GURU, IDENTITAS, KREATIFITAS, DAN PROGRESIFITAS
Oleh: Idrus Bin Harun
Pada sebuah training yang diprakarsai oleh PMRI ( Pendidikan Matematika Realistis Indonesia ) di sebuah sekolah dasar di kota Banda Aceh, yang menghadirkan pemateri dari kalangan akademisi, dan diikuti oleh hampir seluruh guru sekolah dasar di wilayah barat kota Banda Aceh itu, mengetengahkan metode praktis dan menyenangkan dalam penyampaian materi ajar matematika, pelajaran yang terkenal rumit dan memusingkan, tidak hanya bagi siswa, juga kalangan guru sendiri diam-diam merasakan hal yang sama.Hal ini lazim, mengingat hampir seluruh antero negeri ini, jika kita tanyakan satu persatu siswa, pelajaran apa yang paling kalian tidak sukai?, mereka serentak menjawab, matematika. Dan kalau pun ada mencintai pelajaran ini, ia dianggap sebagai kolot dan berkepribadian serius, tentu saja ini keliru besar.
Kembali ke seminar di atas. Di antara pemateri itu, hadir juga serombongan bule (tidak jelas jumlah mereka), yang kalau didengar dari bahasa mereka gunakan, bisa dipastikan berasal dari Eropa, tepatnya Belanda, negeri yang puas menjajah Indonesia. Kedatangan mereka tentu saja sebuah motivasi tersendiri bagi kami. Dikarenakan, selain mereka cakap dalam berbicara juga sangat komunikatif ( walau menggunakan penerjemah ). Mereka juga energik, mempunyai vitalitas tinggi untuk saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan pembelajaran, dari perencanaan sampai aplikasi di kelas. walau di antara mereka terdapat beberapa perempuan berumur di atas 50 tahun.
Perhatian saya bukan karena mereka keren dan cantik-cantik. Dan bukan pula karena mereka orang asing yang mempunyai keserbaan. Tidak sekali-kali. Saya merasa diri bodoh melihat beberapa ulasan dan praktek mengajar mereka (harap maklum, rombongan itu adalah mahasiswa keguruan, mereka didampingi oleh dosen ilmu pendidikan dasar), kalau tidak salah mereka sedang melakukan semacam observasi lapangan tentang penerapan matematika realistik di Indonesia.
Dari banyak hal yang saya kagumi dari mereka, ada satu hal yang membuat saya benar-benar terinspirasi, sebelum praktek proses belajar mengajar, ternyata mereka mengawalinya dengan menceritakan sebuah dongeng yang sangat lokal. Yaitu, Nenek sihir (saya hanya menceritakan di awalnya saja). Si bule berperan dengan kostum dan gaya bicara serta tindak-tanduk layaknya nenek sihir yang terkenal jahat. saat sang bule memperagakan dengan totalitas ekspresi sangat bagus, kami sekalian terhipnotis, selanjutnya di akhir peragaan dongeng si bule dengan bahasa Indonesia patah-patah, berteriak ; “semua anak-anak akan saya culik!”. Semua peserta training kaget dibuatnya, karena dari tadi tenggelam dalam penampilan sang bule tersebut dengan gaya teatrikal memukau. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya suasana seperti itu terjadi di kelas bawah ( I, II, III ) Sekolah dasar. Saya yakin siswa tidak merasa bosan jika gurunya pandai memulai sebuah pengajaran dengan mendongeng disertai peragaan akting yang layak.
***
Kemudian, tibalah giliran peserta training untuk mencoba memperagakan apa yang sudah dilihat tadi, sayangnya, hanya beberapa gelintir saja berani maju untuk memperagakan, selebihnya hanya duduk dengan wajah tertunduk, dengan sedikit terpaksa, sang bule menunjuk salah seorang guru yang berpakaian rapi uniform Darma Wanita standar dinas pendidikan, mengenakan rok panjang dengan jahitan ketat , baju lengan panjang tapi menempel ditubuh sehingga memperjelas setiap lekuk tubuh, ditambah jilbab yang ia gunakan adalah jilbab terbaru keluaran butik Islam, namun mirip dengan jilbab teller bank, karena seluruh bagian bawah jilbab dimasukkan ke dalam baju. Sehingga bagian dada terbuka begitu saja.
