberapa lembar keluar dari sela
antara kerudung dan pipinya yang mulai cekung. Sesekali, hanya disentuh
sekaan handuk kecil dari tangan putra setianya yang berwajah polos itu.
Sabda, nama itu yang diberikan Fatma untuknya. Entah harapan apa yang
disimpan di balik nama yang diperuntukkannya itu. Namun anak-anak di
sekitar kontrakan lamanya lebih suka mengganti nama putra Fatma
sesuka-suka mulut mereka, menjadi “si gagu”. Sebutan yang dapat Sabda
terima karena ketakmengertiannya. Namun tak dapat Fatma terima karena
sebutan itu selalu datang beserta rasa perih tak terperi.
Roda gerobak sayuran masih berputar pelan. Fatma mendorongnya dalam
keadaan perut yang ditawar lapar. Belai angin dari tiupan pohon di
pinggir jalan kadang datang menyejukan punggung bajunya yang sudah
basah berbasuh peluh. Urat-urat tangan berwarna kehijauan yang tinggal
berbalut kulit keriput, dikokoh-kokohkan menggenggam erat kuasa gerobak
pembawa sayur dan berbagai macam bumbu dapur.
Tak terdapat sedikit pun rasa ingin mengumpat malaikat atau mengeluh
pada Tuhan meski sayuran dagangannya masih banyak tersisa. Fatma hanya
percaya pada doa-doanya dan kepada maha sifat rahman-rahimNYA, meski
terbersit sedikit kekhawatiran. Amarah Bos Ujang akan kembali tumpah,
seperti kemarin sore, saat sayuran dagangannya lebih banyak tersisa.
“Woi Mak, kalian teh dagang sambil mulung atau mulung sambil dagang,
hah? Sayuran masih begitu banyak!” bentak tanyanya dengan kaki yang
sudah menyilang di atas meja, sambil mengibas-ngibaskan topi, mengharap
angin.
Fatma si ibu tua, hanya dapat tunduk diam di hadapan tuannya,
menggandeng putra gagunya yang menjinjing kantong plastik hitam berisi
beberapa botol dan gelas pelastik bekas air mineral, yang biasanya
setelah pulang setoran hasil berdagang sayuran lalu akan dijual di
tempat penampungan rongsokan.
“Maaf Mang, di perumahan agak sepi. Sepertinya sekarang mah, ibu-ibu
lebih memilih belanja di supermarket,” jawabnya dengan ekspresi
menghiba.
“Ah, alesan wae. Lama-lama saya teh bisa bangkrut, nyaho!” sergah si
juragan sambil menggaruk-garuk kepala dengan buku catatan yang terkepal
di tangan kanan. Sedang tak ada lagi yang dapat Fatma jawabkan selain
kembali terdiam.
“Hh ya sudah. Aturlah keliling dagang Emak. Saya mah tak mau tahu Mak.
Emak mau keliling ke kebun binatang atau sekalipun ke tepi pantai, yang
penting mah dagangan laku,” celetuknya, disambut tawa beberapa anak
buahnya yang lain di kios sayurnya.
“Nih buat makan Emak dan anak emak. Untung saya teh masih mempunyai
rasa kasih dan sayang Mak, jadi Emak masih saya beri kesempatan
berdagang,” lanjutnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang ribuan.
“Alhamdulillah. Hatur nuhun, Mang,” diiringi senyum memelas yang
terlontar dari bibir kering Fatma dan dibalas tuannya dengan anggukan
pelan yang sejurus kemudian mengangkat kuping cangkir berkopi.
Setidaknya menurut Fatma, meski selalu membentak dan berteriak-teriak,
tapi biarlah, karena Bos Ujang masih lebih memiliki rasa kasihan
kepadanya dan anaknya. Setidaknya, selama ini tak pernah dia menyebut
sesuatu yang lebih memerihkan hati Fatma, yaitu menyebut “si gagu”
kepada putra si anak buah hatinya itu. Karena hanya sebutan itulah yang
lebih memerihkan, memedihkan di hati Fatma. Fatma akan lebih memilih
dirinya yang dihina-dinakan orang, daripada mendengar anaknya yang
dijadikan sebagai bahan olokan. Sungguh, Fatma akan lebih memilih itu.
“Uuii aaee?”(*) tiba-tiba tutur aneh dari Sabda dengan kepala
mengangguk-ngangguk sambil menyeka keringat dan lamunan kekhawatiran
Fatma dengan sebuah handuk kecil dekil.
Tapi Fatma mengerti bahasa tanya itu, kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum.
