<< Artikel 100 Pita Kuning, Pengampunan, dan KDRT  >>

100 Pita Kuning, Pengampunan, dan KDRT

E-mail Cetak PDF

100 PITA KUNING, PENGAMPUNAN, DAN KDRT
Oleh: Anita "Mui" Kristiana

 

Cerita awal refleksi, diambil dari http://www.indowebster.web.id/archive/index.php?t-8281.html

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekali pun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?

Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan- pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.
Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...
Dia tidak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tidak ada sehelai......

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon
beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika.
Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang
penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around
the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973,
langsung menjadi hits pada bulan April 1973.

Saya membaca cerita ini pertama kali di sebuah buku renungan harian, buku yang biasanya inspiratif dan menguatkan. Cerita ini dikaitkan dengan sebuah isu, yang semua orang pasti langsung dapat menebaknya: "PENGAMPUNAN".

Menurut saya, ini kisah nyata yang indah, JIKA selanjutnya si suami berubah sikap dan perilakunya, berdua dengan pasangan dan terutama dirinya sendiri lebih berkomitmen untuk menjaga hubungan dan rumah tangga yang harmonis dan positif, tidak lagi mabuk, mencuri, foya-foya, tidak bertanggung jawab, seenaknya, kasar, main pukul, tidak menghargai istri, dan tidak sayang anak. Yah, sebagai orang yang tiap hari mendengar kisah yang sama dengan kisah pasangan ini, paling tidak hingga sebelum si suami menulis surat mohon ampun ke si istri, saya jadi agak skeptis dan bertanya-tanya, lebih kritis, dan cenderung ingin melihat tidak hanya dari satu sisi.

Saya telah mendengar banyak mengenai betapa menderitanya perempuan yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga seperti si istri dalam kisah ini. Bagaimana terombang-ambingnya ia dalam Cinta, Harapan, dan Teror saat dipukuli terus-menerus oleh suaminya, berjuang merawat anak-anaknya sendirian (bahkan tambah satu anak lagi yang sangat menyulitkan: suaminya), berusaha bertahan walau luka-luka secara fisik maupun psikologis, merasa tidak dihargai, muak, tidak berdaya, ingin lari, merasa dikhianati, kecewa, ketakutan, kebingungan, khawatir akan anak-anak, hidup dalam teror, menciptakan harapan-harapan yang tidak akan pernah terwujud, membohongi diri sendiri demi status atau interpretasi ajaran agama yang sempit dan membatasi, berusaha bertahan demi harapan yang terus tumbuh walau jiwa sudah mati, dan masih banyak lagi. Itu dampak umum dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (selanjutnya disebut KDRT) yang dialami oleh korbannya. Belum lagi si anak yang melihat kekerasan dan mengadaptasi emosi negatif dari korban, dan cara komunikasi yang salah dari pelaku. Si suami juga meninggalkan keluarganya tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun, bahkan dengan mencuri uang istrinya. Lengkap sekali sepertinya KDRT yang dilakukan oleh sang suami, dan siapa yang tau sudah berapa perempuan selain istrinya yang dia permainkan atau dengan berapa perempuan lagi dia berselingkuh dan menyakiti istrinya?

Lalu, setelah semua itu, penyelesaiannya lagi-lagi instan, hanya dengan menulis surat, minta maaf, dan minta rujuk? Itu pun setelah ia mengalami kesusahan dan dipenjara, tidak ada uang, dan tidak ada lagi yang mau menerimanya, baru ia mengingat istrinya. Wah, seberapa ya kira-kira harga sang istri dan anak di mata suaminya?

Mari kita lihat dari sudut pandang si istri...
Kenapa dia mengikat bahkan 100 helai pita kuning, bukan hanya satu helai seperti yang diminta?

Semua orang bisa menjawab, bahwa itu karena dia sungguh menginginkan suaminya kembali, mau menerima suaminya apa adanya. Sungguh luar biasa.

Akan tetapi, saya sendiri masih bertanya-tanya, apa sebetulnya yang dipikirkan sang istri? Apakah ia hanya ingin suaminya kembali sehingga keluarganya kembali utuh, apapun yang terjadi? Itu saja? Atau dia sungguh masih mengharap suaminya kembali dan berharap bisa membina hubungan dan rumah tangga yang indah selama-lamanya, tapi sebenarnya takut suaminya berbuat hal yang sama lagi? Atau dia “termakan” rayuan suaminya di surat, mengembangkan harapan kosong, dan kemudian akan terjadi lagi KDRT  jika ia sendiri tidak mengubah posisi tawarnya di mata suami dan suaminya ternyata belum mengubah apapun dari dirinya selain keinginan diterima dan kembali pada istri? Atau dia hanya dipengaruhi rasa cintanya yang besar kepada suaminya dan tak peduli apapun yang akan dia terima dari suaminya di kemudian hari, dan membiarkan saja suaminya melakukan hal yang sama kembali dalam merawat dan membesarkan anak-anak? Yah, itu bukan cinta kan?

Saya hanya ingin mengajak kita semua berpikir lebih kritis, dan tidak terjebak hanya dalam satu sisi romantisme, terutama dalam isu ini. KDRT adalah isu yang rumit, jahat, dan dampaknya berlipat ganda, karena pelakunya adalah orang terdekat, yang biasanya adalah orang yang paling disayangi korban. Dalam kisah di atas, saya sangat berharap keduanya bisa berubah, si suami belajar pola komunikasi yang lebih baik, tidak kasar, menaruh hormat serta cinta kasih pada istri dan anaknya. Di lain sisi, sang istri juga dapat berubah dan menyetarakan posisi tawarnya dalam hubungan dengan suami, kompak dalam mengasuh anak, serta saling menyayangi selamanya.

Pengampunan? Memang hal yang baik, namun ada baiknya kita tidak serta-merta meminta semua orang mengampuni. Juga ada baiknya kita tidak menuntut seseorang untuk mengampuni tanpa kita memahami dengan betul apa yang dia alami, bagaimana penghayatan, pikiran serta perasaannya. Biarkan setiap orang dengan bebas memilih untuk mengampuni atau tidak, dan juga biarkan setiap orang memilih sendiri caranya dalam mengampuni. Bagi saya, dalam konteks pernikahan, mengampuni tidak selalu berarti harus rujuk atau mempertahankan pernikahan, juga bukan selalu berarti harus berpisah. Ini tentang kondisi, latar belakang, interpretasi, penghayatan, keputusan, dan USAHA DARI KEDUANYA. Semoga kita dapat menghindari dan berusaha mengatasi KDRT mulai dari diri kita sendiri.

8 Agustus 2010, dalam keprihatinan dan harapan
Anita “Mui” Kristiana

Joomlart