<< Cerpen Sesalan  >>

Sesalan

E-mail Cetak PDF
 

Sesalan
Oleh : Yathi Hasta

 

           Ku hendak sandarkan punggung di kursi, tuk sejenak istirahatkan pikiran. Tapi, belum juga punggungku menempel, hapeku malah bebunyi. Dengan rasa ogah-ogahan ku intip nomor yang muncul, nomor asing rupanya. Hmh, siapa sih?

           "Halu...?"

           "Misti, ini aku...Tahta..."

           "Hey...Tahta!! Pa kabar?!"

           "Baik...Kamu sendiri gimana?"

           "Ku juga baek. Kamu ke mana aza, seh?"

           "Nggak ke mana-mana, kok. Kamu saja yang pindah kos dan ganti nomor nggak bilang-bilang. Aku jadi kehilangan jejak kamu."

           "Heeh, iya ya. Abis, ngubungin kamu juga susah. Terlalu banyak nomor, siih. Jadi bingung. Trus, dari mana dong kamu tahu nomorku?"

           "Dari Pian. Oh ya, ada yang mau aku omongin, nih. Tapi, sorry ya, terpaksa ngomongnya lewat telfon. Padahal, hal sepenting ini. Habis, sudah tidak ada waktu lagi. Jadi ya apa boleh...."

           "Jadi ya apa boleh baut?" sahutku cepat. Aku dan Tahta tertawa serentak. Hm, bahasa lama muncul kembali.

           "Ya, udah. Sekarang bilang! Da apa sih? Kok kayaknya penting banget?"

           "Gini, sebenarnya aku mau ngundang kamu ke acara resepsi pernikahan aku."

           "Oh, ya? Kapan?"

           "Minggu depan."

          "Minggu depan? Wah, cepet juga ya, kamu nikahnya. Kok ngeduluin aku, seh? Tapi, tenang aza, ku pasti datang, kok."

           "Aku tahu, tapi...."

           "Tapi apa? Kok ragu?"

           "Ada hal lain yang mesti aku sampaikan ke kamu, Mis."

           "Apa, sih? Kok, jadi serius gitu?"

           "Ya...ini karena aku pernah janji sama diri aku sendiri...."

           "Janji apa? Emang da hubungannya ama aku?"

"Ya. Waktu itu, aku janji sama diriku, kalau akhirnya aku nggak bisa dapetin kamu, setidaknya aku harus ngungkapin isi hati aku ke kamu sebelum aku merit sama orang lain."

           "Apa?! Kamu becanda ya?"

           "Nggak, Mis. Diam-diam sebenarnya dulu aku sayang sama kamu."

           "Benarkaaah? Napa gak pernah bilang?"

           "Ya...soalnya...."

          "Sorry ya, sebagai teman yang pernah deket, ku gak tahu isi ati kamu. Ketahuan banget ya, ku gak care sama temen?"

           "Nggak papa. Kalau kamu nggak tahu, berarti aku berhasil."

           "Berhasil apa?"

           "Berhasil membuat kamu nggak menyadari perasaanku."

           "Ah, kamu. Mang napa mesti dirahasiain segala?"

           "Habis, saat itu kamu lagi jatuh cinta sama the Pianist. Setiap saat kamu cerita tentang dia. Bahkan, kamu taruh fotonya di screensaver kamu. Jadi, aku jadi tahu, kamu bener-bener suka sama dia. So, mending aku mundur."

           "Tapi kan kamu tahu, akhirnya ku juga gak bisa dapetin dia. Napa setelah itu kamu juga gak ngomong?"

           "Saat itu aku berfikir, aku ini bukan tipe cowok idaman kamu, bukan selera kamu. Parahnya lagi aku sama sekali nggak bisa main piano. Berkali-kali latihan pun hasilnya tetep big zero. Jadi, tidak ada gunanya juga aku ngomong, ntar nyusahin kamu lagi."

