Di
Sebuah Pohon Rindang
Oleh: Riyanti
Ketika bel masuk sekolah berbunyi, para siswa bergegas masuk ke dalam ruang kelas masing-masing. Sedangkan siswa-siswa yang masih berada di luar lingkungan sekolah dengan segera menuju ke pintu gerbang sekolah karena sebentar lagi pintu gerbang akan segera ditutup dan jika pintu ditutup maka siswa tidak diperbolehkan untuk masuk, kecuali harus menerima hukuman terlebih dahulu. Biasanya disuruh mencabuti rumput yang mengganggu pemandangan sekolah. Di saat beberapa siswa sedang panik kerena takut terlambat, seorang siswa malah berjalan pelan-pelan menuju pintu gerbang itu. Siswa itu bernama Andes. Dia dengan santainya berjalan tanpa memperdulikan keterlambatannya itu. Dan untungnya dia adalah siswa terakhir yang memasuki sekolahan. Begitu dia masuk, pintu gerbang segera ditutup.
Di parkiran sepeda motor yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang sekolah ada dua orang siswa tengah menunggui Andes. Mereka berdua bernama Robert dan Yohan. Rupa-rupanya mereka adalah sahabat dekat Andes dan sedari tadi mereka sudah menantinya dengan setia. Robert dan Yohan adalah siswa beragama nasrani yang berbeda keyakinan dengan Andes karena Andes sendiri beragama Islam. Tetapi meskipun demikian, perbedaan keyakinan tersebut tak menyurutkan hati mereka untuk hidup berdampingan sebagai sahabat karib. Mereka saling mengisi satu sama lain hingga tak ada jurang pemisah di antara ketiganya.
Dengan lamat-lamat Andes berjalan menghampiri Robert dan Yohan. Dan ia berhenti di depan kedua temannya tersebut. Andes kemudian menepuk punggung kedua sehabatnya itu.
“Ayo Bro! lagi nunggu siapa?” tanya Andes.
“Kamu ini ditungguin gak sadar juga ya!” Yohan segera menjawab dengan suara lantang.
Robert dengan cepat menimpali, “Enak ya sudah buat kita jadi baygon! Kita udah lama nungguin kamu dari tadi! Eh… malah jalan nyante-nyante aja.”
“Sorry sorry, tadi lama banget aku nungguin angkutan yang lewat. Maklum sajalah rumahku di deket Sikopek jadi ya susah nyari angkotnya,” kata Andes sambil mencari-cari alasan yang tepat.
“Sudah, sudah... gak usah dipikirin lagi. Kita cepet-cepet masuk ke kelas karena jam pertama udah mau mulai. Sekarang kan pelajarannya Bu Yayuk. Ia selalu mengajar tepat waktu. Aku gak mau disuruh maju ngerjain soal. Aku kan gak mudeng sama yang namanya Akuntansi.” Kata Andes sambil memukul pelan kedua lengan temannya itu pertanda agar segera mengikuti langkahnya.
Ketiga siswa tersebut segera berjalan menuju ruang kelas mereka yaitu kelas 3 IPS 3. Begitu sampai di depan kelas, ketiganya kaget setengah mati kerena Bu Yayuk tiba-tiba sudah berada di depan mereka. Bu Yayuk dengan suaranya yang lantang menyuruh mereka untuk segera menempati tempat duduk mereka masing-masing karena tanpa banyak waktu pelajaran Akuntansi akan segera di mulai. Selama dua jam pelajaran lamanya guru itu menerangkan materi dengan suara yang sangat keras dan tegas. Tak ada satu pun siswa yang berani membuat gaduh. Suasana di dalam kelas dilingkupi oleh keseriusan yang mencekam.
Setelah dua jam lamanya, bel sekolah pun berbunyi. Sebagai pertanda adanya pergantian jadwal pelajaran. Semua siswa yang berada di dalam ruangan itu spontan langsung bersorak gembira. Bukan karena pergantian jadwal pelajaran, tetapi karena ketakutan mereka terhadap Bu Yayuk yang terlalu berlebih-lebihan sehingga tak ada seorang pun yang berani bersuara walau hanya satu kata pun.
Setelah pelajaran Akuntansi selesai, maka diganti dengan pelajaran bahasa Indonesia, yang diampu oleh Bu Munfainah. Para siswa tengah menunggu kehadiran guru itu dengan saling mengobrol satu sama lainnya. Suasana kelas pun menjadi ramai. Beberapa menit kemudian, guru piket datang ke kelas.
“Selamat pagi anak-anak?” kata Pak Indrajit.
“Pagi Pak.” Kata murid-murid kompak.
“Bapak ke sini hanya mau memberitahukan saja, bahwa Bu sedang sakit, jadi untuk pelajaran Bu Mun kali ini kosong dan kalian hanya mengerjakan beberapa tugas saja.” Ucap Pak Indrajit dengan suara yang sangat keras.
“Coba sekretaris maju ke depan dan menulis soal-soal ini.”