Batinnya kembali terasa tersedak menatap keluguan wajah Sabda yang
masih menempelkan handuk kecil di wajahnya. Fatma teringat pagi tadi,
sebagian anak yang hendak berangkat ke sekolah memanggil dengan sebutan
yang memerihkan itu, “si gagu”. Mereka seolah lupa dengan sila dari
pancasila yang dulu juga pernah singgah di benak Fatma, “Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Namun Fatma juga lupa adalah
sila ke berapa.
Hingar-bingar jalan dengan konvoi demo, wajah-wajah menebar nada marah,
muka-muka memajang warna murka, komplit dihiasi atribut-atribut sebagai
identitas komunitas. Spanduk besar bertuliskan kegeraman minta keadilan
serta bunyi klakson dan jerit knalpot kendaraan yang saling menyalak
bersahutan, begitu melengkapi terik di siang ini. Terpaksa Fatma lebih
merapat menyusuri sisi trotoar, hingga akhirnya, sejenak, mereka
duduk-duduk diatas trotoar untuk sekedar menyambung nafas.
Fatma lantas terus menatap nanar ke arah putranya yang kira-kira
sudah berusia 20 tahun itu, tapi tingkahnya tak terlihat turut tumbuh
dewasa seperti usianya. Sabda terlihat asyik bermain dengan ikan-ikan
kecil di got sisi trotoar sambil mencari-cari beberapa botol dan gelas
plastik bekas.
“Uui aa iia!”(**)ucapnya dengan nada teriak sambil berjingkrak. Fatma
hanya mengangguk kemudian membungkuk ke laci belakang gerobaknya untuk
mempersiapkan salinan baju dan sarung buat Sabda dan salinan mukena
untuk dipakai dirinya shalat dzuhur di mesjid perumahan nanti.
Setelahnya, Fatma kemudian membereskan tatanan sebagian sayuran yang
belum terjual, melipat karung bekas alas sawi serta wortel dan kembali
membetulkan letak kerudung kusamnya. Ia pun kembali mendorong gerobak
tuanya sambil memanggil-manggil Sabda yang mengenakan kaos berwarna
debu jalan dengan tulisan “BECKHAM” di sebelah punggungnya. Fatma
berisyarat untuk segera menuju perumahan yang menjadi harapan terakhir
jualan sayurannya.
“Uuii uu aaa!”(***) kembali teriak aneh dari Sabda sambil
memutar-mutarkan handuk kecil di atas kepalanya yang mengenakan topi
anyam sedang tangannya yang lain menjinjing kantong plastik hitam besar
yang belum gemuk benar dengan gelas bekas dan botol plastik rongsokan.
Terlihat para pejalan yang melintas mendelik dengan tatapan jijik.
Allah, sekali lagi perih itu terekam Fatma. Ia menunduk, sejenak pejamkan mata dalam lapar yang semakin mengumbar.
***
Sore tadi, Fatma disambut tatapan nyinyir para tetangga di sekitar
gubuk kontrakan barunya. Saling berbisik dengan tingkah sinis, meski
Fatma telah berusaha bersalam dan bersikap manis.
Ini kontrakan yang kesekian yang disinggahi Fatma dan putranya. Setelah
bulan kemarin mereka hanya mampu membayar kontrakan lamanya dengan
harus rela menerima usiran, tendangan, dan akhirnya harus pergi bersama
air mata dengan beberapa pakaian lusuh, dua potong sarung, mukena, dan
satu mushaf Al-qur’an yang menjadi kenangan sebagai mas kawin saat
pernikahannya dulu, bersama lelaki yang ternyata adalah penjudi itu.
Namun kini, lelaki yang adalah ayah dari Sabda itu, entah kabur ke mana,
entah ada di mana, dan entah sedang bersama siapa. Mungkin masih hidup
atau mungkin sudah mati menjadi tumbal judi. Yang pasti, bagi hati
Fatma yang kadung hancur, lelaki itu bukanlah seorang yang bertanggung
jawab. Dia mengelak tanpa menyatakan talak. Dia kabur mewariskan
segudang hutang dan rumah sederhana di kampung halaman yang sudah
digadaikan.
Hingga kini, derita serta ratap-ratap terus saja merapat ke nasib
Fatma, tanpa ada pertolongan dari tangan siapapun, tanpa sapa sayap iba
dari malaikat sekalipun.
Pengap, menyergap gubuk kontrakan itu. Dengan dinding-dinding dari
triplek yang bekas disantap para rayap dan berhias bonus sebuah
kalender tahun kemarin dari sang juragan kontrakan.