Dengan agak malas ia bangun dan beranjak ke depan kelas, di depan kelas sang guru meniru dan memperagakan nenek sihir, bergerak ke sana kemari layaknya nenek sihir sedang mencari anak-anak untuk diculik, ia tidak dapat memainkan peran sebagai nenek sihir, dengan sekenanya saja ia memperagakan, tanpa intonasi , tidak jelas artikulasi, selain pakaian yang ia kenakan ketat, sehingga membatasi gerakannya, jelas bahasa tubuhnya tidak memikat, eksplorasi penjiwaan peran juga tidak berjalan efektif.
***
Mungkin hampir merata di tiap sekolah, sebagian besar guru masih belum mau beranjak sedikit dari metode mainstream, metode lama masih kokoh berurat akar dalam segenap guru yang rata-rata hasil didikan pola Orde baru. dalam artian guru masih sangat tabu apabila, di hadapan muridnya berakting peran layaknya di panggung drama (jangan-jangan sebagian guru diwajibkan Jaim atau jaga image). Padahal dalam setiap training mengenai hal ikhwal metode pembelajaran, hampir semua pemateri menekankan pentingnya menggunakan gaya teatrikal. Cacatkah seorang guru bila ditertawai tatkala mengajar menggunakan gaya teatrikal?. Penggambaran demikian bisa menimbulkan sinyalemen atas usah-usaha bersifat laten untuk membatasi kreatifitas guru.
Lalu, apakah seorang guru mesti menguasai ilmu peran layaknya seorang aktor panggung? Meskipun tidak seahli seniman teater, setidaknya ia menguasai bahasa tubuh seorang story teller. Dengan harapan dapat menguasai persepsi siswa ketika ia sedang memberi materi pembelajaran di depan kelas, bukan malah menguasai persepsi siswa untuk selanjutnya memasukkan sejumlah doktrin. Saya ingin mengutip satu statemen Vina Barr, guru teladan Florida, “Kami bukan hanya guru, kami adalah seniman pendidikan, kami melukis pikiran orang-orang muda”.
Apakah dengan berbicara panjang lebar dan mampu menjinakkan kegaduhan kelas lantas tugas guru sudah selesai?. Barangkali saja boleh jadi benar. Mengingat konsep penegakan ketertiban kelas masih belum sepenuhnya berhasil meniadakan sifat militeristik, guru menjadi penguasa tunggal, menekan psikologis anak ( bullying ). Dan tak jarang melakukan kekerasan fisik.
Ini tidak akan terjadi seandainya seorang guru menguasai kelas dengan terlebih dahulu memusyawarahkan metode belajar apa yang akan dipakai dalam penyampaian materi. Ini penting, mengingat dewasa ini kita sering mendengar pendidikan partisipatoris yang lazim digunakan aktivis pergerakan pendidikan kritis, sebagaimana sang pencetus mazhab pendidikan kritis ( Paulo freire ) katakan, “siswa bukanlah objek dari pendidikan, tapi turut pula menjadi subjek pendidikan. Karena siswa bukanlah bejana kosong yang diisi pengetahuan tanpa dilibatkan dalam proses mendapatkan kebenaran ( Banking concept of education )”. Hakikat guru kehilangan identitas, manakala ia serba menguasai, dari penentuan metode sampai arah yang mau dicapai dari sebuah materi ajar.
Masih tergambar dalam ingatan saya masa-masa SD dahulu, tepatnya di kelas enam. Kepala sekolah kami yang sekarang sudah Almarhum ( semoga Allah memberi kemudahan dan tempat layak di sisi-Nya ), sering menjadi guru pengganti saat walikelas kami berhalangan hadir. Tanpa merasa kehilangan kewibawaan, ia sering meminta pendapat kami tentang bagaimana agar kami tidak bosan belajar Matematika, dengan sangat antusias kami memberi saran, bahwa ada baiknya jika belajar itu diselingi dengan cerita-cerita humor atau sejarah para Nabi. Benar saja, kami tidak menjadi besar kepala karena dimintai pendapat, malah ia mendengar dan menjalankan saran kami walau untuk satu mata pelajaran hari itu saja. Begitulah, sebagai anak-anak, kami mendapatkan kembali Surga yang hilang meskipun tak sampai dua jam.