           "Nyusahin? Nyusahin gimana?"

           "Ya, kamu ntar bingung antara nerima apa enggak. Kalau mau diterima, nggak cinta, kalau mau nggak diterima, nggak tega ama aku. Kan jadi kasian kamunya."

           "Kamu kok ngomongnya gitu, sih?"

           "Soalnya kamu kan pernah bilang nggak mau ngejalin hubungan dengan cowok yang nggak kamu cintai."

           "Siapa bilang ku dulu gak cinta kamu?! Cinta lagi! Kamu aza yang gak nyadar."

           "Apa?! Kamu bercanda, ya? Jangan ngejek aku seperti itu, dong!"

           "Gak, Ta. Sebenarnya sebelum aku demen sama the Pianist, aku tuh sukanya sama kamu, tapi kamu pernah bilang aku ini mirip mantan cewek kamu, so ku pikir kamu akrabi aku cuma karena itu. Jadinya , kurasa lebih baek, tidak usah berharap jadi pacar kamu."

           "Oh, my God! Itu sih bisa-bisanya aku saja. Sebenarnya tidak begitu lagi. Itu hanya cara agar bisa ngobrol banyak sama kamu. Yah, klise memang."

           "Oh, ya?"

          "Ya, begitulah. Jadi sebelum suka sama the Pianist, kamu suka sama aku lebih dulu? Bener begitu?"

           "Ya bener lah. Dan sama the Pianist itu, ku bener-bener bertepuk sebelah tangan akhirnya."

           "Misti, aku menyesal. Sekarang bagaimana?"

           "Bagaimana apanya? Kamu harus tetap menikah dengan calonmu, dong. Mungkin memang kita tidak jodoh kali, ya?"

           "Sebelum menikah aku ingiiiin sekali mengatakan isi hatiku agar tidak jadi sesalan, tapi sekarang aku lebih menyesal, Mis."

           "Sudahlah, Ta. S'mua dah sangat terlambat. Kita jangan sakiti orang lain. Ini salah kita, juga takdir kita. Jangan sampai kita yang salah, orang lain yang nanggung akibatnya, gak adil buat mereka. Iya, kan?"

           "Mis, apa kamu masih sayang sama aku?"

           "Aku rasa tidak, s'mua itu dah berlalu, Ta. Ku memang suka sama kamu, tapi itu dulu, hanya perasaan yang sesaat. Sekarang dah lupa," jawabku enteng.

           "Misti, kamu bohong, kan?"

           "Gak, Ta. Swear! Itu sudah lama banget, lagi! Aku dah lupain semua."

           "Misti, aku jadi nggak bisa berfikir lagi, kepalaku mampet! Tersumbat!!"

           "Tenang, Ta! Kok kamu jadi sewot gitu, sih?"

           "Kalau gitu, tolong jangan datang ke pernikahanku, ya?! Please!!"

           "Apa?!"

           "Tolong, Mis!"

           "As you wish. Tapi kenapa kamu jadi uring-uringan gitu? Jangan masukin ke ati apa yang tadi aku bilang, ya?"

           "Sudah, ya. Bye, take care."

           "Hey, tunggu!."

           Tahta mematikan sambungan telfon. Tak sadar airmataku jatuh berderai. Kasihan Tahta, pasti kata-kataku tadi sudah nyakitin banget perasaannya. Bisanya ku bicara seperti itu....

           Hapeku bebunyi. Ada sms masuk. Aku meraihnya dan membuka inbox. Pasti dari Tahta.

           Ya, benar.

           Misti, pernikahanku akan menjadi suatu kebohongan. Aku masih sayang banget sama kamu. Tapi kalau kamu bilang seperti itu, apa boleh buat? Aku harus meneruskan pernikahan ini dan hidup dalam sesalan. Sungguh ini akan menjadi tangisan dalam hati.