Fatma masih duduk di atas sajadah dari selepas maghrib tadi, masih
bermukena dan berair mata. Sedang Sabda, dengan memanggut-manggut serta
jari jemarinya yang mengapit sebatang lidi terlihat begitu asyik
membolak-balik lembar-lembar Alqur’an. Meski hanya dibekali seberkas
cahaya dari lampu lima watt, namun ada semangat dalam dadanya.
Itulah yang hanya dapat dibekalkan Fatma sedari Sabda kecil. Meski
agama telah memberikan rukhsoh(****) untuk anaknya yang mempunyai
keterbatasan, tapi tak lantas dijadikan alasan untuk tak mengenalkan
Alquran kepada anaknya itu. Meski hanya huruf-huruf hidup yang samar
terdengar, tapi Fatma selalu berharap agar Sabda akan lebih mengerti
arti Alquran melebihi orang normal lainnya, yang malah berleha-leha
terhadap kalam suci tuhannya.
Di sudut kamar, tergantung setengah nasi bungkus yang terbungkus
kantong plastik hitam. Sengaja Fatma tak menghabiskannya saat makan
bersama Sabda sore tadi karena biasanya di sepertiga malam, saat Fatma
akan mendirikan tahajud, Sabda selalu meringis lapar ingin makan lagi.
Meski perutnya juga yang di olok-olok nafsu masih lapar menggerutu,
tapi Fatma selalu tahan dan rela sekalipun untuk berpuasa.
Disertai bonus ocehan-ocehan tipu dari Bos Ujang, upah Fatma hari ini
adalah dua belas ribu. Peduli setan, apakah mencukupi bagi Fatma dan
anaknya atau tidak. Sedangkan uang hasil sambilan menjual plastik
rongsokan yang tak seberapa, benar-benar harus Fatma simpan jika tak
ingin terusir kembali dari gubuk terjelek di gang pinggir kota itu.
Benar-benar harus disimpan dan tak boleh termakan.
Disertai pekik petir, kini deras hujan malam ini, menyertai rinai
airmata dan rasa lapar tahajud Fatma yang tumpah di atas sajadah. Tak
pernah ada uluran tangan dari seorang manusia pun untuknya dan tak ada
uluran sayap dari sesosok malaikat sekalipun baginya.
Mungkin, salam dari tahiyat para tetangga belum dihayati dan masih
hanya sekedar tengak-tengok kanan-kiri menikmati rejeki secara
sendiri-sendiri.
Meski begitu, cukuplah bagi Fatma hanya dengan menatap Sabda merasa
kenyang dan senang pun ia sudah dapat kembali memiliki kekuatan untuk
meneladani jalannya takdir yang amat getir.
“Duh Gusti, bagaimana jika hamba ini nanti mati? Akan bagaimana keadaan putra hamba ini?” lirih dalam lapar dan persis berbisik.
Entah ada di mana malaikat penolong, mungkin malah sedang asyik menari
Jaipong atau barangkali masih asyik menjadi pemetik kecapi, mengiringi
lagu doa galau Fatma yang parau bersama narasi semesta malam serta
orkestra hujan yang nestapa. Sungguh, di mana malaikat itu?
***
Shubuh ini pun shubuh yang keluh. Hujan semalam masih menyisakan rintik gerimis.
Bos Ujang terlihat rusuh mencatat sayuran yang siap didagangkan Fatma
serta anaknya. Katanya, ia harus buru-buru ke kantor pos di dekat
kelurahan sebelum jam menunjuk di angka tujuh untuk mengambil dana BLT
dari pemerintah sebagai iming-iming agar tak ada lagi demo-demo dari
orang-orang munafik yang bercampur dengan demonya orang jujur dalam
proses memprotes.
Gerimis semakin menuntun miris. Fatma yang membawa bekal sakit kepala
dari kontrakanya, mulai kembali mendorong gerobaknya yang telah
terpasang sebuah payung pinjaman dari bos Ujang. Roda gerobaknya
berputar ke luar pasar diiringi permukaan kakinya yang pecah-pecah hanya
beralas sandal jepit berlainan warna. Sedang Sabda membuntutinya di
belakang, berpayung karung. Dan tiba-tiba ia merasakan ada air mata
yang jarang terurai saat memperhatikan sosok ibunya yang mengenakan rok
jelek terantuk di jalan becek.
***
Gerimis habis, sudah reda menjelang masa duha, namun keringat
dingin terus bercucuran dari wajah Fatma, yang masih bersender di
dinding luar masjid, sambil mengunyah bubur beras yang di suapkan Sabda.