Tugas guru adalah tugas kebudayaan yang tak berorientasi semata-mata pada sisi kognitif dan menafikan dua sisi lain, psikomotorik dan afektif. Pantas saja dewasa ini, output dari pendidikan kita menghasilkan manusia-manusia pintar tapi mekanistik. Di sinilah dibutuhkkan identitas pendidik yang emansipatoris dalam membangun sebuah proses transformasi ilmu dengan relasi dialektis.
Dibutuhkan kreatifitas dalam proses transformasi. Hal inilah yang jarang sekali menjadi titik tolak dalam memulai sebuah proses belajar mengajar oleh guru-guru kita, sejumlah repetisi dari dari metode masalalu masih saja diterapkan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, dalam pengajaran CALISTUNG ( baca tulis dan hitung ) di sekolah dasar kelas awal, yang sebenarnya membutuhkan kesabaran pada tingkat tinggi. Akan tetapi guru masih saja menggunakan pola-pola lama yang sangat menekan dan otoriter ( yang pernah sekolah tentu saja dapat membayangkan betapa tersiksanya ketika disuruh menghafal abjad dan angka-angka di bawah tekanan mental dan suasana buruk ).
Guru kehilangan orientasi pedagogik, minim kreatifitas karena desakan pendidikan pragmatis. lebih senang mengajar sekenanya saja, mengingat tidak ada yang perlu mereka capai dalam pembelajaran, selain keberhasilan dan keluar sebagai pemenang dalam menghadapi ujian ( baik UAN atau ujian sekolah ) yang lembaran soalnya sudah disediakan Dinas pendidikan masing-masing wilayah. Guru sepertinya tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat, tapi dinas pendidikan.
Dinas pendidikan di satu sisi punya kontribusi terhadap kurang munculnya kreatifitas guru di sekolah-sekolah pemerintah terkhusus. Penyebabnya, tentu saja selain dinas pendidikan kental dan sangat birokratis memandang pendidikan (perhatikan betapa tersiksanya guru dengan ketentuan administrasi dinas pendidikan), mereka juga selalu melihat pendidikan dengan indikasi keberhasilan dan ditentukan oleh seberapa banyaknya angka-angka kelulusan. Dalam hal ini, guru menyimpulkan sendiri bahwa tak berguna juga membuat anak didik bergairah dan terinspirasi dalam PBM, toh ujung-ujungnya hanya menjawab soal pilihan dan tinggal menconteng saja, habis.
Kreatifitas yang saya maksud di sini bukan hanya kreatif dalam mencari jawaban atas pertanyaan baku dalam soal ujian, seperti kreatifitas seorang tutor di lembaga bimbingan belajar, yang secara tidak lansung hendak mengatakan, sekolah bukanlah tempat yang tepat buat sukses dalam berbagai macam tes. kreatifitas yang saya maksud adalah, kreatifitas yang pada dasarnya sudah tertanam dalam setiap jiwa anak-anak. Kreatif yang akan membuat anak-anak senang dan mencintai diri sendiri, mencintai sekolah dan ilmu pengetahuan. Di sanalah guru berdiri membimbing siswa, mengenalkan realitas dunia yang kasat mata, bukan dunia yang serba indah seperti disajikan dalam buku teks pelajaran dan sinetron dalam televisi kita hari-hari dewasa ini. Seperti yang di katakan oleh Paulo Freire, pendidikan tidak semata-mata membaca kata ( teks ), akan tetapi juga pendidikan adalah membaca dunia sekitar ( konteks ). Sekolahlah tempat semestinya peserta didik menemukan jatidiri dan karakteristik sosial di mana ia berada. Sekolah bukan tempat guru menjadi penguasa kecil di antara peserta didik yang lemah secara posisi.
Maka di sinilah dibutuhkan guru yang memiliki progresifitas. Guru yang mempunyai keyakinan tinggi terhadap kemanusiaan. Tidak tersedot oleh arus pragmatisme pendidikan yang menyianyiakan kepentingan siswa oleh karena terdesak tuntutan pemerintah yang bernafsu mengejar target sehingga melupakan proses. Guru semacam itulah dibutuhkan dewasa ini, yang tetap memegang idealisme meskipun berada dalam situasi tidak sehat.
