SEPENGGAL DUKA
Oleh: Ari Wijayanti
Erat kupegang tangannya
agar tak lepas dari genggaman tanganku. Di tengah terik
matahari yang semakin
menyengat dan udara yang sudah membaur dengan asap kendaraan bermotor, membuat
tubuh ini semakin cepat melelehkan keringat. Tertatih kami berjalan melewati
orang-orang yang lalu-lalang di depan pertokoan ini. Sambil membawa kaleng
bekas dan menyodorkannya pada setiap orang, berharap ada orang yang mau beriba
hati memberikan sekedar uang sisa kembalian belanja atau syukur-syukur ada
orang yang mau memberikan lebih dari itu. Tapi banyak juga yang hanya memberi
kami sekedar makian atau umpatan, atau yang agaknya lebih sopan dari itu,
dengan mengatakan: “maaf nggak ada recehan”.
10 tahun bukanlah waktu yang cukup untuk dapat melupakan kepedihan ini. Kepedihan yang sampai saat ini belum juga sirna di hati. Tapi walau bagaimanapun dia masih anakku. Seorang ibu tak akan pernah melepaskan cintanya pada buah hatinya.
Seorang bayi mungil lahir dari rahimku, 40 tahun yang lalu. Seorang bayi yang lucu dan lincah, yang kami beri nama “ Dirman Santoso”.
Semenjak itu suamiku kerja keras, banting tulang untuk bisa memenuhi kebutuhan Dirman. Kami ingin Dirman menjadi anak yang serba tercukupi kebutuhannya. Karena dialah harapan kami satu-satunya, karena kami tak dikaruniai anak lagi selepas kelahirannya.
Menjelang usianya remaja kebutuhan untuknya pun semakin meningkat. Tapi agaknya suamiku telah mempersiapkan diri untuk itu. Dari hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, kami akhirnya memiliki sebuah ruko.
Hari begitu cepatnya berlalu. Keluarga kami begitu harmonis. Nyaris tak pernah kekurangan.
Dan tak terasa Dirman telah menyelesaikan pendidikan SI nya. Kami bangga sekali, karena hasil kerja keras kami selama ini tak sis-sia.
Dirman dari dulu memang manja. Tapi dia cekatan dan ulet. Terbukti belum lama setelah kelulusannya ia diterima bekerja di sebuah perusahaan yang cukup ternama, dengan gaji yang lumayan besar pula.
Tiga bulan kemudian ia minta ijin kepada kami untuk meminang gadis pujaannya. Kamipun setuju-setuju saja dengan pilihannya.
Wanita cantik dan anggun, serta cukup ramah dan sopan. Begitu penilaian kami sewaktu pertama kali Dirman memperkenalkannya pada kami. Kami sangat setuju Dirman menikahinya.
“Kami ingin punya rumah sendiri”, Begitu kata Dirman suatu hari “Dirman tak ingin terus-terusan numpang di rumah Ibu dan Bapak, apalagi Dirman sudah punya istri, malu sama orang-orang kalau masih numpang terus”, lanjutnya.
Kami tahu suatu hari nanti Dirman pasti akan pisah dari kami, membangun rumah tangganya sendiri. “Tapi rumah ini kan juga rumahmu, sampai kapanpun Bapak dan Ibu tak keberatan kalau kamu dan istrimu tinggal di sini, malah kami akan senang karena ada yang menemani” kataku pelan penuh harap. Sejujurnya aku tak ingin Dirman pindah rumah. Tapi agaknya Ia tetap pada keputusannya semula. Kamipun tak bisa memebendung keinginannya.
Tak bisa dibayangkan bagaimana hidup jauh dari anak. Walau tinggal dengan suami, tapi suasana tak semeriah dulu lagi.. Apalagi Dirman anak kami satu-satunya. Kami berharap dialah yang akan merawat kami di masa tua kami.
Sedih sekali rasanya waktu mendengar Dirman diberhentikan dengan tidak hormat dari tempatnya bekerja. Katanya ketahuan menggelapkan uang perusahaan. Aku tak habis pikir, bagaimana Dirman, Anakku sendiri yang sangat kukenali wataknya bisa melakukan perbuatan itu. Aku tahu Dirman anak yang jujur.
“Aku tidak ingin mengecewakan istriku, Bu. Aku ingin memenuhi semua keinginannya. Dia ingin rumah mewah, mobil, perhiasan dan semuanya, sementara gajiku yang lumayan besarpun tak cukup untuk memenuhinya”, begitu alasan Dirman waktu kutanya mengapa sampai melakukan perbuatan itu.