Gerobak sayurnya terparkir di halaman depan masjid. Di pinggir gerobak
pedagang bubur yang menatap mereka dengan akhirnya disertai airmata.
Padahal sebelumnya, pedagang bubur itu tak menggubris kedatangan Sabda
yang memohon dengan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Hingga akhirnya, pedagang bubur itu mengerti bahwa sabda bermaksud
hendak menukar dua ikat daun bawang dengan semangkuk bubur untuk ibunya
yang menggigil di pelataran masjid.
“Bukan insya allah tetapi niscaya saat yang terindah ialah di mana saat
kita memetik buah hasil dari kesabaran, bukan buah dari hasil berkeluh
kesah, marah atau gelisah.”
Tulisan itu yang tertatap Fatma di dinding masjid, darimana tempat ia
bersandar untuk sejenak beristirahat memadam demam sambil menunggu
Sabda yang masih berada dalam menegakkan sunah duha setelah selesai
menyuapinya, seperti yang selalu dicontohkan Fatma. Sabda jungkir-balik
empat Rakaat. Sedangkan pedagang bubur dengan sambil termenung kemudian
meladeni pembeli lain dari area masjid perumahan itu.
“Bos, bagi duit dong!” tiba-tiba seseorang bicara, dan temannya yang
dua begundal lagi menggebrak meja. Tangannya berlukis gambar iblis dan
dadanya yang agak terbuka mengenakan kaos oblong bertato gambar
superhero.
Pedagang bubur itu,tanpa basa-basi lagi menyerahkan selembar uang
sepuluh ribu dengan gemetar. Dia tahu, siapa sang pemalak itu. Si ibu
yang sedang membeli dan berdiri di samping si tukang bubur pun tahu,
hingga dia memilih kabur terlebih dulu. Para pemalak entah tersenyum
manis atau sinis.
“Bos, kemana ini si Fatma dan anak gagunya?” ujar kasar seseorang dari
trio sok jago itu kepada si tukang bubur, sambil menendang gerobak
sayur milik Fatma.
Banyak orang di perumahan pinggir rel itu yang lewat, namun mereka
hanya bisa menyumpahi para preman pasar itu agar kualat tanpa bisa
menawarkan keberanian, apalagi pertolongan.
“Mak, bagi duit dong!” membentak dengan bau alkohol menyeruak. Fatma
tersentak dari pejaman matanya yang sejenak. Fatma pun tahu, siapa para
pemalak ini karena mereka biasanya bertemu di pasar sehabis pulang
dagang.
“Aduh, maaf Jang. Emak belum dapet uang, sayuran masih banyak,” jawab
Fatma dalam letih sambil menebak-nebak akan bagaimana selanjutnya
karena sebelumnya Fatma tak pernah tak memberi, meski merasa terpaksa
memenuhi.
Seseorang dari begundal-begundal kumal itu kembali ke dekat gerobak
sayur Fatma, mengobrak-ngabrik laci gerobak. Pedagang bubur pun seperti
tiba-tiba libur bertutur, bisu, atau puasa bicara menatap
ketakberuntungan Fatma.
Karena memang tak terdapat uang, kepala pemalak itu mulai berang. Kepal
kekar keparat itu terangkat dan melayang untuk mendarat di pipi keriput
Fatma dengan menggunakan nada teriak.
“Cepet dong Maaak!”
“Duh Gusti,” ucap Fatma berkali-kali dalam batin sambil terpejam dan bergetar. Namun…
“HEEEEyyyy!!! Idribni!(pukul aku!)” Suara itu datang lebih menggelegar,
terdengar asing di kuping mereka yang beranting.
“Bal laa Umi…!(jangan
ibuku!)” lanjutnya.
Suara itu pun mengejutkan Fatma yang masih terpejam dalam rela menunggu
tamparan yang tak jua mendarat ke pipinya. Subhanallah, kepalan tangan
kekar si bangsat itu sudah tercekik genggaman tangan anaknya yang tadi
menyalak dengan mata masih menyala.
“Ya Gusti, benarkah ia Sabda?” bisik Fatma hanya menganga yang
menandakan tanyanya, sama seperti tanda tanya keheranan para bajingan
yang runtuh keberanian dan tatap ketakpercayaan semua orang di sekitar
perumahan.
Saung murung 08
Titik terang:
(*) = Umi capek?
(**) = Umi ada ikan!
(***) = Umi tunggu ana[aku]
(****) = keringanan
Panas terik tepat lurus di ubun-ubun kota
luka dan malah seperti terkesan bermain-main dengan kerudung Fatma, si
ibu tua yang hampir berkepala lima. Helai-helai rambut hitam yang
sebagian telah berubah uban. Terlihat beberapa lembar keluar dari sela
antara kerudung dan pipinya yang mulai cekung. Sesekali, hanya disentuh
sekaan handuk kecil dari tangan putra setianya yang berwajah polos itu.