           Ku tertegun. Kata-kata yang memilukan. Pasti wajahnya juga sedang sendu, sama seperti saat ia menyesal telah salah pasang komputer unitku sehingga CPU-nya mati. Trus, sekarang ku mesti bilang apa untuk menghiburnya? Atau...tidak usah bicara apa-apa? Iya, kali ya? Nggak usah bicara apa-apa saja lah. Takut salah ngomong lagi, pikirku setengah yakin.

           Lalu kucoba meneruskan paperku. Namun di tengah kesibukan yang belum lama kumulai, "ruang rindu"-nya Letto nyaring terdengar. Ku memang masih demen banget nada sambung itu. Ku lihat screen hapeku, Tahta lagi??

           "Ya, Ta. Ada a....?"

           Uuh, sopannya...ngomong belum selesai malah dimatiin. Apa maunya sih? Ngambek apa, ya? Tapi...aku telfon balik aja, ah. Mana tahu tadi tuh low-batt atau, nggak ada sinyal. Kan, ku gak boleh suudzon....

           "Ada apa, Ta?"

           Tahta di seberang sana tidak menyahut. Hanya menarik nafas panjang.

           "Sudahlah, jangan cengeng. Ntar acaranya jadi berantakan, lho."

           "Acaranya jadi berantakan kamu pikirin, kalau hidupku yang berantakan apa nggak kamu pikirin?"

           "Tidak, hidupmu akan baik-baik saja. Percaya, deh!"

           "Aku tidak yakin. Gini aja, aku mau ketemu kamu. Sekarang!"

           "Aku gak bisa anak kecil. Aku ada tugas yang harus dikumpulin besok. Gak mungkin banget, deh."

           "Kalo gitu, nanti malam."

           "Aku gak janji."

           "Kamu harus janji! Aku akan culik kamu."

Tahta yang tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil itu langsung mematikan hape-nya. Dia tidak mau tahu aku sempat atau tidak. Dalam kamusnya, malam ini aku harus datang, tidak boleh tidak.

 

***

 

           "Mis, makasih banget ya, akhirnya kamu mau juga ngeluangin waktu untuk nemuin aku."

           "Itu karena aku masih nganggap kamu temen."

           "Thanks. Tapi Mis, kita harus bertindak cepat. Kita tak ada waktu lagi...." kata Tahta begitu bersemangat sambil menatap mataku penuh harap. Aduuuh, ku jengah dengan tatap matanya yang seperti itu. Dia gak boleh begitu lagi!

"Kita?" tanyaku sambil melepaskan tangan dari genggamannya, "Harus bertindak cepat? Bertindak cepat apa, Ta? Semua akan berjalan seperti rencana. Teruskan pernikahanmu. Aku gak mau semua berantakan hanya karena akuuu...."

           Entah mengapa tiba-tiba temperatur darahku naik, emosiku terpancing. Ku tak mau membawa lari pengantin orang menjelang hari pernikahannya. Ku tak senekat itu.

          "Please change your mind, Misti! Beri aku kesempatan kedua, pleeease! Kita harus bersatu dan pasti akan bahagia. Mumpung kita masih ada waktu. Jangan sampai menyesal nanti!"

          "Kesempatan apa? Waktu apa? Ku paling gak suka karena masalahku orang lain yang harus menanggung kesusahannya. Bagaimanapun juga, ku tetap pada keputusan awal. Tidak ada kebahagiaan yang bisa dicapai bila ada yang menderita karena kita. Ngerti? Ngerti, nggak? Ngerti, kan? Kamu harus ngerti itu!"

          "Aku, dia dan kamu akan lebih menderita bila pernikahan ini tetap dilaksanakan. Aku sudah tidak ada spirit lagi meneruskan pernikahan ini, Misti. Mengertilaaah!!"

          "Apa maksudmu?"

