TIDUR LELAP GENERASI MUDA INDONESIA
Oleh: Ajie Adnan
Pemuda kita sekarang lebih suka untuk bersenang-senang menikmati hidup daripada bertindak nyata untuk membawa perubahan. Para pemuda Indonesia lebih suka berpacaran, menghabiskan waktu berjam-jam melakukan hal yang tidak penting samasekali, ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan tanpa membahas masalah substansial sama sekali. Pemuda-pemuda kita lebih suka menghamburkan uang, tenaga dan waktunya untuk bersenang-senang demi kepentingan pribadi semata daripada meluangkannya untuk membantu sesama.
“Beri Saya 10 Pemuda maka akan saya Guncangkan Dunia! Beri saya 1000 Pemuda maka akan saya Pindahkan Gunung Semeru!”
Soekarno, Proklamator & Mantan Presiden Republik Indonesia
Sebegitu pentingnya peran pemuda bagi bung Karno hingga menganalogikan kekuatan pemuda sedemikian hiperbolik. Bung Karno sepertinya menyadari dengan penuh keniscayaan bahwa pemuda adalah kunci dari sebuah perubahan.
Ada banyak kategori pemuda yang populer di dunia, namun saya pribadi cenderung mengkategorikan usia pemuda adalah 15 tahun ke atas dan 30 tahun ke bawah karena pada masa-masa itulah seorang insan manusia berada dalam fase pembelajaran sekaligus peng-implementasian ilmu-ilmu yang telah dia dapat pada masa-masa sebelumnya.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh sejarah panjang negara ini yang telah memposisikan pemuda sebagai kaum pembawa perubahan. Mulai dari era zaman pergerakan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 45 hingga kontribusinya terhadap tumbangnya rezim orde lama dan orde baru.
Kini pemuda Indonesia telah masuk dalam periode yang samasekali baru, periode yang jauh lebih sulit dari para pendahulu-pendahulunya. Periode di mana nilai kebenaran dan keburukan sangat bias dan seringkali bisa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menjadi kesulitan tersendiri yang bahkan sulit untuk di-diferensiasikan.
Sejak pergerakan pemuda tahun 1998 silam, bisa dibilang pemuda kita mengalami tidur nyenyak panjang (hibernasi). Selama hampir 13 tahun, para pemuda di Indonesia telah dicekoki oleh berbagai macam rayuan maut yang menumpulkan pengaruh pemuda di negeri ini.
Pemuda kita sekarang lebih suka untuk bersenang-senang menikmati hidup daripada bertindak nyata untuk membawa perubahan. Para pemuda Indonesia lebih suka berpacaran, menghabiskan waktu berjam-jam melakukan hal yang tidak penting samasekali, ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan tanpa membahas masalah substansial sama sekali. Pemuda-pemuda kita lebih suka menghamburkan uang, tenaga dan waktunya untuk bersenang-senang demi kepentingan pribadi semata daripada meluangkannya untuk membantu sesama.
Sebenarnya pun hal itu tidak masalah bila diimbangi dengan kontribusi nyata para pemuda tersebut kepada masyarakat. Sayangnya, keseimbangan itu sudah makin langka kita dapatkan dari para pemuda Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Semakin hari semakin banyak pemuda yang lebih mementingkan unsur hura-hura dan bersenang-senang daripada repot-repot bertindak dan memikirkan masalah serius.
Kalaupun ada pergerakan-pergerakan pemuda Indonesia sekarang ini, banyak dari pergerakan tersebut yang tidak terkoordinasi, terkooptasikan dan saling menjatuhkan. Lihat kasus konflik antar mahasiswa yang kini sering terjadi di mana-mana. Atau kalau anda ingin contoh lebih gampang, silahkan anda lihat tawuran pelajar yang begitu marak dalam waktu 20 tahun terakhir ini, pelakunya kalau bukan anak SMP ya anak SMA, bahkan Mahasiswa.