Sabda, nama itu yang diberikan Fatma untuknya. Entah harapan apa yang
disimpan di balik nama yang diperuntukkannya itu. Namun anak-anak di
sekitar kontrakan lamanya lebih suka mengganti nama putra Fatma
sesuka-suka mulut mereka, menjadi “si gagu”. Sebutan yang dapat Sabda
terima karena ketakmengertiannya. Namun tak dapat Fatma terima karena
sebutan itu selalu datang beserta rasa perih tak terperi.
Roda gerobak sayuran masih berputar pelan. Fatma mendorongnya dalam
keadaan perut yang ditawar lapar. Belai angin dari tiupan pohon di
pinggir jalan kadang datang menyejukan punggung bajunya yang sudah
basah berbasuh peluh. Urat-urat tangan berwarna kehijauan yang tinggal
berbalut kulit keriput, dikokoh-kokohkan menggenggam erat kuasa gerobak
pembawa sayur dan berbagai macam bumbu dapur.
Tak terdapat sedikit pun rasa ingin mengumpat malaikat atau mengeluh
pada Tuhan meski sayuran dagangannya masih banyak tersisa. Fatma hanya
percaya pada doa-doanya dan kepada maha sifat rahman-rahimNYA, meski
terbersit sedikit kekhawatiran. Amarah Bos Ujang akan kembali tumpah,
seperti kemarin sore, saat sayuran dagangannya lebih banyak tersisa.
“Woi Mak, kalian teh dagang sambil mulung atau mulung sambil dagang,
hah? Sayuran masih begitu banyak!” bentak tanyanya dengan kaki yang
sudah menyilang di atas meja, sambil mengibas-ngibaskan topi, mengharap
angin.
Fatma si ibu tua, hanya dapat tunduk diam di hadapan tuannya,
menggandeng putra gagunya yang menjinjing kantong plastik hitam berisi
beberapa botol dan gelas pelastik bekas air mineral, yang biasanya
setelah pulang setoran hasil berdagang sayuran lalu akan dijual di
tempat penampungan rongsokan.
“Maaf Mang, di perumahan agak sepi. Sepertinya sekarang mah, ibu-ibu
lebih memilih belanja di supermarket,” jawabnya dengan ekspresi
menghiba.
“Ah, alesan wae. Lama-lama saya teh bisa bangkrut, nyaho!” sergah si
juragan sambil menggaruk-garuk kepala dengan buku catatan yang terkepal
di tangan kanan. Sedang tak ada lagi yang dapat Fatma jawabkan selain
kembali terdiam.
“Hh ya sudah. Aturlah keliling dagang Emak. Saya mah tak mau tahu Mak.
Emak mau keliling ke kebun binatang atau sekalipun ke tepi pantai, yang
penting mah dagangan laku,” celetuknya, disambut tawa beberapa anak
buahnya yang lain di kios sayurnya.
“Nih buat makan Emak dan anak emak. Untung saya teh masih mempunyai
rasa kasih dan sayang Mak, jadi Emak masih saya beri kesempatan
berdagang,” lanjutnya dengan menyodorkan beberapa lembar uang ribuan.
“Alhamdulillah. Hatur nuhun, Mang,” diiringi senyum memelas yang
terlontar dari bibir kering Fatma dan dibalas tuannya dengan anggukan
pelan yang sejurus kemudian mengangkat kuping cangkir berkopi.
Setidaknya menurut Fatma, meski selalu membentak dan berteriak-teriak,
tapi biarlah, karena Bos Ujang masih lebih memiliki rasa kasihan
kepadanya dan anaknya. Setidaknya, selama ini tak pernah dia menyebut
sesuatu yang lebih memerihkan hati Fatma, yaitu menyebut “si gagu”
kepada putra si anak buah hatinya itu. Karena hanya sebutan itulah yang
lebih memerihkan, memedihkan di hati Fatma. Fatma akan lebih memilih
dirinya yang dihina-dinakan orang, daripada mendengar anaknya yang
dijadikan sebagai bahan olokan. Sungguh, Fatma akan lebih memilih itu.
“Uuii aaee?”(*) tiba-tiba tutur aneh dari Sabda dengan kepala
mengangguk-ngangguk sambil menyeka keringat dan lamunan kekhawatiran
Fatma dengan sebuah handuk kecil dekil.
Tapi Fatma mengerti bahasa tanya itu, kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum.
