Baju Zirah
Oleh: Widdy Apriandi
Purwakarta, Kantin Kampus. Pukul 21.00. Malam tak lagi ingin terlihat cantik nan juwita, apalagi montok berisi. Kelam malam terasa lebih hitam dari biasanya. Penghuni kerajaan langit tampaknya sedang gemar bermalas-malasan, atau mungkin mogok kerja. Layaknya berlomba dalam permainan petak umpet, siapa paling duluan bersembunyi, dia yang menang.
Bulan…ah, di mana dia ?!...tak ada, begitupun bintang. Siapa yang duluan bersembunyi ?...siapa yang menang ?!. Entah. Aku terpaku di meja bundar property kantin kampus. Diam mematung, duduk-duduk dalam posisi pasif. Memandang kiri-kanan tanpa alasan, hanya refleks saja barangkali. Sunyi. Kuhela nafas panjang, mencoba mencari mood supaya mampu mendongkrak segala kebuntuan yang kualami di penghujung hari ini. Kram otak, …ha...ha…ha, aku tertawa dalam hati. Nalar tercabik hingga memelas minta ampun, meronta-ronta memohon waktu untuk sebentar membeku. Tiga bab skripsi kuselesaikan sekaligus hari ini, maklum kejar tayang. Paksa, paksa, paksa…push the limit. Beruntung selesai, meski baru sebatas draft yang dituntut wajib lapor ke aparat kampus. Rasio plus emosi melebur dalam satu rengekan; lelah !. Secangkir kopi hitam dan tentunya rokok kretek yang harus selalu siap sedia menemani, tampil di meja dalam gaya seronok tercerai-berai. Tak tahu berapa batang yang telah terbuang. Satu, dua, enam…aku tak ingat. Kunikmati malam ini…berlepas diri dari segala kepenatan. Kupandangi setiap sisi kampus yang terjangkau mata lahir. Kiri, kanan, atas, bawah…megah. Kaki-kaki kerajaan pemberi prestise kemanusiaan tegak lurus setengah congkak. Kurasakan betul aura percetakan manusia-manusia yang mendadak bisa lebih pantas dikatakan manusia ketika selesai berbasa-basi di tanah ini. Tak kuasa aku menahan hasrat untuk tersenyum sinis, “hah… prestise ?, manusia beradab dan benar ?, citra par excellence ?”. Kutimpali tanpa malu-malu, “luar biasa !”. Manusia dipaksa, dijarah, diperkosa menjadi tangga-tangga. Di tempat ini nantinya kudapati kenaikan tangga kemanusiaan pula…luar biasa !. Batinku ngilu di saat mendendangkan syair paling naif sedunia, “paling tidak Emak-ku tak lagi malu bila ditanya tetangga sebelahnya, malah justru bangga menyalak penuh histeria ; anakku sarjana !”.
***
Purwakarta’s Pub. Pukul 00.00. Ladies night…seperti biasanya setiap selasa malam. Gadis-gadis bergincu, berbaju minim…tak jadi soal, toh seharusnya memang demikian. Tak perlu berbicara nilai, etika...cukup berjingkrak sampai berkeringat. Tebar emosi ke segala penjuru, bahkan birahi kalau perlu. High heels…simbol perempuan modern. Minus itu, jangan harap bisa diterima sebagai simpatisan party. Tak ber-high heels artinya katro, bukan anak gaul, wong ndeso. Dimensi modernitas yang paling picisan…bahkan sepatu pun bisa menjadi takaran eksistensi kemanusiaan. Kejam !. High heels…tiket masuk ke ranah pergaulan hingar-bingar. Betul !, karcis gaib untuk menembus gerbang nilai eksistensi kekinian. Masuk…masuk…selanjutnya free ride untuk digagahi. Dan itu-lah manusia seperti yang Nietzche bilang...manusia—terlalu manusia. Ronin berteriak lantang dengan telunjuk mengarah lurus ke muka, “Open Bottle, Girls !”. Provokasi yang spontan direspon. Logika dagang para bijak bestari ; ada gula, ada semut. Begitu pun ini ; ada free bottle, para perempuan…dan free ride. Meja Ronin dipadati perempuan, “toast !”. Sloki-sloki saling beradu…atmosfer pub semakin riuh. Ronin “The Don”…itu gelar yang disandangnya. Raja pesta yang tak sungkan membongkar saku celananya meski sirna berjuta-juta di pub ini.
Dance floor semakin panas, Ronin yang suntuk. Perempuan-perempuan bergoyang setengah sadar. Fly…terbang melayang menembus cakrawala kesadaran. Disc Jockey mengkooptasi mood…merekayasa kondisi sedemikian rupa. Peluh tertumpah tetes demi tetes. Aroma parfum membakar sukma yang penuh hasrat. Bergandengan, berpelukan, semua hanyut dalam satu komunitas imajiner. Manusia—terlalu manusia. Tiga orang perempuan terlihat gerah, terlunta-lunta berharap dipapah. Tiba waktunya The Don memainkan peran. Cermin protagonis dalam skema nilai yang paradoks…atau mungkin dunia yang asimetris. Ronin mengumbar senyum menggoda…menjulurkan tangan sebagai simbol sang amor yang penuh cinta.
