Oleh: Jama'atun Rohmah
”Aku tidak akan bercanda untuk hal seperti ini,” Ujar Weni kesal melihat reaksi Tina yang seolah tidak mendengar apa-apa. Dia hanya menggumam tak jelas sebentar, lalu kembali asyik menekuni halaman demi halaman majalah Cosmopolitan edisi terbaru yang ada di depannya sambil tiduran. Tina yang saat itu mengenakan kaos oblong putih dan celana coklat selutut sama sekali tidak serius menanggapi Weni yang wajahnya kusut setelah seharian beraktivitas di luar.
”Aku dengar sendiri Miranda mengatakan dirinya sedang hamil dan meminta Rudi untuk menunda keberangkatannya ke Belanda.” Kata Weni lagi sambil merapikan rambutnya.
”Tapi Rudi sepertinya keberatan. Dasar cowok, kalau sudah kena getahnya begini maunya melarikan diri. Tidak mau bertanggung jawab. Emang sebelumnya dia gak mikir resikonya?”
”Rudi itu anaknya baik banget, kok.”
”Karena kamu pernah tergila-gila padanya. Untung kalian sudah putus. Kalau tidak, mungkin kamu yang akan mengalami nasib seperti Miranda sekarang. Lagipula, bisa-bisanya kamu membela cowok yang sudah meninggalkanmu demi cewek lain?”
”Sampai sekarang perasaanku padanya masih sama.” Kata Tina santai. Dia lalu menutup majalahnya bangkit duduk di tepi ranjang, di samping Tina.
”Dia sangat menghargai cewek. Selama menjadi pacarnya, dia nggak pernah meminta, apalagi memaksaku melakukan sesuatu di luar batas. Kamu nggak kenal dia.”
”Mungkin itu sebabnya kalian putus. Karena kamu tidak bisa diapa-apakan.” Tina tersenyum.
”Kami putus karena beda etnis, dia Chinese dan aku Javanese, itu aja.” Ujarnya setengah bercanda.
”Kamu sih kebanyakan baca novel. Mungkin Miranda memang hamil, tapi itu bukan perbuatan Rudi. Aku percaya padanya.” Weni angkat bahu.
”Ya terserah kamu, deh. Aku cuma menceritakan apa yang aku dengar. Aku juga nggak ada urusan apa-apa dengan hal ini. Aku hanya peduli padamu karena kamu sahabatku. Kamu nggak pantas mengharapkan cowok kaya dia. Fisiknya aja yang sempurna, tapi hatinya culas dan brengsek. Kalau dia tidak pernah pacaran dengan kamu mungkin aku juga akan tertipu dengan tampang dan penampilannya itu.” Tina lalu beranjak menuju ke depan cermin rias. Dia menatap wajahnya di sana. Tina berdarah jawa tulen. Wajahnya bulat telur dengan hidung mancung dan tulang pipi yang sedikit menonjol. Rambutnya hitam sebahu. Matanya lebar indah dengan bulu mata yang lentik alami. Kulitnya kuing langsat dan terawat.
”Emangnya aku kurang apa, ya?” Tina masih menatap bayangan dirinya di depan cermin.
”Aku cantik, pintar dan berkepribadian juga. Untuk menjadi Miss Universe aja modalku uda lebih dari cukup, dunia internasional bakal menerimaku, tapi kenapa untuk menjadi menantu keluarganya Rudi aja susah banget?” Ujarnya setengah mengeluh. Weni hanya mengamatinya dengan prihatin. Hubungan Tina dengan Rudi memang ditentang keras oleh keluarga besar Rudi. Dan, akhirnya mereka memilih untuk bubar karena keduanya tidak tahan terhadap tekanan. Itu yang dulu diceritakan Tina pada Weni.
”Oh, ya. Bagaimana, kamu jadi mengikuti pemilihan model tahun ini?” Tanya Weni berusaha mengalihkan perhatian Tina. Gadis itu mengangguk pelan.
”Pasti,”
***
Weni sudah melupakan percakapan Miranda dengan Rudi di pelataran parkir kampus hari Jum’at lalu. Dia juga sudah tidak ingat telah memberitahu Tina tentang percakapan mereka. Dia cuma merasa sedikit aneh ketika Rudi tidak mengikuti kuliah pada hari Senin. Selama ini Rudi sangat tepat waktu. Jangankan absen, terlambat saja hampir tidak pernah. Hanya, Miranda agak murung siang itu saat Weni tidak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan. Weni kemudian berfikir mungkin Rudi tengah mempersiapkan kepindahannya ke Belanda, yang kalau dia tidak salah dengar adalah bulan depan. Dia jadi kasihan melihat kemurungan Miranda.