Batinnya kembali terasa tersedak menatap keluguan wajah Sabda yang
masih menempelkan handuk kecil di wajahnya. Fatma teringat pagi tadi,
sebagian anak yang hendak berangkat ke sekolah memanggil dengan sebutan
yang memerihkan itu, “si gagu”. Mereka seolah lupa dengan sila dari
pancasila yang dulu juga pernah singgah di benak Fatma, “Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Namun Fatma juga lupa adalah
sila ke berapa.
Hingar-bingar jalan dengan konvoi demo, wajah-wajah menebar nada marah,
muka-muka memajang warna murka, komplit dihiasi atribut-atribut sebagai
identitas komunitas. Spanduk besar bertuliskan kegeraman minta keadilan
serta bunyi klakson dan jerit knalpot kendaraan yang saling menyalak
bersahutan, begitu melengkapi terik di siang ini. Terpaksa Fatma lebih
merapat menyusuri sisi trotoar, hingga akhirnya, sejenak, mereka
duduk-duduk diatas trotoar untuk sekedar menyambung nafas.
Fatma lantas terus menatap nanar ke arah putranya yang kira-kira
sudah berusia 20 tahun itu, tapi tingkahnya tak terlihat turut tumbuh
dewasa seperti usianya. Sabda terlihat asyik bermain dengan ikan-ikan
kecil di got sisi trotoar sambil mencari-cari beberapa botol dan gelas
plastik bekas.
“Uui aa iia!”(**)ucapnya dengan nada teriak sambil berjingkrak. Fatma
hanya mengangguk kemudian membungkuk ke laci belakang gerobaknya untuk
mempersiapkan salinan baju dan sarung buat Sabda dan salinan mukena
untuk dipakai dirinya shalat dzuhur di mesjid perumahan nanti.
Setelahnya, Fatma kemudian membereskan tatanan sebagian sayuran yang
belum terjual, melipat karung bekas alas sawi serta wortel dan kembali
membetulkan letak kerudung kusamnya. Ia pun kembali mendorong gerobak
tuanya sambil memanggil-manggil Sabda yang mengenakan kaos berwarna
debu jalan dengan tulisan “BECKHAM” di sebelah punggungnya. Fatma
berisyarat untuk segera menuju perumahan yang menjadi harapan terakhir
jualan sayurannya.
“Uuii uu aaa!”(***) kembali teriak aneh dari Sabda sambil
memutar-mutarkan handuk kecil di atas kepalanya yang mengenakan topi
anyam sedang tangannya yang lain menjinjing kantong plastik hitam besar
yang belum gemuk benar dengan gelas bekas dan botol plastik rongsokan.
Terlihat para pejalan yang melintas mendelik dengan tatapan jijik.
Allah, sekali lagi perih itu terekam Fatma. Ia menunduk, sejenak pejamkan mata dalam lapar yang semakin mengumbar.
***
Sore tadi, Fatma disambut tatapan nyinyir para tetangga di sekitar
gubuk kontrakan barunya. Saling berbisik dengan tingkah sinis, meski
Fatma telah berusaha bersalam dan bersikap manis.
Ini kontrakan yang kesekian yang disinggahi Fatma dan putranya. Setelah
bulan kemarin mereka hanya mampu membayar kontrakan lamanya dengan
harus rela menerima usiran, tendangan, dan akhirnya harus pergi bersama
air mata dengan beberapa pakaian lusuh, dua potong sarung, mukena, dan
satu mushaf Al-qur’an yang menjadi kenangan sebagai mas kawin saat
pernikahannya dulu, bersama lelaki yang ternyata adalah penjudi itu.
Namun kini, lelaki yang adalah ayah dari Sabda itu, entah kabur ke mana,
entah ada di mana, dan entah sedang bersama siapa. Mungkin masih hidup
atau mungkin sudah mati menjadi tumbal judi. Yang pasti, bagi hati
Fatma yang kadung hancur, lelaki itu bukanlah seorang yang bertanggung
jawab. Dia mengelak tanpa menyatakan talak. Dia kabur mewariskan
segudang hutang dan rumah sederhana di kampung halaman yang sudah
digadaikan.
Hingga kini, derita serta ratap-ratap terus saja merapat ke nasib
Fatma, tanpa ada pertolongan dari tangan siapapun, tanpa sapa sayap iba
dari malaikat sekalipun.
Pengap, menyergap gubuk kontrakan itu. Dengan dinding-dinding dari
triplek yang bekas disantap para rayap dan berhias bonus sebuah
kalender tahun kemarin dari sang juragan kontrakan.