Kesadaran politis terhadap posisi dan tindakan yang akan diambil seorang guru merupakan syarat utama buat kemajuan guru. Guru bukanlah profesi birokratis serupa Pegawai negeri sipil di balik meja kerja. Guru mempunyai tugas tidak sekedar transfer informasi (baca pengetahuan), tapi malah mepertanyakan kembali informasi yang diterima. Maka tugas seorang pendidik progresif adalah sebagai penyiap agen-agen perubahan di masa mendatang, dalam istilah Dr. M. Agus Nuryatno, pendidik transformatif menempatkan pendidikan bukan sebagai reproductive force, tetapi sebagai productive force, yaitu sebagai media mobilitas social.
Kalau begitu, jika pendidik menyadari ada tugas politik dalam setiap tindakannya (bukan malah berpolitik praktis). Maka guru wajib menjadi pengilham peserta didik, bukan guru yang pemberitahu, yang menghasilkan lulusan pintar secara pengetahuan namun apatis dan kurang peka terhadap fenomena dan struktur social sekitar.
Selama ini yang kita perhatikan, lulusan yang dihasilkan sekolah kita adalah lulusan yang sejak hari pertama menginjak dan mengenal sekolah sudah ditanamkan prinsip, sekolah adalah investasi masa depan. Sayangnya, yang dimaksud investasi di sini lebih banyak dipahami dalam kerangka ekonomi dibanding non ekonomi. Lantas apa yang kita harapkan dari sekelompok orang yang hari-harinya sibuk mengejar keuntungan ekonomis, bisakah kita percayakan Negara pada orang demikian?. Yang dalam istilahnya, “pengusaha yang penguasa”. Perubahan yang bagaimana akan kita inginkan bila anak-anak yang kita siapkan untuk hari esok bekerja semata-mata untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya.
Peran guru dalam menciptakan lulusan berkarakter sosial serta mempunyai empati terhadap dunia sekitar sangatlah besar, dikarenakan hanya intitusi sekolahlah yang mempunyai legitimasi kuat buat menentukan arah kebijakan sebuah pedagogik. Bukan malah menjadi guru yang semata-mata mencari posisi aman setelah diberikan SK 100 %. Guru yang sehari-hari mengajari anak berhitung, tanpa mengajari apa yang patut untuk diperhitungkan.
Progresifitas di sini dalam kerangka berpikir, bukan dalam kerangka politis. Mengembangkan potensi diri seorang guru tidak semata-mata dengan upah mengajar layak, tapi bagaimana menciptakan guru yang sadar secara politis atas tindakan pedagogis. Guru yang mengerti dan mampu memetakan struktur sosial dan paham terhadap efek bawaan dari konstruksi sosial yang buruk.
Guru tidak sekedar pipa transfer ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan bukan sebuah benda bebas nilai, ada berbagai kepentingan bermain di situ dari sejak awal proses pembentukannya. Terutama kepentingan kelompok yang berkuasa. Dan seorang guru progresif tidak memisahakan ilmu pengetahuan dari realitas sosial. Karena lulusan sekolah pada akhirnya akan kembali dan bergelut dalam masyarakatnya juga. Maka tugas seorang guru tidak stagnan hanya pada titik transfer informasi, tapi sampai pada tingkatan mempertanyakan serta merekonstruksi informasi.
***
Untuk mengembalikan marwah pendidikan kita, tidak bisa tidak mesti merubah pola pikir dan merehabilitasi orientasi pendidikan kita yang sudah terlanjur pragmatis. Harus diakui merubah pola pikir bukan pekerjaan sehari dua, dibutuhkan waktu yang panjang untuk hajat ini. Tapi hal ini tidak lantas absurd.
Apakah mesti menunggu masyarakat mencapai tingkatan pengetahuan sehingga mereka menerapkan sendiri konsep Ivan Illich, Deschooling Society (masyarakat tanpa sekolah). Karena apa yang mereka harapkan dari sekolah tidak sesuai harapan, karena sebagian masyarakat sudah sampai pada tingkatan pemikiran, bahwa sekolah bukan tempat baik untuk melahirkan manusia-manusia kreatif, mandiri, Yang mempunyai visi futuristik cemerlang. Sementara sekolah yang ada saat ini hanya sekolah berstandar baku dengan sifat birokratis tertutup. Dan guru yang mengajar di situ adalah sekelompok manusia yang bekerja atas sesuatu yang serba diatur dan serba teknis.