“Kenapa, babe ?!”, sentilan tanya lugu dari mulut Ronin layaknya bayi yang rindu tetek ibu. The Don sang pengayom…manusia adi luhung yang selalu berbelas kasihan kepada perempuan yang lemah karena keletihan di lantai dansa. Seperti magnet…lantas lekat begitu saja tanpa tedeng aling-aling. Tiga perempuan dan Ronin “The Don” sang pengayom...melangkah berbarengan meninggalkan hiruk-pikuk dunia gemerlap. Transisi dramatis lintas dunia…mengangkangi selaput modernitas menuju tatanan alam purba ; berburu dan meramu.Raungan mobil seperti sahut-menyahut bersamaan dengan desah nafas yang keluar dari relung jiwa yang menuntut klimaks pemuasan. Sesaat sebelum melintas pergi, “Tolong disiapkan room untuk 4 orang…short time”. Lirih suara Ronin “The Don” terdengar datar tanpa beban.
***
Bunderan Bank BTN – Purwakarta. Pukul 10.00 Ratusan mahasiswa berkumpul di jalan-jalan protokol…menikam batin aparat yang terusik kedamaiannya. Yel-yel ideologis bergemuruh menghentakkan kemapanan kota. Semua merah !…panas berkobar. Gelombang bola api terpancar dari almamater merah yang kokoh terikat dalam satu komando. Jeritan-jeritan melengking menyayat hati. Ada kesaksian yang tengah disuarakan ; Derita kaum miskin kota yang semakin terpuruk diterkam buasnya kekuasaan. Aparat-aparat melengkung murung, namun siap siaga layaknya para punggawa. Tak seperti biasanya…hari ini siaga satu…hari ini bukan saatnya tumpang kaki tak ada kerja.
“Sudah saatnya rakyat bergerak…kembali dalam satu front. Tak ada lagi istilah kencangkan ikat pinggang !...pinggang-pinggang rakyat terlampau kecil dan ringkih untuk selalu diikat rekat !. Kami angkat kembali kontrak sosial yang seharusnya terpikirkan dalam bangunan negara…di mana letak kontrak sosial itu ?!. Berkali-kali harga BBM dilambungkan !...lantas apalagi ?!!. Cabut mandat rakyat !”, teriakan Anggoro pecah di udara dan turun kembali berganti menjadi riak-riak perlawanan. Microphone berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Kali ini tepat digenggam Naomi yang telah menanti sekian lama kesempatan untuk memuntahkan kritik, “Inilah hasil konspirasi elit-elit kapitalis yang gemar menghisap dan menindas !... memperdaya, menjarah serta merampok mereka yang lemah !. Lawan kapitalisme global…gempur neo-liberalisme !. Bersatulah kaum muda !”. Ada air mata yang membekas nyata di wajah Naomi. Fragmen kulminasi emosi…mendidih, sehingga tumpah tak terbendung. Komitmentasi aksi lebih dari sekadar kuat terikat. Plot demonstrasi telah dirancang sesuai dengan misi. Tensi aksi dinaikkan…show of force…bahwa masih ada kekuatan yang eksis di tengah dominasi kekuasaan penguasa. Ban-ban dibakar satu per satu…api menjalar menjilat debu yang beterbangan di jalanan.
Suasana berubah tegang. Aparat lebih waspada…menatap cermat dengan mata liar mencari mangsa. Aparat maju mendekat, terus mendekat. Detik-detik seperti mencekik. Nafas turun-naik didera pecut situasi yang mencekam. Anggoro mengambil inisiatif,… mengobrak-abrik permainan psikologis yang terlentang menjalang di depan matanya. Microphone kembali berada di tangannya, “Jangan gentar, kawan-kawan !. Hari ini atau tidak sama sekali !. Rapatkan barisan…blokir jalan-jalan protokol !”. Selangkah menuju konfrontasi, yel-yel kembali terdengar nyaring sekali, “hati-hati provokasi !”. Lintasan arus lalu-lintas utama kota macet total. Barisan merah berdiri layaknya benteng di tengah jalan...menutup ruas jalan hingga terhenti seketika. Para aparat mendadak panik sepeti kebakaran jenggot. Logika represi…cerita lama ; Bubarkan dan amankan, kemudian ciduk komandan lapangan. Seperti kredo saja, tak berubah bombastis meski berganti setting sosial-politik negara. Sirine berbunyi, selanjutnya…water cannon.