Fatma masih duduk di atas sajadah dari selepas maghrib tadi, masih
bermukena dan berair mata. Sedang Sabda, dengan memanggut-manggut serta
jari jemarinya yang mengapit sebatang lidi terlihat begitu asyik
membolak-balik lembar-lembar Alqur’an. Meski hanya dibekali seberkas
cahaya dari lampu lima watt, namun ada semangat dalam dadanya.
Itulah yang hanya dapat dibekalkan Fatma sedari Sabda kecil. Meski
agama telah memberikan rukhsoh(****) untuk anaknya yang mempunyai
keterbatasan, tapi tak lantas dijadikan alasan untuk tak mengenalkan
Alquran kepada anaknya itu. Meski hanya huruf-huruf hidup yang samar
terdengar, tapi Fatma selalu berharap agar Sabda akan lebih mengerti
arti Alquran melebihi orang normal lainnya, yang malah berleha-leha
terhadap kalam suci tuhannya.
Di sudut kamar, tergantung setengah nasi bungkus yang terbungkus
kantong plastik hitam. Sengaja Fatma tak menghabiskannya saat makan
bersama Sabda sore tadi karena biasanya di sepertiga malam, saat Fatma
akan mendirikan tahajud, Sabda selalu meringis lapar ingin makan lagi.
Meski perutnya juga yang di olok-olok nafsu masih lapar menggerutu,
tapi Fatma selalu tahan dan rela sekalipun untuk berpuasa.
Disertai bonus ocehan-ocehan tipu dari Bos Ujang, upah Fatma hari ini
adalah dua belas ribu. Peduli setan, apakah mencukupi bagi Fatma dan
anaknya atau tidak. Sedangkan uang hasil sambilan menjual plastik
rongsokan yang tak seberapa, benar-benar harus Fatma simpan jika tak
ingin terusir kembali dari gubuk terjelek di gang pinggir kota itu.
Benar-benar harus disimpan dan tak boleh termakan.
Disertai pekik petir, kini deras hujan malam ini, menyertai rinai
airmata dan rasa lapar tahajud Fatma yang tumpah di atas sajadah. Tak
pernah ada uluran tangan dari seorang manusia pun untuknya dan tak ada
uluran sayap dari sesosok malaikat sekalipun baginya.
Mungkin, salam dari tahiyat para tetangga belum dihayati dan masih
hanya sekedar tengak-tengok kanan-kiri menikmati rejeki secara
sendiri-sendiri.
Meski begitu, cukuplah bagi Fatma hanya dengan menatap Sabda merasa
kenyang dan senang pun ia sudah dapat kembali memiliki kekuatan untuk
meneladani jalannya takdir yang amat getir.
“Duh Gusti, bagaimana jika hamba ini nanti mati? Akan bagaimana keadaan putra hamba ini?” lirih dalam lapar dan persis berbisik.
Entah ada di mana malaikat penolong, mungkin malah sedang asyik menari
Jaipong atau barangkali masih asyik menjadi pemetik kecapi, mengiringi
lagu doa galau Fatma yang parau bersama narasi semesta malam serta
orkestra hujan yang nestapa. Sungguh, di mana malaikat itu?
***
Shubuh ini pun shubuh yang keluh. Hujan semalam masih menyisakan rintik gerimis.
Bos Ujang terlihat rusuh mencatat sayuran yang siap didagangkan Fatma
serta anaknya. Katanya, ia harus buru-buru ke kantor pos di dekat
kelurahan sebelum jam menunjuk di angka tujuh untuk mengambil dana BLT
dari pemerintah sebagai iming-iming agar tak ada lagi demo-demo dari
orang-orang munafik yang bercampur dengan demonya orang jujur dalam
proses memprotes.
Gerimis semakin menuntun miris. Fatma yang membawa bekal sakit kepala
dari kontrakanya, mulai kembali mendorong gerobaknya yang telah
terpasang sebuah payung pinjaman dari bos Ujang. Roda gerobaknya
berputar ke luar pasar diiringi permukaan kakinya yang pecah-pecah hanya
beralas sandal jepit berlainan warna. Sedang Sabda membuntutinya di
belakang, berpayung karung. Dan tiba-tiba ia merasakan ada air mata
yang jarang terurai saat memperhatikan sosok ibunya yang mengenakan rok
jelek terantuk di jalan becek.
***
Gerimis habis, sudah reda menjelang masa duha, namun keringat
dingin terus bercucuran dari wajah Fatma, yang masih bersender di
dinding luar masjid, sambil mengunyah bubur beras yang di suapkan Sabda.