Lina, selaku sekretaris maju ke depan menuliskan tugas-tugas itu. Beberapa menit kemudian Pak Indrajit meninggalkan ruangan. Dan pada saat itulah suasana kelas menjadi tak terkendali lagi. Ruangan kelas pun menjadi ramai seperti pasar hingga terdengar ke mana-mana.
Andes pun juga ikut-ikutan mengobrol bersama beberapa teman-temannya dengan tema obrolan yang bervariasi. Kata-kata yang pandai ia rangkai, menyebabkan ia tak pernah kehabisan bahan obrolan. Tak heran banyak yang suka mendengarkan obrolannya tersebut.
Andes adalah cowok yang sangat baik. Ia setia kawan dan selalu menolong teman-temannya meskipun ia sedang dalam kesusahan. Tak heran teman-temannya begitu simpati terhadap dirinya. Bahkan teman-temannya yang perempuan pun juga banyak yang menyukai dia. Sifatnya yang cuek terhadap cewek mengakibatkan cewek-cewek senang bila berada di dekatnya dan ada juga yang senang mengerjai Andes.
Andes tak pernah mengenal perasaan suka pada siapapun. Ia selalu menutup hatinya dalam urusan cinta karena baginya pacaran adalah hal yang sangat membosankan. Tapi pada suatu ketika, saat dia sedang duduk-duduk pada sebuah pohon yang sangat rindang yang berada di belakang ruang kelasnya, ia tiba-tiba bertemu dengan seorang cewek yang begitu mengusik batinnya. Ketika mereka saling bertatapan, Andes merasakan perasaan yang tak menentu muncul dalam dirinya. Cewek itu bernama Riska. Riska telah seratus persen membuat Andes jatuh hati kepadanya. Riska adalah siswa yang sama-sama kelas tiga dan ruang kelasnya bersebelahan dengan ruang kelas Andes, yaitu ruang kelas 3 IPS 6. Andes penasaran dengan cewek itu karena dia baru saja bertemu dengannya. Rasa penasarannya itu yang membuatnya bertanya-tanya tentang cewek yang bernama Riska tetapi ia tak berani untuk mendekati cewek itu. Riska melihat Andes dan ia pun menghampiri Andes. Andes gugup bukan kepalang. Baru kali ini badannya tak dapat digerakkan. Dia juga susah dan gugup untuk berkata apa-apa.
“Hai, selamat pagi. Maaf apa aku boleh duduk di situ?” kata Riska kepada Andes yang sedikit gugup yang duduk di bawah pohon itu.
“Oh…pagi juga. Iya, boleh boleh. Terserah kamu aja. Kan tempat ini milik bersama,” jawab Andes sedikit grogi.
“Trima kasih ya...” ucap Riska lagi.
“Maaf, sepertinya aku baru kali ini melihat kamu. Apa kamu anak pindahan?” kata Andes sedikit ragu-ragu.
“Bukan, aku bukan anak pindahan kok. Aku sudah ada di sini dari kelas satu. Mungkin aja kamu gak pernah ketemu aku kali,” kata Riska membenarkan.
“Oh... maaf kalau gitu aku gak tahu,” katanya agak-agak malu karena salah terka.
Dari perkenalannya itulah, mereka menjadi sering bertemu di bawah pohon itu dan saling akrab satu sama lain. Dari seringnya bertemu itulah mereka pun menjadi sahabat karib. Sebenarnya, Andes memiliki suatu perasaan yang istimewa yaitu perasaan cinta terhadap Riska. Tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya kepada Riska. Demikian pula dengan Riska. Ia pun juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan saat ia berada di dekat Andes. Tetapi, Riska pun juga tak berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada Andes. Keduanya saling menjaga hati. Tak ingin melukai hati dan perasaan satu sama lainnya. Keduanya tak ada keberanian untuk berucap. Padahal sebenarnya, baik Andes maupun Riska, juga sama-sama saling menyukai. Keduanya tidak sadar akan perasaan masing-masing. Mereka hanya tahu bahwa keduanya saling akrab karena hubungan persahabatan. Keduanya saling menjaga hati mereka masing-masing agar kelak keduanya dapat saling berdekatan meskipun hanya sebagai teman saja. Hal itu yang selalu ada di pikiran mereka masing-masing walaupun di antara keduanya tak menyadarinya. Bagi Andes, hal itu sudah cukup membuatnya senang.
Biar pun hanya menjadi sahabat karib saja, tetapi persahabatan itu akan selamanya utuh dan selalu terjaga. Daripada pacaran setelah itu malah putus di tengah jalan gara-gara sesuatu hal yang sepele. Itu hanya akan menambah luka di hati saja. Biar pun cinta itu hanya bertahta di dalam hati tetapi keduanya memiliki suatu ikatan persahabatan. Keduanya akan selamanya menjaga hati masing-masing agar tak ternoda oleh apa pun juga. Hubungan diantara mereka berdua hanya sebatas teman dan itu akan abadi untuk selamanya. Setidaknya hal itulah yang selalu ada dalam pikiran mereka.
..........Selesai..........
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Di Sebuah Pohon Rindang



