“Keinginan yang salah tak harus dituruti, tunjukkan peranmu sebagai pemimpin rumah tangga”. Aku menasehati.
Akupun memintanya untuk tak cepat putus asa dan berusaha mencari pekerjaan baru. Tapi agaknya keberuntungan belum berpihak padanya. Sudah sekian lama ia mencari pekerjaan, namun tak kunjung juga mendapatkannya.
Dua bulan kemudian Dirman memutuskan untuk pindah ke Bandung. Katanya ada teman yang menawari pekerjaan di sana. Aku bersyukur sekali.
Tapi selama di Bandung, Dirman tak pernah sekalipun mengunjungi kami, meneleponpun jarang. Akhirnya kami memutuskan untuk berkunjung ke rumah Dirman di Bandung.
Betapa kagetnya kami setelah tahu kalau alamat Dirman sudah pindah. Tetangganya tak ada yang tahu di mana alamatnya sekarang.
Sudah setahun Dirman tak ada kabar. Tapi kami selalu berharap, Dirman sewaktu-waktu akan kembali ke rumah ini, atau setidaknya menengok keberadaan kami.
Rupanya Allah mendengar doa kami. Aku sungguh tak menyangka, anakku kembali. Rasa rindu bercampur haru dan bahagia, itu yang kurasakan
Ia datang sendiri, tak membawa serta istri dan anaknya. Setelah kutanyakan, katanmya istrinya sedang sibuk dan tak bisa diajak kemari.
Dirman jadi tampak lebih kurus. Dari wajahnya terlihat menyimpan berbagai persoalan. Ah..., apa yang sudah menimpamu. Anakku?”
“Saya butuh uang, bu”, begitu ucapnya lirih setelah kami ngobrol dan saling menanyakan kabar. Saya terlilit hutang, seratus juta rupiah!”, katanya.
Aku kaget. Sebanyak itukah?, uang dari mana untuk menebusnya?. Dari sorot matanya aku tahu dia berharap kami bisa membantunya.
Akhirnya setelah lama berunding, kami memutuskan untuk menjual ruko, usaha sekaligus tempat tinggal kami satu-satunya. Kami merelakannya, toh semua itu nantinya juga akan diwariskan pada Dirman. Mungkin nantinya kami akan tinggal bersama Dirman dan keluarganya. Aku rasa itu lebih baik.
Tapi tanpa kuduga sama sekali. Sedih, sedih sekali rasanya. .Ya Allah, mengapa anakku jadi begini?. Ia pergi begitu saja tanpa memikirkan kami akan berteduh di mana. Ia membiarkan kami terlunta-lunta.
Beruntung kami masih menyimpan uang tabungan yang tak seberapa jumlahnya. Uang itu kami gunakan untuk mengontrak rumah yang sangat sederhana.
Walaupun dengan tubuh yang semakin ringkih, kami bekerja apa sajaj, berusaha bertahan hidup
Tak berapa lama suamiku sering sakit-sakitan, karena letihnya bekerja dan usianya yang sudah semakin tua.
Penyakit katarak di matanya semakin parah. Kami tidak tahu harus berobat pakai apa, sementara untuk makan sehari-haripun susah. Sampai akhirnya kedua matanya tak berfungsi lagi.
“Ya Allah, kuatkan iman kami dalam menghadapi cobaan ini”. Itulah doa yang selalu aku panjatkan setiap usai sholat
Suamiku nyaris tak bisa bekerja apa-apa lagi. Sedangkan aku, siapa yang mau mempekerjakan nenek-nenek tua sepertiku. Akhirnya kami hanya bisa makan dari minta belas kasihan orang lain. Itu terpaksa kami lakukan, ya, sungguh terpaksa.
Kugandeng tangannya melewati orang-orang yang lalu-lalang di depan pertokoan ini. Sambil membawa kaleng bekas yang aku sodorkan pada setiap orang di jalannan ini, berharap ada orang yang mau beriba hati memberikan uang recehan sisa kembalian belanja, atau syukur-syukur lebih dari itu. Pada seorang perempuan tua yang ringkih dan seorang kakek tua yang buta.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
sepenggal duka




































