<< Artikel Pemain berganti, permainan tetap  >>

Pemain berganti, permainan tetap

E-mail Cetak PDF

PEMAIN BERGANTI, PERMAINAN TETAP
Oleh: Iky El-Pharmacist

 

13 tahun sudah reformasi bergaung di negeri ini. Bangsa ini silih berganti era dan rezim. Heroiknya perjuangan atas penggulingan rezim Orba dan digantikkan dengan Era Reformasi. Sejarah telah mencatat betapa gigihnya masyarakat yang tergabung dengan mahasiswa menggulingkan rezim tua itu. Korban pun berguguran, air mata pun terurai dan doa terpanjatkan dari seluruh pelosok negeri agar rezim yang telah berkuasa selama 32 tahun itu segera tumbang.

Perjuangan gigih itu akhirnya membuahkan hasil. Rezim 32 tahun itu pun sudah terlalu tua untuk membendung dan melawan kehendak publik yang sudah satu tujuan dan satu semangat. Bangsa ini seakan mempunyai semangat baru yang menggebu selepas Orba. Namun, masyarakat seakan menjadi alergi apabila disebut masyarakat berpancasila karena khawatir dianggap sebagai antek Orba yang identik dengan pancasila yang telah di selewengkan syariat dari hakikat pancasila yang sebenarnya untuk berbagai kepentingan. Sedangkan pancasila merupakan Azas dari bangsa ini.

Bangsa kita ketika itu tengah disibukkan oleh berbagai pemulihan transisi dan berebut tempat bagi berbagai kepentingan. Transisi reformasi tak pernah membuahkan hasil yang nyata. Ratusan ahli, pakar, dan tekhnisi bertekad akan melaksanakan amanat reformasi, namun semuanya selalu saja lenyap apabila mereka pun dihadapkan kepada sesuatu yang dulu menyebabkan kebutaan akut kepada orang-orang pro Orba, yaitu “ harta, jabatan, dan kekuasaan”.  Para aktivis yang dengan gagahnya menentang kekuasaan rezim orba pun kehilangan ideology dan idealism mereka, idealisme yang di tukar dengan remah-remah sisa rezim Orde baru. Ideology pun telah digadaikan demi kekuasaan dan jabatan.

Polemic negeri ini sudah layaknya sebuah game dengan gamers yang telah berganti akan tetapi memainkan game yang sama. Keadaan politik bangsa ini sudah tak lebih seperti berganti dari rezim ke rezim yang lain. Mahasiswa dan aktivis pun semakin lupa akan ideology dan idealism mereka. Mahasiswa pun semakin menjadi tumpangan para penguasa rezim baru untuk berbagai kepentingan mereka, hanya Anarkisme yang selalu di tonjolkan. Rezim sekarang sebenarnya sangat sadar dan sangat memperhatikan akan pentingnyaentingan mereka, hanya Anarkisme yang selalu di tonjolk mahasiswa untuk masa depan negeri ini. Maka dari itu sekarang ini seperti ada unsure kesengajaan dengan mewartakan akan anarkisme mahasiswa dalam menyampaikan suara rakyat sehingga public mempunyai kesan negative terhadap mahasiswa. Apabila sudah seperti ini, maka HARIMAU SUDAH TAK BERGIGI kembali. Mahasiswa pun mulai terkikis idealism dari ideology mereka.

Dengan bergantinya Era, bangsa besar ini bukan berarti selalu merasakan betapa manisnya reformasi. Mungkin hanya kebebasan yang kini dapat dirasakan atas buahnya Reformasi. Namun, apakah buah kebebasan itu selalu manis? Kebebasan pasca Reformasi seakan mencapai titik dimana semua orang dapat merasa bebas bahkan sampai kebablasan dengan alasan Hak Asasi dan Demokrasi. Masyarakat merasa mempunyai hak untuk bebas, sehingga tidak menghiraukan akan adanya Kewajiban, Norma, dan Hati Nurani. Sekarang bangsa kita sudah menjadi bangsa yang bebas. BEBAS BERSUARA, BEBAS BERAGAMA, dan kebebasan yang sudah mengakar dari zaman Orba adalah “KEBEBASAN KORUPSI, dan BEBASNYA KORUPTOR”.

Rezim Orba hanya berganti pemain dalam permainan kotor kekuasaan dan jabatan dengan pemain rezim sekarang yang telah melupakan PANCASILA sehingga pancasila sekarang tak lebih hanya bagian dari prosesi seremonial semata.

Sungguh Ironi, setidaknya di Era sekarang masyarakat yang merintih karena badan mereka yang mongering dengan perut yang membuncit lebih melolong meminta tolong disbanding ketika Rezim Orba berkuasa. Setidaknya di Rezim sekarang minyak bumi menjadi naik kelas dengan pembeli orang-orang kalangan atas dan orang kalangan bawah tidak sanggup untu membelinya karena harga yang terus meroket dibandingkan ketika Rezim Orba yang dengan begitu mudahnya mendapat minyak bumi untuk bahan bakar.

Inilah Negeriku, inilah Bangsaku yang telah hiilang jati dirinya, pancasila kini tak lagi di hati dan hanya rangkaian acara seremonial semata. Bangsaku yang sudah terlalu lemah dan bosan untuk mengalami pergantian Rezim yang tak membri perubahan yang berarti. Wallahu A‘lam bisshawab.

 

Oleh: Rizky Islamy Ramadhan

(staf ahli KASTRAT BEM-FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA)

Joomlart