Namun, hari selasa pagi itu. Mobilnya berhenti di depan lampu merah di dekat kampusnya, seorang anak jalanan mengelap kaca depan mobilnya. Weni membuka kaca jendela mobilnya hendak memberikan uang receh pada anak tersebut. Lalu seorang bocah lain datang dan menyodorkan koran padanya.
”Rudi, anak tunggal pengusaha properti terkaya di Indonesia tewas dibunuh, Bu.” Weni mengerutkan keningnya.
”Rudi yang kuliah di kampus itu?” Weni menunjuk kampusnya yang hanya sekitar 100 meter dari tempat mobilnya berhenti. Anak itu mengangguk.
”Iya, menurut koran ini dia kuliah di situ.” Weni segera mengambil koran itu dan menyodorkan selembar lima ribuan tanpa meminta uang kembalian.
”Beritanya ada di halaman kriminal, Bu,” Ujar si penjual koran sebelum Weni menutup kembali kaca mobilnya. Lampu hijau sudah menyala, dan Weni mengendarai mobilnya dengan perasaan tidak enak.
”Ini tidak mungkin.” Batinnya setelah membaca berita tersebut di koran. Rudi telah meninggal, mayatnya ditemukan nelayan di laut dan mobilnya dibakar. Dugaan sementara polisi, motifnya dendam dan korban sudah mengenal pelaku. Karena dompet dan Hpnya masih ada di saku celana Rudi. Semua kartu dan uang yang ada di dompet masih ada. Rudi diperkirakan dibunuh pada Sabtu sore atau Minggu pagi. Mayatnya baru ditemukan pada Senin pagi. Tidak hanya Weni, seisi kampus juga geger. Semua ramai membicarakan peristiwa tragis tersebut. Banyak yang merasa kehilangan dan tak kuasa menahan kesedihannya, terutama para mahasiswa yang sejurusan dengannya. Selain sebagai mahasiswa berbakat dengan berbagai prestasi akademik dan olahraga, orang tua Rudi adalah seorang pengusaha properti yang punya nama besar di Indonesia. Dan, dia adalah anak tunggal. Banyak spekulasi yang berkembang seputar kematiannya. Tiba-tiba Weni teringat percakapan yang pernah dia dengar antara Rudi dengan Miranda empat hari lalu. Miranda hamil dan Rudi tidak mau bertanggung jawab. Rudi malah akan pergi ke Belanda.
”Ya, Tuhan.... Jangan-jangan....?” Weni ketakutan sendiri membayangkan kemungkinan bahwa Miranda telah membunuh kekasihnya sendiri. Ketika Weni dan teman-teman datang ke rumah Rudi untuk memberi penghormatan terakhir, dia melihat ada Miranda di situ. Berbaur dengan keluarga Rudi dan mereka terlihat akrab satu sama lain. Weni berfikir mungkin Miranda bisa lebih diterima oleh keluarga itu karena mereka berasal dari ras yang sama. Weni tak henti-hentinya memperhatikan Miranda. Dia mengenakan pakaian berkabung dan kaca mata hitam. Dia terlihat sangat cantik dan terluka. Ada bekas-bekas air mata di wajahnya. Tapi Weni berani bertaruh, itu adalah airmata palsu. Tiba-tiba Weni memikirkan lagi sahabatnya, Tina. Dia pasti akan sangat terluka. Apakah dia sudah tahu ini? Dia belum kembali ke tempat kost setelah pamit pulang ke Malang akhir pekan lalu. Dia sudah menelpon Weni dan memberitahu kalau dia akan kembali hari Rabu karena ibunya sedang kurang sehat.
***
”Kamu yakin Miranda pelakunya?” Tanya Tina sambil mencomot sepotong lumpia dari piring yang dipegang Weni dan langsung melahapnya dengan berdiri.
”Aduh, gini kok mau jadi model Indonesia? Behaviournya jelek banget gitu. Makan pake tangan kanan dan duduk, Sayang....” Kata Weni sambil geleng-geleng kepala. Dia lalu meletakkan piringnya di meja yang ada di samping tempat tidur. Kemudian dia meraih Hpnya yang terletak di samping piring.
”Kalau di depan umum emang harus jaim, menjaga sikap agar tetap terlihat anggun. Tapi kalau di rumah ’kan bebas be myself. Emang kamu pikir artis-artis itu juga selalu terlihat anggun saat lagi tidak disorot kamera? Kita ’kan juga manusia.” Ujarnya diiringi derai tawa.
”Ada kemungkinan mengarah ke situ. Menurut koran, motifnya adalah dendam dan korban sudah mengenal pelaku dengan baik. ” Kata Weni sambil tangan kirinya memencet-mencet tombol HP sementara tangannya memegang lumpia yang masih sisa separoh.
