<< Cerpen Bagaimana Kau Menjelaskanku  >>

Bagaimana Kau Menjelaskanku

E-mail Cetak PDF
 

Bagaimana Kau menjelaskanku
Oleh : Yathi Hasta

 

Abang, tdk semestinya org ke-3 boleh mutusin hubungan kita. Kita yg menjalin, tp knp Kak Rani yg mutusin? Biar dia kakak kandung Abang, tapi mana berhak dia mencampuri urusan cinta kita?! Reli tahu, selama ini Kak Rani yg membesarkan Abang dan membiayai study Abang sampai S2, tp hidup  Abang kan ada di tangan Abang sendiri, bukan di tangannya!

 

          Rel, berulangkali Abang membaca sms-mu yang panjang ini, seperti juga saat ini. Abang ingin sekali bisa menjelaskan ke kamu, Rel. Tapi Abang tidak yakin, kamu akan bisa memahami perasaan Abang, karena kamu tidak tahu persis bagaimana perasaan orang yang menanggung beban karena terlalu banyak menerima kasih dan budi. Yang Abang tahu saat ini, rasanya Abang ingin sekali cepat-cepat bisa membalas pengorbanan Kak Rani dengan apapun yang Abang bisa, yang Abang punya. Abang ingin selalu memberikan lebih, lebih dan sepertinya tak akan pernah puas ingin "mengembalikan" apa yang sudah Abang terima.

          Kak Rani bekerja ekstra keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami. Seringkali Rivan keponakanku, tidak mendapatkan apa yang sangat diinginkannya, karena uangnya dikumpulkan untuk biaya study Abang. Mengertikah kamu, Rel? Abang sangat sedih setiap hari melihat Kak Rani mencuci begitu banyak pakaian dengan tangannya sendiri, karena ia selalu menunda untuk membeli mesin cuci. Lagi-lagi, karena uangnya lebih diutamakan untuk Abang. Kalau Abang berusaha membujuk untuk membantunya, ia selalu bilang, "Belajar saja sana! Bawa juga keponakanmu itu ke kamarmu, biar tidak mengganggu pekerjaan Kakak!"

          Itulah kakakku, ia satu-satunya orang yang berpenghasilan di keluarga ini, setelah kaki kakak iparku lumpuh dan memakai kursi roda sejak 5 tahun belakangan ini. Jadi, ia adalah tulang punggung dan kepala keluarga di rumah ini. Bagi Abang, Kak Rani adalah kakak sekaligus orangtua Abang. Kalau Kak Rani bilang A, maka Abang harus mengikutinya, bukan karena Abang lemah atau tidak punya sikap. Tapi karena Abang tidak ingin tambah menyusahkannya, apalagi menyakitinya kakak yang telah mengambil alih tugas ayah sekaligus ibu untuk membesarkan dan mendidik Abang karena orang tua kami meninggal saat kami masih kecil. Inilah poin yang paling sulit kamu pahami, Rel. Seandainya kamu bisa memahami ini dari perspektif Abang, maka kamu akan mengerti dengan baik mengapa Abang selalu mengikuti apa kata Kak Rani.

          Masalah Abang dengan Kak Rani bukan masalah hutang-piutang yang bisa dilunasi setelah jumlah tertentu terpenuhi. Kalaupun toh dianggap hutang, maka hutang Abang padanya tidak akan pernah lunas karena Kak Rani membesarkan Abang bukan dengan uangnya tapi dengan kasih sayang, atau kalau dia sih menyebutnya tugas, kewajiban, tanggung-jawab dan amanah.

           "Katanya mau mengerjakan thesis, kok malah bengong? Ini, makan dulu!"

           Aku terkejut dengan kedatangan Kak Rani yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan membawa makan malamku. Kemana Rivan? Mengapa Kak Rani sendiri yang membawanya kemari?

           "Habis makan, Kakak tunggu di ruang keluarga!"  

          Aku tidak menjawab, tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku, karena terlanjur kepergok bengong. Aku merasa bersalah. Seharusnya aku belajar keras seperti harapannya. Seperti ia bekerja keras memenuhi kebutuhanku. Tapi, ada apa Kak Rani memanggilku ke ruang keluarga??