***
Lokal parkir kampus. Pukul 14.00 Berkali-kali revisi, hanya itu dan itu saja. Terkadang jenuh dan bahkan nyaris tak berdaya. Apa mau dikata ?!, mau tidak mau harus dilalui. Konon katanya hal itu disebut sistem akademis. Harapan kembang-kempis terpendam di hati. Andaikata bukan karena cahaya fitri Emak…kupasti benar-benar terpuruk. “Maafkan aku kanda Fraire…kujelas belum mampu menyebarkan warta gembira tentang pendidikan untuk kaum tertindas. Tertunduk malu aku dihadapan bung Illych…belum saatnya bung di negeri ini berbicara pendidikan yang membebaskan, apalagi membubarkan tirani sekolah. Maaf Kang Ibing…nampaknya sulit mencapai derajat konsepsi kemanusiaan a la kabayan yang cerdas meramu pahit-getir kehidupan menjadi riang tawa jenaka”, aku meratap sendu di pojok lokal parkiran kampus.
Menyedihkan. Bersilang-sengketa sejenak dengan Abang Foucault…kuakui ada benarnya juga apa-apa yang disampaikannya, “benar di dunia ini ada sesuatu yang disebut hipotesis represi !”. Ahh…kuhela nafas sedalam-dalamnya demi membayar defisit semangat yang terkikis ombak gundah-gulana. Apa lacur ?!. Belum cukup hatiku hancur, tak kusangka masih ada serangan lain yang kembali mencakar lorong-lorong batin. Suara bising dari knalpot mobil sport ditambah hantaman musik techno yang sengaja diputar keras. Melintas pongah… acuh tak tahu-menahu. Ribut-ribut suara manusia, rupanya Ronin bersama kurawa-kurawanya yang setia. Hampir satu semester ini Ronin tak kelihatan di kampus. Kabarnya Ronin asyik dugem terus sampai berpuluh-puluh semester pendek harus dijalaninya. Hebatnya Ronin santai-santai saja, tak peduli !. Dunia yang aneh !...atau tak adil bisa jadi. Aku dongkol…hati merintih sekeras-kerasnya. “Beuuuh…tiga cewek kemarin tuh betul-betul mantap, man !. Sayang, ngga ada yang virgin. Gua nge-room sampai jam 4, terus cabut !. Kita open bottle lagi nanti malam, sob !”, Ronin penuh percaya diri menuturkan setiap detail kejadian yang telah dirasakannya. Samar-samar kudengar. Masuk ke telinga, merembes ke pori-pori hati, tertelan mentah-mentah. Aku melangkah lesu, awan menemani. Terbata-bata tak percaya, “inikah kerajaan yang telah memberi prestise kemanusiaan seorang manusia ?!, rumah bagi para intelektual muda ?!”. Ingin sekali kuberlari sekencang-kencangnya…enggan menatap ke belakang. Bayangan Ronin, mobil, kacung-kacungnya…dan obrolan memuakkan tentang harga diri perempuan. Ahhh…petaka !. Serasa langit runtuh…harapan, visi, menguap entah kemana. Empat tahun berjuang dalam segala keterbatasan untuk eksistensi diri di tanah harapan ini…nyatanya maya, absurd !.
Merayap terburu-buru. Kupandangi apapun yang ada di depanku, tidak untuk yang di belakang. Biar semua yang di belakang terbenam menghilang…kusongsong fajar yang akan selalu terbit di depan. Terus melangkah tanpa rasa lelah. Tiba-tiba aku terhentak…terkesiap dan pada detik seterusnya…terbius. Kertas putih berisikan coretan tangan yang elok tertempel di dinding Mading Kampus. Baru sempat kubaca hari ini : Kawan…aku hanya ingin membagi sedikit cerita barang secuil saja. Kuharap kalian bersedia memetiknya…menggenggam untuk kemudian kalian makan dengan lahap atau kalian ludahi dengan seribu sumpah serapah.Tragis-kah, ironis…atau mungkin komedi ?…terserah kawan menilai seperti apa.Kisah sepotong baju, kawan !...yang biasa kusandang !. Sepele, kawan !, tapi menyakitkan.Baju zirah !...baju zirah !...yang terlampau berat hingga berkali-kali kutersungkur.Baju zirah !...yang penuh karat karena terlalu lama teronggok di gudang. Baju zirah !...akhirnya sampah !...ya !, sampah !. Ya, kawan…sampah !. Aku yang berbaju zirah !...sampah !. Keteliti setiap sisi tulisan itu yang memaksaku untuk berhenti. Ada guratan tinta hitam yang melukiskan seorang pribadi. Anggoro…sang maestro tulisan itu. Aku merenung…tak terasa timbul niat untuk melempar isak tangis. Baju zirah…simbol eksistensi manusia di tanah harapan ini. Aku tersadarkan !...tercerahkan !...viva !. Tersempal tanda tanya besar, “Anggoro…di mana kau berada ?!”.
________________________
Purwakarta, 17 Juni 2008 Originally Dedicated To Rangga “Kobenk” My Beloved Brother—rest in piece, bro !May God Bless U…
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Baju Zirah




