Rasa nasionalisme pemuda Indonesia yang semakin lembek ini bisa diketahui melalui banyak hal. Salah satu yang paling sederhana adalah dengan membuktikan berapa banyak dari pemuda Indonesia yang hafal dengan lagu Indonesia Raya ciptaan Wage R. Supratman. Saya yakin, akan jauh lebih banyak pemuda kita yang hafal dengan lagu Sempurna-Andra and The Backbone. Akan sangat sedikit pemuda yang hafal dengan teks sumpah pemuda ketimbang dengan mereka yang hafal lirik lagu Keong Racun.
Pemuda Indonesia banyak yang telah terjerumus dalam lubang hedonis kapitalistik yang semu. Pemuda Indonesia lebih peduli hal-hal non-esensial seperti memperhatikan harga blackberry yang menurun, varian HP Nokia yang terbaru, tempat nongkrong yang pewe terkini, album baru Pasha Ungu yang baru dirilis, tempat dugem yang paling enjoy, model baju stylish di butik Zara, model sepatu terbaru dari Converse All-Star, mengunjungi mall-mall baru dan hal-hal semacamnya.
Bandingkan dengan jumlah pemuda yang perduli terhadap angka kemiskinan negeri ini, malnutrisi balita, para pelajar yang putus sekolah dan masalah-masalah lain yang setia membuntuti sejarah negeri ini. Ada semacam kesalahpahaman persepsi dalam pemikiran pemuda negeri ini bahwa masalah esensial negeri ini hanya merupakan tanggungjawab pemerintah atau kaum dewasa. Sedangkan pemudanya ya hanya wajib khawatir masalah nilai raport, IP, pekerjaan dan lain-lain yang sifatnya murni pribadi.
Apatisme pemuda terhadap perubahan mendasar negeri sudah sampai pada taraf yang menyedihkan. Kalau pada zaman pergerakan dulu para pemuda kita justru menjadi motor yang menggerakkan perubahan nasional, justru pemuda sekarang menjadi beban pemerintah dan negara dengan seabrek permasalahannya. Zaman pergerakan dulu para pemuda Indonesia menjadi pendorong pemerintah untuk melakukan perubahan, memberi masukan-masukan, agen perubahan masyarakat dan negara. Namun kini justru pemerintah yang senantiasa mendorong kita untuk menjadi pemuda kreatif dan cerdas dengan berbagai bujuk rayu yang muluk karena susahnya pemuda kita untuk diurus.
Selain kesalahan para pemuda itu sendiri, negara inipun seakan-akan sengaja memandulkan peran pemuda dalam rangka berkontribusi bagi proses bernegara. Pemuda dianggap sebagai kaum awam, kaum unskilled, sekumpulan orang-orang bodoh nan polos yang tidak tahu apa-apa.
Ada sebuah pengalaman dari kawan di UI yang diundang menghadiri sebuah rapat di gedung MPR/DPR. Ketika para perwakilan mahasiswa mendapat giliran untuk berbicara di podium, para anggota DPR lainnya berkesan sangat meremehkan dan tidak memperdulikan pembicara: mereka mengobrol masing-masing, bahkan beberapa seperti tertawa meremehkan saat mendengarkan beberapa kalimat dari perwakilan mahasiswa tersebut.
Saya kira sudah waktunya bagi para pemuda untuk mulai lebih concern terhadap masalah substansial negeri ini. Menjadi pemuda tidak hanya sekedar belajar dan bersenang-senang, karena belajar dan bersenang-senang adalah kodrat seorang bocah, seorang yang masih dikategorikan anak kecil. Pemuda adalah fase lanjutan dimana seseorang belajar sambil mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya. Pemuda adalah kaum yang menjadi harapan dan tumpuan suatu bangsa, tidak hanya di Indonesia tapi juga diseluruh dunia!
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Tidur Lelap Generasi Muda Indonesia





