            ...................................

           "Duduk! Kenapa masih berdiri mematung di situ?"

           "Iya, Kak."

           "Bilang sama Kakak, kamu kenapa?"

           "Kenapa apanya, Kak?"

           "Kamu ini! Apa saja yang kamu kerjakan di kamar? Bukan mengerjakan thesis, kan? Berbulan-bulan minta ijin makan malam di kamar dengan alasan sambil mengerjakan thesis, tapi sebenarnya mengurangi tatap muka dengan Kakak, kan? Kamu ngambek sama Kakak?"

           "Tidak, Kak."

           "Sudahlah Sandi, Kakak sudah tahu. Dengar, memang Kakak yang membesarkan dan menyekolahkan kamu. Tapi bukan berarti Kakak bisa mengatur kehidupan pribadi kamu. Kakak tidak sungguh-sungguh melarang hubungan kamu dengan Reliana waktu itu. Kakak hanya ingin tahu kesungguhan kamu. Tapi...sejak itu, kamu tidak pernah membicarakan lagi masalah itu dengan Kakak, apalagi membujuk Kakak untuk merestui hubungan kalian. Jadi Kakak pikir kamu juga tidak serius sama dia, lagian kakak lihat sejak kamu putus sama Reliana kamu tampak baik-baik saja. Iya, kan?"

           "Jangan berpikir praktis begitu, Ma. Tidak sesederhana itu. Lagian, Mama ini kayak nggak tahu Sandi saja. Adikmu itu kan selalu patuh apa kata Mama, suka nggak suka dia selalu ikuti kemauan Mama. Tak pernah sekalipun membantah. Sandi adalah robot yang sudah terprogram untuk selalu mengikuti kata Mama. Sudah berapa lama sih jadi kakaknya? Masih belum paham juga. Heran..." bantah kakak ipar membelaku.

           "Iya, deh. Sebagai kakak ipar kamu justru lebih paham karakter Sandi daripada aku, kakak kandungnya sendiri."

           "Emang iya."

           "Ya, sudah sekarang begini saja, Sandi. Kalau kamu memang serius sama Reliana kamu boleh bawa dia ke sini."      

           "Betul, Kak?"

           Kak Rani tidak menjawab hanya tersenyum sambil mengaggukkan kepala. Aku segera melesat ke kamar untuk menghubungi Reli. Tapi setibanya di kamar, kulihat Rivan sedang asyik main game di hp-ku.

          Tak mungkin aku mengambilnya.

          Tapi aku sungguh tak sabar untuk menghubungi Reli. Mungkin sebaiknya aku menggunakan telfon rumah.

           "Om Sandi mau pake hp-nya, ya? Ini!" tanya Rivan sambil menyerahkan hp-ku.

           "Eh, iya, sayang. Sebentaaar saja, ya. Ntar Rivan pake lagi, ok?"

           "Enggak usah, Rivan main catur sama ayah saja, ah."

          Aku memperhatikan Rivan yang keluar dari kamarku sambil melompat-lompat riang. Senang juga punya keponakan yang baik dan mau mengalah sama om-nya.

          Aku mulai menghubungi Reli, tapi begitu telfonku mulai terhubung dan terdengar nada sambung dari seberang, aku jadi gelisah dan nervous. Sama seperti saat aku nembak Reli.

          "Jangan diangkat dulu, jangan diangkat dulu," pintaku dalam hati. Dan, benar saja akhirnya telfon mati sebelum sempat diangkat.

          Tapi...sedang apa kamu, Rel? Kenapa telfon dari Abang tidak diangkat? Atau, jangan-jangan kamu sengaja tidak mau terima? Ah, coba sekali lagi. Mungkin Reli masih kecewa sama aku. Reli, angkat telfonnya ya, karena Abang akan memberimu kabar baik.