Gerobak sayurnya terparkir di halaman depan masjid. Di pinggir gerobak
pedagang bubur yang menatap mereka dengan akhirnya disertai airmata.
Padahal sebelumnya, pedagang bubur itu tak menggubris kedatangan Sabda
yang memohon dengan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Hingga akhirnya, pedagang bubur itu mengerti bahwa sabda bermaksud
hendak menukar dua ikat daun bawang dengan semangkuk bubur untuk ibunya
yang menggigil di pelataran masjid.
“Bukan insya allah tetapi niscaya saat yang terindah ialah di mana saat
kita memetik buah hasil dari kesabaran, bukan buah dari hasil berkeluh
kesah, marah atau gelisah.”
Tulisan itu yang tertatap Fatma di dinding masjid, darimana tempat ia
bersandar untuk sejenak beristirahat memadam demam sambil menunggu
Sabda yang masih berada dalam menegakkan sunah duha setelah selesai
menyuapinya, seperti yang selalu dicontohkan Fatma. Sabda jungkir-balik
empat Rakaat. Sedangkan pedagang bubur dengan sambil termenung kemudian
meladeni pembeli lain dari area masjid perumahan itu.
“Bos, bagi duit dong!” tiba-tiba seseorang bicara, dan temannya yang
dua begundal lagi menggebrak meja. Tangannya berlukis gambar iblis dan
dadanya yang agak terbuka mengenakan kaos oblong bertato gambar
superhero.
Pedagang bubur itu,tanpa basa-basi lagi menyerahkan selembar uang
sepuluh ribu dengan gemetar. Dia tahu, siapa sang pemalak itu. Si ibu
yang sedang membeli dan berdiri di samping si tukang bubur pun tahu,
hingga dia memilih kabur terlebih dulu. Para pemalak entah tersenyum
manis atau sinis.
“Bos, kemana ini si Fatma dan anak gagunya?” ujar kasar seseorang dari
trio sok jago itu kepada si tukang bubur, sambil menendang gerobak
sayur milik Fatma.
Banyak orang di perumahan pinggir rel itu yang lewat, namun mereka
hanya bisa menyumpahi para preman pasar itu agar kualat tanpa bisa
menawarkan keberanian, apalagi pertolongan.
“Mak, bagi duit dong!” membentak dengan bau alkohol menyeruak. Fatma
tersentak dari pejaman matanya yang sejenak. Fatma pun tahu, siapa para
pemalak ini karena mereka biasanya bertemu di pasar sehabis pulang
dagang.
“Aduh, maaf Jang. Emak belum dapet uang, sayuran masih banyak,” jawab
Fatma dalam letih sambil menebak-nebak akan bagaimana selanjutnya
karena sebelumnya Fatma tak pernah tak memberi, meski merasa terpaksa
memenuhi.
Seseorang dari begundal-begundal kumal itu kembali ke dekat gerobak
sayur Fatma, mengobrak-ngabrik laci gerobak. Pedagang bubur pun seperti
tiba-tiba libur bertutur, bisu, atau puasa bicara menatap
ketakberuntungan Fatma.
Karena memang tak terdapat uang, kepala pemalak itu mulai berang. Kepal
kekar keparat itu terangkat dan melayang untuk mendarat di pipi keriput
Fatma dengan menggunakan nada teriak.
“Cepet dong Maaak!”
“Duh Gusti,” ucap Fatma berkali-kali dalam batin sambil terpejam dan bergetar. Namun…
“HEEEEyyyy!!! Idribni!(pukul aku!)” Suara itu datang lebih menggelegar,
terdengar asing di kuping mereka yang beranting.
“Bal laa Umi…!(jangan
ibuku!)” lanjutnya.
Suara itu pun mengejutkan Fatma yang masih terpejam dalam rela menunggu
tamparan yang tak jua mendarat ke pipinya. Subhanallah, kepalan tangan
kekar si bangsat itu sudah tercekik genggaman tangan anaknya yang tadi
menyalak dengan mata masih menyala.
“Ya Gusti, benarkah ia Sabda?” bisik Fatma hanya menganga yang
menandakan tanyanya, sama seperti tanda tanya keheranan para bajingan
yang runtuh keberanian dan tatap ketakpercayaan semua orang di sekitar
perumahan.
Saung murung 08
Titik terang:
(*) = Umi capek?
(**) = Umi ada ikan!
(***) = Umi tunggu ana[aku]
(****) = keringanan
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Tatkala sayap Jibril masih asyik memetik kecapi






