”Dan, Miranda punya alasan untuk membunuhnya karena Rudi tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya?” Tanya Tina menanggapi dugaan Weni.
”Betul,” Kata Weni sambil mengangguk dan menelan habis sisa lumpianya. Sesaat kemudian dia terdengar mengumpat pelan gara-gara pesan singkatnya terkirim ke nomor yang salah.
”Weni... Weni... makanya konsentrasi. Jadi pesannya nyampai ke orang yang tepat.” Tina tertawa lagi. Tawanya terdengar polos dan natural.
”Kayanya kamu dulu salah jurusan deh. Mestinya kamu masuk fakultas Hukum lalu jadi polisi, kerja untuk BIN atau CIA, atau sekalian Mosad aja, bukannya masuk Fakultas Teknik dan gabung dengan cowok-cowok dekil yang ga pernah mandi.” Lanjutnya.
”Halah, tapi kamu juga tergila-gila sama Rudi yang anak teknik.”
”Kecuali Rudi duuuunk...”
”Sepertinya aku harus memberi tahu polisi, Tin.” Tina terhenyak kaget.
”Melaporkan Miranda?” Weni menggeleng.
”Bukan bersaksi, hanya memberitahu apa yang kudengar sebelum Rudi ditemukan tewas. Itu kan saat-saat penting yang terjadi sebelum hari naas itu. Setidaknya dengan begitu polisi memiliki petunjuk untuk mengarahkan penyidikan.”
”Sama aja. Secara tidak langsung prasangkamu itu akan menyeret Miranda ke penjara,” Kata Tina.
”Itu terserah polisi. Kalau bukti-bukti merujuk ke sana dan Miranda tidak punya alibi, memang bisa saja dia masuk penjara.”
”Jangan, Wen. Lebih baik kita tidak usah terlibat dalam masalah ini. Nanti malah kacau. Aku nggak mau lagi terlibat dengan masalah Rudi dan keluarganya.” Kata Tina.
”Kasihan Miranda juga, ’kan?”
”Hukum, ya hukum. Kalau uda salah, biarpun saudara kandung tetap aja harus kita laporkan.”
”Tapi keluarga Rudi kan punya banyak musuh. Bukan hanya Miranda yang menginginkan dia mati.”
”Ya, sih. Sebenarnya Rudi juga salah, tapi tidak seharusnya dia dihakimi sekejam itu.”
Dua hari kemudian, nama dan pernyataan Weni muncul di surat kabar bersamaan dengan ditetapkannya Miranda sebagai tersangka. Sejak itu Weni tidak pernah melihat Miranda lagi di kampus. Selama ini, biarpun beda fakultas tapi mereka kadang-kadang tak sengaja bertemu di perpustakaan atau di tempat parkir. Miranda hanya pernah sekali menelponnya. Weni tidak tahu dari mana dia mendapatkan nomer hpnya. Dia tidak bicara banyak, hanya mengatakan, ”Kita tidak saling mengenal, aku juga tidak ada dendam denganmu. Kenapa kamu melakukan ini padaku?”
***
”Selamat, ya!” Weni langsung memeluk Tina setelah gadis itu menunjukkan fotonya yang tercetak eksklusif di sebuah majalah wanita terbitan ibukota bersama sederet wajah-wajah canti lainnya. Di bawah foto Tina tertulis Agustina Prasetyo, 21 tahun, Mahasiswi, Surabaya. Dia terpilih sebagai finalis.
”Hebat, ya. Kapan ke Jakarta untuk acara finalnya? Kamu pasti bisa ngalahin mereka. Kamu cantik dan sangat berbakat. ” Katanya. Weni tak henti-henti mencermati halaman majalah itu. Lalu dia duduk di kursi di depan meja rias, sementara Tina duduk di tepi ranjang.
”Thanks. Kamu juga bisa kok ikutan beauty contest kaya gini kalau mau. Kamu aja yang gak aware memiliki wajah cantik, tubuh bagus dan otak brilian.”
”Nggak deh. Males banget mesti mondar-mandir trus dipelototin banyak orang kaya gitu.” Weni angkat bahu.
”Aku dah bangga punya sahabat yang hebat kaya kamu.”
”Makasih, Wen. Kamu memang sahabat yang baik.” Tina meneteskan air mata terharu. Namun, tiba-tiba senyum di wajahnya memudar. Dia duduk dengan wajah lesu. Sementara Weni masih mencermati isi majalah.
”Saat bahagia seperti ini, seharusnya aku bisa berbagi dengan Rudi.” Ucapnya pelan. Weni menutup majalahnya.
