<< Artikel warna dan potert kehidupan  >>

warna dan potert kehidupan

E-mail Cetak PDF

WARNA DAN POTRET KEHIDUPAN
Oleh: Pezet Ruslan 


Kehidupan dan segala bentuk kehidupan mempunyai warna-warna tersendiri dan warna-warna itu yang mewarnai kehidupan dan sekaligus membutakan “mata” obyeknya. Seringkali manusia tertipu oleh keindahannya, seringkali manusia terbutakan dengan paksa oleh realitas-realitas yang ada nampak pada dirinya karena tidak adanya kehidupan yang membentuk kesadaran secara progresif. Semua kehidupan dan alam raya ini adalah sama-sama berpredikat “mahluk”. Maka semua warna-warna itu mewarnai alam semesta dan seisinya, begitu banyak tragedi, kesedihan, roman, sekaligus kelucuan dalam hidup ini.

Warna warni itu akhirnya membentuk suatu “catatan kaki” dalam kehidupan kita sebagai rujukan untuk membentuk sebuah institusi moral yang melegimitasi batasan-batasan kehidupan kita baik yang berupa sakral atau pun tidak,tapi itu sama-sama menjadi sebuah aturan yang harus dipatuhi. Karena pada dasarnya manusia–semua mahluk hidup menyukai keteraturan, karena adanya keteraturan maka sifat dasar mahluk adalah menyukai perubahan. Sebuah konsisten yang tak terduga menjadi hukumnya tersendiri seperti permainan yang membosankan.

Sesuatu akan terjadi dengan cepat seperti cepatnya kita menanggapi kehidupan ini dengan segala kemampuan dan pengalaman kita. Dan perubahan akan menjadi trend yang tak lagi asing dan perubahan selalu membentuk kombinasi warna-warna sehingga menjadi kebebasan tersendiri  dalam seleranya tanpa menodai warna yang aslinya.

Tanpa mengawali apa-apa dan tanpa diawali apa-apa kecuali dengan kehidupan yang kita rasakan semuanya akan dideterminasi oleh ide-ide masing-masing yang pada dasarnya melakukan sebuah refleksi kesadaran sebagai hadiah yang transendental pada fenomena kehidupan yang kompleks, secara koperehensif kita menanggapinya dengan sistem keteraturan yang kita dapatkan dari pendominasian pembelajaran yang berpredikat formal dan kaya akan ide-ide yang sistematis sehingga menjadi sebuah bentuk dan ideologi yang harmoni.  Tapi disisi lain kita menanggapi semuanaya secara sistematis individualistis yang valid untuk dibentuk dari sebuah pengalaman transenden kepada realitas yanag terkemas dalam bahasa yang nyata sebagai bentuk kehidupan yang ditransformasikan kepada kita dan dari realitas empirisnya pula kita menciptakan bentuk-bentuk tersendiri, dan warna warna yang mewarnai setiap jentik-jentik ide kita yang diproduksi oleh pengalaman dan pengetahuan.

Potret-potret dari episode kehidupan yang nampak di depan mata kita menjadi sejarah yang terlupakan. bagaikan angin lalu karena terlalu sibuknya manusia yang diberikan kekuasaan oleh orang-orang yang tak mengenalinya sebagai masyarakat tingkat bawah, untuk merancang dan merencanakan pembentukan ide-ide yang tak kunjung usai dan hanya bersarang pada setumpuk kertas dan surat-surat pernyataan yang ditulis sambil tidur-tiduran.

Adakah kesempatan untuk memikirkan atau memandang potret-potret itu dengan kesadaran yang dasar. Karena hanya cukup dengan membaca cerpen-cerpen atau cerita-cerita lainnya, dan berita-berita yang disiarkan hanya sebagai ajang bisnis informasi saja. Maka kesadarannya cukup saja sampai dihalaman-halaman buku dan jam tayang berita media elektronik visual maupun audio visual yang realitas potretnya miskin rasa. Itu diungsikan dalam sebuah kamus ensiklopidia atau melekat pada mulut-mulut rakyat sebagai dongeng yang menyumbangkan rasa belas kasihan pada kaum bawah yang merangkak pada dada pertiwi yang berbaring telanjang dan mulus sehingga banyak sekali yang mencoba “memerkosanya” dari dirinya sendiri dan dari luar dirinya sendiri.

Segala macam norma dan adat istiadat dengan cara kerjanya sendiri akan tampak seperti sebuah nyanyian anak kecil dalam menjelang kematiannya jika kita tidak menyadarkan diri dengan diri sendiri dan seperangkat norma serta adat istiadat itu sendiri. Seringkali setiap kebudayaan mempunyai sifat primodial yang tinggi tapi pembentukan diri isinya itu sendiri kabur dalam kesibukan mengatribusikan primodialnya. Itu memang hal yang wajar, karena kita selalu kalah dengan cepat oleh “proses” dari pada “realitasnya” begitu banyak sisi kehidupan yang diwarnai dan terwarnai dari kedua sisi kehidupan itu yang sangat fariativ.

Saya hanya mencoba memproduksi  ide-ide dan kesadaran yang terbentuk dari realitas potret-potret kehidupan yang masih berkasta  tersembunyi dan secara trang-trangan berkolerasi dengan bentuk kehidupan yang satu sama lain merupakan satu sistem harmoni untuk realitasnya yang terkemas dalam bahasa yang nyata apa adanya. Hubungan antara ide-ide itu dan pemahaman manusia tentang; realitas, naturalis, sosialis, serta spiritualis, religius yang “meng-haki” dirinya sendiri menjadi pembiasan yang membias dalam potret-potret kehidupan yang terkombinasi oleh warna-warna  yang dewasa. Dan sebuah refleksi kehidupan yang berkesadaran akan mewujudkan kesadaran kita dengan sangat “dasar” dan berkembang menjadi cinta yang penuh dengan kepekaan dan kepedulian terhadap kebutuhan hidup mahluk secara lahir dan batin secara tanggung jawab dan berpotensi untuk kelangsungan kesejahteraan masyarakat lokal dan masyarakan negara dengan seperangkat norma dan adat istiadat yang tidak tercemari oleh idiologi-idiologi yang lahir dari “kebencian” untuk mematikannya keharmonian antara atas dan bawah. Dan kesadaran itu mempunya titik tengah yang “sinkron”.

Joomlart