<< Artikel Oh Indahnya  >>

Oh Indahnya

E-mail Cetak PDF

OH INDAHNYA
Oleh: Aitakatta

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi sebuah desa. Secara tidak sengaja, saya melihat ada banyak warga desa melakukan pembangunan sebuah rumah. Terlihat aneh karena hampir semua warga desa itu bekerja dengan penuh semangat, yang laki-laki ada yang mengaduk semen, mengangkut batu bata, dan mengecat, sedangkan yang wanita sibuk menyiapkan makanan untuk para pekerja. Karena rasa penasaran akhirnya saya mencari tahu tentang apa yang sedang mereka lakukan. Ternyata itu adalah program bedah rumah. Program yang digagas oleh warga masyarakat desa itu sendiri. Mereka membuat panitia sederhana, membuat rencana kerja, hingga pengumpulan dana. Saya teringat dengan program serupa yang disiarkan oleh sebuah stasiun TV swasta di Indonesia yang didasari rasa kemanusiaan, rasa solidaritas yang tinggi melihat ada seorang warga di wilayah tersebut yang terhimpit kesusahan. Walaupun sebagian penduduk di desa itu juga hidup dalam kondisi pas-pasan, tetapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk ikut serta membantu dan meyukseskan program tersebut. Kerja yang begitu tanggap dan cepat sehingga dalam hitungan beberapa bulan sudah terkumpul dana untuk pembangunan rumah yang akan dibedah. Sumbangan datang dari mana saja yang dengan sukarela memberikan sedikit rejekinya maupun tenaganya. Dalam benak saya hanya terbersit kata "Oh Indahnya". Benar-benar indah jika kehidupan negara ini seperti para warga di desa itu. Tidak ada perselisihan dan pertikaian, semuanya bersatu dan menyadari perbedaan di antara mereka baik itu suku, ras maupun agama sebagai perbedaan yang hakiki dan justru menjadi pemacu semangat untuk terus bekerja keras. Oh... Indahnya jika kita mampu memanfaatkan segala kekayaan alam yang kita miliki untuk kesejahteraan bersama. Oh…Indahnya jika kita memiliki rasa senasib sepenanggungan, mau membantu sesama kita tanpa pamrih.

Refleksi pengalaman saya tadi mengkhayalkan rasa pada sebuah harapan, harapan kelak Indonesia akan mempunyai rasa gotong royong dan kebersamaan yang lebih solid menuju cita-cita bersama yang lebih baik. Di bulan Ramadhan ini, kita tidak hanya menahan lapar dan haus tetapi juga mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Sepert kita ketahui bersama, di media massa baik itu media elektronik maupun cetak, banyak perselisihan yang mengatasnamakan agama, mementingkan suku/ras tertentu yang tentu saja memperlemah persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Masyarakat menjadi saling tidak percaya, mudah terprovokasi yang sebenarnya ada oknum-oknum tertentu yang sengaja memprovokasi untuk memecah belah bangsa ini.  Oknum-oknum itu merasa senang jika melihat pertikaian di negeri ini. Mereka seperti tidak rela jika kita sesama bangsa Indonesia hidup bersatu dan berdampingan. Sebagai warga negara yang baik, kita patut waspada terhadap hal-hal yang ingin membuat negara ini hancur. Refleksi pengalaman tadi juga menuntut di bulan Ramadhan ini kita mengintrospeksi diri, tidak mengedepankan emosi daripada akal pikiran. Bukan hanya untuk umat Muslim saja, untuk saudara-saudara umat non Muslim juga harus dapat menempatkan diri, menghormati dan menghargai warga yang sedang menjalankan ibadah puasa, tidak memancing pada hal-hal yang menjurus pada pertikaian.

Marilah di bulan yang suci ini, kita masyarakat Indonesia dengan berbagai keanekaragaman dan perbedaannya mulai menyongsong hari depan yang lebih baik. Semoga pengalaman yang saya lihat di desa itu terjadi juga di semua tempat. Cita-cita yang didasari semangat bersama, kegotongroyongan dan solidaritas yang tinggi pasti akan membuat kita semakin mudah untuk mencapainya. Oh…Indahnya.

Joomlart