          Kembali aku coba menghubunginya, tapi setelah tersambung malah di-reject.  Kenapa, ya? Apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau aku kesana sekarang, takutnya pintu gerbang rumah kost-nya sudah dikunci, itu artinya kepergianku kesana akan sia-sia. Tapi, rasanya aku tak bisa menunggu sampai besok. Aku tak mau membiarkannya berlarut-larut dalam kekecewaan yang lebih lama. Ah, lebih baik aku pergi, sedikit ngebut kan nggak apa-apa. Yeah, itulah jalan ke luar satu-satunya.

          Aku menyambar kunci motor di atas meja, lalu melesat ke garasi. Saat menghidupkan mesin, kudengar suara langkah kaki Kak Rani tergesa mendekatiku. Aku siap menerobos malam yang sedang hujan untuk menemui Reli yang sedang kecewa karena aku.

          "Sandi, hati-hati kamu! Hujan, jalanan licin, jangan ngebut!" pesan "ibuku".

          "Iya, Kak. Sandi pergi dulu, Kak."

          Kak Rani tidak menjawab, tapi aku dapat melihat bias kekhawatiran wajahnya dari kaca spion. Aku meninggalkan rumah tergesa. Kupacu Jupiterku 120 km/jam. Aku harus sampai di sana setidaknya jam 9.55. Walaupun hanya 5 menit tapi itu akan cukup untuk mengabarkan kegembiraan ini. Aku ingin melihat binar mata dan jerit kegembiraannya. Dan setelah ini aku akan hidup dengan rasa lega tanpa ganjalan di hati.

          Stop! Yeah, akhirnya aku sampai di depan pintu pagar rumah kost Reli. Tapi...siapa pria yang sedang mencium kening Reli itu? Surprise yang tidak menyenangkan!

          Aku membuang muka untuk menghindari pemandangan itu. Aku sungguh tidak menyangka Reli yang selama ini aku pikir sedang sedih dan kecewa karena hubungan kami putus ternyata sudah menjalin hubungan dengan pria lain dalam waktu kurang dari 3 bulan. Cepat sekali dia melupakan aku dan menemukan penggantiku. Lebih baik aku pergi. Aku tidak memerlukan penjelasan tentang siapa pria itu dan mengapa dia mencium Reli, semua sudah jelas.

          Aku menyeka air hujan di wajah....seraya memandang petir di langit yang berkilat-kilat menyambar seperti sedang marah. Seperti aku saat ini.

          Tet...tet... Pacar baru Reli membunyikan klakson. Aku melihat Reli ada di dalam mobil itu, sedang membuka pintu mobil, lalu setelah pintu terbuka ia pun membuka payung dan ke luar untuk membuka pintu pagar. Aku menggeser motorku untuk memberi jalan pada pacar baru Reli. Laki-laki itu membuka kaca mobil dan menyempatkan diri mengucapkan terima kasih padaku. Tampaknya, ia lelaki yang ramah dan sopan. Sekarang, ia sedang melambaikan tangan pada Reli sebelum akhirnya meninggalkan tempat ini.

          "Abang, dia..."

          "Abang tidak memerlukan penjelasan apapun. Abang datang ke sini untuk memberimu kabar baik, tapi sekarang semua itu sudah basi."

          "Kabar baik apa, Bang?" tanya Reli sambil menghadangku.

          "Minggir!"

          "Bilang dulu, Bang! Kabar baik, apa?"

          "Kenapa Abang harus bilang? Sudah tidak ada gunanya."

          "Reli masih sayang sama Abang?"

          "Baru saja Abang melihat kamu tersenyum bahagia dicium laki-laki itu dan setelah dia pergi kamu bilang kamu masih sayang sama Abang? Abang sungguh tidak mengerti kamu, Reli."

          "Abang tidak akan bisa mengerti."

        "Ya, Abang memang tidak akan bisa mengerti dan tidak akan pernah bisa mengerti. Saat laki-laki itu menciummu dan kamu tersenyum, apakah saat itu kamu ingat Abang dan....apa kata hati kamu saat itu? Kamu akan tahu betapa sulitnya menjelaskan ini pada Abang, sama sulitnya Abang berusaha membuat kamu mengerti mengapa Abang selalu patuh pada Kak Rani." 

-Selesai-

Joomlart