Tak ubahnya mesin, guru bekerja tidak lagi berdasarkan inisiatif, kerja pendidik tidak tumbuh dari kesadaran menjawab kebutuhan peserta didik, tetapi kerja guru sudah bisa dikategorikan semacam kerja tukang stempel di kantor Pos.Rutinitas kerja terpatron dan berpola sama dari hari ke hari.
Sementara kerja guru semestinya penuh inisiatif dan improvisasi . karena yang dihadapi bukan benda mati yang bisa dipelintir sesuka hati tanpa respon balik. Guru menghadapi manusia seperti yang kita tahu berbeda dan unik dalam keberadaannya. Manusia yang di masa yang akan datang menjadi pengganti kita untuk, tidak saja meneruskan apa yang kita upayakan sekarang, tapi bakal memodifikasikannya sesuai tuntutan zaman yang dihadapinya. Jadi, kepentingan peserta didik harus ditempatkan di urutan nomor wahid, bukan malah menempatkan kepentingan atasan dalam jajaran personalia kepegawaian di tempat teratas.
Butuh pasokan darah segar dalam tubuh kependidikan, sebab guru yang ada sekarang kebanyakan sudah tidak produktif lagi, apalagi yang sudah hampir mencapai masa pensiun. Namun masih dipertahankan dengan alasan belum sertifikasi. Padahal ide sertifikasi tidak menjawab secara menyeluruh atas rendahnya mutu pendidikan kita, sertifikasi hanya menguntungkan sebagian guru dalam soal melipatgandakan upah. sementara dalam proses belajar mengajar seringkali mereka tidak mau meninggalkan gaya jadul.
Guru tanpa dijebak dalam ideologi pasar kapitalis, yang lebih mengutamakan kompetisi (bersaiang) daripada kooperasi (kerjasama), artinya, dalam sistem sekolah kita masih sangat diskriminatif dalam memandang tingkat kemampuan siswa, makanya setiap kita sekolah selalu ada yang namanya ulangan harian, ulangan mingguan, tes bulanan hingga ujian semesteran. Sementara siswa yang tingkat kemampuannya rendah bakal selalu tertinggal bahkan lebih tragis, tinggal kelas. Sistem diskriminatif lain adalah seperti penentuan sekolah unggul dan kelas unggul, yang hanya menjadi tontonan siswa yang sudah divonis rendah kemampuan. Sebuah sistem memiriskan siapa saja yang percaya sekolah adalah tempat pemenuhan hak atas pengetahuan yang dilindungi Negara.
Maka kedudukan guru menjadi semacam supervisor dalam perusahaan, seperti yang digambarkan Sujono Samba dalam bukunya ‘lebih baik tidak sekolah’: Ketika guru selalu menguji, mengetes, atau mengevaluasi yang pada ujungnya memvonis dengan angka, dampaknya cenderung membatasi, membelenggu, memicikkan, dan mengerdilkan inisiatif kreatifitas siswa, lebih buruk lagi ketika soal-soal tes mengarah kepada hafalan-hafalan atau jawaban singkat. Model tes semacam ini tidak akan mendorong siswa untuk mengembangkan daya imajinasi, daya kreasi, dan daya analisisnya.
Jelaslah sekarang, paradigma sekolah kita mesti diubah secepatnya. Untuk menata kembali orientasi pedagogik. Dan memulainya mesti dengan mengubah pola pikir guru agar mengembangkan diri. Tidak terlampaui oleh siswa yang lebih cepat berkembang karena akrab dengan perubahan teknologi yang begitu cepat dan massif. Sementara kebanyakan guru, jangankan membiasakan diri membaca buku, menghadapi benda yang namanya komputer saja gagap (berdasarkan pengalaman pada beberapa pelatihan computer).
Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip salahsatu Hadits Nabi, “ tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat”. Karena sudah menjadi guru, apakah berhenti belajar?. Wallahu a’lam bishawab…
Banda Aceh
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
guru; identitas, kreatifitas dan progresivitas





