”Kamu masih cinta dia?” Tina mengangguk. Weni menatapnya. Sejak kematian Rudi, Tina memang sering murung dan jadi jarang tertawa. Selama hampir 3 tahun berbagi kamar kost dengan Tina, tahun inilah dia mendapati sahabatnya itu sangat tertekan. Weni kini lebih berhati-hati ketika membahas Rudi. Dia tidak ingin sahabatnya lebih terluka. Meskipun Weni tidak begitu menyukai pribadi Rudi, tapi kini dia hampir tidak lagi menyebut kejelekannya di depan Tina.
”Sudahlah, Tin. Biarkan dia tenang. Yang sudah terjadi biar terjadi. Relakan saja. Toh pelakunya juga sudah tertangkap. Kamis depan aku akan memberi kesaksian di pengadilan. Akan aku pastikan kesaksianku memberatkan Miranda. Dia layak dihukum berat. Dia tidak hanya membuat anaknya kelak terlahir yatim, tapi dia juga membuatmu kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupmu.”
”Aku yang membunuh Rudi,” Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tina dan butuh waktu beberapa puluh detik bagi Weni untuk mencernanya.
”Dia menelpon dan mengajakku ketemu Jum’at malam itu, malam di mana seharusnya aku pulang. Kami ke pantai. Aku yang mendorong tubuhnya dari atas batu karang. Aku tahu betul Rudi tidak bisa berenang. Aku juga yang membakar mobilnya.”
”Kamu ngomong apa, sih?”
”Sebenarnya kami belum benar-benar putus. Kami hanya backstreet sampai orangtuanya bisa menerima aku. Hubungan dia dengan Miranda hanya sahabat, tidak lebih. Mereka kenal sejak SMP, jauh sebelum Miranda pindah ke kampus kita. Sudah kubilang Rudi itu sangat baik, Wen.” Tina tak sanggup menahan air matanya.
”Miranda hamil oleh pacarnya, dia juga menghadapi masalah seperti kami. Keluarganya tidak menerima cowok itu untuk menjadi suami Miranda. Malah tantenya menyuruhnya untuk menggugurkannya.” Weni menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, tak sanggup mengatakan apapun.
”Rudi berhutang nyawa pada Miranda karena dia pernah menyelamatkannya saat kecelakaan. Dia kehilangan banyak darah dan Miranda merelakan darahnya untuk Rudi. Dan, Rudi akan melakukan apa saja untuk membalas budinya.... Rudi sudah membatalkan rencananya ke Belanda meskipun dengan berat hati. Dia bahkan memintaku untuk melupakannya karena dia tidak bisa membiarkan Miranda menanggung penderitaan itu seorang diri.”
”Tina....?”
”Aku khilaf, Wen. Aku marah. Aku cemburu. Dia lebih memilih menyelamatkan sahabatnya daripada menyelamatkan cinta kami.” Tina sesenggukan, dan suaranya terdengar kalut.
”Tapi aku tidak pernah berniat membunuhnya, atau melibatkan Miranda dalam masalah ini. Dia ada di tempat dan waktu yang salah.” Tina menutupi wajahnya yang basah dengan kedua tangannya. Weni lemas di tempat duduknya. Tina adalah orang yang dia kenal sangat baik dan lemah lembut, bahkan pada seekor semutpun dia tidak akan tega untuk melukai. Sebegitu hebatkah kekuatan wanita yang sedang cemburu? Hingga dia bisa membunuh orang yang sangat disayanginya melebihi hidupnya sendiri? Angannya menyeretnya kembali pada hari Jum’at sore di pelataran parkir kampus. Di mana dia melihat Miranda dan Rudi sedang berbicara.
”Jadi kamu tetap akan ke Belanda bulan depan? Apa tidak bisa ditunda?” Tanya Miranda. Rudi tidak menyahut.
”Rasanya aku tidak akan bisa menghadapi ini semua tanpamu. Setiap detik aku merasakan perutku semakin besar. Dan aku sangat tertekan.” Dari nadanya kentara sekali dia sangat sedih.
”Kamu ’kan tahu aku sejak dulu ingin ke sana. Semua persyaratan sudah beres. Aku juga sudah mendapat apartemen untuk tempat aku tinggal selama di sana. Tinggal berangkat saja.” Rudi tertunduk.
”Tapi... entahlah. Aku akan memikirkannya lagi nanti malam.” Sebenarnya hanya itu yang didengar Weni. Dia menyimpulkan sendiri anggapan bahwa Miranda hamil karena perbuatan Rudi lalu dia tidak mau bertanggung jawab dan memilih untuk kabur ke luar negeri dengan alasan kuliah. Dan sekarang dia sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Di depannya, Tina, sahabatnya masih menangis.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
prasangka





