         "Aku menikahi dia karena tak ada pilihan lain. Idealisme aku yang sebenarnya sederhana, untuk bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku tak pernah tercapai. Aku give up. Aku kira aku akan bisa mencintai dia setelah melewati masa-masa dalam pernikahan. Cewek yang akan aku nikahi ini gadis yang sangat baik, perhatian, selalu berupaya membuatku senang dan memang dia tergila-gila banget sama aku. Istilah kata, everything I do I do it for you. Itulah mengapa aku menikahinya."

         "Tega ya, kamu! Kamu beri dia harapan tinggi, mengajaknya menikah, lalu mau kamu gagalkan begitu saja?! Hanya karena ku bilang, dulu ku juga cinta kamu? Itu kan dulu, Tahta!! Sekarang sudah tidak lagi. Mengertilah...Dan coba deh kamu bayangkan kalo kamu jadi dia!"

          "Misti, tidak mengertikah kamu apa makna semua ini?"

         "Apa? Apa coba maknanya??"

        "Bahwa Tuhan menghendaki kita bersatu. Itulah mengapa, meskipun terlambat dan harus menggagalkan rencana pernikahanku...."

        "Ku tak sependapat. Ku tetap pada prinsipku. Jangan aneh-aneh, deh!" kataku kesal sambil beranjak.

        "Misti, tunggu!"

         Ku berlari tak menghiraukan panggilan Tahta. Jengah menghadapi permintaannya yang aneh. Ku sama sekali tak berfikir untuk menyakiti wanita lain, tapi ku juga kehabisan kata-kata untuk bisa membuat Tahta mengerti. Ku menyesal telah begitu saja berkata dengan jujur....

        Jadi benarkah kata orang bahwa yang jujur malah akan hancur? Tapi, bila itu benar pasti dunia akan menjadi sangat mengerikan. Semua orang mungkin akan berfikir tidak perlu  berbuat dan berkata jujur. Mungkin...yang benar adalah kejujuran yang tidak tepat waktu atau kejujuran yang tidak pada tempatnya itulah yang akan membawa kehancuran. Dan, kejujuranku kemarin itu....

        "Aaaaaaarrrrgggghhhh!!!!!!!!!"

       Entah apa yang tadi terjadi, ku seperti terbang melayang sangat tinggi, lalu brrruuuukkkkk!!!!! Terhempas jatuh. Jantungku pun terasa lepas dan meluncur ke luar meninggalkan raga. Entah, entah apa yang terjadi padaku.

 

***

 

         Ku buka mata. Ku serasa baru bangun dari tidur, lalu bangkit dan berdiri. Tapi...mengapa ada banyak orang berkerumun di sekitarku....Oh, Tuhan! Yang sedang dikerumuni orang-orang itu adalah.....Itu jasadku, bukan? Jadi aku? Aku sudah mati? Aku mati seketika saat tertabrak mobil itu? Tidak mungkin! Tidak mungkin!! Aku belum mau mati!

        "Misti, bangun Misti! Maafin aku, maafin aku!. Aku janji, aku akan melanjutkan pernikahanku. Aku tidak akan memaksa kamu menikah dengan aku lagi. Aku janji. Tapi kamu harus  bangun. Bangun dong, Misti! Ku mohon!"

        "Sudahlah, Nak. Dia sudah tiada. Coba letakkan telapak tanganmu di depan hidungnya, tidak ada nafas, kan?" bujuk seorang bapak sambil memegang dan mengelus pundak Tahta yang meraung-raung.

       "Dia cuma pingsan, Pak.  Dia cuma pingsan. Dia Cuma pingsan," raung Tahta berulang-ulang hingga suaranya parau lalu habis. Ku memandang dia dari dunia yang telah lain, dunia yang tak mampu ia lihat, ia sentuh.

        Selamat tinggal, Tahta. Jangan kaujadikan ini sebagai sesal yang berkepanjangan agar aku bisa pergi dengan tenang. Aku pergi, Tahta. Aku pergi....

Selesai-

Joomlart