PERCAYALAH, SASTRA ADALAH NAFAS KAMI
Oleh: Pranarni
Pagi yang hangat, jam. Pada saat perkuliah kritik sastra di sebuah Universitas ternama, dosen mengajukan pertanyaan pada mahasiswa. “Saudara, siapa di antara kalian pernah mendengar Ronggeng Dukuh Paruk?”
Mendengar pertanyaan tersebut, hampir seluruh mahasiswa menjawab dengan semangat. “Tau...!
Belum puas dengan reaksi tersebut dengan semangat yang tinggi dosen bertanya lagi pada mahasiswanya, “Saudara, siapa di antara kalian yang sudah membaca tuntas novel Ronggeng Dukuh Paruk ?”
Reaksi Mahasiswa pada saat menerima pertanyaan kedua amatlah berbeda dengan reaksi saat menerima pertanyaan pertama. Sedikit sekali mahasiswa yang mengacungkan tangan. Satu, dua orang anak menjawab dengan kata, “belum!”.
Sepenggal kisah di atas bukanlah sebuah anekdot yang rumpang dari sebuah pembelajaran sastra, namun sebuah kisah nyata yang terjadi di perkuliahan sebuah Universitas. Ironinya pertanyaan tersebut adalah untuk Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebuah berita yang cukup menyedihkan tentunya, bagi dunia sastra Indonesia. Mereka yang akan meneruskan sepak terjang pendidikan sastra, tetapi mereka sendiri tidak akrab dengan sastra bahkan masih belum mencintai apa itu sastra. Mengapa demikian? Untuk memahami itu semua memerlukan sesuatu untuk menjembatani pemuda sastra dengan mengetahui fungsi sastra itu sendiri, nilai-nilai yang terkandung dan manfaat karya sastra. Sehingga merentaskan sastra di dalam hatinya menjadi lebih mudah dan terbuka untuk menerima sastra sebagai bagian dari nafas hidup pemuda-pemudi sastra.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Percayalah. Sastra adalah Nafas Kami






































Comments
sastra bukanlah sejarah yang harus dihafal atau diketahui semua peristiwa, kejadian dimasa lalu. sastra adalah seni untuk melihat dan menunjukan "jiwa" yang terkandung dalam itu. dengan sedikit mahasiswa yang benar2 membaca tuntas novel tersebut bukan berarti mereka tidak mengerti sastra kan?